Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Jangan Menangis Lagi Gendis


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju kerumah, tidak ada sepatah katapun yang mereka keluarkan. Gendis diam seribu bahasa sejak tadi, bahkan wajahnya terlihat kesal dan menahan marah. Bima benar benar tidak enak seperti ini. Apa Gendis marah karena Bima yang mencium nya begitu saja tadi??


Bima menghela nafasnya sejenak dengan mata yang masih fokus pada kemudinya. Bibir ini memang sialan sekali, bisa bisa nya dia berbuat lancang seperti tadi. Sudah dapat Bima pastikan jika setelah ini Gendis pasti tidak akan mau lagi bertemu dengan nya. Dia memang sudah keterlaluan. Tapi dia juga reflek mencium Gendis, entah kenapa Bima tidak suka mendengar David yang mengatakan jika dia masih begitu mencintai Gendis, apalagi Bima tahu bagaimana cerita buruk tentang David.


Bima bukan sengaja mencari kesempatan dalam keadaan genting tadi, dia hanya reflek. Dan sekarang dia menyesali nya. Apa lagi melihat wajah Gendis yang begitu kesal.


"Gendis" panggil Bima.


Gendis tidak menyahut, pandangan matanya masih lurus memandang kedepan.


Bima menoleh ke arahnya sekilas. Dan melihat wajah Gendis yang datar saja, dia kembali menghela nafas.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud lancang. Hanya saja....."


"Hanya saja kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan" sahut Gendis yang langsung menghentikan perkataan Bima.


Bima langsung menggeleng dengan cepat.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku, aku benar benar reflek tadi. Sungguh aku tidak bermaksud begitu. Aku benar benar kesal melihat nya yang berbicara begitu manis, sementara aku tahu bagaimana kelakuan nya diluar sana" ungkap Bima langsung.


Gendis terlihat tertunduk seraya tangan nya yang saling menggenggam. Namun tidak lama kemudian suara isak tangis langsung terdengar dari mulut nya.


Bima terkejut, dia kembali menoleh kearah Gendis. Kenapa Gendis menangis???


"Hei,,, kenapa kamu malah menangis? Sungguh aku tidak bermaksud melecehkan mu. Maafkan aku, ayolah jangan menangis" Bima mulai panik melihat Gendis yang menangis dan malah menutup wajah nya dengan tangan.


Gendis sungguh tidak bisa berhenti menangis, dan malah semakin lama isak tangis nya semakin kuat dan terdengar pilu. Dan tentu saja itu membuat Bima benar benar merasa bersalah dan juga panik.


Apa karena ciuman nya tadi yang membuat Gendis merasa begitu sedih seperti ini?? Astaga..


Bima langsung mencari tempat yang sedikit lengang dan menepikan mobil nya dipinggir jalan. Dia buru buru melepaskan sabuk pengaman nya dan langsung menghadap kearah Gendis.


"Hei... kenapa kamu menangis seperti ini. Ayolah maafkan aku, aku khilaf dan janji tidak akan mencium mu lagi" ucap Bima.


Namun tangis Gendis tidak juga berhenti.


"Gendis, aku minta maaf oke. Kamu boleh menghajar ku sekarang, tapi berhenti lah menangis" pinta Bima lagi.


"huuuuuuu....." tangis Gendis semakin kuat dan itu membuat Bima semakin frustasi.


"Astaga Gendis" Bima langsung menarik tangan Gendis dan memandang wajah Gendis yang sudah basah dengan air mata.


"Kenapa kau menangis, aku sudah minta maaf kan. Aku khilaf, dan aku tidak...."

__ADS_1


"Aku bukan menangis karena mu bodoh" teriak Gendis dengan begitu kesal, namun kenapa wajah kesal nya itu terlihat begitu menggemaskan di mata Bima. Astaga..


"Lalu kenapa?" tanya Bima, tangan nya masih memegang tangan Gendis.


"Aku menangis karena aku benar benar membenci David, kenapa dia tidak puas juga mengganggu ku. Padahal dia sudah membuat aku dan ayah kecewa" ungkap Gendis disela sela isak tangis nya.


Bima mendengus senyum mendengar itu, dia bahkan sudah cemas jika Gendis menangis karena nya. Jika karena dia, Bima benar benar takut di bantai oleh tuan Renggono.


"Jadi karena itu kamu menangis, bukan karena ciuman ku kan" tanya Bima.


