
Hari ini adalah hari ulang tahun Eyang putri. Nara dan Reynand sudah berada diperjalanan menuju rumah tua yang pernah Nara tempati selama beberapa minggu. Rumah yang dia kira akan menjadi tempat terakhir nya bernafas, namun ternyata dari rumah itulah segala nya dimulai kembali.
Mereka pergi bertiga bersama Arya. Arya yang menyetir mobil sedangkan Nara dan Reynand duduk berdua dibelakang. Rumah eyang putri sudah dekat, terbukti dengan mereka yang sudah memasuki area hutan akasia yang berbaris rapi.
Nara terlihat masih tertidur dalam dekapan Reynand, perjalanan yang cukup jauh membuat dia mengantuk. Untung saja jalanan bagus karena bukan musim hujan.
Melihat rumah eyang putri yang sudah dekat, Reynand langsung membangunkan Nara. Dia mengusap wajah Nara dengan lembut. Membuat Nara langsung terbangun dan menegakkan kepala nya. Mata sayu dan sendu itu benar benar indah mau bagaimana pun keadaan nya.
"Sudah mau sampai sayang. Bangunlah dulu" ucap Reynand seraya mengusap rambut Nara.
Nara mengernyit, dia duduk dengan tegak seraya mengusap matanya yang mengantuk. Apa dia tidur terlalu lama hingga tidak terasa sudah sampai disini saja.
"Sudah dekat?" tanya Nara yang memandang keluar jendela mobil, dimana pohon akasia yang nampak berbaris dengan rapi dan sangat epik.
"Kamu tertidur sudah seperti kucing saja, bertemu tempat ternyaman hingga membuatmu begitu terbuai" goda Arya dari depan.
Nara langsung mencebikkan bibirnya memandang Arya. Dia membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Berisik" dengus Nara.
Arya hanya terkekeh saja melihat wajah kesal Nara. Dia bosan sejak tadi hanya diam saja sepanjang jalan. Zelina tidak bisa ikut karena harus menemani mama nya membawa tuan Abas kontrol kerumah sakit. Dan mau tidak mau Arya harus menahan hati melihat dua orang ini.
"Dia begitu kan karena iri melihat kita. Zelina tidak bisa ikut menemani nya hari ini" sahut Reynand dengan senyum sinis.
"Cuma dua hari Yo, besok juga kita pulang"ucap Nara pula.
"Ya... tidak masalah, yang terpenting setelah kalian menikah aku juga akan melamarnya" jawab Arya
Reynand langsung mendengus jengah mendengar itu.
"Punya apa kau ingin melamar adikku" tanya Reynand dengan tangan yang dia dekap di dada dan memandang Arya dengan lekat.
"Tentu saja saya punya cintaaaaaa yang begitu besar" jawab Arya terlalu mendramatisir.
Nara bahkan sampai tertawa mendengar nya.
"Heh... tidak akan kenyang adik ku jika hanya makan cinta saja. Apa kau kira makanan itu bisa dibeli dengan cinta" gerutu Reynand.
"Haiiisss yang terpenting kan cinta dulu. Masalah materi itu nomor dua. Kalau sudah cinta, maka apapun akan diberikan. Jangankan materi, nyawa saja dipertaruhkan untuk orang yang dicinta" jawab Arya.
"Kamu sudah seperti seorang penyair saja Yo" sahut Nara
"Ya, aku kan belajar dari calon suami kamu itu" sindir Arya, lagi lagi wajah menyebalkan nya membuat Reynand jengah. Tidak tahu bagaimana jadinya jika Arya memang menjadi adik ipar nya nanti. Astaga..
"Memang nya apa yang sudah aku lakukan. Kau saja yang selalu mendramatisir sesuatu. Aku benar benar takut jika adikku sudah termakan kata kata manis mu itu" ucap Reynand
Arya langsung tertawa geli mendengar nya.
"Yang terpenting dia tidak terkena diabetes tuan, kadar kata kata manis saya kan sudah sesuai porsi. Tidak berlebih dan tidak kurang" jawab Arya
Reynand berdecih sinis
"Awas saja jika kau berani membuat nya menangis. Aku penggal kepalamu itu" sahut Reynand, berdebat dengan Arya selalu saja membuat energi nya habis.
