
Pandangan mata itu begitu lemah, tidak tahu apa yang telah terjadi pada tuan angkuh ini. Wajahnya pucat namun tetap tersenyum begitu tulus dan bahagia melihat Nara yang masih memandang nya tanpa mengedip. Ada getaran yang tidak mereka ketahui makna nya. Cinta, rindu, dan kesakitan menjadi satu. Seolah semua itu tidak sanggup untuk menjelaskan apapun yang terpatri dihati masing masing.
Reynand tetaplah Reynand, lelaki angkuh yang akan tetap memperjuangkan ketulusan yang dia miliki. Dan Nara tetaplah Nara, yang sudah terlanjur kecewa dan menyerah.
Reynand melangkahkan kaki nya ingin mendekat kearah Nara, namun langsung terhenti saat melihat pandangan mata Nara yang terlihat dingin dan menggeleng pelan.
"Apa kamu membawa surat itu?" tanya Nara tanpa basa basi
Reynand mematung, jantung nya lagi lagi berdenyut dengan ngilu mendengar ini. Lagi lagi Nara masih meminta pisah padanya. Dan Reynand sungguh tidak berdaya dengan permintaan Nara ini. Dia menoleh pada Bimantara yang ada dibelakang Nara, yang masih setia memegangi kursi roda istrinya. Apa karena lelaki ini??? Atau karena kekecewaan nya yang mendalam???
"Nara...tidak bisa kah kamu memberi ku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua nya??" tanya Reynand. Suara nya terdengar begitu putus asa
"Aku sudah memberi kesempatan berkali kali Rey. Dan sekarang, aku mohon lepaskan aku" pinta Nara
Reynand menggeleng dengan lemah
"Aku tahu kesalahan ku cukup besar. Aku tidak apa jika kamu tidak bisa memaafkan ku. Tapi aku mohon izinkan aku untuk menemani mu dan berada disisimu Nara" pinta Reynand begitu memelas, namun Nara hanya memandang nya dengan pandangan datar
"Tidak cukupkah kamu membuat ku menderita? Dan sekarang kamu masih tetap ingin memenjarakan ku dengan status ini?" tanya Nara
Reynand kembali terdiam, memandang Nara dengan mata yang berkaca kaca. Hatinya bagai teriris sebuah sembilu. Sakit sekali rasanya, untuk membayangkan pergi dari Nara saja dia tidak sanggup
"Nara...." lirih Reynand
"Pergilah, dan lepaskan aku" kata Nara masih dengan pandangan datar. Namun siapa yang tahu jika didalam hatinya dia juga merasa hancur
"Apa jika dengan aku pergi kamu akan bahagia???" tanya Reynand dengan suara yang terasa tercekat
"Ya" jawab Nara tanpa fikir
Reynand tertunduk, dan akhirnya jatuh berlutut diatas lantai. Tangan nya terkepal kuat menahan luapan emosi yang terasa begitu menghantam kuat jantung nya.
Nara memejamkan matanya sejenak, sedangkan Bimantara hanya terdiam, begitu pula dengan Arya dan Eyang putri yang hanya berdiri diambang pintu. Tidak ada dari mereka yang ingin membuka suara atau ikut campur. Kesakitan Reynand membuat mereka tidak tahu harus berbuat apa
"Jangan lakukan apapun lagi untuk ku. Aku sudah menyerah, dan tidak ingin lagi terikat apapun dengan mu. Biarkan aku tenang dalam kesendirian ku. Kamu bisa pergi dan mencari kebahagiaan mu. Jika kamu tidak bisa menalak ku sekarang, aku tunggu surat itu yang datang" ungkap Nara
Reynand mendongak memandang Nara dengan tatapan hancur nya
"Nara... aku mohon sekali saja. Aku hanya ingin bersama mu" pinta Reynand dengan air mata yang mulai menetes
Sungguh sangat sakit dengan apa yang dia dapatkan kali ini. Dia rela kehilangan semuanya, tapi tidak dengan cinta Nara. Nara tempatnya pulang, Nara tempat nya berteduh, lalu jika Nara pergi, bagaimana lagi hati nya. Hati yang sudah begitu lama mendamba kehadiran wanita ini.
"Dulu kebahagiaan ku adalah bersamamu. Tapi kamu selalu meminta ku pergi. Dan sekarang aku sudah pergi, maka jangan datangi aku lagi. Pulang lah, sejak aku memutuskan pergi waktu itu, kita.......sudah berakhir"
__ADS_1
deg
Jantung Reynand berasa terhempas kuat, nafasnya benar benar sesak dan tidak berdaya. Kepala nya tertunduk dalam, bahkan dia merasa tidak ada lagi daya untuk memandang Nara. Sebegitu benci kah dia??? Sebegitu sakit kah luka yang dia terima?? Hingga tidak ada lagi sisa cinta dihati Nara untuk nya??
