Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Balas Dendam


__ADS_3

Mata Reynand memandang jalanan didepan nya dengan tatapan hampa. Hujan geirimis yang turun disore hari itu tidak menghentikan langkah nya untuk kembali kekota. Ya, hari ini Reynand memutuskan untuk kembali ke ibukota. Dia akan memperbaiki semua nya, dia akan menebus kesalahannya pada Anara. Meski tidak tahu dengan cara apa, namun apapun akan dia lakukan demi untuk memperjuangkan Anara kembali.


Kata kata 'tidak ingin kembali' yang keluar dari bibir Nara sebenar nya cukup membuat Reynand merasa sedih dan begitu hancur. Namun tetap, dia tidak akan menyerah sampai disini. Meski Nara berkata jika dia tidak ingin lagi kembali, tapi Reynand tahu jika masih ada sedikit cinta dimata Nara untuk nya. Kesakitan Nara, kekecewaan nya dan semua kebencian nya telah menutupi perasaan cinta itu. Dan Reynand, akan berusaha untuk mengambil cinta itu kembali. Membuktikan pada Nara jika dia memang bersungguh sungguh.


Tapi bagaimana jika tidak mampu????? Mungkin Reynand akan hidup dalam penyesalan untuk seumur hidupnya.


Mobil yang dikendarai Reynand sudah tiba didepan rumah minimalis miliknya. Rumah dengan sejuta kenangan bersama Anara. Rumah yang sebenar nya membuat rasa bersalah Reynand selalu bertambah setiap hari. Dirumah ini dia selalu menorehkan luka dihati dan fisik gadis itu. Dirumah ini Reynand selalu membuat Nara menangis setiap hari. Dan dirumah ini Reynand selalu membiarkan Nara dalam kesendirian nya.


Langkah kaki Reynand begitu gontai dan lesu. Rumah ini terlihat sangat sepi dan gelap karena hari sudah malam. Namun didalam rumah lampu terlihat sudah dihidupkan. Sudah beberapa hari dia tidak pulang, dan kesan nya masih terasa sama seperti saat dia pulang untuk menemui Nara dulunya.


Ya, tanpa Reynand sadari, dulu dia pulang kerumah setiap kali dia merasa tertekan diluar. Dan Nara adalah tempat nya kembali. Nara adalah tempat dia mengeluarkan semua beban dan masalah hidupnya, meski caranya dengan menyakiti Nara berulang kali.


Tangan Reynand meraih handel pintu dan membuka nya perlahan. Jika biasanya ada senyuman Nara yang menyambutnya, maka kini hanya kesunyian dan kehampaan yang dia dapatkan. Hati Reynand kembali teriris sakit. Jika saja sejak awal dia menyadari siapa Nara, maka tidak akan begini jadi nya. Jika saja sejak awal dia tahu Cleo berdusta, maka dia tidak akan pernah menyakiti Nara. Dan jika saja dia tidak bodoh dan terlena dengan bujuk manis Cleo, dia tidak akan merasakan penyesalan yang seolah menggerogoti hati dan jiwa ini. Reynand tidak lagi memperdulikan harta dan kekuasaan yang telah hilang dan direbut paksa. Tapi Reynand tidak rela jika Nara juga pergi dari hidupnya. Reynand tidak bisa, Nara adalah seseorang yang dia damba sejak dulu, namun kebodohan nya sendiri yang tidak bisa menyadari itu.


Lampu diruang tengah sudah tampak gelap, mungkin Zelina dan mama nya sudah tertidur karena hari memang sudah hampir tengah malam. Dan Reynand memutuskan untuk masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Namun.... bagaimana mungkin dia bisa beristirahat, jika kamar ini kembali mengingatkan nya pada Nara. Yah, begini lah jadinya jika dia yang mempunyai banyak dosa pada istrinya itu. Apapun tentang Nara, dan semua nya tentang Nara, akan terus menghantui kemana pun dia melangkah.


....


Sementara dirumah Eyang putri, Nara juga masih belum bisa memejamkan matanya. Dia masih duduk bersandar dikursi panjang yang terletak didekat jendela. Matanya memandang keluar dimana hari sudah gelap gulita dan gerimis masih turun sejak tadi. Dan jika sudah seperti ini, lagi lagi hatinya benar benar sedih dan sepi.