"Saya tidak sekejam itu tuan muda. Saya pastikan Zelina hanya akan menangis bahagia bersama saya. Tidak akan saya sakiti dia. Apalagi sampai menangis seperti Nara dulu nya" sindir Arya dengan senyum sinis nya.
Dan langsung, tatapan tajam Nara dan Reynand langsung terarah padanya.
"Hei.... kenapa kalian memandang seperti itu. Aku berbicara benar kan" sahut Arya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
...
Dan akhirnya tidak lama kemudian, mereka sudah tiba didepan rumah eyang putri. Rumah yang tidak pernah berubah sejak terakhir kali mereka datangi. Nara dan Reynand langsung turun dari mobil, dan mereka disambut oleh pelayan eyang putri.
Beberapa orang pelayan langsung membantu Arya untuk menurunkan oleh oleh dan hadiah yang mereka bawa. Cukup banyak, karena Nara memang sudah menyiapkan nya sejak kemarin.
"Wow... ada helikopter didepan sana. Ada tamu penting kah?" tanya Arya pada pelayan tuan putri.
Nara dan Reynand langsung menoleh ketanah lapang didepan rumah eyang putri. Ada sebuah heli yang cukup canggih dan besar berlogo GG. Sepertinya Reynand mengenal logo itu.
"Bukankah itu heli milik tuan Reyza" tanya Reynand pula.
"Benar tuan, tuan Reyza dan keluarga nya sudah tiba didalam" jawab pelayan itu.
"Waahh keren sekali dia punya heli pribadi seperti ini" gumam Arya begitu takjub.
"Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Reynand yang sedikit heran.
"Dia suami dari cucu nya eyang putri Rey" jawab Nara
Reynand sedikit terkesiap mendengar nya. Dia mengenal Reyza, Reyza Askara gemilang. Pewaris tunggal kejayaan Gemilang grup. Hanya saja mereka tidak pernah bertemu dan bekerja sama karena berbeda haluan. Dan Reynand tidak menyangka jika cucu eyang putri mendapatkan pria itu.
"Mari tuan, nona. Silahkan masuk. Eyang putri sudah menunggu kalian sejak tadi" ujar pelayan itu.
Nara tersenyum dan mengangguk. Dia langsung masuk kedalam diikuti oleh Reynand dan Arya. Didalam rumah sudah ramai orang yang berkumpul. Dan dapat Nara lihat jika eyang putri duduk bersama cucu cucunya yang berkumpul. Gelak tawa mereka bahkan sudah terdengar hingga keluar. Ada dua orang anak disana, anak lelaki tampan yang sedang bermain dengan balita kecil berada ditengah tengah mereka.
"Selamat siang, apa kami terlambat??" sapa Reynand. Semua orang yang ada disana langsung memandang kearah mereka. Membuat Nara sedikit kikuk. Pasal nya dia masih merasa orang asing disini.
"Oh kalian sudah datang, ayo kemari. Duduklah, mereka semua cucu cucu ku" ujar eyang putri.
Nara langsung menyalami punggung tangan Eyang putri dan memeluk tubuh renta itu. Wanita yang sudah sangat berbaik hati padanya.
"Eyang maaf Nara baru bisa datang sekarang, eyang baik baik saja bukan?" tanya Nara
"Ya, aku baik baik saja. Kamu pasti juga begitu" ucap eyang putri.
"Semua berkat eyang. Tanpa eyang mungkin Nara tidak akan ada disini" jawab Nara
"Tidak, aku cuma perantara. Semua sudah ada yang mengatur. Dan aku senang kalian sudah memilih untuk kembali bersama" kata Eyang putri lagi seraya meliriik Reynand yang nampak tersenyum getir.
"Nara hanya mengikuti saran eyang yang kedua" ucap Nara, eyang putri langsung tertawa dan mengangguk. Dia cukup bahagia melihat Nara dan Reynand kembali bersama. Ya, meskipun dia harus melihat senyum terpaksa cucu laki laki nya dipojokan sana.
"Eyang selamat ulang tahun, semoga eyang selalu sehat dan bahagia" kini bergantian Reynand yang duduk bersimpuh dihadapan eyang putri.
"Ya, kau juga harus bahagia. Jangan lagi kau sia sia kan dia" ujar Eyang putri
"Tentu eyang" jawab Reynand
"Jika kau tidak bisa membahagiakan nya, dia pasti akan merebut calon istrimu itu" Eyang putri menoleh pada Bimantara yang duduk dipojokan bersama anak Reyza.
