Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Reynand mematung memangku kepala Nara yang sudah terkulai lemah dan tidak lagi sadarkan diri. Darah keluar dari bagian intinya dan cukup banyak. Ari hujan yang mengalir siang itu membuat tanah menjadi merah. Tidak ada kesakitan yang paling sakit selain yang dirasakan oleh seorang Anara Polie.


Tangan Reynand bergetar mengusap wajah pucat Nara yang mendingin. Disaksikan oleh puluhan orang dan juga hujan yang terus mengguyur semakin deras. Bagaimana terpukul nya Reynand ketika mengetahui siapa Anara sebenar nya.


Jantung nya seperti dihantam oleh sesuatu yang sangat besar hingga rasanya begitu sakit dan berdenyut dengan kuat.


Anara, remaja cantik yang pernah ditolong nya sebelas tahun yang lalu. Remaja cantik yang pernah mengucapkan janji manis untuknya. Dan remaja cantik yang dia cari selama ini.


Tidak, tidak mungkin Nara bukan. Dan kenapa harus Nara???


Air mata tanpa terasa menetes diwajah itu namun tersamarkan oleh air hujan yang sudah membasahi tubuhnya. Tidak ada yang berani mendekat, semua orang seolah sedang menanti apa yang sebenar nya dilakukan oleh tuan Adiputra disana.


Tidak ada yang tahu bahwa saat ini Reynand masih meyakinkan hatinya jika seseorang yang menjadi istrinya adalah seseorang yang dia cari selama ini.


Seseorang yang telah dia perlakukan dengan begitu kejam ternyata adalah adik kecilnya.


Dan seseorang yang dia perlakukan dengan tidak adil adalah cinta pertama nya.


Tidak, tidak mungkin..


Oktober dimusin hujan


Sebelas tahun yang lalu


dan sebuah janji manis dari seorang remaja cantik


"Nara...." lirih Reynand mengusap wajah pucat yang sudah seperti tidak lagi berpenghuni


"Naraaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!" teriakan Reynand begitu menggelegar melebihi suara hujan detik itu


"Naraaa, tidak, dia bukan kamu Nara. Dia bukan kamu" kata Reynand memeluk tubuh Nara dengan tangisan penyesalan nya. Memeluk tubuh yang selalu dia sakiti, menangisi seseorang yang selalu dia anggap beban hidup. Namun nyatanya sekarang malah dia yang begitu menyesal hingga rasa nya tidak tahu harus berbuat apa


"Naraaaa!!!!!" panggil Reynand lagi. Namun percuma, Anara Polie sudah tidak lagi bisa mendengarnya. Anara sudah masuk kedalam alam bawah sadarnya. Dia tidak lagi mampu menahan rasa sakit yang begitu menyiksa tubuh dan hatinya. Kekejaman Reynand sudah diluar batas. Dan cinta nya tidak lagi bisa bertahan.


Dibawah langit hitam dan ditengah guyuran hujan yang begitu deras, tangis penyesalan Reynand langsung pecah. Semua memori tentang perlakuan nya terhadap Nara langsung bermunculan begitu saja. Membuat hatinya semakin merasa bersalah dan bergejolak dengan hebat. Bagaimana dia yang memperlakukan Nara selama ini, sungguh begitu keji.


Reynand meringis sakit, sakit sekali. Apalagi melihat Anara yang terkulai lemah dan tidak lagi bertenaga. Dia benar benar tidak bisa menahan perasaan nya.


Reynand mengangkat tubuh Nara kedalam gendongan nya. Tubuhnya yang terasa begitu lemah dan sangat rapuh. Dress putih nya terlihat kotor oleh tanah basah dan juga darah yang mengalir terus menerus.


Wajah Reynand memucat melihat darah itu, tapi jika dia tetap menangisi penyesalan disana, maka Nara akan benar benar mati.


