Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Oktober Terakhir


__ADS_3

Hujan gerimis yang merintik diakhir malam itu menemani kesepian Nara yang masih terkulai diatas lantai yang begitu dingin. Mata nya memandang langit langit kamar dengan pandangan yang begitu pedih. Rasa sakit ditubuh dan dihatinya benar benar seakan terasa membunuh. Air mata sejak tadi seolah tidak bisa terbendung, terus menerus mengalir diwajahnya yang pucat.


Darah sudah mulai menggenang dilantai dimana tempatnya berpijak. Sudah beberapa jam dia terbaring disana. Dia sempat tidak sadarkan diri akibat sakit yang tidak tertahankan. Nara berfikir jika dia sudah tidak akan bangun lagi, namun nyatanya, lagi lagi semesta masih membiarkan nya hidup dan menghadapi rasa sakit ini.


Nara tersenyum lemah, matanya melirik bercak darah yang tertempel didinding. Dia masih ingat bagaimana Reynand melampiaskan semua amarahnya pada dinding yang tidak bersalah itu. Bukan dinding yang pecah dan terluka, melainkan tangan nya sendiri yang kembali berdarah. Bahkan Nara tidak bisa membayangkan bagaimana jika kepalan tangan itu mendarat ditubuhnya, mungkin dia sudah akan benar benar mati. Namun kenyataan nya, Reynand ternyata masih punya hati untuk tidak melukai nya lebih parah. Meskipun dia tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh lelaki itu nantinya. Reynand yang angkuh dan penuh kuasa, dia sudah merasa dipermainkan, maka dia pasti tidak akan tinggal diam.


Nara mencoba menggerakkan tubuhnya yang sudah benar benar lemah. Rasanya pinggang Nara tidak bisa lagi menopang tubuhya. Dengan sekuat tenaga Nara menyeret tubuhnya menuju kamar mandi. Pelan pelan Nara mulai bisa mencapai kamar mandi, membuat jejak darah mengikuti kemana tubuhnya terseret.


Hari sudah jam empat pagi, dia tidak bisa diam dan tergelatak dilantai sampai besok. Nara harus membersihkan diri dan meminum obatnya. Dia harus bisa bangun, setidaknya sampai dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Reynand.


Setelah bersusah payah, akhirnya Nara bisa sampai dikamar mandi. Dia langsung menyirami tubuhnya dengan air yang terasa begitu dingin hingga membuat seluruh tulang tulang nya terasa berdenyut ngilu.


Nara terduduk dengan air mata yang kembali keluar


Sesakit inikah mencintai


Dia ada, tapi terasa tidak nyata


Dia mimpi indah Nara, tapi dia juga yang menjadi mimpi buruk nya


Dia harapan hidup terakhir Nara, tapi dia juga yang membunuh Nara secara perlahan


"Rey...aku menyerah" gumam Nara dengan isak tangis yang begitu pilu


....


Beberapa jam kemudian...


Perusahaan Adidaksa


Reynand memandang tajam asisten kepercayaannya. Lelaki berkaca mata yang sudah berumur namun terlihat begitu tegas.


"Semua sudah saya atur tuan muda. Perusahaan Domino sudah mencabut seluruh saham nya diperusahaan Polie dan juga perusahaan Bimantara. Kini perusahaan Polie sudah tidak lagi memiliki pondasi, mereka sudah hancur, dan sebentar lagi seluruh pemegang saham yang masih tersisa pasti akan menuntut kerugian pada perusahaan itu. Namun perusahaan Bimantara masih bisa berdiri karena memiliki kekuatan yang cukup kuat" ungkap asisten Reynand, Guntur.


"Biarkan saja perusahaan Bimantara. Itu hanya sebagai peringatan untuk nya. Dan untuk perusahaan Polie, aku memang ingin mereka hancur dan tidak tersisa" Reynand berbicara begitu dingin dan datar. Amarah dihatinya masih begitu terasa. Apalagi jika mengingat tentang foto foto yang diberikan oleh Cleo. Dia tidak habis fikir jika Anara ternyata menyambut baik rengkuhan tangan Bimantara yang selama ini memang menginginkan nya. Reynand tidak terima, dia tidak suka dipermainkan. Dan kini Anara Polie harus menerima akibat nya. Sudah cukup selama ini dia membiarkan wanita itu berjalan seperti air, kali ini dia akan membuat sebuah perhitungan atas semua yang telah dilakukan Anara. Mulai dari memaksa Reynand untuk menikahinya, memfitnah Cleo begitu buruk, dan yang terakhir yang paling membuat nya marah adalah, Anara berani bertemu dan berhubungan dengan Bimantara dibelakang nya.