Gendis langsung mendengus mendengar itu. Dia menghempaskan tangan Bima dengan cepat dan mengusap air mata diwajah nya.


"Aku kesal padamu, kamu malah benar benar mendalami peran mu" gerutu Gendis


Bima terkekeh seraya membantu Gendis mengusap air mata nya, membuat mata cokelat itu memandang Bima dengan lekat.


"Aku juga tidak suka dia mengganggu mu lagi." kata Bima


"Kenapa?" tanya Gendis.


Bima menghela nafasnya sejenak dan memandang Gendis dengan lekat. Dia benar benar iba melihat Gendis yang bisa terjebak pada cinta seorang bajingan seperti David.


"Aku tahu siapa David, dia seorang casanova yang selalu bermain dengan para modelnya di agensi. Dan kamu tidak pantas untuk menangisi nya lagi" ujar Bima.


Bima terseyum dan menggeleng


"Aku harap ini yang terakhir kali kamu menangis karena dia. Sia sia air mata kamu yang berharga itu untuk orang seperti David." ujar Bima.


Gendis tertunduk dan terisak perih


"Kamu tidak bodoh, cinta terkadang tidak bisa diatur akan berlabuh pada siapa. Tapi kamu harus bersyukur karena Tuhan menunjukkan keburukan David sebelum kamu menikah. Bagaimana jadinya jika kalian sudah menikah dan kamu baru mengetahui kelakuan nya? Itu pasti akan lebih menyakitkan" kata Bima lagi.


Gendis mengangguk dan kembali menangkup wajahnya, namun Bima segera menarik Gendis kedalam pelukan nya, dan membiarkan Gendis menangis dalam dekapan nya.


Gendis semakin menumpahkan air matanya saat Bima mengusap punggung nya dengan lembut. Dia benar benar begitu menyesal karena telah percaya pada David, dia juga begitu membenci lelaki itu, yang bahkan tidak tahu diri karena masih berani mengusik hidupnya lagi.


Padahal sudah dua bulan berlalu, namun nyatanya David masih saja menunggu dia kembali.


Lama Gendis menangis dalam pelukan Bima, hingga dia merasa lega. Barulah Gendis melepaskan pelukan itu. Wajahnya memerah bahkan matanya sudah bengkak karena menangis.


"Sudah puas?" tanya Bima


Gendis mengangguk seraya mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Berjanjilah ini yang terakhir kali kamu menangis karena dia" ujar Bima


"Aku janji" jawab Gendis dengan suara nya yang serak.


Bima mengusap kepala Gendis dan tersenyum lembut memandang wajah itu. Entah kenapa dia tidak suka melihat Gendis yang menangisi lelaki itu hingga seperti ini.


"Lihat mata kamu bengkak karena menangis terlalu lama, dan setelah ini aku pasti akan terkena amarah tuan Renggono karena telah membuat anak gadis nya menangis" ucap Bima


Gendis mengerucutkan bibirnya dengan kesal mendengar itu.


"Aku yakin ayah tidak akan bisa marah padamu" kata Gendis


"Kenapa?" tanya Bima


"Bukankah kamu sendiri yang bilang jika dia sudah merestui hubungan kita" jawab Gendis dengan wajah kesal nya.


Bima langsung terkekeh mendengar itu.


"Aku hanya bercanda tadi. Astaga, lagi pula itu untuk membuat lelaki itu tidak lagi mengganggu kamu" sahut Bima


Gendis menggeleng pelan


"Aku tidak yakin dia akan berhenti" ucap Gendis


Bima terlihat menggerakkan alis nya mendengar itu.


"Dia tidak akan melepaskan aku begitu saja Bim" gumam Gendis terdengar sedih


Bima mendengus senyum dan kembali memasang sabuk pengaman nya.


"Tenang saja, sudah ada aku yang menjadi kekasih mu bukan. Dia tidak akan berani macam macam" sahut Bima.


"Tapi aku takut dia akan mengganggu kamu" kata Gendis lagi.


"Tidak akan" jawab Bima yang mulai melajukan mobilnya.


Gendis menghela nafas dengan berat dan memandang nanar kedepan.


"Jangan khawatir, selama kamu tidak lagi menangis karena lelaki itu, aku akan membantu kamu untuk lepas dari dia" ucap Bima


Gendis kembali menoleh pada Bima dengan pandangan bingung.


"Maksud kamu?" tanya Gendis.

__ADS_1


"Tidak ada maksud apa apa" jawab Bima terdengar begitu ambigu.


__ADS_2