Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Aku Mau Pulang (Gendis)


__ADS_3

Bima memandangi Gendis yang sedang duduk termenung ditaman belakang rumah eyang putri. Entah apa yang sedang dilamunkan oleh gadis itu. Tapi bisa Bima lihat jika pandangan matanya nampak kosong dan begitu sendu. Ditangan nya ada secawan ramuan atau sejenis jamu, yang memang harus setiap hari dia konsumsi.


Sore ini Bima baru tiba dirumah eyang putri setelah tiga hari dia tidak pulang. Urusan perusahaan membuat nya cukup repot, apalagi karena harus meninjau lokasi proyek dikota Bandung. Hingga hari ini Bima baru bisa kembali kerumah eyang putri untuk melihat gadis ini.


Gadis yang ternyata adalah putri tuan Renggono.


Ya, Bima sudah tahu siapa sebenarnya gadis ini. Sejak kejadian yang terjadi diperusahaan Dopindo beberapa hari yang lalu. Bima mendatangi tuan Renggono dikediaman nya. Dia ingin tahu apakah benar jika gadis yang diwarat dirumah eyang putri ini adalah putri tuan Renggono atau tidak. Dan ternyata benar. Bahkan semua foto dan juga keterangan tentang Gendis sudah Bima ketahui dari tuan Renggono.


Tuan Renggono begitu terkejut saat Bima berkata jika Gendis kini ada dirumah eyang nya. Dan Bima juga mengungkapkan kesalahan nya yang telah membuat Gendis terluka dan cidera seperti ini. Bima tidak ingin ada masalah dikemudian hari jika dia menyembunyikan semua yang telah terjadi. Jadi dia memutuskan untuk memberi tahu tuan Renggono semuanya. Juga tentang Gendis yang tidak ingin tuan Renggono tahu tentang keadaan nya.


Tuan Renggono terlihat bersedih awalnya, tapi dia juga tidak mempermasalahkan masalah ini terlalu jauh. Dia hanya meminta Bima untuk menjaga putrinya dengan baik. Dan malah menitipkan Gendis pada Bima. Tuan Renggono tidak ingin Gendis diganggu oleh David untuk saat ini.


Dan sekarang, disinilah Bima berada. Kembali pada Gendis untuk membantu gadis ini cepat sembuh. Dia juga tidak menyangka ternyata Gendis ada didesa ini karena untuk menenangkan diri dari patah hati.


Dan .... Bima cukup iba melihat nasib nya. Dia jadi merasa bersalah telah memarahi nya kemarin. Bahkan Bima pergi juga tidak ada pamit sama sekali pada Gendis.


Gadis itu pasti begitu bersedih. Sudah pacaran bertahun tahun dan sebentar lagi akan menikah, tapi kenyataan nya dia malah dikhianati. Sungguh miris. Bahkan lebih miris dari nasib nya yang hanya sekedar patah hati.


Bima berjalan mendekati Gendis. Kelihatan nya gadis itu tidak menyadari kedatangan nya.


"Jamu itu tidak akan habis jika tidak kamu minum" ujar Bima.


Dan benar saja, karena sedang melamun, Gendis malah terkesiap kaget dan menjatuhkan gelas nya.


Bima langsung terkekeh melihat keterkejutan Gendis. Bahkan gadis itu langsung memandang nya dengan wajah yang masih terkejut.


"Terkejut?" tanya Bima seraya berjalan kedepan Gendis dan meraih cawan yang terjatuh itu, bahkan kaki Gendis sudah basah karena tersiram air.


Gendis hanya diam dan menghela nafasnya dengan pelan. Seraya tangan nya yang mengusap paha nya yang basah.


Bima langsung meraih kursi roda Gendis dan mulai mendorong nya.


"Kamu mau membawa aku kemana. Aku masih ingin disini" ucap Gendis


"Kamu harus ganti baju." jawab Bima.


"Aku bisa sendiri" kata Gendis seraya menghentikan laju kursi rodanya.


Bima mengernyit memandang Gendis.


"Lepaskan tanganmu, aku mau masuk sendiri" kata Gendis lagi. Nada bicara nya terdengar datar namun getir.


"Kamu yakin, aku sudah kembali dan biasanya kamu selalu menjadikan ku pelayan mu" sahut Bima.


Gendis hanya diam dan langsung memutar kursi rodanya sendiri. Untung saja jalanan datar, jadi dia bisa dengan mudah pergi dari Bima.


Bima menghela nafas pelan dan langsung mengikuti Gendis dari belakang. Sepertinya gadis ini marah. Atau dia memang sudah sadar?

__ADS_1


"Kamu marah nona?" goda Bima


Namun Gendis hanya diam dan terus melajukan kursi roda nya.


"Jalanan didepan payah, kamu tidak akan bisa masuk" kata Bima lagi.


Namun Gendis tetap diam. Dia sudah terlanjur sakit hati dengan perkataan Bima tempo lalu.


"Yasudah jika tidak mau aku bantu. Aku akan pergi lagi" ucap Bima.


Gendis hanya diam saja mendengar itu. Membuat Bima kesal karena merasa diabaikan. Hingga akhirnya dia memilih berhenti dan membiarkan Gendis sendiri masuk kedalam rumah.


Dasar keras kepala. Batin nya.


