
Beberapa hari kemudian...
Bima memandangi undangan bersampul merah yang ada ditangan nya. Undangan yang sangat mewah dan elegan. Undangan dengan gambar pasangan yang sangat serasi, berkelas dan tentunya sangat menarik hati. Tertera inisial R dan N dengan tinta emas yang sangat manis. Sudah jelas, jika orang itu adalah Reynand dan Nara.
Bima mendengus senyum memandang undangan itu. Tidak pernah terbayangkan difikiran nya jika selama ini orang yang dia suka adalah mantan istri dari Reynand Adiputra. Pantas saja Nara tidak pernah bisa berpaling sedikitpun, jika yang menjadi pemilik hatinya adalah seorang tuan muda Reynand.
Dan yang membuat Bima tidak habis fikir, kenapa dia bisa secinta itu dengan Nara? Lucu sekali bukan. Bahkan bisa dibilang Nara adalah orang pertama yang bisa mencuri perhatian Bima sejak pertama kali bertemu. Sosok nya yang anggun, cantik, elegan dan tentunya lembut membuat Bima begitu sulit untuk berpaling. Bahkan berniat untuk menjadi pebinor sewaktu Nara masih berada dirumah eyang putri dulu.
Otak nya memang sangat gila....
Ya, Anara....
Bisa dibilang dia adalah sosok wanita yang sempurna, selain memiliki fisik yang sempurna, dia juga memiliki hati yang pemaaf dan begitu lembut mudah menerima takdir.
Tidak seperti Gendis yang sangat susah move on itu. Dia memang cantik, dia lebih muda dan ceria, dia enerjik tapi juga sangat cerewet hingga terkadang membuat Bima cukup kesal dengan sikapnya.
Tanpa sadar Bima malah tersenyum ketika mengingat gadis berambut pirang itu, apalagi saat mengingat malam itu.
Bima tiba tiba tertegun...
Kenapa dia jadi mengingat Gendis???
"Astaga" gumam Bima seraya menggeleng pelan. Dia langsung membuka undangan merah itu. Melihat kapan acara pesta pernikahan itu akan digelar.
Dan ternyata dua hari lagi!
"Kenapa cepat sekali, aku bahkan belum menyiapkan kado untuk mereka" gumam Bima lagi. Dia jadi kebingungan sekarang. Dia benar benar melupakan tentang acara pernikahan Nara ini, jika saja dia tidak melihat undangan yang tergeletak dimeja nya pagi ini.
Kenapa seperti itu? Apa dia memang sudah benar benar merelakan Nara? Atau karena dia begitu sibuk dengan Gendis dua bulan ini???
drrrrt drrrtt drrtt
Bunyi ponsel yang bergetar diatas meja membuat Bima terkesiap. Dia langsung meraih ponselnya. Nomor yang tidak dikenal.
"Ya" jawab Bima
"[Apa aku mengganggumu?"] tanya seseorang dari seberang sana. Suara seorang perempuan. Dan Bima mengenal suara ini. Bahkan tanpa sadar dia langsung tersenyum mendengar suara Gendis.
"Tidak juga, aku masih bersantai. Ada apa?" tanya Bima, tangan nya masih memegang kertas undangan Nara.
"[Bisakah malam nanti kamu kerumah. Aku akan menepati janjiku untuk membuat kan mu apple pie. Sekaligus ayah ingin bertemu dengan mu. Dia ingin menjamu mu dirumah untuk mengucapkan terimakasih]" jawab Gendis.
"Malam nanti" gumam Bima
"[Ya, siang ini aku ingin berbelanja terlebih dahulu. Ayah juga masih sibuk diperusahaan]" jawab Gendis.
Bima terdiam sejenak, namun bibirnya terlihat tersenyum tipis.
"Bagaimana jika siang ini aku menemani mu berbelanja. Aku juga ingin membeli sesuatu. Kamu bisa menemaniku untuk memilihkan" ujar Bima.
"[Baiklah, kamu bisa menjemputku]" jawab Gendis.
