Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Makan Malam


__ADS_3

Malam ini ruang makan dirumah utama keluarga Adiputra nampak begitu hidup. Meski hanya menambah dua anggota baru saja.


Tuan Abas selaku yang tertua duduk dikursi utama, sedangkan yang lain sudah duduk dikursi masing masing.


Nara duduk disamping Reynand, sedangkan Arya duduk dikursi yang berhadapan dengan tuan Abas.


Mereka makan malam bersama malam ini. Meski bukan yang pertama kali, namun momen momen seperti ini sangat jarang mereka dapati. Apalagi malam ini, semua menu Nara yang memasak.


"Kelihatan nya aroma masakan malam ini berbeda" ucap tuan Abas.


Mama tersenyum mendengar itu, dia menyiapkan makanan untuk suami nya, begitu pula dengan Nara yang langsung menyiapkan makanan untuk Reynand.


"Pasti masakan kamu kan" kata Reynand pada Nara.


"Udah hafal aja ya kak" sahut Zelina yang mengambil makanan nya sendiri.


"Udah dong, makanan kakak ipar kamu gak ada dua nya" puji Reynand.


"Kamu berlebihan" ucap Nara.


"Memang begitu, jika tidak ada kamu, mama yang dipuji" ungkap mama


Reynand langsung tertawa memandang mama nya.


"Sama sama enak ma. Cuma kan rasanya beda" jawab Reynand.


"Itu modus untuk dapetin hati Nara Lo Tante" sahut Arya.


"Benar kamu. Sudah tertebak ya Yo" ucap tuan Abas.


Arya langsung tertawa dan mengangguk.


"Sirik aja kamu Yo" dengus Reynand.


"Yasudah, ayo kita mulai makan. Papa jadi tidak sabar melihat kalian semua menikah. Supaya setiap malam kita bisa berkumpul seperti ini" kata tuan Abas.


Nara tersenyum simpul mendengar itu.


"Iya, rumah jadi ramai kalau kita seperti ini." sahut mama pula.


"Enggak lama lagi pa, ma" jawab Reynand.


Mereka makan dalam suasana yang begitu hangat. Masakan Nara yang memang enak dan pas dilidah membuat mereka makan dengan lahap. Apalagi diselingi dengan obrolan ringan dan juga candaan dari Arya. Membuat suasana malam itu begitu damai. Rasa lelah setelah beraktivitas seharian langsung melebur saat melihat tawa dan senyum diwajah orang terkasih.


Tidak ada yang menyangka, jika mereka akan bisa ada difase ini. Setelah semua yang terlewati.


Rasa sakit dan pengorbanan yang dilalui kini rasanya terbayar.


Keluarga yang hancur kini berkumpul lagi. Cinta yang sempat terkoyak, kini mulai bersemi kembali. Dan perjuangan untuk tetap hidup, kini bisa dinikmati dan dijadikan pelajaran.


Sungguh jalan hidup yang tidak bisa ditebak.


"Oh iya, berhubung kamu dan Nara sudah mau menikah. Sebaiknya besok kita pergi ke vila kakek saja Rey" ujar tuan Abas.


Saat ini mereka sudah berkumpul diruang keluarga.


"Buat apa pa?" tanya Reynand


"Melihat semua aset yang sudah diwariskan untuk mu. Sepertinya kamu memang sudah harus menjalankan bisnis yang ada diluar negeri dan juga mencairkan aset aset yang sempat membeku. Papa sudah konfirmasi dengan Guntur siang tadi" jawab tuan Abas.


"Nanti saja lah pa. Rey masih fokus untuk pernikahan kami dulu. Lagipula aset aset itu tidak akan hilang disana. Rey juga belum resmi menikah" ungkap Reynand.


"Tidak apa apa. Kamu hanya perlu memeriksa nya. Siapa tahu bisa menambah dana untuk pesta pernikahan kalian nanti" ujar tuan Abas.


Reynand tertawa kecil mendengar itu.