Reynand sudah ada, Reynand datang dan mengakui salahnya. Senang??? Tidak munafik, dia memang senang dan bahagia melihat wajah itu lagi.


Tapi..... rasa kecewa dan sakit itu masih jelas terasa. Membuat Nara tidak berdaya untuk menerimanya semudah itu. Lagipula, kini dia hanya seorang wanita lemah yang tidak bisa berbuat apapun lagi. Bahkan dia tidak tahu waktunya akan bertahan sampai kapan. Dia tidak ingin tinggal disini, namun Arya dan Bimantara memaksanya dan ingin dia sembuh. Nara ingin pergi jauh, tapi kemana. Arya benar benar tidak ingin dia pergi dan mati begitu saja. Bahkan lelaki itu rela bekerja dirumah Eyang putri hanya untuk menebus pengobatan Nara dan makan mereka sehari hari. Lalu bagaimana lagi Nara berbuat, kakinya bahkan tidak bisa lagi untuk menopang tubuhnya. Bagaimana dia ingin pergi???


Lagi lagi dia masih harus diminta untuk bersabar dan menerima kehidupan nya yang seperti ini. Ingin menyerah dan pergi, namun itu begitu tidak mungkin. Nara hanya bisa pasrah dan menunggu waktunya.


Tiba tiba pintu terbuka membuat Nara sedikit terkesiap. Dia langsung menoleh kearah pintu dan ternyata Eyang putri yang masuk seraya membawa secawan air ditangan nya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Eyang putri. Dia berjalan mendekat kearah Nara dan duduk disamping nya.


Nara tersenyum tipis dan menggeleng


"Belum ngantuk Eyang" jawab Nara


Eyang putri mendengus senyum dan menyerahkan cawan yang dipegang nya pada Nara


"Minum" ujar Eyang putri dan Nara langsung meminum nya tanpa menolak. Eyang putri menghela nafasnya dengan pelan. Dia memandangi wajah Nara yang seperti sudah tidak lagi mempunyai semangat untuk hidup. Dan sebenar nya ini akan sedikit sulit untuk pengobatan yang akan Nara terima.


"Mikirin suami gemblung mu itu?" tanya Eyang putri tiba tiba, membuat Nara hampir tersedak air jahe itu

__ADS_1


"Gemblung?" gumam Nara. Bahasa Eyang putri ini terkadang lucu sekali. Dia memang selalu suka mengatai orang, dan biasa nya yang dia panggil seperti itu adalah Arya, dan sekarang malah Reynand.


"Iya, ganteng tapi ya gemblung. Niat mau ngambil hati istri tapi gak pintar" ungkap Eyang putri.


Nara hanya tersenyum tipis dan meletakkan tehnya diatas meja. Dia kembali memandang keluar jendela dengan pandangan hampa seperti biasa


"Dulu, cucuku juga tidur dikamar ini" ungkap Eyang putri membuat Nara kembali menoleh kearah nya.


"Bima?" tanya Nara, namun Eyang putri langsung menggeleng


"Bukan, dia cucu dari kakakku. Nama nya Naina" jawab Eyang putri. Nara masih diam dan memandang Eyang putri yang seperti nya akan berkisah sesuatu hal, dan mungkin itu cukup untuk membuat hati Nara sedikit beralih dari Reynand.


"Dia juga terkena kanker, bahkan usia nya masih begitu muda waktu itu. 20 tahun" ungkap Eyang putri lagi


"Kanker?" gumam Nara dan Eyang putri langsung mengangguk pelan


"Kanker otak stadium tiga" jawab Eyang putri dan Nara langsung tertegun mendengar nya. Bukankah kanker itu lebih parah dari pada kanker ginjal? Ya meski akibat nya juga sama sama merujuk pada kematian.