"Oke" sahut Bima.
Dan setelah itu dia langsung mematikan ponsel nya. Mata nya kembali memandang kertas undangan ditangan nya.
"Kamu memang pantas bahagia bersama nya Nara" gumam Bima. Dan setelah itu dia langsung meletakkan undangan itu didalam laci mejanya dan beranjak untuk pergi bersama Gendis.
__ADS_1
Lupakan Nara, dia sudah bahagia bersama cintanya.
...
Dan memang, saat ini Nara sedang berada dirumah nya bersama Zelina. Sudah sejak beberapa hari yang lalu Zelina tidur dan menginap dirumah Nara. Mama meminta Zelina untuk menemani Nara dan tidak membiarkan nya sendiri berada dirumah. Apalagi pernikahan mereka tinggal dua hari lagi.
Nara dan Reynand juga sudah tidak bertemu beberapa hari ini. Mereka sudah dirumah kan masing masing oleh mama. Dan ini yang membuat Nara dan Reynand sama sama harus bisa saling menahan rindu yang menggebu. Nara sudah tidak lagi bekerja, urusan perusahaan diserahkan pada Arya. Arya yang memegang kendali sekarang. Reynand sudah tidak lagi memperbolehkan Nara bekerja.
Dan sekarang, Nara hanya berada dirumah sepanjang hari. Dia sudah tidak lagi diperbolehkan keluar rumah. Untung saja ada Zelina yang menemani nya. Jika tidak, Nara pasti akan merasa sangat kesepian.
Dan hari ini, Nara kedatangan tamu spesial. Ada Naina yang datang mengunjungi nya, Nara benar benar terkejut dengan kedatangan Naina kerumah nya. Ibu muda satu anak ini terlihat begitu baik dan ramah.
"Aku benar benar sangat senang kamu berkunjung Nai" ucap Nara seraya membawa beberapa gelas jus jeruk keruang tamu rumah nya.
"Sudah lama aku ingin mengunjungi mu, tapi baru hari ini suamiku sempat mengantar" jawab Naina.
Nara tersenyum dan langsung duduk disamping Nara
"Lalu kemana suami kamu?" tanya Nara
"Pergi meeting bersama klien, kebetulan tidak jauh dari daerah sini" jawab Naina. Dan Nara hanya tersenyum saja menanggapi nya.
"Jadi Zelina adik ipar kamu ya" kini Naina beralih memandang Zelina yang duduk didepan mereka.
"Iya kak, adik ipar satu satunya yang paling cantik" jawab Zelina dengan tawanya, membuat Naina juga ikut tertawa. Wanita seumuran Nara yang gampang sekali tersenyum dan tertawa.
"Ya, kamu memang cantik. Dan kalian memang keluarga yang tidak gagal" sahut Naina.
"Kamu bisa saja' jawab Nara.
"Kenapa Abimanyu tidak ikut Nai?" tanya Nara
"Anak kak Nai cuma satu?" tanya Zelina.
Naina langsung mengangguk.
"Ya, masih tujuh tahun, tapi kelakuan nya sudah seperti orang dewasa" jawab Naina.
"Mungkin dia menuruni sifat daddy nya" ucap Nara.
"Tidak, dia menuruni sifat paman nya" sahut Naina.
"Wahh bisa begitu ya" kata Zelina pula.
"Bisa, bahkan bukan hanya sifat nya, tapi wajahnya juga" ucap Naina dengan tawa renyah nya.
"Kamu pasti bahagia memiliki dua orang tersayang seperti itu" ucap Nara dan Naina langsung mengangguk.
"Tentu saja, jika kamu mempunyai anak nanti, kamu pasti akan tahu bagaimana rasa bahagia nya Nara" ucap Naina.
Nara langsung menghela nafasnya dengan berat.
"Aku bahkan ragu apakah bisa punya anak atau tidak" gumam Nara terlihat sendu. Zelina langsung memandang Nara dengan sedih.
Naina mengusap lengan Nara dengan lembut.