"Uang dari perusahaan Adidaksa tidak kurang pa. Semua bisa Reynand kendalikan. Sepertinya papa lupa siapa Rey" jawab Reynand terdengar angkuh.


Nara menggeleng jengah mendengar itu.

__ADS_1


Untung saja Arya dan Zelina sedang duduk ditaman depan, jika tidak mulut Arya pasti sudah menyahutinya.


Tuan Abas tertawa dan mengangguk.


"Papa tahu, sangat tahu. Hanya saja siapa tahu kalian ingin berbulan madu keliling Eropa selama sebulan" goda tuan Abas


"Sebulan?" gumam Nara yang terkejut.


"Ya, sekalian saja kami yang pindah ke Eropa" sahut Reynand.


Ada ada saja memang, berbulan madu sampai sebulan. Mau jadi apa perusahaan Adidaksa ini.


Reynand beranjak, dan dengan cepat dia langsung menarik tangan Nara yang duduk disebelah mama nya.


"Rey" Nara terkesiap saat ditarik tiba tiba.


"Kami kebelakang dulu pa, ma" pamit Reynand.


Bahkan sebelum papa dan mama nya menjawab dia sudah membawa Nara pergi kebelakang rumah. Dimana disana juga ada taman yang bisa dipakai untuk bersantai.


"Astaga anak itu" gumam tuan Abas seraya menggelengkan kepala nya.


"Sepertinya dia memang sudah tidak sabar lagi mau menikah" sahut mama.


Tuan Abas tertawa dan mengangguk.


"Semoga dia bisa menjadi suami yang baik. Yang bisa mencintai istrinya dengan sepenuh hati" harap tuan Abas.


"Dia pasti bisa. Bukan kah papa nya juga seperti itu" sahut mama.


Tuan Abas langsung menoleh pada istrinya.


"Terimakasih masih mau bertahan ma. Masih tetap menunggu papa kembali" ucap tuan Abas.


Mama mengangguk dan tersenyum.


"Sejak dulu bukankah memang selalu seperti itu" jawab mama.


Mama hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


Kisah mereka cukup rumit. Tapi bertahan sampai ketahap ini memang tidak mudah. Pertemuan yang penuh konflik, kehidupan rumah tangga yang tanpa cinta, bahkan ketika sudah mulai tenang pun masih saja ada ujian besar yang menghadang. Tapi bersyukur, mereka bisa melewati semuanya.


Dan berharap, kini anak anak mereka lah yang bisa kuat dalam menjalani kehidupan.


...


Ditaman belakang, Reynand membawa Nara duduk di bangku panjang. Malam itu cukup cerah. Banyak bintang yang bertaburan diatas langit.


"Kamu gak sopan Rey, main pergi aja. Gak enak tahu sama mama dan papa" ucap Nara memandang Reynand dengan kesal.


Reynand tersenyum dan mengusap kepala Nara sekilas.


"Aku udah pengen berduaan sama kamu" jawab Reynand.


Nara mendengus dan memalingkan wajahnya. Memandang keatas dimana langit sangat indah.


"Indah sekali bukan" ucap Reynand.


Nara mengangguk dan tersenyum. Tanpa tahu yang dipandang Reynand adalah wajahnya, bukan langit diatas sana.


"Kamu ingin kita bulan madu kemana nanti?" tanya Reynand.


Nara kembali memandang Reynand.


"Jepang" jawab Nara dengan cepat.


"Jepang" gumam Reynand dan Nara langsung mengangguk.


"Aku ingin lihat bunga sakura yang bermekaran. Terdengar berlebihan memang, tapi sejak dulu itulah impian ku Rey" ungkap Nara.

__ADS_1


Reynand tersenyum dan mengangguk.


"Kita akan kesana nanti. Kemanapun kamu mau, aku pasti akan membawa kamu" jawab Reynand.


Nara tertawa dan menggeleng.


