Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Dirumah Sakit


__ADS_3

Saat ini semua orang sudah berada disalah satu rumah sakit yang terdekat dari tempat tinggal Eyang putri. Rumah sakit ini adalah rumah sakit kecil. Namun cukup jauh dari kota. Dan entah kenapa Bimantara bisa ada diluar saat tengah malam tadi. Padahal Sean sendiri yang mengantarnya kedalam kamar untuk beristirahat karena dia yang memang mabuk parah. Dan sekarang, dia malah sudah terbaring diranjang rumah sakit.


Kondisi Bimantara tidak cukup parah, hanya cidera dikepala saja karena benturan disetir mobil. Hanya saja orang yang dia tabrak yang kini belum tahu bagaimana kondisi nya.


Eyang putri duduk disamping Bima seraya memandangnya dengan wajah datar. Disampingnya berdiri Lolita yang terlihat mengusap bahu eyang putri dengan lembut.


Sedangkan Bimantara baru saja bangun dan sedang mengusap kepalanya yang terasa sakit.


"Kamu ini selalu saja buat eyang cemas. Apa gak bisa untuk diam dirumah, bisa bisa nya malah keluyuran tengah malam, dalam kondisi mabuk pula" gerutu Eyang putri.


Bimantara memandang eyang putri dengan penuh rasa bersalah. Dia juga melirik pada Nara dan Reynand yang masih duduk disofa kecil ruang perawatan nya.


Sementara Naina dan Reyza masih melihat orang yang ditabrak oleh Bimantara. Arya dan Sean sedang mengusut kasus kecelakaan ini bersama polisi daerah setempat.


"Maaf eyang, Bima cuma cari udara segar" jawab Bimantara.


"Cari udara segar gundulmu. Duduk diluar rumah bisa, kenapa sampai sejauh ini kamu pergi. Bisa bisanya sampai ke jalan raya tengah malam buta." omel eyang putri lagi. Dia sudah benar benar cemas mendengar kabar kecelakaan Bimantara. Karena bagaimana pun hanya Bimantara lah yang dia punya sebagai cucu kandung nya.


Bima hanya menunduk, dia juga tidak tahu kenapa dia bisa sampai sejauh itu mengendarai mobil malam tadi. Yang dia fikir dia hanya ingin menenangkan hatinya yang semakin kusut melihat Nara dan Reynand yang kini sudah mulai bermesraan.


Bima hanya ingin menenangkan diri agar dia bisa bersikap biasa dihadapan semua orang seperti biasa. Tapi sekarang dia malah membuat eyang nya cemas dan khawatir.


"Sudahlah eyang, Bima juga pasti gak sengaja. Jangan marah marah, nanti darah tinggi eyang kumat" ucap Lolita.


"Sekarang kita harus tanggung jawab sama orang yang kamu tabrak itu. Mudah mudahan saja dia gak apa apa. Kalau sampai dia cidera fatal, kamu bisa dipenjara" ungkap Eyang putri.


Bimantara terdiam...


Dia baru ingat..


Jika malam tadi dia memang menabrak seorang pengendara motor. Tapi Bima rasa dia tidak sampai menabrak pengendara motor itu. Bima memang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan dia rasa pengendara motor itu juga melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.. Dan ketika berada dipertigaan jalan, mereka hampir saja bertabrakan, namun dengan cepat Bima membanting setir kekanan dan menabrak pohon. Namun dia juga sempat menyenggol motor orang itu hingga membuat motor nya terhempas kejalanan.


Ya, bagaimana keadaan orang itu?


Malam tadi dia sudah tidak ingat apa apa lagi setelah melihat motor orang itu terhempas ditengah jalan.


"Jika keadaan nya parah, kita bisa membawa nya ke rumah sakit di Jakarta eyang" sahut Reynand.


"Kalau sempat, kalau orang itu mati. Habislah semua" jawab Eyang putri terlihat begitu kesal. Punya cucu satu, tapi sejak dulu selalu saja membuat nya cemas.


"Lalu bagaimana keadaan orang itu sekarang?" tanya Bima


"Kak Reyza sama kak Nai lagi ngelihat Bim" jawab Loli.


Bimantara hanya menghela nafas dan kembali memijat kepala nya yang pusing.


Kenapa jadi begini..


Niat hati ingin menenangkan diri, tapi malah mendapat musibah. Dan sekarang dia malah bertambah menjadi tidak tenang.


Sialan sekali memang..


Nara hanya diam dan tidak bersuara. Dia sudah cukup cemas mendengar kabar Bimantara yang kecelakaan. Nara hanya berharap jika semua akan baik baik saja.