Reynand segera membawa Nara menuju mobil nya. Disaksikan oleh semua orang yang masih berada disana. Meski hujan terus mengguyur, tapi mereka tahu bagaimana panik dan tegang nya wajah seorang tuan Adiputra.

__ADS_1


Didalam mobil yang menuju kerumah sakit, mata Reynand tidak lepas dari wajah lemah Nara. Wajah nya sangat pucat dan itu adalah wajah pucat yang selalu Reynand temui akhir akhir ini. Tangan Reynand bergetar menggenggam tangan Nara. Dia benar benar tidak menyangka jika remaja cantik itu, ternyata adalah Anara Polie.


Setelah tiba didepan rumah sakit, Reynand langsung membawa Nara masuk kedalam untuk mendapatkan pertolongan. Dia bahkan sedikit berlari membawa tubuh Nara kedalam. Sudah tidak bisa ditebak bagaimana raut wajah Reynand saat ini. Rasanya dia ingin menghukum dan membunuh dirinya sendiri sekarang. Dia benar benar manusia yang paling bodoh yang ada didunia ini. Membenci seseorang yang selalu dia cari sejak dulu.


Reynand terduduk lemas didepan ruang IGD dimana Nara dirawat. Wajah Reynand pucat, namun raut bersalah masih begitu terpancar dengan jelas disana.


Dia memukuli kepala nya berulang kali, berusaha menyadarkan otak nya yang begitu bodoh. Rasa pusing dikepala tidak lagi dia hiraukan.Yang ada difikiran nya saat ini adalah kenapa dia bisa tidak tahu jika Anara adalah remaja cantik itu??? Bahkan dengan kejam nya dia selalu menyiksa Nara setiap hari nya.


Padahal dulu dia sendiri yang bilang, jika dia menunggu Nara menepati janjinya, dan setelah Nara menepati janji itu, dia malah membuat Nara tersiksa setiap hari. Reynand benar benar menyesal.


"Tuan Reynand" panggil seorang dokter yang baru keluar dari ruangan Nara.


 Reynand terkesiap dan langsung berdiri memandang wajah dokter itu


"Ada yang perlu kita bicarakan" kata dokter wanita itu dengan begitu serius


Reynand hanya mengangguk dan mengikuti dokter itu kesebuah ruangan. Reynand duduk dihadapan dokter itu  dan masih dengan pakaian nya yang basah. Namun tidak lagi dia hiraukan. Bahkan dokter wanita itu sedikit heran melihat Reynand. Seorang pemimpin perusahaan besar yang selalu berpenampilan rapi dan elegan. Namun hari ini dia datang kerumah sakit membawa seorang gadis dengan penampilan yang acak acakan bahkan wajahnya terlihat begitu frustasi.


"Apa gadis itu mengidap suatu penyakit?" tanya dokter itu. Reynand terdiam mendengar nya. Namun dia langsung menggeleng pelan. Dia tidak tahu keadaan Nara, bahkan sedikitpun dia tidak pernah tahu. Yang dia tahu selama dua tahun ini Nara selalu terlihat sehat dan tersenyum tanpa beban. Tapi akhir akhir ini dia memang begitu lemah dan pucat


"Tuan, seperti nya gadis itu memang mengidap penyakit yang cukup serius. Dan dari gejala yang saya lihat, gadis itu mengidap suatu penyakit mematikan, seperti.......kanker"


deg


deg


deg


"Anda bercanda dokter" gumam Reynand


"Ini hanya prediksi tuan. Tim kami sedang memeriksa nya, mungkin membutuhkan satu hingga dua jam lagi" jawab dokter itu terdengar begitu menyesal


Reynand menggeleng tidak percaya. Nafas nya tiba tiba saja menggebu dan terasa sesak. Dia segera beranjak dari kursi nya dan langsung berjalan keluar dengan tergesa. Meninggalkan dokter wanita itu yang memandang nya dengan bingung.