"Dulu... dia memiliki kekasih. Sama seperti Reynand, tampan dan berkuasa" kata Eyang putri


"Mereka saling mencintai awalnya. Tapi dipertengahan jalan, Naina yang mengetahui jika dia sakit parah, akhirnya meninggalkan kekasih nya dan berobat disini"


"Kekasihnya mengira jika dia berselingkuh dan menikah dengan orang lain karena Naina yang pergi tanpa pamit dan berita perselingkuhan nya yang tersebar dimedia masa"  ungkapan Eyang putri membuat Nara semakin penasaran


"Ya, tapi tidak serumit kalian" goda Eyang putri dengan tawa nya namun Nara hanya tersenyum tipis saja


"Lalu Eyang, bagaimana kisah selanjutnya?"  tanya Nara


"Hampir setahun mereka berpisah. Dan akhirnya kekasih Naina mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia sangat menyesal, apalagi dia yang pernah menyakiti Naina dan membuat Naina masuk rumah sakit" ungkap Eyang putri. Nara jadi mengingat kisah nya sendiri sekarang


"Tapi ketika jodoh itu masih ada, maka serumit dan seberat apapun ujian yang mereka hadapi, mereka pasti tetap bisa bersatu juga"  ujar Eyang putri


Dan kini Nara yang terlihat menghela nafasnya. Dia kembali memandang nanar keluar jendela


"Nara...." panggil Eyang putri seraya mengusap lembut tangan Nara, membuat Nara kembali menoleh padanya


"Jangan menyalahi takdir Tuhan atas segala yang kamu terima, meskipun beban yang kamu pikul cukup berat" ujar Eyang putri


Nara tersenyum tipis dan mengangguk


"Saya tidak pernah menyalahkan takdir Nya Eyang. Hanya saja terkadang saya merasa lelah" jawab Nara

__ADS_1


Dan dapat Eyang putri lihat, ada banyak kesakitan, kehancuran, dan kekecewaan yang begitu besar dihati gadis ini, tapi tidak dipungkiri, dia juga masih memendam cinta yang begitu besar dibalik kekecewaan nya itu. Dan itulah yang membuat Nara lemah dan ingin menyerah


"Apa kamu benar benar ingin berpisah dengan nya?" tanya Eyang putri


Nara merunduk dan mengangguk pelan, namun sekali lagi, Eyang putri melihat keraguan disana


"Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan" gumam Nara


"Jika kamu melepaskan nya maka kamu akan kehilangan dia dan cintanya" jawab Eyang putri


Nara memandang Eyang putri dengan mata yang berair, namun dia kembali memalingkan wajahnya keluar jendela


"Saya sudah memutuskan untuk pergi Eyang. Jika dengan kepergian saya membuat dia sadar dengan perasaan nya, bukankah kami akan sama?" ungkap Nara


Eyang putri langsung mendengus senyum


"Kamu ingin membuat dia merasakan apa yang kamu rasa?" tebak Eyang putri


Nara hanya diam dan bola matanya semakin digenangi oleh cairan bening yang semakin ingin meleleh. Sakit sekali jika mengingat perlakuan Reynand. Tapi sebenarnya Nara juga tahu jika lelaki itu memang sudah menyesal, meski dia tidak yakin dengan kata kata cinta Reynand. Tapi untuk kembali, sungguh Nara tidak siap. Kenapa memang nya jika mereka berpisah dengan memendam cinta masing masing. Bukankah itu adil????


"Balas dendam terbaik ada dengan dua cara Nara" ungkap Eyang putri


"Yang pertama dengan menjadikan diri lebih baik dan lebih bahagia tanpa dia. Dan yang kedua adalah menerimanya kembali dan menjadikan nya lebih baik"


"Kamu bisa memilih salah satunya" ujar Eyang putri


"Tidak ada yang baik menurut saya" jawab Nara membuat Eyang putri langsung mendengus senyum


"Ya, itu karena hati kamu sudah kamu bunuh, dan kamu lebih mengharapkan kematian bukan" tebak Eyang putri


deg


Dan.....air mata itu langsung turun membasahi wajah pucat Nara. Karena sungguh perkataan Eyang putri memang benar.


Dia tidak menginginkan apapun saat ini selain kematian yang menjemputnya. Bukankah disana dia tidak akan merasakan kesakitan lagi????


Bertemu dengan orang tuanya dan pergi menjauh dari cinta yang menyakitkan ini.


.....


*kalau kalian pernah baca karya pertama aku yang berjudul (Berjuang Bersamamu), kalian pasti tahu siapa Eyang putri dan cucu yang dia ceritain itu :)

__ADS_1


*jangan lupa tinggalin jejak ya guys. Like dan Vote jangan lupa, bantu dukung karya aku


__ADS_2