"Ayo masuk" ajak Nara
Bimantara mengangguk, dia memandang sekilas pada Reynand yang masih tertunduk. Iba sebenarnya karena dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada mereka. Namun melihat kekecewaan Nara, dia tahu jika hubungan mereka memang tidak baik baik saja.
"Nara..." panggil Reynand
Namun percuma, Nara langsung memalingkan wajahnya saat Bimantara memutar kursi roda nya dan membawa Nara masuk kedalam. Bahkan dengan tega nya mereka menutup pintu dan meninggalkan Reynand dalam keterpurukan nya diluar, bersama hujan yang semakin senja semakin bertambah deras.
Reynand menangis, menangis sederas tetesan air hujan yang seakan tidak lagi bisa berhenti. Awan semakin gelap, segelap hatinya yang benar benar hancur dan menyesal karena telah menyia nyiakan matahari yang pernah menyinari hidupnya.
Tubuh Reynand bergetar, tangan nya mengepal kuat seiring dengan tangisan kehancuraan yang dia rasakan. Hujan yang begitu deras seolah menyamarkan tangisan pilu dari seorang lelaki angkuh yang kini hanya tinggal lelaki yang menyedihkan. Lelaki yang sudah kehilangan semua yang dia punya. Lelaki yang bahkan sudah seperti pecundang yang tidak lagi memiliki harga.
Kesakitan, penyesalan dan cinta yang semakin lama semakin dia sadari membuat Reynand serasa ingin mati. Kehilangan Nara bahkan lebih mengerihkan dari pada kehilangan nyawanya sendiri.
"Uaagghh Nara.......!!!!!" teriak Reynand begitu kuat dan begitu memilukan
...
Didalam rumah, Nara langsung mengurung dirinya didalam kamar. Tidak ingin siapapun melihat jika saat ini hatinya benar benar hancur dan tidak berdaya. Nara menangis, menangis yang bahkan tidak tahu untuk apa. Untuk cintanya??? atau untuk kekecewaan nya??? atau bahkan untuk takdir nya yang menyakitkan ini???
Dada nya terasa sesak, antara cinta dan kekecewaan yang begitu mendalam semua bersatu dalam hatinya. Melepaskan Reynand sama saja mencabut seluruh hati dan jantung nya. Sakit sekali. Tapi dia sudah memutuskan, ketika dia lebih memilih pergi, maka dia harus siap menanggung sakit yang akan membunuh hatinya. Membunuh segala cintanya, dan juga.....kebahagiaan nya.
...
Malam semakin larut, hujan yang tadi nya begitu deras, kini sudah mulai mereda. Dan tangis yang tadinya membanjiri wajah tampan itu kini mulai mengering diwajah nya yang semakin pucat. Sudah berjam jam Reynand berlutut diteras rumah Eyang putri. Menyesali apa yang telah terjadi, merenungi kemalangan yang bertubi tubi menimpanya.
Tapi semakin lama dia semakin sadar, jika cinta nya memang semakin besar untuk Nara. Jika Nara tidak lagi menerima nya, maka Reynand terima. Tapi satu yang pasti, cinta Reynand tidak akan pernah hilang untuk Anara, sejak sebelas tahun yang lalu..........hingga nanti.
Kesalahan dan kekejaman yang telah dia berikan membuat Nara begitu terluka, dan Reynand tidak akan memberikan luka itu lagi. Biar dia yang terluka, biar dia yang sakit sendiri, asal Nara bahagia.
Pintu yang tiba tiba terbuka membuat Reynand menengadah. Memandang Arya yang ternyata datang dan menemui nya.
"Sampai kapan anda akan berlutut disini terus tuan Adiputra?" tanya Arya. Sudah sejak lama dia memperhatikan Reynand dari dalam rumah, dan Arya benar benar heran melihat tuan angkuh ini yang masih saja berlutut dan tidak beranjak sama sekali. Bahkan sekarang wajah nya semakin pucat dan begitu kusut.
"Apa anda akan terus membiarkan Nara tersiksa dengan melihat anda yang seperti ini?" tanya Arya lagi
Reynand kembali tertunduk dan menggeleng pelan. Wajahnya benar benar menyedihkan, dan sebenarnya Arya tidak tega, karena dia manusia yang masih memiliki hati. Meski benci, tapi bagaimana pun Reynand pernah menjadi orang yang sangat dicintai oleh Nara. Reynand pernah baik pada Nara sebelum kesalah pahaman itu terjadi.
Reynand mulai beranjak dan berdiri, namun dia merasa pinggang nya yang berdenyut dan begitu sakit hingga tubuhnya hampir oleng. Namun dengan sigap Arya menahan lengannya dan memandang Reynand dengan aneh. Apa yang terjadi dengan lelaki ini, kenapa dia sekarang menjadi lemah????
__ADS_1
Reynand meringis dan menarik nafasnya dalam dalam, berusaha untuk meredakan rasa sakit yang begitu menggigit. Setelah merasa tenang, dia kembali berdiri dengan tegak membuat Arya langsung melepaskan lengan nya.