"Tapi karena itu pula, perusahaan kita juga menghabiskan dana yang cukup besar untuk menebus kerugian perusahaan Dopindo tuan" ungkap Guntur


Reynand menoleh kearahnya masih dengan wajah yang terlihat angkuh

__ADS_1


"Tidak masalah, kita bisa menghasilkan nya lagi" jawab Reynand


"Tapi tentu tuan besar tidak akan terima. Ini diluar pengetahuan nya" sahut Guntur.


Reynand terdiam dengan rahang yang mengeras. Dia tidak perduli itu, dia tahu ini pasti akan membuat ayah nya murka. Tapi dia hanya ingin membuat hatinya lega dengan menghancurkan perusahaan Nara. Membuat gadis itu menangis dan bertekuk lutut padanya.


"Itu akan menjadi urusan ku. Sekarang kamu pantau proyek perusahaan Polie dikota B. Apa orang orang kita sudah berhasil mengacaukan nya" ujar Reynand lagi


"Baik tuan muda" jawab Guntur yang hanya bisa pasrah dan menuruti semua perkataan tuan muda ini. Dia masih bingung kenapa tuan muda nya begitu ingin menghancurkan perusahaan Polie. Apa ada sesuatu yang telah menyinggung nya. Padahal selama ini perusahaan itu tidak pernah bersinggungan dengan perusahaan Adidaksa.


Setelah kepergian Guntur, Reynand kembali duduk dikursi nya. Memantau perkembangan perusahaan Polie yang sudah berada diambang kehancuran. Selama ini dia menyiksa Nara dengan segala perlakuan nya, namun gadis itu masih bisa berdiri tegak dan menyambutnya dengan senyuman. Tapi kali ini, apa dia masih bisa tersenyum?


Entah kenapa, diantara semua perbuatan Nara yang dilakukan padanya, yang paling membuat hati Reynand murka adalah tentang kebersamaan nya bersama Bimantara. Tentu bukan dia cemburukan??? Tidak, tidak mungkin ada perasaan seperti itu. Reynand yakin jika perasaan ini adalah perasaan tidak terima karena Nara yang lagi lagi mempermainkan nya. Reynand menepis jauh jauh hatinya, jika dia sebenarnya baru merasakan hal ini pada Nara, padahal dia sering melihat Cleo bersama teman lelaki nya yang lain, tapi perasaan Reynand tidak begitu terusik seperti pada Anara Polie, istrinya.


Anara Polie harus tahu jika seorang Reynand Adiputra tidak bisa dipermainkan. Reynand akan membuat Nara membuka matanya, jika kesalahan yang dia perbuat harus menanggung resiko nya. Dia tidak suka melihat Nara dekat dengan lelaki lain, dia tidak suka melihat Nara tersenyum untuk lelaki lain. Tidak, tidak akan dia biarkan. Reynand akan menghukum Nara dengan kejam. Dia tahu ini keterlaluan, tapi seorang Anara yang lemah dan penuh cinta itu, pasti tetap tidak akan berkutik. Dia pasti akan tetap merengek untuk terus bersama nya. Bukan kah begitu????


....


Keesokan harinya...


Hari ini adalah hari terakhir dibulan oktober. Nara baru saja selesai membersihkan dirinya. Namun dia masih betah duduk diatas sofa kamar dan memandang keluar jendela kamar itu. Tidak tahu kenapa, diakhir oktober ini dia merasakan ada sesuatu yang akan hilang. Seiring dengan berakhirnya bulan penuh kenangan ini.


Nara beranjak dengan perlahan menuju meja rias nya. Duduk didepan cermin yang memperlihatkan seorang wanita dewasa dengan wajah nya yang begitu menyedihkan. Kurus, pucat dan layu. Sangat jauh berbeda dengan gadis remaja berpayung biru muda sebelas tahun yang lalu. Gadis remaja dengan senyum yang begitu manis tanpa beban. Sekarang gadis itu telah berubah, usia nya dan semua tentang nya telah hilang termakan waktu.


Nara mengeluarkan sebuah buku catatan yang nampak usang dari dalam laci meja. Membuka nya perlahan dan begitu lembut.


Bibirnya tersenyum, namun matanya kembali berair. Dia pernah begitu bahagia, memiliki semua yang dia punya, namun semua hilang ketika dia mulai mengenal Reynand Adiputra. Cinta yang dia miliki ternyata tidak cukup mampu merebut hati lelaki itu. Bukan nya terbalas, melainkan terhempas.


