Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Gara Gara Kucing


__ADS_3

Hari sudah menjelang senja saat Nara dan Arya mengantarkan Reynand untuk pulang kerumah nya. Hari disenja itu juga sudah mulai mendung, sepertinya hujan akan turun malam ini.


Tidak ada pembicaraan sama sekali didalam mobil itu. Arya fokus pada kemudinya dikursi depan, sedangkan Nara masih hanyut dalam pemandangan senja yang begitu tenang sore itu, setenang hatinya saat ini.


Reynand sendiri masih sibuk mengamati ipad Nara dan masih mempelajari sesuatu tentang pasar saham disana. Sesekali Arya melirik kearah Reynand. Tuang angkuh ini sepertinya begitu serius jika dalam bekerja, pantas saja dia bisa membangun perusahaan Nara kembali tidak sampai dua bulan. Dan lagi perusahaan Adikdaksa juga berkembang dan maju karena tangan nya. Jika melihat Reynand yang seperti ini, Arya yakin misi mereka demi pembangunan mega proyek dikota Bandung akan segera tercapai. Keuletan Reynand dalam bekerja memang tidak pernah diragukan.


"Yo, kita cari makan dulu ya" ucapan Nara sedikit membuat Arya terkesiap, pasalnya dia sedang melamunkan tuan angkuh ini tadi.


"Makan dimana?" tanya Arya


"Ditempat biasa aja" ujar Nara.


"Oke sip" jawab Arya yang kembali melajukan laju mobilnya menuju sebuah restaurant tempat biasa mereka makan. Restauran sehat yang sudah tidak jauh lagi dari tempat mereka sekarang.


Nara menoleh pada Reynand yang masih begitu serius, bahkan dia tidak lagi mengindahkan obrolan Nara dan Arya. Sebegitu semangatkah dia ingin bangkit? Sejak diperusahaan tadi Reynand jarang sekali berhenti, bahkan jika Nara tidak meminta nya berhenti dia tidak akan berhenti. Ini saja Reynand membawa banyak berkas dan dokumen pulang kerumah untuk diperiksa lagi dan diteliti apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


"Rey.." panggil Nara


"Ya" jawab Reynand yang masih sibuk mengetik sesuatu disana.


"Bisakah berhenti dulu, itu bisa dikerjakan nanti. Kita makan dulu" ujar Nara.


"Iya, sebentar lagi, sedikit lagi selesai" jawab Reynand tanpa memandang kearah Nara.


"Niat sekali ingin merebut perusahaan ayah sendiri" sindir Arya dari depan. Namun Reynand hanya diam saja, tetapi Nara yang tampak melebarkan matanya memandang tajam pada Arya. Membuat Arya langsung tertawa kecil melihat wajah kesal itu. Sepertinya sekarang dia akan terus melihat kedua orang ini bersama sama dan saling bela. Yah, tidak masalah, yang terpenting Reynand tidak melarang nya untuk dekat dengan Zelina. Hahaha.... Arya langsung tertawa jahat.


"Sepertinya aku akan mendapatkan dua investor hari ini Nara, lihat, mereka menanggapi email yang aku kirim" Reynand langsung menyodorkan ipad nya kepada Nara.


Nara sedikit terkejut mendengar itu, apalagi Arya.


"Secepat itukah?" gumam Nara yang membaca dengan teliti email yang dua perusahaan itu kirim. Menakjubkan.


"Ini adalah salah satu investor setia Adidaksa sewaktu aku masih menjabat disana, dan tidak susah untuk meyakinkan mereka lagi bergabung dengan perusahaan kamu" ungkap Reynand.


"Masih banyak investor lain nya yang bisa aku pengaruhi, semoga saja tuan Abas tidak mengetahui hal ini. Dan semoga dalam empat hari kedepan kita sudah mendapatkan investor baru yang lumayan untuk bisa meyakinkan perusahaan Dopindo" tambah Reynand lagi.


Nara tersenyum dan mengangguk, dia benar benar tidak menyangka Reynand akan bermain licik. Tapi yasudahlah, tidak akan ada juga yang dirugikan disini, mungkin jika perusahaan Adidaksa memang berniat menghancurkan proyek mereka, maka perusahaan itu yang akan hancur nantinya. Tapi Reynand tidak akan membiarkan perusahaan kakek nya hancur bukan???


"Keren sekali memang, jika begini sepertinya misi kita akan berhasil" sahut Arya dari depan.


"Tentu saja, jangan ragukan kemampuan ku" jawab Reynand begitu angkuh.