"Arya" panggil Reynand dengan nafas yang masih terasa tersengal, namun tangan nya meraih sesuatu dibalik jas yang dia pakai. Sebuah map berwarna merah berisikan beberapa kertas yang nampak tergulung dan sedikit kusut.
Arya mengernyit saat Reynand menyerahkan map itu kepadanya.
"Tolong bawa Nara ke Jakarta. Aku sudah menemukan pendonor ginjal untuk nya. Dia bisa menjalani operasi tiga hari lagi" ungkap Reynand
Mata Arya langsung melebar mendengar itu
"Anda serius tuan?" tanya Arya tidak percaya. Namun Reynand langsung mengangguk dan tersenyum tipis namun begitu getir
"Bagaimana anda bisa menemukan pendonor itu, bukan kah darah Nara...."
"Aku tidak akan membiarkan nya sakit lagi. Sudah cukup aku menyakitinya selama ini. Tolong kamu bawa dia kesana. Dia harus sembuh" pinta Reynand
"Tentu, tentu saya akan membawanya" jawab Arya begitu senang
"Tapi....bisakah kamu merahasiakan ini" pinta Reynand lagi
"Merahasiakan ini?" tanya Arya begitu bingung
"Aku takut Nara akan menolaknya jika ini adalah usaha ku. Kamu bisa mencari alasan lain untuk berbicara padanya." ujar Reynand
Arya terdiam, dia memandang Reynand dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Apa selama ini dia sering menghilang karena mencari donor ginjal untuk Nara???
"Aku pergi, aku titip Nara" Reynand menepuk sekilas bahu Arya dan langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar menuju mobilnya.
Arya masih mematung memandang kepergian Reynand yang terlihat begitu lesu dan lunglai. Bahkan dapat Arya lihat untuk berpijak saja Reynand sudah tidak berdaya. Sesakit itu kah dia???? Tapi bukankah ini adalah karma untuk dia yang telah menyakiti Nara??
Bimantara yang sejak tadi ternyata ada disebalik dinding dan mendengar percakapan mereka tampak terdiam ditempatnya berdiri. Sebenarnya dia tahu kemana Reynand menghilang selama ini, dia tahu jika Reynand telah membangun perusahaan Polie kembali, maka dari itu Reynand hanya mendatangi Nara seminggu sekali. Tapi Bimantara memang tidak ada berkata apapun pada Nara maupun Arya tentang itu.
Dan dia tidak menyangka jika ternyata Reynand menghilang selama dua minggu ini adalah untuk mencari pendonor ginjal untuk Nara. Apa dia benar benar serius ingin kembali pada Nara??? Tapi... Nara sudah tidak ingin lagi, meskipun Bima tahu jika Nara juga terlihat begitu sedih melepaskan Reynand. Terlihat jelas dari dia yang tidak lagi keluar dari kamar setelah bertemu Reynand sore tadi.
...
Reynand melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menembus malam dengan rintik hujan yang masih merenyai tipis. Jalanan licin tidak lagi dia hiraukan. Bahkan kematian juga tidak lagi dia takutkan. Hatinya sakit, fikiran nya kalut. Rasa sakit dipinggang nya tidak lagi dia rasakan, semua itu sudah kalah dengan rasa sakit dihati melihat Nara yang tidak lagi ingin menerima nya.
Bahkan Reynand juga dapat merasakan jika luka bekas operasi pengangkatan satu ginjal nya kini terbuka dan berdarah lagi. Ya, baru satu minggu dia keluar dari rumah sakit setelah dia memutuskan untuk menjual ginjalnya demi menambah biaya transplantasi ginjal Nara. Kesehatan nya belum pulih bahkan dokter Sebastian yang menangani itu belum memperbolehkan nya untuk keluar dari rumah sakit. Namun Reynand tidak bisa menunggu lama. Dia ingin Nara nya sembuh dan sehat kembali. Dia ingin melihat Nara nya kembali menjadi wanita yang anggun dan penuh pesona. Seorang Anara polie yang memiliki daya tarik tersendiri.
Meski Nara menolak nya, namun Reynand tidak menyesal sedikitpun. Karena dia tahu, apa yang dia lakukan ini tidak setimpal dengan luka yang telah dia beri.
Reynand hanya takut, dia begitu takut jika membayangkan jika dia benar benar kehilangan Nara lagi.
__ADS_1
Hari hampir pagi saat Reynand tiba di rumah nya. Perjalanan jauh, luka dalam dan luka luar yang terbuka kembali serta fikiran yang stres membuat tubuh Reynand langsung melemah. Wajah nya sudah benar benar pucat pasih. Bahkan dia sudah kesusahan untuk berjalan masuk kedalam rumah. Dengan begitu kepayahan, Reynand langsung tersandar didaun pintu. Nafas nya mulai melemah, bahkan pandangan matanya mengabur. Dia mengetuk pintu, beberapa kali dan ketika pintu terbuka, Reynand langsung rebah dan tidak lagi sadarkan diri.
"Rey!!!" teriak mama begitu panik