
Hari sudah sore saat pesawat yang membawa Nara dan Reynand mendarat dibandara. Dua Minggu lebih menghirup udara asing membuat Nara merasa bisa bernafas dengan lega sekarang.
Ditambah lagi dengan kejadian menyeramkan semalam siang pada pesawat yang hampir mereka naiki. Sungguh, Nara dan Reynand sangat bersyukur mereka bisa menginjakkan kaki di tanah air dengan selamat dan baik baik saja.
Nara menarik nafas nya dalam dalam saat kakinya menginjak tanah kelahiran nya. Selama tujuh jam lebih berada dipesawat, hati Nara cukup was was dan cemas. Namun semua terbayar dengan rasa senang dan juga lega yang tidak terhingga. Karena akhirnya mereka bisa tiba di tanah air dengan selamat.
Sungguh, Tuhan benar benar baik pada mereka.
Nara merangkul lengan Reynand menuju lobi bandara. Reynand terlihat diam saja, karena memang tubuhnya yang masih lemas dan pusing. Kesehatan nya sudah tidak sekuat dulu, entah kenapa dia benar benar mudah sakit. Padahal disana mereka hanya bersenang senang saja tanpa melakukan apapun.
Tapi beruntung nya karena dia sakit disaat hari terakhir mereka disana.
Tuhan mengabulkan doa nya untuk bisa selalu membahagiakan Nara, lebih lama.
Dan waktu yang lebih lama itu diganti dengan kesehatan nya yang drop. Tidak masalah, Reynand sangat bersyukur, karena jika dia tidak sakit, maka semua orang pasti sudah kehilangan mereka.
"Sayang..." Panggil Nara
Reynand langsung tersenyum mendengar Nara memanggil nya. Panggilan yang selalu bisa membuat hatinya selalu merasa bahagia. Jarang jarang Nara memanggilnya seperti ini.
Reynand menoleh pada Nara dan memandang wajahnya yang berbinar. Setelah dipesawat tadi Nara banyak diam dengan wajah tegang nya.
"Kenapa aku jadi takut untuk pulang kerumah" ucap Nara
Reynand langsung tertawa mendengar itu.
"Takut kenapa?" Tanya Reynand
"Takut dengan reaksi mereka" jawab Nara.
Reynand tersenyum dan menggeleng.
"Mereka pasti senang melihat kita baik baik saja. Ya walaupun aku yakin setelah ini kita memang harus mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi sebenarnya" jawab Reynand.
"Pasti mereka semua sedang heboh sekarang" ucap Nara.
Reynand langsung mengangguk
"Ya, tentu saja. Bahkan kamu bisa lihat kan jika bandara ini saja sudah kosong. Ini pasti ulah Guntur yang tidak ingin kita diserang wartawan" ungkap Reynand.
Nara langsung memandang ke sekeliling nya, dimana sepanjang jalan mereka ke lobi memang sudah sepi. Hanya ada petugas bandara yang memandang mereka tidak berkedip.
Apa orang orang itu fikir Nara dan Reynand adalah hantu???
"Ya, aku baru sadar. Bahkan pandangan mata mereka saja sudah berbeda" ucap Nara.
Reynand hanya tersenyum saja menanggapi nya. Dan memang, dia sudah menduga jika satu kota pasti sudah heboh dengan berita kematian mereka.
__ADS_1
Bahkan sekarang saja ponsel nya tidak berhenti bergetar sejak tadi, sudah dia pastikan jika orang orang rumah lah yang sudah mengubungi nya.
Tangan sebelah Reynand dirangkul oleh Nara, dan yang sebelah lagi mendorong koper mereka. Jadi dia tidak bisa mengangkat ponsel itu.
"Kak Nara ... Kak Rey.....!!!" Teriakan Zelina membuat Nara dan Reynand langsung menoleh kearah luar.
Zelina berlari dengan wajah nya yang sembab. Dibelakang nya berjalan Arya dan juga Bimantara bersama Gendis.
"Huaaaaaa kenapa kalian membuat kami cemas" seru Zelina yang langsung masuk kedalam pelukan Reynand.
Reynand tersenyum dan langsung memeluk tubuh adik nya itu dengan erat. Bahkan bisa dia lihat jika wajah semua orang nampak sembab seperti habis menangis.
"Kurang aja sekali memang. Kamu membuat ku takut Nara" Arya bahkan tanpa canggung langsung memeluk Nara.
Nara membalas pelukan Arya dan menepuk bahunya dengan lembut.
"Kenapa kamu cengeng sekali?" Tanya Nara.
"Dasar bodoh, aku benar benar takut jika kalian memang tewas dalam kecelakaan pesawat itu" jawab Arya yang langsung melepaskan pelukan nya.
"Ck, kenapa kau malah memeluk istriku" sahut Reynand yang langsung menarik lengan Nara untuk mendekat pada nya. Padahal dia sendiri masih merangkul Zelina.
"Masa bodoh, kalian memang kurang ajar. Kalian sudah berani membuat satu kota heboh. Bahkan sudah banyak pelayat yang datang kerumah untuk mengirimkan doa pada kalian" gerutu Arya.
Bima yang ada dibelakang Arya langsung tertawa mendengar itu.
"Aku bersyukur jika kalian selamat. Sungguh aku tidak rela kalian pergi sebelum melihat kami menikah" ujar Bima pula.