Dan lagi, Arya mendengus gerah mendengar nya.


"Ya, memang pantas julukan tuan angkuh disematkan pada anda" ucap Arya


"Aku angkuh tapi semua yang ku kerjakan tidak sia sia, dari pada sombong melebihi langit dan bumi tapi tidak bisa berbuat apapun" sahut Reynand dengan wajah kesalnya.


"Sia sia, buktinya anda bisa didepak dari Adidaksa" balas Arya dengan senyum sinis nya.


"Kau ini, memang minta ku hajar" Reynand langsung menendang kursi Arya dengan kaki kirinya.


"Hei, tidak bisakah kalian jangan bertengkar. Dimana mana selalu saja ribut" Nara memandang kesal pada Arya dan Reynand.

__ADS_1


"Tidak tahu ada dendam apa dia denganku, selalu saja mencari masalah" ucap Reynand.


"Heh, seperti tidak punya dosa saja berkata begitu" gumam Arya dari depan.


"Aryo, sudahlah" seru Nara pada Arya yang selalu saja menjawab. Sudah tahu Reynand emosian, masih juga dibumbui. Memang suka sekali membuat keributan.


Arya hanya mencebikkan bibirnya dan kembali fokus pada jalanan. Sedangkan Reynand tampak mengusap kakinya yang sedikit berdenyut karena guncangan tadi.


"Kenapa, sakit?" tanya Nara


Reynand tersenyum dan menggeleng pelan. Namun Nara malah menunduk dan memeriksa kaki Reynand, membuat lelaki itu tampak gelagapan.


"Nara tidak apa apa, hanya nyeri sedikit" jawab Reynand seraya dia yang menarik lengan Nara untuk bangkit.


"Maka nya jangan bergerak terdesak, aku takut pan didalam bergeser, kamu akan semakin payah berjalan nanti" gerutu Nara.


Reynand tersenyum dan mengangguk, memandang Nara dengan lekat.


"Iya, maaf" jawab Reynand begitu lembut.


Namun disaat Nara ingin beranjak untuk duduk tegak kembali, tiba tiba Arya mengerem mendadak mobilnya membuat Nara hampir saja terhempas kedepan dan membentur kursi mobil jika saja Reynand tidak langsung menahan tubuhnya. Namun sialnya, wajah Reynand lah yang membentur wajah Nara, meski tidak kuat, namun bibir Reynand sudah mendarat sempurna dipipi Nara.


Mata Nara dan Reynand langsung melebar merasakan ciuman hangat yang tanpa terduga itu. Reynand langsung terkesiap dan menjauhkan wajah nya seraya menarik tubuh Nara untuk duduk kembali. Samar samar wajah mereka nampak merona.


"Mm...maaf" gumam Reynand. Dia tersenyum getir memandang Nara. Dia benar benar tidak bisa menahan kepalanya tadi. Bukan disengaja, dia tidak seberani itu.


Nara menggeleng dan segera memalingkan wajahnya kedepan.


"Kenapa Yo?" tanya Reynand, kini dia beralih pada Arya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Tangan kiri nya masih merangkul pinggang Nara sedangkan tangan kanan nya menahan sandaran kursi Arya agar tubuh mereka tidak sama sama terhempas kedepan.


"Kamu sengaja kan" tuding Reynand.


"Enggak, beneran, katanya kalau nabrak kucing bakalan dapet sial kan, makanya saya mengerem mendadak. Tuh lihat, kucing putih disana" jawab Arya seraya menunjuk seekor kucing yang baru saja berlari menjauh dari mobil mereka.


"Tapi gak ketabrak kan?" tanya Nara pula


"Enggak kayaknya" jawab Arya. Dia tampak menghela nafas lega dan bersandar dikursi nya sejenak, dan setelah itu Arya kembali melajukan mobilnya.


Nara memandangi tangan Reynand yang masih melingkar dipinggang nya, dan menoleh pada Reynand yang masih memandangi kucing putih tadi.


"Heh, itu kenapa tangan disitu?" tanya Arya dari depan.


Reynand menoleh kearah Arya dan kembali melihat kearah Nara, namun tiba tiba dia terkesiap dan langsung melepaskan tangan nya dari pinggang Nara dengan senyum getir nya. Sialan, kenapa dia jadi keterusan. Apa efek rindu??


"Maaf Nara, reflek" ucap Reynand yang kembali tersenyum getir, namun Nara hanya menggeleng dan kembali memalingkan wajahnya


"Reflek nya kok keterusan" sindir Arya.