Hingga tidak lama kemudian, pintu ruang perawatan Bima terbuka. Reyza dan Naina masuk kedalam dengan wajah datar mereka. Membuat semua orang yang ada didalam ruangan itu penuh dengan tanda tanya.

__ADS_1


"Gimana kak?" tanya Loli langsung.


"Tidak ada luka yang serius menurut dokter, hanya saja kaki gadis itu yang patah. Dan karena terseret cukup jauh, ada luka lecet dibeberapa bagian tubuhnya." ungkap Reyza.


"Apa perlu kita bawa ke Jakarta?" tanya Reynand pula. Namun Reyza langsung menggeleng.


"Dia tidak ingin dibawa kemana pun. Dia hanya meminta kita untuk merawatnya sampai sembuh" jawab Reyza.


"Kalian sudah menghubungi keluarga gadis itu?" tanya Eyang putri.


"Dia tidak ingin siapapun tahu tentang kabar kecelakaan nya ini Eyang. Dia meminta kita untuk membawa nya kerumah. Gadis itu ingin dirawat dirumah saja. Bahkan dia tidak akan memperpanjang masalah ini ke kantor polisi" jawab Reyza.


"Kenapa begitu?" tanya Reynand.


"Entah lah. Dia hanya ingin kita yang merawatnya sampai sembuh. Tapi bukan kah itu cukup baik. Jika masalah ini sampai berlarut kekantor polisi. Maka Bima sudah pasti terkena dua sanki. Bukankah dia dalam keadaan mabuk berat malam tadi" ungkap Reyza seraya memandang Bimantara yang masih diam di atas ranjang nya.


Dia masih mengingat ingat, jika sepertinya malam tadi dia menabrak seorang lelaki dengan motor besarnya. Kenapa orang itu malah seorang gadis???


Bima memang tidak melihat wajahnya, karena gadis itu memakai helm dan juga jaket hitam. Memakai motor gede dan gayanya juga tidak ada menunjukkan sedikitpun gaya seorang gadis.


"Kamu memang harus tanggung jawab Bim. Nanti setelah sehat, kamu harus minta maaf padanya. Beruntung dia tidak melaporkan mu kepolisi" ujar Eyang putri.


"Iya eyang" jawab Bima yang hanya bisa mengangguk pasrah. Yah, mau bagaimana lagi, ini memang salahnya. Dan mau tidak mau Bima harus bertanggung jawab.


"Lalu bagaimana dengan Arya dan Sean yang dibawa polisi itu?" tanya Reynand.


Dan kini pandangan semua orang langsung mengarah pada Reyza.


"Gadis itu sudah mencabut tuntutan nya. Dia hanya ingin damai dan meminta agar tidak ada yang memberitahukan keadaan nya pada siapapun. Termasuk orang tua nya. Mungkin untuk dua bulan kedepan dia akan tinggal dirumah eyang putri. Eyang tidak apa kan? Soal nya gadis ini tidak mau dibawa ke Jakarta" ujar Reyza.


"Kalau Bima disini bagaimana dengan perusahaan eyang. Bima juga sedang mengurus mega proyek disana" Bimantara terlihat keberatan. Namun dia langsung meringis saat eyang putri menampar lengan nya dengan geram.


"Jadi kamu mau eyang yang mengurus nya sendiri begitu. Ini kan ulahmu" dengus eyang putri.


"Masalah mega proyek biar kami yang menangani. Kamu cukup kesana jika diperlukan" sahut Nara yang sejak tadi hanya diam. Namun karena sudah menyinggung mega proyek yang bersangkutan dengan nya. Nara akhirnya membuka mulut.


"Hmm... lagi pula untuk di perusahaan mu sudah ada asisten dan sekretaris. Tidak usah sok sibuk. Selama ini juga kau jarang masuk keperusahaan" sahut Reynand pula.


Bimantara hanya mendengus sinis memandang Reynand. Ini juga karena Reynand, maka dia bisa seperti ini. Sialan memang.


"Hanya sampai gadis itu sembuh Bim. Lagipula kamu tidak akan menyesal. Dia gadis yang cukup cantik" goda Reyza.


"Aku kira dia malah seorang pria malam tadi" ucap Bima.


"Enggak... dia cantik dan masih muda. Mungkin umurnya masih 23 tahun gitu. Dan sebenarnya wajahnya juga gak asing sih menurut aku" ungkap Naina.


"Gak asing gimana? Kakak pernah lihat gitu?" tanya Loli pula.