Reynand berjalan dengan sedikit berlari. Lagi lagi otak nya tidak sinkron dengan apa yang dia dengar hari ini. Bahkan jalan menuju kemobil nya terasa begitu jauh saat ini. Langkah kaki Reynand begitu lunglai, dia serasa berjalan diatas air saat ini. Semoga perkiraan dokter itu salah, dia harus mencari tahu nya sekarang.


Reynand berpapasan dengan Guntur, asistennya itu baru saja tiba. Guntur terlihat membawa sebuah paper bag dan juga barang barang Reynand


"Kita pulang" ajak Reynand yang terus saja berlalu dengan cepat. Guntur memandang nya heran, namun tetap terus mengikutinya. Entah apa yang akan dilakukan oleh tuan muda nya ini. Sebenar nya Guntur juga heran karena kenapa Reynand begitu membenci Anara Polie? tapi hari ini dia melihat sendiri dengan mata kepala nya jika Reynand terlihat begitu mengiba dan tertekan melihat pemilik perusahaan Polie itu pingsan dan tidak sadarkan diri. Dia tidak tahu jika sebenar nya gadis itu adalah istri sirih Reynand. Pria angkuh itu begitu pandai menutupinya.


Akhirnya, Guntur membawa Reynand keperumahan yang sudah beberapa kali dia datangi. Meski penasaran, namun dia tidak pernah berani untuk bertanya.


Setelah mobil berhenti, Reynand segera turun dari mobil itu dan sedikit berlari masuk kedalam rumah meninggalkan Guntur yang bahkan belum sempat membukakan pintu mobil untuk nya.

__ADS_1


Reynad membuka kunci pintu itu dengan sedikit tergesa. Kunci yang selalu dia bawa karena mereka memang memiliki masing masing satu kunci.


Reynand langsung berlari kearah kamar Nara. Masuk kedalam kamar itu yang ternyata tidak dikunci oleh pemiliknya. Kaki Reynand yang sejak tadi tidak sabar untuk segera masuk, langsung mematung diambang pintu. Wajah nya kembali tegang dan begitu sedih melihat bercak darah yang sudah menghitam dikamar itu. Darah yang keluar saat Reynand menghajar nya malam itu.


"Nara...." gumam Reynand begitu lirih. Apalagi melihat bercak darah yang terlihat seperti jejak terseret masuk kedalam kamar mandi. Sungguh hati Reynand begitu mencelos melihat nya. Sebegitu sakit kah Nara hingga tidak mampu lagi untuk berjalan


Kaki Reynand berjalan dengan lemah mengikuti jejak darah yang telah mengering itu. Nara pasti tidak sanggup untuk membersihkan nya hingga dia membiarkan saja kamar nya kotor seperti ini. Bahkan di atas tempat tidur Reynand juga melihat bercak darah yang juga telah mengering.


Reynand langsung terduduk dengan lemas ditas tempat tidur Nara. Wajahnya memucat, karena sungguh dia tidak bisa melihat darah sejak kejadian beberapa tahun yang lalu. Namun sekarang bukan itu lagi yang dia kenangkan. Saat ini hatinya benar benar terasa ingin lepas dari tempat nya. Bahkan sejak tadi jantung nya terus berdenyut ngilu melihat kenyataan ini.


Reynand tertunduk dengan mata yang terpejam


"Apa aku masih pantas mengucapkan kata maaf padamu Nara" gumam Reynand terdengar begitu putus asa


Dia menarik nafasnya dalam dalam. Bahkan dia sendiri tidak bisa menafsirkan seberapa besar penyesalan nya saat ini. Meski Nara menikahinya dan merebut kebahagiaan Cleo, tapi ketika Reynand tahu jika Nara adalah adik kecilnya, dia menjadi serba salah dan terasa begitu sangat menyesal. Kenapa dia tidak bisa menyadari itu lebih lama sehingga dia tidak harus menyiksa Nara hingga seperti ini.


