
Pagi ini hari cukup cerah. Matahari juga sudah bersinar dengan hangat. Sangat pas untuk berolahraga atau berjemur. Begitu pula dengan Bima dan Gendis. Mereka baru saja tiba diperkebunan apel milik eyang putri untuk berjalan jalan sekaligus memetik buah apel. Pagi ini Bima mengajak Gendis sesuai janji nya semalam, dan juga untuk menagih janji Gendis yang akan membuatkan nya apple pie.
Bima membantu Gendis turun dari mobil. Sekarang Gendis sudah bisa berjalan dengan memakai satu tongkat. Eyang putri meminta Gendis untuk bisa melatih kaki nya agar tidak kaku. Dan beruntung nya kaki Gendis yang patah tidak terlalu parah sehingga dia bisa cepat pulih. Mungkin sekitar sebulan lagi Gendis sudah bisa berjalan normal kembali.
Gendis memandang kagum kebun apel itu. Dimana buah apel sudah banyak yang memerah dan siap panen. Bahkan para pekerja sudah ada yang sedang memanen.
"Kebun nya luas sekali" gumam Gendis.
"Ya, sekitar tiga hektar didaerah ini" jawab Bima seraya berjalan perlahan mendampingi Gendis.
Untung saja perkebunan itu rata, sehingga Gendis tidak terlalu kesulitan berjalan menyusuri jalanan setapak disana.
"Ini apel jenis Fuji?" tanya Gendis seraya memandangi pohon pohon apel yang berbuah begitu lebat.
Bima mengangguk seraya memetik satu untuk Gendis. Dahan nya rendah hingga mudah saja untuk memetik nya.
"Ada apel merah juga disebelah sana. Kamu bisa memilih mana yang kamu suka" ujar Bima.
Gendis tersenyum memandangi perkebunan ini. Dia selalu suka berada diperdesaan, apalagi jika ada dikebun buah seperti ini. Beberapa waktu lalu Bima membawa Gendis ke kebun buah strauberrry dan jambu madu, dan sekarang kekebun apel. Sungguh senang sekali hatinya.
"Apel fuji lebih cocok untuk dijadikan apple pie,dia lebih manis dan segar. Tapi aku mau memetik dua dua nya. Boleh?" tanya Gendis seraya memandang Bima.
Bima tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, sebanyak yang kamu mau. Tidak akan ada yang melarang" jawab Bima.
"Wow.... aku sungguh tidak sabar" sahut Gendis.
"Yah, asal jangan satu truk saja kamu bawa pulang" gumam Bima. Namun masih terdengar ditelinga Gendis.
"Satu truk pun akan aku bayar, eyang putri tidak akan rugi" sahut Gendis seraya mencoba apel yang dipetik oleh Bima. Rasanya benar benar segar.
Bima langsung mendengus gerah mendengar perkataan Gendis.
"Sombong sekali" ucap Bima.
Dan tanpa sadar Gendis langsung tertawa melihat wajah kesal itu. Bima bahkan sampai terpana melihat Gendis tertawa, selama sebulan bersama nya jarang sekali Gendis tertawa. Apa dia begitu bahagia diajak jalan jalan seperti ini?
"Kamu tahu kan ayahku itu siapa. Perkebunan nya juga jika aku mau pasti akan dibeli nya" ucap Gendis.
Bima tersadar, dan langsung mendengus.
"Ya ya ya, kamu memang bisa melakukan apapun. Tapi mau bagaimana pun uang yang ditawarkan, tetap saja eyang putri tidak akan menjualnya" ungkap Bima.
"Aku tahu, dia pasti takut cucunya mati kelaparan jika perusahaan mu bangkrut" ledek Gendis.
Dan kali ini Bima yang tertawa.
"Kamu benar, meski dia cerewet, tapi dia begitu perduli" jawab Bima.
"Itu karena hanya kamu yang dia punya" sahut Gendis.
Bima langsung tersenyum dan mengangguk. Memang hanya eyang putri yang Bima punya. Orang tua nya sudah meninggal sejak dia masih kecil. Dan sekarang eyang putri sudah tua, tapi Bima sama sekali belum bisa membahagiakan nya. Jika mengingat itu, dia jadi sedih.
"Hei ayo kita kesana. Disana apel nya lebih merah dan banyak" ajak Gendis yang langsung membuyarkan lamunan Bima.
Bima terkesiap dan memandang kearah yang ditunjuk oleh Gendis. Dia langsung mengangguk dan tersenyum. Berjalan seraya mengobrol ringan.
