
Meja Nara penuh dengan tumpukan dokumen dan berkas berkas yang menggunung. Baru satu hari tidak masuk tapi pekerjaan sudah begitu banyak seperti ini. Belum lagi laporan laporan keuangan yang harus dia periksa. Kepala Nara sudah terasa berdenyut hanya dengan melihat semua ini.
Tapi dia memang harus mengerjakan nya, tidak boleh tidak. Arya sudah berbaik hati membiarkan nya libur semalam. Dan hari ini Nara harus menyelesaikan nya, masih banyak hal yang akan dia kerjakan besok. Salah satu nya adalah mendatangi lagi rumah tua tempat dimana dia melihat ayah Reynand dan ibu Cleo kemarin.
Nara bekerja begitu serius dimeja nya, namun tidak bisa terlalu fokus karena pinggang nya tidak bisa duduk terlalu lama. Alhasil dia membawa berkas berkas itu kesofa dan mengerjakan nya disana sembari berbaring dan mengistirahatkan pinggangnya. Hari sudah lewat tengah hari, tapi pekerjaan nya masih ada beberapa lagi yang belum selesai. Hari ini Arya ke kota B untuk meninjau kembali proyek yang mereka jalankan, sehingga Nara hanya sendiri mengurus perusahaan.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan Nara diketuk oleh seseorang. Nara menyuruhnya masuk, dan ternyata sekretarisnya.
"Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda" ucap nya
"Siapa?" tanya Nara seraya menurunkan kakinya kelantai
"Nona Zelina" jawab sekretaris Nara
"Suruh masuk saja" jawab Nara
Sekretaris Nara langsung mengangguk dan kembali keluar meninggalkan Nara yang merapikan tumpukan dokumen yang berserakan diatas meja. Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka dan menampakkan senyum manis Zelina yang sangat ramah seperti biasa.
"Selamat siang nona" sapa Zelina
Nara tersenyum dan mengangguk sekilas
"Selamat siang Ze, ayo duduk" ajak Nara
Zelina dengan semangat langsung duduk disofa tepat disebelah Nara. Dia membawa sesuatu ditangan nya, seperti sebuah kotak makanan.
"Sepertinya nona sedang sibuk, apa saya mengganggu?" tanya Zelina memperhatikan Nara yang masih merapikan tumpukan dokumen nya
"Tidak, sudah hampir selesai. Aku juga harus istirahat sekarang" jawab Nara tanpa melihat wajah Zelina
"Nona, saya membawakan sesuatu untuk anda?" ucap Zelina
Nara menyingkirkan dokumen nya dan langsung menoleh pada Zelina yang menyerahkan sebuah kotak makanan bewarna merah
"Apa ini?" tanya Nara memandang bingung kotak makanan itu
"Mama membuat banyak martabak sayur, jadi saya membawakan nya sedikit untuk nona. Tidak tahu nona menyukai nya atau tidak" ungkap Zelina
Nara langsung tersenyum seraya membuka kotak makanan itu
"Aku pasti suka" jawab Nara. Ya, bagaimana tidak suka, ini adalah masakan dari ibu mertuanya. Tentu Nara sangat senang bisa mencicipi hasil masakan ibu mertuanya. Dia memperhatikan makanan itu dengan lekat dan tersenyum haru. Masih hangat, bahkan aroma nya saja sudah terasa menggiurkan. Tanpa sadar mata Nara malah berkaca kaca, jika saja pernikahan nya dan Reynand seperti pernikahan orang lain, dia pasti bahagia, mendapati ibu mertua dan adik ipar yang begitu baik seperti mereka.
"Nona, kenapa?" tanya Zelina yang heran melihat Nara hanya diam memandang makanan itu
Nara terkesiap dan menggeleng pelan.
"Ini pasti sangat enak" gumam Nara seraya beranjak perlahan menuju pantry kecil nya untuk mengambil sendok dan air minum
"Ini makanan kesukaan kakak dan papa. Mama sengaja membuat nya hari ini, tapi satupun dari mereka tidak ada yang pulang" ungkap Zelina terlihat sedih
__ADS_1
Nara kembali duduk disebelah Zelina dan memandang heran wajah sedih itu
"Ini masih siang, mungkin saja mereka sedang sibuk diperusahaan" jawab Nara
"Tidak nona, kakak dan ayah sudah tiga hari tidak pulang kerumah" sahut Zelina. Nara langsung memandang nya dengan heran. Tiga hari, kenapa bisa tidak pulang selama itu. Reynand memang selalu berada dirumah nya tiga hari ini. Tapi ayah nya, kemana?????
