
Suasana didalam ruangan Nara rasanya siang hari ini terasa panas dan gerah. Padahal matahari diluar sedang malu untuk keluar dan menampakkan wujudnya. Namun ini bukan tentang matahari, melainkan tentang suasana hati kedua lelaki yang sejak tadi saling pandang tajam dan tidak suka. Sudah dua jam mereka berada diruangan yang sama untuk membahas tentang masalah perusahaan dan kerja sama. Dan selama itu pula selalu ada saja yang mereka perdebatkan, entah itu tentang perbedaan pendapat maupun hal hal kecil lain nya.
Entah sudah yang keberapa kalinya Nara menghela nafas melihat kelakuan Reynand dan Bimantara yang seperti selalu ingin mencari masalah. Tidak ada yang ingin mengalah diantara mereka. Sebenarnya ada dendam pribadi apa diantara dua lelaki ini??
Reynand memang tuan angkuh yang tidak akan mau mengalah sejak dulu. Namun Bimantara, bukankah dia lelaki yang cukup sabar dan lembut selama ini. Lalu kenapa ketika bertemu Reynand dia menjadi seperti ini???
"Kau memang tidak bisa diharapkan" dengus Reynand lagi. Tangan nya dia lipat didepan dada dan memandang Bimantara dengan kesal.
"Anda baru masuk satu hari tapi sudah membuat keputusan sendiri. Seperti sudah tahu saja seluk beluk perusahaan ini" jawab Bimantara tidak kalah kesal.
Saat ini mereka duduk disofa yang ada diruangan Nara. Saling duduk dan berhadapan satu sama lain. Arya yang sejak tadi hanya memandangi mereka sudah benar benar jengah. Kenapa kekesalan hati mereka karena Nara malah dibawa bawa saat bekerja seperti ini. Bagaimana bisa selesai. Seperti anak anak saja.
"Apa kau lupa jika perusahaan ini ada campur tangan ku. Jelas saja aku tahu" jawab Reynand begitu angkuh.
Bimantara langsung mendengus mendengar nya.
"Jika seperti ini terus masalah tidak akan selesai. Kita sudah duduk selama dua jam disini. Apa kalian tidak bosan berdebat terus. Jika kalian ingin berduel, nanti saja diluar. Mengaku nya orang hebat, tapi masalah hati dibawa bawa kepekerjaan" ucap Arya begitu sinis. Sepertinya dia lupa jika sedang berhadapan dengan siapa.
Bimantara dan Reynand langsung memandang Arya dengan tajam.
"Apa, aku berkata benar. Jika kalian marah, berarti memang begitu kan. Dasar tidak profesional" tambah nya lagi.
Nara hanya bisa menggeleng pasrah dan memijit pelipisnya yang terasa pening sekarang. Sepertinya dia telah salah menempatkan tempat hari ini. Tapi mau bagaimana lagi, otak mereka berdua dibutuhkan untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi kenyataan yang terjadi malah seperti ini, astaga.
"Kamu diam saja ndrong. Mana ada membawa bawa urusan hati, aku sedang memberitahu pada tuan muda yang sudah didepak dari perusahaan nya ini jika dia tidak bisa seenak nya saja berbicara" sahut Bimantara.
Reynand menyelis tajam pada Bimantara. Kenapa dia selalu saja membawa bawa masalah didepak itu. Menjengkelkan!
Namun baru saja dia ingin membalas perkataan Bima, Nara sudah lebih dulu memotong nya.
"Sudah lah, aku pusing melihat kalian seperti ini. Bukan nya menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Lanjutkan perdebatan kalian itu. Lebih baik aku kembali bekerja. Membuang buang waktu saja" gerutu Nara. Dia sudah jengah melihat kelakuan Reynand dan Bimantara. Sudah dua jam berkumpul tapi belum juga menemukan titik temu.
Lebih baik dia bekerja kembali.
Nara beranjak dan ingin pergi kemeja kerjanya, namun Reynand segera menarik lengan Nara saat Nara lewat dihadapan nya.
__ADS_1
"Jangan dulu, kan belum selesai" ucap Reynand memandang wajah kesal Nara.
"Jangan sentuh, bukan muhrim" sahut Bimantara dengan ketus.
Reynand hanya menyelis sekilas kearah nya dan malah menarik Nara untuk duduk disamping nya membuat Bimantara semakin kesal saja.
Lagi lagi Arya langsung menghela nafas jengah melihat ini. Apa tidak ada perempuan lain didunia ini selain Anara yang mereka perebutkan. Ya ampun.
"Rey.... apa sih?" gumam Nara memandang Reynand yang masih menahan nya untuk tetap duduk.
"Dengar dulu, kita adakan rapat empat hari lagi dengan perusahaan Dopindo. Aku akan meyakinkan mereka untuk tetap melanjutkan proyek itu. Jika tuan Abas berani turun tangan maka kita bisa menyerang perusahaan nya bersama sama" ujar Reynand memandang Nara dan Bimantara bergantian.
"Perusahaan Adidaksa sudah mulai mengalami penurunan, jika Dopindo juga berusaha untuk menjatuhkan nya maka perusahaan itu akan hancur. Apa anda mau perusahaan itu hancur?" tanya Bimantara.
"Tidak akan sampai hancur, karena aku tahu perusahaan Dopindo tidak akan berani melakukan itu. Mereka selalu bermain bersih sejak dulu. Tuan Renggono selalu bermain memakai hati, maka dari itu perusahaan mereka tidak pernah bisa mengungguli Adikdaksa sedari dulu" jawab Reynand.