Zelina kini memeluk Nara dengan erat.
"Ze berasa ingin mati ketika mendengar kabar kalian kecelakaan kak" ungkap Zelina dalam pelukan Nara.
"Jangan sedih lagi, sekarang kami sudah disini kan" ucap Nara seraya mengusap pundak adik iparnya dengan lembut.
"Bahkan satu malaman Ze tidak berhenti menangis" sahut Arya yang juga mengusap wajahnya. Sungguh, dia benar benar merasa lega setelah sejak semalam mereka dilanda kesedihan dan ketakutan yang luar biasa.
"Kami sudah disini, jangan bersedih lagi" pinta Nara.
Zelina hanya mengangguk saja dan melepaskan pelukan nya dari Nara.
Arya langsung meraih koper mereka yang cukup banyak dan bertumpuk. Sedangkan Bima nampak menepuk pundak Reynand yang kini berjalan disamping nya. Nara sudah diambil alih oleh Zelina dan Gendis.
"Rasanya seperti mimpi mendengar kabar itu" ucap Bima
"Aku bahkan tidak bisa membayangkan jika kami memang naik dipesawat itu kemarin" jawab Reynand.
"Yah, jika berita itu benar, sudah saya pastikan jika pernikahan saya akan ditunda lagi, dan saya akan lebih lama hidup sendiri" ungkap Bima
__ADS_1
Reynand tertawa kecil dan menggeleng.
"Anda benar benar selalu bisa membuat orang heboh tuan" ucap Arya.
"Bukan mau ku. Tapi sudah bersyukur kami tidak jadi pulang kemarin. Tuhan masih begitu baik pada kami" ungkap Reynand
"Arya bahkan sudah seperti patung yang tidak bersuara asal Anda tahu" ucap Bima seraya melirik Arya yang terlihat mendengus. Bahkan Nara yang mendengar itu langsung tersenyum memandang Arya.
Ya, orang pertama yang paling kehilangan dia pasti Arya. Karena sejak dulu, sejak mereka kecil, mereka sudah hidup berdua saling berbagi suka dan duka.
Reynand memandang Arya dengan senyum tipis nya.
"Tenang saja, aku tidak akan mati sebelum melihat adik ku bahagia" ucap Reynand.
Arya langsung tersenyum simpul dan mengangguk. Begitu pula dengan Zelina.
Ya ampun, berita semalam rasanya seperti mimpi buruk yang benar benar membuat mereka semua lemas dan tidak bertulang.
Tapi saat melihat Nara dan Reynand masih ada dan baik baik saja seperti ini, mereka semua merasa sangat bersyukur dan bisa bernafas dengan baik.
Saat tiba dilobi ternyata Guntur juga baru turun dari mobilnya. Bahkan tanpa canggung dan malu dia langsung memeluk Reynand. Bahkan Reynand sampai terkejut melihat reaksi Guntur ini. Setakut dan secemas itu kah dia???
"Ya Tuhan tuan muda, sungguh demi apapun saya benar benar bersyukur anda masih hidup dan selamat" ucap nya terdengar begitu lega. Bahkan Reynand sampai terharu mendengar nya.
Reynand menepuk pundak asisten setia nya ini dengan pelan.
"Aku baik baik saja, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku" ucap Reynand.
Guntur langsung melepaskan pelukan nya dan membungkuk sedikit dihadapan Reynand. Dia juga melirik sekilas kearah Nara.
Sungguh, Guntur juga sudah merasa takut jika dia harus kehilangan cucu kesayangan tuan besar Bagasyaksa secepat ini.
Dan akhirnya sore itu Nara dan Reynand pulang kerumah utama. Dimana kedua orang tua mereka juga sudah menunggu dengan wajah wajah yang panik dan tidak sabar.
Sungguh entah harus merasa bagaimana, antara senang karena selamat, dan juga sedih karena telah membuat semua orang nampak begitu terpukul.
Tapi yang jelas, mereka semua sangat bersyukur ternyata Nara dan Reynand tidak ikut dalam pesawat yang jatuh itu.
Bahkan ketika sampai dirumah pun, Reynand dan Nara langsung disambut dengan tangisan bahagia mama dan tuan Abas. Mereka memeluk Reynand dan Nara dengan penuh perasaan.
Bahkan bisa Nara dan Reynand lihat, jika wajah semua orang yang ada disini nampak sembab dan begitu lesu.
Ya Tuhan....
Sungguh demi apapun. Terimakasih untuk kesempatan hidup yang masih diberikan.
Dengan kesempatan berkali kali ini, Nara berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Orang yang bisa bermanfaat untuk semua orang yang menyayangi nya.
__ADS_1
Ya, dengan kejadian ini, Nara jadi tahu jika dia hidup didalam lingkungan orang orang yang begitu menyayanginya.
Dan hari itu, setelah saling melepas rindu dan beban dihati. Malam nya dirumah utama keluarga Adiputra mengadakan doa bersama. Bukan doa untuk orang yang telah tiada seperti rencana sebelumnya. Tapi kali ini adalah doa untuk mengucap rasa syukur yang sebesar-besarnya karena Nara dan Reynand yang telah selamat dari bala bahaya dan bisa berkumpul lagi bersama mereka.