Gendis benar benar bersemangat, jika sedang berjalan jalan seperti ini dia jadi melupakan masalah nya. Dan pagi itu Bima memang menemani Gendis berkeliling kebun. Meski dia sedikit ngerih melihat kaki Gendis yang belum pulih benar. Bahkan sesekali Bima nampak menegur Gendis saat dia berjalan dengan cepat atau menginjak bebatuan yang licin. Bima takut dia jatuh, jika kakinya semakin bertambah parah, dia pasti akan habis oleh tuan Renggono.
"Ah Bim, aku mau apel itu. Tinggi sekali" seru Gendis seraya menunjuk apel merah diatas kepala nya.
Bima yang sedang memasukkan apel pilihan Gendis kedalam keranjang, langsung menoleh kearah nya. Dia meletakkan keranjang apel itu dibawah pohon dan langsung mendekat kearah Gendis.
"Kenapa banyak sekali pilihanmu, bukan kah sama saja" ucap Bima.
"Beda, rasa dan teksturnya pasti beda. Lihat saja itu lebih mulus dan besar" jawab Gendis.
__ADS_1
Bima mendengus dan langsung memandang keatas. Cukup tinggi, dan dia juga tidak sampai.
"Apa tidak ada kayu panjang" gumam Gendis.
Bima langsung memandang sekitar nya dan menggeleng pelan.
"Tidak ada, jika meminjam galah kayu pada pekerja pasti lama. Mereka sedang memanen diujung sana" jawab Bima.
Gendis langsung menghela nafas kesal mendengar itu.
Bima terdiam sejenak, namun tiba tiba dia langsung tersenyum memandang Gendis.
"Pinjam dulu tongkatmu" ujar Bima.
"Tongkat ku" gumam Gendis, dan Bima langsung mengangguk.
"Hanya sebentar, berpeganglah padaku" ujar Bima.
Dan mau tidak mau Gendis langsung mengangguk, demi buah apel diapun menyerahkan tongkat yang menjadi tumpuan nya pada Bima. Tangan nya langsug memegang jaket Bima dengan erat saat Bima mengambil tongkat nya.
"Yang mana?" tanya Bima seraya memandang keatas.
"Yang itu, yang sebelah kiri" ujar Gendis yang menunjuk keatas. Tubuhnya bahkan sudah menempel dibelakang tubuh Bima karena dia menahan kaki kanan nya yang sakit.
"Yang ini?" tanya Bima seraya menunjuk sebuah apel dengan tongkat Gendis.
"Bukan yang sebelah nya lagi" kata Gendis.
Mereka tampak saling menunjuk dan bergeser geser tanpa memandang lagi kebawah. Apel yang begitu banyak membuat Bima bingung.
"Yang ini?" tanya Bima lagi.
"Iya, yang itu. Dua dua nya Bim" seru Gendis begitu tidak sabar.
"Aaah masih kurang tinggi" gumam Bima seraya sedikit berjinjit. Namun karena lupa, dia malah melompat dan meraih apel itu dengan tongkat Gendis. Hingga saat kaki nya mendarat, mereka malah sama sama langsung terjatuh ketanah, karena Gendis yang tidak bisa menahan tubuhnya dan Bima yang tertarik oleh Gendis.
"Aaaaaaauuuhhh Bimaaaa" seru Gendis seraya memegangi kaki yang terhentak. Rasa sakit langsung menjalar membuat matanya berair menahan sakit.
Bima langsung menoleh kearah Gendis, untung saja dia tidak jatuh dan menimpa Gendis.
"Maaf maaf, aku lupa jika ada kamu yang bergantung padaku" ucap Bima seraya meluruskan kaki Gendis perlahan.
"Huuuuhuuu sakit" Gendis langsung menangis kesakitan. Membuat Bima benar benar panik sekarang.
"Sini aku periksa, jangan menangis, nanti tambah sakit" ujar Bima seraya mengusap kaki Gendis dengan lembut.
Gendis langsung menampar lengan Bima dengan kesal.
"Apa kamu kira aku anak kecil, dibilang seperti itu langsung percaya. Sialan memang" gerutu Gendis.
Bima langsung tertawa mendengar itu.
"Ya lalu aku harus bagaimana, apa kita pulang saja?" tanya Bima.
Gendis berdecak kesal seraya mengusap kasar air matanya. Dia memandang kesekitar mencari sesuatu.
"Dimana apel ku?" tanya nya.