"Kita hanya harus mempengaruhi dia untuk mau melawan tuan Abas, menjatuhkan sedikit demi sedikit kekuatan nya sampai dia mengalami tekanan. Aku yakin dia sedang kebingungan sekarang" tambah Reynand.
"Dan setelah mereka terpuruk anda ingin masuk kedalam nya menggunakan perusahaan Polie bukan, licik sekali" sinis Bimantara.
"Ini bukan masalah mu, yang terpenting semua terselamatkan. Aku licik, tapi aku melakukan itu pada perusahaan yang pernah aku bangun" jawab Reynand.
"Ya, tapi kau menggunakan kami semua tuan muda. Memang jiwa licik mu itu sudah mendarah daging rupanya" kata Bimantara lagi.
"Heh, bukankah karena kelicikan ku ini kau juga diuntungkan. Perusahaan mu juga akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar jika mega proyek itu berjalan. Jangan munafik kau" balas Reynand yang mulai kesal lagi.
"Aku...."
"Sudah cukup, baiklah empat hari lagi kita adakan rapat bersama perusahaan Dopindo. Pertemuan hari ini sampai disini dulu. Tuan Bimantara kamu bisa menyiapkan berkas berkas proyek yang diperlukan bukan?" tanya Nara yang langsung memotong perkataan Bimantara. Jangan sampai mereka berdebat lagi.
"Baiklah" jawab Bimantara begitu pasrah membuat Arya langsung menahan senyum melihat wajah kesal yang tidak bisa lagi berkutik itu.
"Dan Aryo, kamu bisa mempersiapkan rapat empat hari lagi. Beritahu semua staff kita" kini Nara beralih pada Arya yang langsung mengangguk dengan cepat.
"Siap nona" sahut Arya seraya memberi tanda hormat dengan tangan yang dia letakan dipelipis. Bimantara langsung mendengus jengah melihat nya.
__ADS_1
"Dan tuan Reynad, tugas mu adalah mengatur semuanya. Semoga ini bisa berjalan dengan lancar" ujar Nara pada Reynand pula.
Reynand tersenyum dan mengangguk.
"Baik nona" jawab Reynand dengan senyum yang begitu manis, namun tidak dipandangan Bimantara dan Arya. Mereka malah berdecak kesal melihat itu. Sirik sekali memang!
"Cih, kamu malah membantunya dalam kelicikan" sindir Bimantara
Nara tersenyum dan menggeleng memandang Bimantara
"Bukan begitu, masalah Reynand licik atau tidak itu urusan dia dengan keluarganya. Aku hanya melihat keuntungan yang akan kita dapatkan. Bukankah ini juga hal yang baik" ungkap Nara.
"Dan sekarang kamu juga ikut ikutan licik Nara" sahut Arya pula
"Berisik, diam kau" sergah Reynand membuat Arya langsung berdecak kesal dan memalingkan wajahnya.
Tidak ada yang tahu tujuan Reynand selain Nara. Jika orang melihat memang seperti itu lah fikiran mereka. Menganggap Reynand licik ingin menjatuhkan perusahaan ayahnya sendiri. Tapi bukan seperti itu kenyataan nya, Reynand hanya ingin mengambil apa yang menjadi hak nya dan Zelina, juga untuk membongkar kebusukan ayah nya dan ibu Cleo.
Bimantara langsung tertawa dan mengangguk pelan. Yah, sepertinya ini tidak akan ada sangkut pautnya dengan kelicikan Reynand, namun dia juga tidak bisa memungkiri jika rencana ini juga akan menguntungkan nya. Meski dia cukup kesal karena harus bekerja sama dengan tuan angkuh ini.
"Yasudah lah. Demi Nara aku akan mengikuti kalian" jawab Bimantara dengan pasrah. Namun perkataan nya cukup mengandung racun untuk Reynand. Bahkan sekarang wajah Reynand sudah kembali kesal membuat Nara benar benar jengah.
Arya hanya bisa tertawa dalam hati melihat perang dingin ini. Mereka sama sama saling tidak menyukai, namun karena Nara mereka malah dengan terpaksa harus bekerja sama. Keren kan!
"Kau memang minta aku hajar" greram Reynand yang sungguh tidak bisa menahan rasa cemburu nya.
Bimantara hanya terkekeh memandang wajah kesal itu. Sekarang dia masih berani mengusik Reynand, tapi jika dia masih tuan angkuh yang dulu, mana Bimantara berani. Sekali sentilan saja sudah membuat dia kacau balau mengurus perusahaan nya.
"Sudah lah, anda juga tidak bisa berbuat apapun sekarang." ucap Bima begitu meremeh membuat Reynand semakin terbakar.
"Nara aku pamit dulu. Sampai bertemu dilain waktu" pamit Bimantara pada Nara seraya dia yang beranjak dari duduk nya.
"Yo, jangan biarkan mereka berduaan didalam sini" ujar Bimantara pada Arya, dan setelah itu dia langsung berlalu keluar setelah sebelum nya melemparkan senyum sinis pada Reynand.
"Awas saja nanti, setelah aku bangkit, dia orang selanjutnya yang akan aku hajar" gumam Reynand
__ADS_1
"Sudah lah Rey" Nara kembali menghela nafasnya dengan berat, sementara Arya malah terbahak melihat film drama ini. Sudah mengalahi drama korea saja.