"Terkadang aku selalu berfikir, jika sepertinya kita sudah seperti anak ABG saja. Padahal kita sudah pernah menikah sebelum nya" ungkap Nara.


Reynand mendengus senyum, seraya meraih tangan Nara dan menggenggam nya dengan lembut.


"Aku malah merasa jika ini yang pertama" ucap Reynand.


"Kenapa?" tanya Nara


"Pernikahan kita yang sebelum itu, aku hanya menganggap jika kamu yang sedang menepati janji. Tapi yang kali ini, adalah aku yang melamar kamu sebagai orang yang paling aku cintai. Naraku, bukan lagi adik kecilku" jawab Reynand.


Nara terdiam dan masih memandang Reynand dengan lekat.


"Dipernikahan kali ini, aku ingin membuat kamu seperti ratu dalam hidup ku. Setelah sebelum nya kamu yang memperlakukan aku seperti raja. Raja yang memperlakukan kamu dengan begitu kejam. Dan aku ingin menggantikan itu dengan kenangan manis yang bisa kamu kenang untuk seumur hidup kamu" ungkap Reynand lagi.


"Kamu jangan bosan jika nanti aku akan selalu mengucapkan kata kata cinta setiap hari" tambah Reynand lagi.


Nara mendengus senyum dan menggeleng.


"Bukankah sekarang juga kamu sudah selalu mengatakan kata kata cinta itu?" kata Nara.


Reynand tertawa kecil dan mengecup punggung tangan Nara.


"Rasanya bahkan ingin setiap detik" sahut Reynand


....


Sementara ditempat lain...


"Tidak bisakah sedetik saja kamu jangan menyusahkan aku??" ucap Bima begitu kesal.


"Lalu aku harus meminta tolong pada siapa. Cuma kamu yang ada disini" sahut Gendis.


"Ini sudah malam Gendis. Aku ingin tidur. Dan bisa bisa nya kamu minta aku menyuapi mu makan. Yang benar saja" seru Bima tidak percaya.


Sejak siang tadi, gadis aneh ini selalu saja menyusahkan nya. Meminta ini dan itu. Menyuruhnya melakukan hal hal yang bahkan tidak wajar. Menyebalkan sekali memang.


Dan sekarang dia malah minta makan, padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Kenapa kamu jahat sekali. Bukan kah kamu bilang kamu mau bertanggung jawab. Lalu beginikah caramu. Aku hanya minta makan. Dan disini hanya ada kamu" sahut Gendis.


"Tadi pelayan menawarimu makan. Tapi kamu tidak mau. Dan sekarang waktunya istirahat kamu malah minta makan. Kamu sengaja kan" tuding Bima.


Gendis mendengus


"Tadi aku tidak lapar. Apa susahnya hanya tinggal menyuapi aku makan. Kamu tidak lihat tangan ku luka seperti ini" ucap Gendis seraya menjulurkan tangan nya yang memang terluka.


Bima menghela nafasnya dengan kesal. Kepala nya juga sakit, dan dia sudah ingin beristirahat. Tapi gadis ini masih saja ingin menyusahkan nya.


Ya Tuhan...


Entah apa dosa Bima hingga bisa bertemu dengan gadis seperti ini.


Apa ini karma karena dia yang pernah ingin menjadi pebinor?


Ya ampun.


Dan akhirnya mau tidak mau Bima menarik kursi dan duduk disamping tempat tidur Gendis. Meraih piring makanan yang memang sudah ada disana.


"Buka mulutmu" ujar Bima


Gendis memandang datar pada Bima dan langsung membuka mulutnya. Menerima suapan dari Bima yang sama juga seperti nya, hanya berwajah datar. Bahkan terkesan kesal.


Tapi apa perduli nya, dia lapar dan dia ingin makan.

__ADS_1


Hati nya sedang tidak baik baik saja saat ini. Dan dia butuh seorang teman untuk membuat nya berbicara terus menerus. Karena jika hanya diam, Gendis pasti hanya ingin menangis saja.


__ADS_2