Fikiran Nara langsung terkenang dengan apa yang ditemui nya dua hari yang lalu. Apa dia tidak pulang karena ada bersama dengan ibu Cleo? Tapi untuk apa
"Mungkin papa kamu sedang keluar kota, bisnis kalian cukup banyak kan" kata Nara mencoba mengorek informasi dari gadis polos ini. Dan dapat dia lihat Zelina yang menggeleng pelan dengan wajah yang semakin sedih.
"Kata mama, papa sudah lama tidak mengurus perusahaan lagi. Semua nya kak Rey yang mengurus. Kami tidak ada yang tahu kemana papa pergi, setiap ditanya dia pasti marah" jawab Zelina dengan mata yang berkaca kaca.
Melihat ekspresi wajah Zelina yang seperti ini, seperti nya Nara semakin yakin jika keluarga mereka memang sedang tidak baik baik saja. Entah apa yang terjadi, tapi dia yakin ini pasti masalah yang rumit, dan semoga saja tidak ada kaitan nya dengan ibu Cleo. Tapi feeling nya malah berfirasat seperti itu.
"Papa juga terlihat berubah sekarang" gumam Zelina lagi. Nara kembali memandang wajah Zelina, yang sepertinya memang tidak sungkan untuk berbagi cerita pada Nara. Mungkin karena dia tidak mempunyai teman berbagi
"Berubah bagaimana?" tanya Nara ingin tahu
"Dulu ketika saya pulang, dia selalu menyambut saya dengan senang. Memeluk dan memanjakan saya karena rasa rindu setelah lama tidak bertemu. Tapi kepulangan saya kali ini, jangankan untuk memeluk, berbicara saja dia seolah tidak ingin lagi. Dia hanya menyapa sekedarnya, tersenyum sekedarnya. Dia sangat berubah, padahal sudah tiga tahun saya tidak pernah pulang ke Indonesia dan selama itu pula kami tidak pernah bertemu. Dia juga tidak pernah mengunjungi saya kesana, hanya mama dan juga kak Rey. Saya benar benar sedih melihat sikap papa yang sekarang" ungkap Zelina yang kini tidak bisa lagi membendung air matanya
Dan tanpa sadar mata Nara juga berkaca kaca mendengar cerita Zelina. Dia langsung merangkul Zelina dan mengusap bahu gadis itu dengan lembut.
"Saya pulang karena saya merindukan rumah. Tapi kenyataan nya malah berbeda. Rumah tempat saya kembali ternyata sudah tidak sama lagi. Semuanya terasa begitu asing. Saya hanya seperti tamu disini. Semua nya sudah terasa berbeda, sangat jauh berbeda sejak empat tahun yang lalu" ungkap Zelina ditengah tengah isak tangis nya
Nara terdiam dan masih mengusap punggung gadis yang menjadi adik iparnya itu. Empat tahun, itu adalah waktu dimana dia dan Cloe masih bersahabat. Mereka masih sama sama berkuliah S2 dikampus yang sama. Dan dia rasa ditahun itu juga dia mulai mendapati tentang keanehan dan kejanggalan Cleo dan ibunya.
"Entah lah nona, saya begitu berharap keluarga saya bisa seperti dulu lagi. Tapi sepertinya mustahil. Setiap hari saya hanya melihat wajah sedih mama. Jika kakak dan papa pulang, mereka hanya berdebat dan bertengkar. Bahkan beberapa waktu kemarin kak Rey dan papa sampai bertengkar hebat, entah apa yang terjadi, tapi kak Rey begitu marah, dia bahkan memecahkan barang barang yang ada dirumah itu hingga tangan nya hancur" ungkap Zelina lagi seraya mengusap air matanya
Nara kembali terdiam, tangan hancur??? Apa kejadian itu yang membuat Reynand pulang kerumah dalam keadaan demam tinggi, bukan kah tangan nya juga terluka waktu itu??
"Ah nona, maafkan saya. Saya jadi tidak tahu diri cerita masalah keluarga saya pada nona" kata Zelina yang baru tersadar
Nara langsung tersenyum dan menggeleng. Dia mengusap wajah Zelina sebentar
"Jangan sungkan, kamu bisa menganggapku kakakmu jika kamu mau" ujar Nara
"Benarkah nona?" tanya Zelina begitu senang
Nara langsung tersenyum dan mengangguk
"Aah terimakasih nona, terimakasih" kata Zelina yang langsung memeluk tubuh Nara dengan gemas. Bahkan Nara sampai terkejut karena nya. Dia tertawa kecil dan membalas pelukan Zelina. Gadis cantik yang malang, dia juga menjadi korban dari keegoisan Reynand dan ayahnya. Entah apa masalah mereka, tapi Nara bisa merasakan jika Zelina tampak tertekan.