Tangan Nara kembali menuliskan sesuatu diatas kertas usang itu. Tinta emas yang begitu indah tampak terukir dengan kelu. Ada rasa sakit yang tidak terhingga didalam tulisan itu. Semua harapan, impian dan kesakitan, seolah hanya bisa dituangkan Nara dalam bentuk tulisan. Tidak ada tempatnya berbagi, tidak ada tempatnya mengadu. Bahkan untuk berpijak pun dia tidak tahu harus kemana. Dia merasa begitu sendiri, dia takut, dia sangat takut untuk melihat kehidupan nya dihari esok. Dia sangat takut..


Seseorang tempatnya berpijak seolah ingin menghempaskan nya terus menerus. Setiap hari, hanya rasa sakit yang Nara terima.


Tidak bolehkan dia berharap jika Reynand bisa berubah dan menerimanya????


Nara mengusap air matanya, dan segera menutup buku nya saat pintu terdengar diketuk dengan tergesa.


Nara menyimpan kembali buku usang itu kedalam laci bersamaan dengan gelang kenangan nya. Dia beranjak dan segera keluar kamar untuk melihat siapa yang datang pagi ini.


Apa Arya??? Karena Reynand tidak mungkin mengetuk pintu.

__ADS_1


Dan benar saja, ketika Nara membuka pintu dia langsung mendapati wajah panik Arya sekarang


"Ada apa??" tanya Nara


"Nara ini gawat, benar benar gawat" jawab Arya


Dan sepertinya Nara sudah dapat menduga apa yang akan dikatakan oleh Arya


"Perusahaan Dopindo mencabut saham dan seluruh relasinya"


deg


"Sekarang para petinggi perusahaan sudah menunggu kedatanganmu, diluar perusahaan juga sudah banyak pendemo yang ingin meminta hak mereka untuk bulan ini"


deg


"Proyek dikota B juga sudah hancur. Ada banyak kecurangan yang terjadi. Dan bukan itu saja, proyek yang seharus nya hanya pembangunan jembatan dan sarana jalan kini malah beralih kepada pertambangan dan membuat kerugian yang cukup besar"


deg


Jantung Nara seakan sulit untuk menerima semua berita ini. Dia bahkan langsung terduduk dikursi rotan yang ada diteras rumahnya. Reynand benar benar kejam. Dia sudah menjatuhkan bom atom pada Nara. Sebenci itukah dia???


"Nara kita bangkrut dan hancur. Perusahaan menanggung hutang yang cukup banyak. Menjual seluruh saham yang kita miliki juga rasanya tidak mungkin bisa untuk menutupinya. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku tahu kamu sedang sakit, tapi......"


Perkataan Arya langsung terhenti saat Nara mengangkat tangan nya dan memandang nya dengan lekat.


"Kita hanya perlu menjual nya Yo" ucap Nara


"Menjual nya?? Menjual apa??? Perusahaan maksud mu???" tanya Arya tidak percaya. Namun Nara langsung mengangguk. Pandangan matanya terlihat begitu kosong, dia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa


"Nara, yang benar saja" seru Arya tidak terima. Itu adalah hidup Nara, dia tahu bagaimana Nara berjuang mempertahankan perusahaan Polie selama ini


"Kamu tolong panggilkan pengacara kita. Suruh dia keperusahaan. Hari ini semua harus selesai" kata Nara yang langsung beranjak dan kembali masuk kedalam rumah untuk mengganti pakaian dan mengambil barang barang nya.


Arya memandang Nara tidak percaya. Apa dia benar benar akan menjual perusahaan itu???


Nara menghapus air mata nya. Dia sedih, tentu saja. Tapi bukan waktu nya untuk menangis dan meratapi kepedihan nya. Jika Reynand menginginkan kehancuran nya, maka akan Nara berikan. Nara akan hancur dihadapan nya hari ini. Perusahaan Polie yang dia perjuangkan selama ini tentu nya bukan hal yang sepele. Itu adalah nyawa kedua nya, dan Reynand dengan mudah menghancurkan itu hanya karena dia membenci nya. Tidak apa apa, jika Reynand memang begitu, maka Nara akan menyerahkan semua nya pada lelaki itu.


Tapi satu yang pasti, ini adalah oktober terakhir nya untuk dia berjuang. Dia sudah lelah. Dan dia menyerah !

__ADS_1


__ADS_2