Bima langsung mendengus mendengar nya.
"Sudah sakit, masih juga apel itu yang kamu ingat" gerutu Bima.
"Karena apel itu kaki ku sakit. Dan sekarang aku mau memakan nya supaya sakit ku tidak sia sia" sahut Gendis.
Bima langsung menggeleng gerah melihat Gendis. Dia langsung beranjak dan mengambil apel yang sudah terjatuh tadi. Untung saja tidak jauh dari mereka.
"Ini" Bima langsung menyerahkan apel itu pada Gendis seraya duduk disamping Gendis. Tidak lagi perduli tanah yang kotor. Dia sudah lelah.
__ADS_1
Gendis langsung memakan penuh nafsu apel itu. Seperti menaruh dendam saja.
"Apa kamu tidak bisa memakan nya dengan pelan" tanya Bima.
Gendis menggeleng seraya mengunyah apel nya.
"Aku benar benar geram, karena dia aku sakit" sahut Gendis dengan mulut penuh nya.
Bima langsung memasang wajah jelek nya.
"Kamu makan seperti itu, karena apel atau karena mantan kamu" sindir Bima.
"Dua dua" jawab Gendis seraya tertawa miris, Bima bahkan juga ikut mentertawakan nya. Benar benar lucu.
Cukup lama mereka berada dikebun apel itu. Bahkan hingga Gendis puas memakan banyak apel, padahal yang dibawa pulang juga hanya beberapa buah saja. Tapi dia benar benar cukup puas berada disana. Benar benar bisa membuat otak dan hati nya menjadi lebih tenang.
Hingga saat hari sudah mulai panas dan siang, baru lah Bima mengajak nya untuk pulang.
"Kita pulang yuk, kaki mu harus diperiksa lagi. Takut tergeser" ajak Bima seraya beranjak dari duduk nya.
Gendis mengangguk, namun saat akan berdiri dia malah meringis kesakitan.
"Kenapa sakit?" tanya Bima seraya meraih keranjang apelnya.
"Kayak nya gak bisa jalan" gumam Gendis seraya mengusap kakinya.
"Mau aku tarik" tawar Bima dengan senyum tengil nya
"Sialan, apa kamu kira aku karung" gerutu Gendis seraya meraih tangan Bima yang terjulur kearah nya.
Bima tertawa dan memegangi lengan Gendis dengan kuat.
"Yasudah, kamu bawa ini, dan naik kepunggung ku" ujar Bima seraya menyerahkan keranjang apelnya.
"Yakin?" tanya Gendis.
"Aku tidak mau dimarah eyang karena kakimu yang semakin parah. Lagi pula hanya menggendong karung seperti mu, tidak akan kesusahan" jawab Bima
buk
Satu tinjuan langsung mendarat didadanya, namun bukan nya kesakitan, Bima malah tertawa memandang wajah kesal Gendis.
"Kurang ajar memang, aku disamakan seperti karung" gerutu Gendis.
"Lalu apa, kamu memakan banyak buah apel sedari tadi. Bahkan aku tidak menyangka jika muatan perut mu bisa begitu banyak" ledek Bima seraya meraih tongkat Gendis.
Gendis mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Aku lapar, lagi pula eyang putri juga tidak akan rugi:" jawab Gendis.
"Tidak memang, sekarang kan cucunya kamu, bukan aku" sahut Bima seraya membungkukkan tubuhnya dihadapan Gendis.
Gendis langsung meraih bahu Bima dan memeluk nya dengan erat, membuat Bima langsung mengangkat Gendis keatas punggung nya. Mulai berjalan menuju mobil mereka yang cukup jauh dipinggir jalan sana.
Sesekali Gendis memandangi Bima dari belakang, seraya tangan nya yang maih memeluk leher Bima. Lelaki tampan yang menyebalkan, tapi cukup mampu membuat Gendis bisa melupakan rasa sakit hatinya dari David.
"Bim" panggil Gendis
"Hm" gumam Bima
"Terimakasih" ucap Gendis.
Bima langsung menoleh kearah Gendis sekilas, hingga untuk beberapa detik mata mereka saling pandang dengan jarak yang begitu dekat.
"Terimakasih karena sudah begitu baik padaku." kata Gendis lagi.
Bima mendengus senyum dan hanya mengangguk saja. Namun dalam hati dia juga mengucapkan terimakasih untuk Gendis.
__ADS_1
'terimakasih juga karena bisa membuat ku melupakan gadis itu untuk beberapa waktu'