Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Oktober Datang Lagi


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, dan hari berlalu begitu saja. Bahkan setiap detik yang terlewati terkadang tidak lagi bisa terasa. Bahagia, tangis dan air mata, semua datang silih berganti seiring berjalan nya waktu.


Dan tidak bisa terbayangkan, jika kini Nara masih bisa menikmati dunia yang begitu fana ini. Dia masih dibiarkan hidup dan sehat kembali seperti dulu setelah dia hampir mati dimakan penyakit mengerihkan itu.


Dan yang tidak pernah dibayangkan adalah dia masih bisa bertemu dengan oktober tahun ini. Bulan dimana semua kenangan manis dan pahit Nara tersembunyi didalam nya. Hujan dan panas yang datang silih berganti membuat Nara lagi lagi harus bersyukur atas apa yang telah Tuhan beri. Dia masih harus menjalankan peran nya didunia yang masih saja terasa menyakitkan dan begitu hampa. Terkadang dia berfikir, untuk apa dia sehat kembali jika hatinya yang kini terasa sakit dan hampa? Entahlah, takdir Tuhan siapa yang bisa menduga.


Nara menarik nafasnya dalam dalam dan memandang keluar gedung perusahaan. Dimana lagi lagi bulan oktober dipenuhi oleh hujan yang tiada henti. Dan sekali lagi, dia begitu membenci suasana ini. Suasana yang membuat hatinya semakin tidak menentu.


Suara pintu yang terbuka tidak membuat Nara menolehkan pandangan nya dari hujan gerimis yang kini mengguyur kota Jakarta siang itu. Karena memandang ini, ada rasa rindu, hampa dan cinta yang masih tersisa, seperti jejak jejak hujan yang akan membekas ditanah tempatnya terhempas.


"Nara...." panggilan dari Arya membuat Nara menoleh kearah nya, namun hanya sekilas!


"Kamu bisa menandatangi ini. Berkas disini sudah menggunung dan menunggu tangan mu untuk bekerja. Hujan diluar sana tidak akan pernah berhenti jika kamu masih terus memandangi nya" ujar Arya


Nara mendengus dan menghela nafasnya


"Tidak ada pemandangan lain yang bisa menarik perhatian ku selain hujan diluar sana" jawab Nara yang kini beralih dan duduk dikursi nya


Arya tersenyum memandang Nara yang sudah segar kembali. Sejak beberapa bulan setelah operasi nya, baru dua minggu ini Nara kembali memimpin perusahaan Polie. Dan sekarang perusahaan Polie sudah berdiri dengan stabil kembali.


"Perusahaan Dopindo mengajukan kerjasama proyek yang terbengkalai dikota Bandung. Mereka ingin membuat jembatan yang lebih besar serta membangun sebuah hotel disekitar wilayah itu. Bagaimana menurutmu?" tanya Arya. Dia sudah duduk didepan Nara sekarang


Nara terdiam, dia memandang Arya dengan lekat


"Perusahaan Dopindo?" gumam Nara dan Arya langsung mengangguk


"Apa mereka percaya pada kita, bukan kah waktu itu mereka sendiri yang membatalkan kerja sama itu dan meminta ganti rugi?" tanya Nara


"Ya, tapi semua kerugian sudah ditangani oleh mantan suami kamu sejak kita pergi. Kita tidak ada bersangkutan lagi dengan mereka" ungkap Arya


Nara tertegun sejenak, namun setelah itu dia langsung mengangguk


"Ya, urus saja semua nya. Mudah mudahan dia tidak termakan hasutan tuan Baskoro dan juga tuan Abas" ujar Nara


"Tidak akan, semua masih berjalan dengan lancar. Ayah tiri kamu masih didalam pernjara sekarang, setelah terbukti melakukan kasus penipuan beberapa waktu lalu. Sedangkan tuan Abas, kita tidak ada sangkutan apapun dengan perusahaan besar yang hampir goyah itu" ungkap Arya

__ADS_1


Nara mengangguk pelan, namun lagi lagi dia jadi memikirkan sesuatu yang sampai saat ini belum lagi diketahui kebenaran nya. Tapi apakah itu masih perlu?


"Yasudah, urus saja semua" jawab Nara yang kini mulai membuka dokumen yang harus diperiksa nya


Arya memperhatikan wajah Nara dengan lekat. Dia memang sudah sehat, tapi dapat Arya lihat jika Nara masih memendam sesuatu didalam hati nya. Dia memang tersenyum, tapi senyum nya tetap saja masih memendam seribu luka dan kerinduan. Apa Nara belum bisa melupakan lelaki itu???


"Sudah beberapa bulan Nara, apa kamu belum bisa melupakan nya?" tanya Arya yang tidak bisa lagi menahan rasa penasaran nya


Nara mematung dan tersenyum tipis


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Nara


"Dia sudah tidak ada, tapi sampai saat ini kamu masih selalu bersikap seperti saat dia ada bersama mu. Kamu masih bukan Nara yang ceria seperti sebelum mengenal nya" ungkap Arya


"Tidak semudah itu Yo" jawab Nara


"Apa cintamu begitu besar, hingga kamu tidak bisa melihat keindahan lain yang mencoba masuk kedalam hatimu??" tanya Arya


Nara menghela nafasnya perlahan dan menggeleng


Dan memang seperti itu kenyataan nya, sejak dia memilih melepaskan Reynand, dan sejak lelaki itu pergi dari kehidupan nya, bukan kah Nara sudah membunuh semua perasaan nya, hati dan jiwanya juga seolah sudah pergi bersama kepergian Reynand beberapa bulan yang lalu. Lalu bagaimana lagi dia bisa membuka hati nya untuk orang lain? Jika dia merasa dia sudah tidak lagi memiliki semua itu. Semuanya sudah dia serahkan pada Reynand, dan kini Reynand yang telah membawa nya pergi.