Gendis masih terus memutar kursi rodanya, namun sampai diambang pintu, jalan agak menurun dan sedikit berbatu. Dia kesusahan, tapi dia tetap berusaha. Meminta bantuan Bima hanya akan membuat hatinya bersedih saja. Bukankah lelaki itu bilang jika dia tidak tahu diri. Jadi dia memang harus bisa sendiri kan. Tiga hari ini juga dia mencoba melakukan apa yang dia bisa, meski lebih banyak dibantu oleh pelayan eyang putri.


Mata Gendis berkaca kaca saat dia kepayahan untuk masuk. Dan tiba tiba....


brakk


uuugghhh


Matanya langsung terpejam saat dia merasakan sakit yang luar biasa karena terguling dari atas kursi roda. Kakinya yang patah langsung berdenyut ngilu hingga membuat Gendis menggigit bibirnya dengan kuat.


Bima terkesiap dan langsung berlari mendapati Gendis. Dia langsung mengangkat kursi roda yang menimpah tubuh Gendis.


Bima langsung mengangkat tubuh Gendis kedalam gendongan nya. Mata Gendis masih terpejam menahan sakit, bahkan wajahnya langsung pucat pasih karena kakinya yang benar benar sakit sekarang. Dia bahkan tidak lagi memperdulikan Bima yang akan membawanya entah kemana.


Air mata bahkan sudah membasahi wajah Gendis.


Bima membawa Gendis masuk kedalam rumah seraya sesekali dia memandang Gendis yang kesakitan.


Dan saat sudah berada didalam kamarnya, Bima langsung merebahkan Gendis diatas tempat tidur dengan hati hati.


"Tunggu disini, aku akan memanggil eyang putri" ujar Bima.


Namun Gendis tidak menjawab, dia malah terisak dengan kuat dan bahkan terdengar begitu pilu.


Hiks hiks


Gendis menangis seraya menutup wajah nya dengan tangan, menumpahkan air matanya disana agar tidak terlihat oleh Bima. Namun percuma, melihat ulah nya itu Bima yang sudah sampai diambang pintu kembali menoleh kearahnya


"Hei, kenapa kau malah menangis" seru Bima. Namun Gendis masih tetap menangis bahkan terdengar sesunggukan.


Bima menjadi bingung sekarang, dia mendongak keluar kamar, dan beruntung nya ada pelayan yang lewat.


"Hei mbak, tolong panggilkan eyang putri kemari ya. Cepat" seru Bima

__ADS_1


Pelayan itu langsung mengangguk dan segera berlari untuk memanggil eyang putri. Sedangkan Bima kembali mendekati Gendis yang masih menangis sesunggukan diatas tempat tidur.


"Hei, tahan lah. Sebentar lagi eyang putri datang" ucap Bima.


Namun Gendis masih menangis dan menangkup wajahnya.


"Kau begitu keras kepala, coba saja kau mau aku bantu tadi. Pasti tidak akan sakit begini" gerutu Bima.


Gendis semakin menangis mendengar itu. Dia bukan hanya menangis karena sakit, tapi dia menangis karena memang ingin sekali menangis. Rasanya benar benar sesak dan dia sangat ingin menangis sekarang. Tapi kenapa Bima selalu saja bisa menambah kadar rasa sakitnya.


"Kenapa kamu jahat sekali ha... hiks hiks" Gendis memandang Bima dengan wajah yang menyedihkan.


Bima terdiam memandang wajah itu.


"Kamu bilang aku tidak tahu diri. Kamu bilang aku selalu menyusahkan mu. Dan sekarang aku tidak ingin kamu bantu, tapi kamu malah bilang aku keras kepala. Huuuuuuuu" ungkap Gendis dengan isak tangis yang semakin menjadi.


"Aku harus bagaimana. Aku tidak ingin menyusahkan. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apa apa" kata Gendis lagi. Terdengar begitu menyedihkan.


Bima jadi iba memandang nya. Sialan memang. Apalagi Gendis seperti ini memang karena ulahnya.


"Aku akan pulang besok, kamu tenang saja. Aku tidak akan menyusahkan mu lagi" ucap Gendis lagi, seraya mengusap air matanya meski percuma karena semakin dihapus air matanya malah semakin banyak.


Bima menghela nafasnya dengan berat.


Sekarang saja dia mau pulang, ketika tuan Renggono sudah menitipkan dia disini. Kenapa tidak sejak awal.


"Baiklah maafkan aku. Aku salah, aku hanya emosi kemarin" ucap Bima seraya duduk disamping Gendis tepat dikakinya.


Gendis masih berusaha menahan isak tangisnya dan memandang Bima dengan sendu.


"Aku sudah memutuskan untuk pulang. Kamu bisa menghubungi ayahku sekarang" ujar Gendis.


"Kamu tidak bisa pulang sekarang" sahut Bima.


"Kenapa, bukankah seharusnya kamu senang" kata Gendis lagi.


"Kaki mu belum sembuh" ucap Bima


"Aku tidak ingin menyusahkan mu dan eyang putri lagi" jawab Gendis seraya tertunduk


"Sudahlah, aku hanya emosi kemarin. Kamu tetaplah disini sampai kakimu sembuh" ujar Bima


"Aku sudah ingin pulang" sahut Gendis


"Apa kamu mau diganggu oleh kekasihmu itu lagi jika kamu pulang sekarang. Bukan kah kamu kemari untuk melarikan diri dari dia?" tanya Bima


deg

__ADS_1


Gendis langsung tertegun memandang Bima.


__ADS_2