Reynand beranjak, dan berjalan perlahan menuju meja rias Nara. Dia duduk didepan meja rias itu. Memandang meja rias tempat dimana Nara selalu memoles wajah nya agar selalu segar dan cantik.


"Aku ingin terlihat cantik dihadapan suamiku" perkataan Nara seketika terngiang ditelinga Reynand, membuat nya langsung tersenyum dengan begitu miris. Bahkan matanya kembali berkaca kaca.


Reynand menarik sebuah laci kecil yang ada didepan nya. Dan dia langsung mendapati sebuah buku diary usang yang bersanding dengan sebuah gelang perak diatas nya.


Reynand mendengus senyum namun dengan raut wajah yang hancur dan penuh dengan penyesalan. Dia meraih gelang itu. Dan dia tahu, itu adalah gelang kesayangan nya dulu, gelang dari kakek nya yang dia berikan pada seorang remaja cantik yang sedang bersedih.


Gelang perak yang masih bagus berukirkan nama nya. Reynand.


"Bahkan kamu masih menyimpan nya dengan baik" gumam Reynand


Reynand membuka buku diary usang itu. Didalam sampul pertama terdapat foto remaja Nara yang sama persis seperti adik kecilnya. Penuh dengan senyum ceria dan sangat cantik. Reynand mengusap foto itu dengan lembut, terbayang kembali pertemuan nya dengan adik kecilnya sebelas tahun yang lalu, dioktober yang sama dimusim hujan yang sama.


"Kalau sudah dewasa nanti aku akan mencari kakak, aku akan menikah dengan kakak sebagai rasa terimakasihku"


Ungkapan polos Nara membuat Reynand tertunduk dengan mata yang terpejam. Hatinya lagi lagi mencelos sakit. Kenapa harus dengan cara ini Nara masuk kedalam kehidupan nya. Kenapa dengan memanfaatkan keadaan sulit nya waktu itu? Kenapa harus dengan cara seperti ini pertemuan mereka setelah sebelas tahun??? Kenapa harus membuat Reynand bertindak kejam, dan akhirnya malah membuat Nara terluka


'Maafkan aku Nara' batin Reynand berkali kali. Hanya dalam hati, dia benar benar tidak sanggup untuk mengatakan itu, bukan karena gengsi tapi karena rasa bersalah nya yang begitu besar hingga membuat Reynand tidak tahu apa masih pantas dia meminta maaf pada gadis itu


Ekor mata Reynand mendapati sebuah amplop cokelat besar yang terdapat dibawah duku diary Nara. Dia segera meletakkan buku diary itu dan meraih amplop yang masih ada didalam laci. Amplop yang Reynand tahu itu adalah sebuah catatan medis, karena disampul amplop itu tertera nama sebuah rumah sakit .


Tangan Reynand sedikit bergetar memegang benda itu, bahkan jantung nya kembali bergemuruh hebat setelah tadi dia sempat larut dalam kenangan bersama adik kecilnya.


Dengan perlahan Reynand membuka tali pengait yang menghalangi nya. Dia menarik beberapa kertas dari dalam sana. Kertas yang bertuliskan tulisan tulisan yang sulit untuk dimengerti. Namun bagi seorang Reynand Adiputra, dia tahu apa yang dilihat nya sekarang. Nafas Reynand mulai memburu, melihat catatan itu, seperti nya apa yang dikatakan oleh dokter tadi adalah benar.


Jantung Reynand serasa dihantam sesuatu kembali, bahkan mata dan mulut nya terperangah melihat hasil medis Nara. Tangan Reynand bergetar begitu kuat, wajah nya memucat bahkan matanya langsung berkaca kaca.

__ADS_1


Kepala Reynand menggeleng tidak percaya dengan apa yang dia lihat


"Kanker Ginjal Stadium Tiga"


__ADS_2