"Jangan begitu, selagi kamu punya rahim, kamu pasti bisa punya anak. Aku juga dulu sempat berfikiran seperti itu. Bahkan aku lama baru mendapatkan Abimanyu." ungkap Naina.
__ADS_1
Nara langsung memandang nya dengan lekat.
"Semua sudah ada yang mengatur Nara. Kita hanya tinggal menjalankan nya saja. Jangan kecil hati, kesehatan kita lebih penting untuk orang yang mencintai kita" tambah Naina lagi.
"Benar kak, yang terpenting kakak dan kak Reynand sehat. Masalah anak tidak akan menjadi masalah. Bukankah mama sudah pernah bilang juga" sahut Zelina pula.
"Aku hanya merasa khawatir" ucap Nara.
Naina tersenyum dan menggeleng.
"Aku mengerti perasaan mu. Aku pernah berada diposisi seperti mu. Bahkan yang terfikirkan bukan lagi hal lain, melainkan berfikir apakah besok masih bisa bernafas atau tidak. Dan kenyataan nya ternyata Tuhan masih memberikan umur yang panjang untuk aku menikmati hidup bersama suami dan kekuarga ku. Anak itu adalah hadiah karena kesabaran kita" ungkap Naina lagi.
Nara tersenyum dan mengangguk. Dia tau, Naina pasti bisa merasakan nya, karena mereka memang memiliki kisah yang hampir sama.
"Sekarang fokuskan pada pernikahan mu, bukankah tinggal dua hari lagi" tanya Naina.
"Ya, kamu harus datang nanti" ujar Nara
"Tentu saja, aku ingin melihat bagaimana raja dan ratu ini duduk dipelaminan" goda Naina. Nara langsung tertawa malu mendengar itu.
Jika membayangkan tentang pernikahan yang tinggal didepan mata, dia jadi tidak tenang. Rasanya benar benar tidak sabar, tapi juga gugup. Aneh sekali.
"Dan sebentar lagi kakak dan kak Rey tidak akan merasakan rindu seperti ini lagi" goda Zelina pula.
Nara tertawa malu dan mengangguk. Zelina memang paling tahu jika dia memang sedang merindukan lelaki itu.
"Apa kalian dipingit?" tanya Naina.
Nara langsung mengangguk pelan
"Iya, maka nya kak Nara lesu begitu, Dia kan sedang menahan rindu" ledek Zelina
"Ze...." gumam Nara, namun Zelina malah tertawa, begitu juga dengan Naina.
"Aku bahkan tidak merasakan dipingit sewaktu mengadakan resepsi waktu itu" ucap Naina
"Kenapa kak?" tanya Zelina.
"Aku menikah disaat sekarat, dan bahkan aku merasa jika itu hari terakhirku. Tapi ternyata tidak" jawab Naina dengan tawa getir nya, jika mengingat kenangan menyakitkan itu.
"Semua sudah berlalu sekarang" sahut Nara
"Benar, hanya saja jika mengingat itu, aku masih merasa sedih dan tidak menyangka. Kamu pasti merasakan nya bukan" kata Naina pada Nara.
Nara langsung tersenyum dan mengangguk.
"Tunggu dulu, aku benar benar penasaran dengan cerita kak Nai. Sepertinya cerita hidup kak Nai juga seru. Aku ingin dengar, mau tidak bercerita sedikit. Apa menyedihkan seperti cerita hidup kak Nara juga???" tanya Zelina.
Nara langsung melebarkan matanya mendengar itu
"Zelina kamu ini" protes Nara yang tidak habis fikir dengan pernyataan itu. Jujur sekali dia.
Zelina dan Naina langsung tertawa melihat wajah kesal Nara.
"Jika kamu ingin tahu, kamu bisa membaca disalah satu novel online. Ada seorang author yang menuliskan kisah hidupku disana" ucap Naina.
"Benarkah? Apa judulnya kak?" tanya Zelina dengan cepat.
__ADS_1
"Berjuang Bersamamu" jawab Naina.