Reynand mendengus dan menggeleng
"Tidak akan saya biarkan" sahut nya dengan cepat, membuat eyang putri langsung tertawa geli seraya menepuk pundak Reynand beberapa kali.
"Sudah pergilah berkumpul bersama mereka, kau pasti mengenal cucu menantuku itu" ujar eyang putri.
"Ya, siapa yang tidak mengenal nya. Tuan Reyza Askara" ucap Reynand.
Reyza langsung tersenyum saat Reynand berjalan dan mendekat kearanya. Mereka langsung berjabat tangan dan saling menyapa. Sedangkan Nara sudah bergabung dengan Naina dan Lolita, istri Reyza dan juga adiknya.
__ADS_1
"Saya tidak menyangka jika tuan Reynand Adiputra segagah ini aslinya, selama ini saya hanya melihat dimedia saja" ucap Reyza.
Reynand tersenyum tipis dan menggeleng.
"Jika dibandingkan dengan anda, saya bukan apa apa tuan" jawab Reynand.
"Anda terlalu merendah, padahal saya tahu jika Adidaksa masih menjadi perusahaan terbaik hingga saat ini" sahut Reyza.
"Dan perusahaan Gemilang grup masih menjadi perusahaan terbesar dinegara ini" balas Reynand pula. Mereka berdua langsung tertawa dan menggeleng lucu.
"Baiklah, sepertinya setelah ini kita bisa melakukan kerja sama" ucap Reyza.
"Sepertinya itu ide yang bagus" jawab Reynand.
"Sangat bagus memang" jawab Reyza.
"Ah... apa dia istri anda tuan?" tanya Reyza seraya memandang kearah Nara yang sedang mengobrol dengan istrinya.
"Calon istri saya tuan" jawab Reynand
"Oh masih calon.. saya kira kalian sudah suami istri. Tapi cocok, kalian pasangan yang serasi. Bukankah dia pemilik perusahaan Polie?" tanya Reyza lagi.
"Ya benar." jawab Reynand.
"Anda pintar memilih calon istri" goda Reyza.
Reynand tersenyum tipis melihat lelaki yang lebih tua dari nya beberapa tahun ini.
"Anda juga tidak kalah pintar tuan. Apa anak lelaki itu putra anda?" tanya Reynand seraya memandang anak lekaki yang sedang duduk bersama Bimantara. Dan ternyata Arya juga sudah duduk bergabung disana. Ada seorang lelaki dewasa juga disana.
"Ya, dia Abimanyu putra semata wayang saya. Anak kecil itu keponakan saya" jawab Reyza.
Reynand tersenyum dan mengangguk seraya memandangi kedua anak itu. Ah... kenapa dia jadi ingin memiliki anak juga. Astaga...
"Abi..." panggil Reyza pada putra nya.
"Yes dad" sahut Abi dari sana
"Kemari sebentar" pinta Reynand.
Abimanyu langsung menyerahkan balita kecil itu pada Sean, pamannya.
"Yang itu adalah adik iparku, sekaligus asisten ku dikantor" ungkap Reyza seraya menunjuk Sean.
Sean mengangguk dan tersenyum pada Reynand, namun tuan angkuh ini hanya mengangguk datar saja. Dia kesal memandang Bimantara yang masih suka mencuri pandang pada Nara.
"Ada apa dad" tanya Abimanyu yang sudah ada didekat mereka.
"Ayo perkenalkan dirimu pada uncle Reynand" ujar Reyza.
"Hai uncle, aku Abimanyu. Abimanyu Reynan Askara Gemilang. Nama kita sama bukan" ucap Abimanyu seraya menyalami punggung tangan Reynand
Reynand tertawa kecil dan mengusap kepala Abi sejenak.
"Tapi kau lebih keren dari uncle boy." jawab Reynand.
"Tentu saja, bahkan daddy pun selalu kalah dariku" sahut Abi
Reynand tersenyum kagum melihat putra semata wayang Reyza ini. Cukup percaya diri.
__ADS_1
"Boy... kau selalu berkata seperti itu. Bahkan kau belum besar" gerutu Reyza.
"Abi berkata yang sesungguhnya dad. Kenapa daddy selalu marah" jawab Abimanyu. Anak lelaki yang baru berusia 7 tahun itu memang sudah terlihat dewasa melebihi umurnya. Reynand cukup kagum.