Reynand tampak gugup dan menggaruk pelipis nya sejenak. Dia memang tidak sadar, lagi pula jika lama lama kenapa memang nya, apa salah?


Dan tidak lama kemudian mobil yang Arya kendarai sudah memasuki pelataran restauran yang cukup besar itu. Arya keluar terlebih dulu untuk membukakan pintu mobil Reynand. Sedangkan Nara juga turun dari dalam mobil nya sendiri, ikut berputar untuk membantu Reynand turun.


"Aku pakai tongkat saja ya" pinta Reynand pada Nara dan Arya

__ADS_1


"Apa bisa, jalan masuk cukup jauh" tanya Nara


"Bisa, pelan pelan. Tidak apa apakan?" tanya Reynand pula


Nara tersenyum dan mengangguk. Dan dengan cepat pula Arya mengambil tongkat yang sudah dibelinya pagi tadi khusus untuk Reynand.


Mereka membantu Reynand untuk turun. Perlahan lahan akhirnya Reynand bisa berdiri dengan tegak dengan satu tongkat nya.


"Yo, kamu pesan saja dulu. Biar aku yang menemani Reynand" ujar Nara.


"Oke" jawab Arya yang langsung berjalan masuk mendahului mereka.


Nara kembali memandangi Reynand yang sedikit kepayahan berjalan dengan tongkat nya, mungkin karena belum bisa.


"Sakit ya?" tanya Nara seraya menyamai langkah kaki Reynand.


"Enggak, mungkin karena masih baru. Maaf ya, aku ngeropotin kamu terus" jawab Reynand yang masih berusaha berjalan sebaik mungkin.


"Aku gak ngerasa direpotin kok" jawab Nara.


Reynand tersenyum memandang Nara, namun saat sudah berjalan didalam resto, pandangan orang orang yang memandangi mereka membuat Reynand begitu risih. Apa mereka mengiba melihat keadaan Reynand yang seperti ini?


"Udah jangan dipandangi mereka, jalan aja terus" ujar Nara. Dia sepertinya tahu jika Reynand tidak suka dipandangi seperti itu.


"Kamu gak malu bawa orang cacat seperti ku?" tanya Reynand


Nara mendengus senyum dan menggeleng. Dia malah merangkul tangan kiri Reynand, membuat lelaki itu terkesiap dan menghentikan langkah nya.


"Jangan suka berfikir yang jelek tentang aku. Sudah ayo jalan, lihat sedikit lagi, perut ku juga sudah lapar" ungkap Nara dengan senyum manisnya. Dan sungguh, senyum ini mampu membuat Reynand menjadi percaya diri kembali setelah tadi dia merasa risih dan tidak enak melihat tatapan iba orang orang itu. Tapi Nara, dia dengan bangganya malah tersenyum dan menggandeng lengan nya.


Ya Tuhan, Reynand sungguh malu jika mengingat kesalahan yang sudah dia perbuat selama ini.


Dan tidak lama kemudian mereka langsung tiba didekat meja yang dipesan Arya. Tidak jauh dari pintu masuk karena Arya tidak ingin membuat kedua orang ini kesusahan. Nara membantu Reynand duduk dikursinya. Wajah Reynand tampak memerah dan berkeringat. Bahkan dia tampak bernafas dengan lega dikursinya. Membuat Nara tersenyum memandang Reynand.


"Sudah hebat bisa jalan sejauh ini" puji Nara


"Yah, berkat kamu" jawab Reynand dengan senyum nya.


Arya menghela nafas panjang dan memandang jengah pada Nara dan Reynand.


"Aku sudah seperti melihat anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta lagi" gumam Arya


"Kamu ini kenapa sirik sekali sih?" tanya Reynand dengan kesal. Suka sekali asisten berambut gondrong ini menghancurkan suasana manis nya.


"Saya berkata benar, bukan sirik tuan muda" sahut Arya.


Namun sedetik kemudian dia langsung memicingkan matanya melihat kedatangan dua orang yang mengarah kemeja mereka. Membuat Nara dan Reynand memandang Arya dengan heran. Dia sudah seperti melihat hantu saja.


Namun belum lagi mereka menoleh kebelakang, suara seseorang dan kedatangan nya membuat mereka terdiam.


"Wow... ternyata kalian sudah bersatu sekarang"


"Cleo" gumam Nara.

__ADS_1


Reynand tampak memandang geram pada mantan kekasihnya ini.


__ADS_2