"Sudahlah, kamu bisa melanjutkan pekerjaan mu. Setelah ini aku akan pulang duluan" ujar Nara


"Cepat sekali?" tanya Arya


"Aku ingin kemakam setelah dari rumah" jawab Nara


"Hari masih hujan, lagi pula baru seminggu yang lalu kamu kesana" balas Arya


"Aku hanya rindu" jawab Nara, membuat Arya langsung terdiam.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa menemanimu, aku harus lembur malam ini. Ada banyak pekerjaan yang masih harus aku selesaikan" ungkap Arya


"Hmmm, tidak masalah. Aku lebih suka sendiri" jawab Nara

__ADS_1


"Kamu memang seperti itu" Arya mendengus dan langsung beranjak dari kursi nya, meninggalkan Nara yang hanya tersenyum tipis.


Nara kembali memeriksa dokumen dokumen yang sudah begitu menggunung itu. Hari ini dia begitu malas untuk bekerja sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah tanggung jawabnya, dan dia begitu bersyukur perusahaan peninggalan ibunya ini masih bisa berdiri dengan baik hingga sekarang. Dan semua karena.......dia.


Dan sekitar pukul empat sore, Nara akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah. Dia pulang menggunakan taksi karena Arya tidak memperbolehkan nya menyetir sendiri.


Dan tidak sampai satu jam kemudian Nara sudah tiba didepan rumah minimalis nya. Rumah dengan sejuta kenangan pahit nya bersama Reynand. Ya, meskipun penuh dengan kenangan pahit, tapi tetap saja Nara tidak bisa untuk meninggalkan rumah ini. Dia tidak bisa membiarkan rumah ini kosong begitu lama. Karena bagaimana pun, ini adalah tempat yang akan menjadi tempat bernaung nya.


Sejak Nara keluar dari rumah sakit, Arya membawa nya kembali kerumah ini. Rumah ini sudah kosong, tapi Nara tahu sebelum Reynand pergi, dia pasti tinggal disini. Harum aroma tubuhnya bahkan masih bisa Nara rasakan hingga saat ini.


Nara membuka pintu rumah, yang lagi lagi hanya kehampaan seperti biasa yang menyambutnya. Bayang bayang dia yang melayani semua keperluan Reynand langsung terlintas begitu saja, apalagi dengan perlakuan lelaki itu. Sakit, tentu saja, tapi dia tidak lagi mengingat kesakitan itu. Yang dia ingat hanyalah tentang cinta nya dan semua perjuangan Reynand untuk nya.


Nara masuk kedalam kamar, namun dia langsung duduk didepan meja hias. Memandang wajahnya dicermin besar itu. Wajah yang sudah tidak lagi menyedihkan seperti dulu, wajah yang tidak lagi memerlukan hiasan make up tebal untuk menutupi wajah pucat nya. Kini Nara bahkan sangat jarang memakai make up. Untuk siapa lagi dia berhias jika tidak ada lagi tujuan nya.


Tangan Nara menyentuh bendulan laci meja, dia menarik nya perlahan. Masih tersimpan rapi buku diary nya didalam sana bersama dengan gelang perak milik Reynand, dan juga sebuah.......kalung.


Kalung yang pernah Nara berikan pada Reynand dulu sebagai ungkapan terimakasih karena sudah menolong nya.


Nara tersenyum tipis, karena tidak menyangka jika ternyata Reynand masih menyimpan kalung ini selama sebelas tahun lamanya. Dan oktober kali ini sudah yang ke dua belas tahun. Selama itu kisah rumit mereka.


Tangan Nara menggenggam kalung itu dengan lembut, dan yang membuat nya tersenyum adalah sebuah ukiran indah dibalik bendul kalung itu. Ukiran bunga kemuning.


Reynand.... jika saja semua berjalan dengan baik, pasti kisah kita tidak akan berakhir sesakit ini.


...


Setelah membersihkan diri, Nara memutuskan untuk pergi kesuatu tempat. Tempat dimana segala doa dan kesedihan akan selalu terpatri jika berada disana.


Kaki telanjang Nara berjalan perlahan memijak rumput rumput yang tertanam rapi. Rasa basah dan dingin langsung menyerap ketubuhnya karena rumput itu basah oleh air hujan. Dress panjang bewarna putih dan juga kerudung senada yang dia kenakan terlambai tersapu angin dihari yang sudah mulai senja.


Pandangan mata Nara memandang nanar kedepan. Ditangan nya membawa sekeranjang bunga tabur yang masih begitu segar. Bunga sebagai hadiah untuk orang yang pernah mengisi kehidupan nya selama ini.


Dia rindu, dia ingin mencurahkan segala isi hatinya lagi. Meski kini dia hanya akan mengungkapkan pada sebuah nisan yang tak lagi bisa membalas perkataan nya....


__ADS_1


Bonus visual. Anara Polie


__ADS_2