"Jadi apa saya bisa memanggil anda kakak sekarang?" tanya Zelina lagi seraya melepaskan pelukan nya
"Tentu saja" jawab Nara cepat. Zelina tersenyum penuh haru bahkan matanya kembali berkaca kaca lagi. Dia memang sangat sedih dan tertakan. Hanya Nara teman nya sejak dia pulang ke Indonesia. Dan dia begitu senang jika Nara mau menganggapnya sebagai adik.
Dan memang kenyataan nya begitu. Zelina adalah adik iparnya. Hanya saja Nara tidak mungkin memberitahu tentang ini. Jika Reynand tahu, dia pasti akan murka.
"Terimakasih, kakak" ucap Zelina. Dan kali ini bukan hanya Zelina yang begitu terharu, melainkan Nara juga. Walaupun tidak diakui, setidaknya dia masih memiliki saudara ipar yang ternyata sangat menyenangkan.
__ADS_1
Entah akan bertahan sampai kapan, tapi biarkan dia menikmati waktunya sebentar. Apalagi melihat Zelina yang seperti ini, membuat Nara semakin tidak tega dan semakin ingin mengungkap apa yang telah terjadi sebenarnya, tapi apakah bisa semudah itu???
"Ayo kita makan, aku juga punya sesuatu buat kamu" kata Nara yang menyerahkan kotak makanan biru muda nya pada Zelina. Bekal yang dia siapkan pada Reynand pagi tadi, yang akhirnya dia bawa keperusahaan.
Zelina menatap heran kotak makanan itu.
"Apa ini nona, eh kak?" tanya Zelina dengan senyum canggung nya
"Madeleine, aku membuat nya padi tadi. Tidak tahu kamu suka atau tidak" jawab Nara yang juga membuka kotak makanan dari Zelina. Dia mengiris kecil martabak sayur itu dan mencicipinya segera. Rasa hangat dan gurih yang melumer didalam mulutnya membuat Nara langsung tersenyum
"Enak sekali" gumam Nara
"Benarkah" tanya Zelina dan Nara langsung mengangguk
Zelina tersenyum senang melihat Nara yang begitu menikmati makanan yang dia bawa. Zelina juga mulai membuka kotak makanan itu, namun dia tiba tiba tertegun saat melihat isinya. Dia jadi teringat beberapa waktu lalu, saat diperusahaan Reynand, bukankah kakaknya itu juga membawa ini. Madeleine dengan kotak biru muda.
Nara tidak memperhatikan wajah bingung Zelina karena dia masih menikmati martabak nya.
Zelina semakin penasaran dengan rasanya, aroma dan bentuk cake ini dia masih ingat, dan jika rasanya sama, apakah Reynand mendapatkan nya dari Nara?
Zelina langsung meraih sepotong madeleine itu, menggigit nya separuh, merasakan rasa manis yang memang sangat memanjakan lidah. Mata Zelina melebar dan langsung memandang Nara dengan lekat
Nara yang merasa dipandangi langsung menoleh pada Zelina
"Ada apa, apa tidak enak?" tanya Nara heran
"Ini benar kakak yang membuat nya?" tanya Zelina. Nara yang sedang mengunyah hanya mengangguk saja namun pandangan matanya masih memandang Zelina dengan lekat
"Apa kakak dan kak Rey mempunyai hubungan?" tanya Zelina tiba tiba
uhuk uhuk
Nara langsung tersedak mendengar itu. Bahkan dia sampai terbatuk batuk seraya meraba dadanya. Zelina terkesiap dan langsung memberikan Nara air minum. Membiarkan Nara meminum air nya dengan wajah yang memerah.
Kenapa Nara terkejut???
Apa pertanyaan nya salah??
Sedangkan Nara tampak mengusap bibir nya dengan tisu, dan kembali menoleh pada Zelina yang masih memandangnya penuh tanya dan curiga
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Nara
"Karena madeleine ini pernah dibawa kak Rey keperusahaan" jawab Zelina
"Dengan bentuk dan rasa yang sama. Kotak makanan nya juga sama" tambah Zelina lagi
Nara terdiam dan memandang madeline itu dengan getir
*siapkan tisu untuk part selanjutnya, iman dan imun juga harus dipertebal ya guys. Jangan ada yang bawa senjata tajam ketika baca nanti, soalnya Reynand bakal ngamuk. wkwkwk
__ADS_1