"Kayaknya memang pernah lihat Lol, tapi aku lupa dimana" jawab Naina.


"Bukankah aneh dia yang gak ingin memberi tahu orang tua nya? Jangan jangan dia penjahat yang kabur lagi"sahut Bimantara


Pluk


Lagi lagi tamparan mendarat dilengan nya.

__ADS_1


"Pikiran kotor mu itu dibuang" sergah eyang putri. Bimantara langsung mengusap lengan nya yang pedas.


"Kayak nya bukan Bim. Dia kelihatan seperti gadis baik baik. Gadis kota yang cantik dan elegan. Mana ada penjahat kayak begitu" jawab Naina


"Kalau dia gadis baik baik dia pasti mau memberi tahu orang tuanya tentang keadaan nya disini. Lagian kenapa juga dia keluar dini hari begitu, kurang kerjaan" gerutu Bima


Dan kini dua tamparan kembali mendarat dilengan dan bahunya.


"Gak sadar diri banget emang kamu ini" omel Lolita


"Kamu itu yang kurang kerjaan, dirumah enak, malah keluar cari angin. Lihat sekarang, semua orang jadi repot gara gara kamu." gerutu eyang putri pula.


Sementara yang lain hanya tertawa lucu melihat wajah marah eyang putri dan wajah kesal Bima. Lelaki itu terlihat begitu frustasi sekarang.


"Kamu jangan berburuk sangka dulu Bim. Dia bilang dia cuma gak ingin buat orang tua nya cemas. Ayahnya udah sakit sakitan. Maka nya dia gak mau memperpanjang masalah. Dan lebih milih numpang dirumah kita untuk sementara waktu" sahut Naina.


Bimantara menghela nafas berat.


Kenapa hidupnya sesial ini...


Ya ampun...


Niat hati ingin tenang, tapi masalah nya semakin bertambah saja. Astaga...


"Sudah lah, enggak apa apa gadis itu dirumah eyang. Nanti juga tahu dia gadis baik atau enggak. Yang terpenting kita tanggung jawab saja dulu" ujar Eyang putri.


"Iya eyang.. kamu denger tuh Bim. Bantuin eyang ngurusin dia. Kasihan badan nya luka semua. Jangan banyak alasan mau pergi pergi lagi. Eyang udah tua, jangan bikin tambah pusing." ujar Naina


"Iya mbak... iya... " jawab Bimantara


"Setelah memastikan gadis ini baik baik saja. Kami tidak bisa lama eyang. Urusan perusahaan sudah menunggu. Abi juga sudah harus sekolah" ujar Reyza.


"Enggak apa apa. Bima juga sehat kok. Eyang bisa mengurusnya" jawab Eyang putri.


"Tuan Reynand dan nona Nara juga akan berangkat pagi ini?" kini Reyza beralih pada Nara dan Reynand.


"Benar tuan. Sepertinya keadaan sudah baik baik saja. Kami memang sudah harus kembali. Tidak apa apa bukan?" tanya Reynand. Seraya beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Reyza didekat ranjang Bimantara. Nara juga mengikuti nya, dan melirik sekilas pada Bima yang memandang kearahnya. Namun segera beralih karena eyang putri yang mencubit lengan Bima. Malang sekali nasib pria itu.


"Tentu tidak apa apa. Maaf jika kami sudah merepotkan" ujar Reyza.


"Tidak. Kami kesini juga sekalian untuk mengundang eyang putri dan semua yang ada disini untuk menghadiri acara pernikahan kami nanti. Mungkin terlalu cepat, tapi saya takut kita sudah tidak bisa mengatur waktu untuk bertemu" ujar Reynand.


"Wow... tentu saja. Kami pasti akan datang" jawab Reyza.


"Eyang tidak apa apa Nara tinggal kan" kini Nara beralih pada eyang putri.


"Enggak apa apa. Nanti eyang pasti datang saat pernikahan kalian. Kalian harus baik baik saja, jangan ada drama salah paham dan air mata lagi. Ini harus menjadi yang terakhir" ujar eyang putri.


"Iya eyang" jawab Nara dan Reynand bersamaan.


Sementara Bima, dia hanya bisa menelan dalam dalam perasaan nya. Menelan pil pahit yang membuat hatinya menjadi tidak karuan.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang sedang dirasakan Bimantara sekarang. Sudah mendapatkan kesialan karena peristiwa malam tadi, dan kini malah mendengar berita bahagia Nara yang malah semakin membuat nya kacau dan tidak menentu.


Sialan sekali....

__ADS_1


__ADS_2