
Seminggu berlalu dan hari ini Bimantara sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Luka diperutnya sudah mulai pulih bahkan Bima juga sudah bisa berjalan perlahan lahan.
Berada lebih dari dua minggu dirumah sakit membuatnya benar benar bosan. Dia juga tidak tega melihat eyang putri yang harus pulang pergi demi untuk menjaga nya menemani Gendis. Meski terkadang Naina juga datang kesana bersama Reyza.
Tapi tetap saja, Bima tidak tega melihat eyang putri yang terlihat lelah, tubuhnya sudah tua, dan seharusnya dia bisa duduk tenang dirumah nya. Tapi sekarang, eyang putri harus berada diibukota dalam waktu yang lama demi untuk menemani Bima sampai pulih.
Sebenarnya, dua hari lagi Bima baru bisa pulang, tapi dia sudah memaksa dokter untuk mengizinkan nya pulang hari ini. Mungkin beristirahat dirumah bisa sedikit membuat nya lebih tenang.
Dan sore ini, Bima sudah tiba dirumah nya. Rumah mewah hasil kerja keras nya selama ini. Gendis juga ikut mengantar Bima pulang. Sepertinya gadis itu ingin membalas budi pada Bima, yang dulu selama dua bulan dia selalu ada untuk menemani nya dan juga merawatnya. Dan sekarang, gantian Gendis yang melakukan hal itu.
Gendis membantu Bima duduk disofa dengan pelan, bahkan Bima juga sedikit meringis saat perut nya yang memang masih terasa sedikit nyeri. Luka tusukan itu cukup dalam dan melukai organ vital didalam tubuhnya, hingga membuat proses kesembuhan nya cukup lama.
"Masih sakit kan, kamu gak bisa dibilangin. Seharusnya kan masih dua hari lagi ada disana" ucap Gendis yang juga ikut duduk disamping Bima. Sedangkan eyang putri duduk di sofa singgel nya.
"Bosan disana, istirahat dirumah mungkin lebih tenang" jawab Bima seraya dia yang menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
"Jangan banyak bergerak dulu kamu. Luka mu masih harus dijaga dengan baik" ujar eyang putri pula.
"Iya eyang" jawab Bima.
"Harus cepat sembuh, kamu lihat Gendis sudah lelah menemani kamu setiap hari" kata eyang putri lagi.
Bima tersenyum dan langsung menoleh pada Gendis yang menggeleng pelan.
"Tidak eyang, baru juga dua minggu. Bima kemarin sabar menemani Gendis sampai dua bulan" jawab Gendis.
"Jadi kamu mau menemani aku sampai dua bulan juga begitu?" tanya Bima
Gendis menggeleng pelan, sedangkan eyang putri nampak mendengus.
"Kamu mau dia hanya menemani kamu dua bulan saja begitu, kamu tidak mau dia menemani kamu seumur hidup?" tanya eyang putri seraya memandang Bima dengan senyum simpul nya. Dia sudah cukup lega melihat Bima yang sudah mulai sehat lagi sekarang.
"Dua bulan menemani Bima, dan setelah itu baru seumur hidup. Bukankah dua bulan cukup untuk mempersiapkan pernikahan?" tanya Bima pula seraya memandang Gendis yang nampak mendengus senyum.
"Dua bulan? aku malah tidak ingin lama lama Bim" ucap Gendis
"Benar, lebih cepat lebih baik" sahut eyang putri pula
"Kenapa begitu, aku juga ingin menyiapkan pernikahan yang mewah dan indah untuk mu" ucap Bima. Namun Gendis nampak menggeleng.
__ADS_1
"Tidak perlu mewah, cukup sederhana saja, namun tercapai" jawab Gendis. Dia masih benar benar trauma sebenarnya jika membicarakan tentang pernikahan. Bersama David kemarin dia sudah membayangkan dan menginginkan pernikahan yang super mewah dan megah, namun nyatanya semua hancur tidak tersisa. Dan sekarang dengan Bima, Gendis tidak lagi mengingingkan itu, dia hanya ingin yang sederhana saja, tapi bisa membuat nya bahagia.
"Kamu masih trauma dan meragukan aku?" tanya Bima.
Gendis memandang Bima dan menggeleng pelan. Bibirnya tersenyum tipis melihat wajah sendu Bima.
"Aku hanya ingin yang sederhana namun bisa membuat ku bahagia Bim" jawab Gendis.
"Apa kalian memang sudah benar benar berniat untuk menikah?" tanya eyang putri. Membuat Bima dan Gendis langsung menoleh kearah nya.
"Iya eyang. Setelah Bima sembuh, Bima akan melamar Gendis pada tuan Renggono. Eyang merestui kami bukan?" tanya Bima.
Gendis memandang eyang putri dengan canggung, apalagi ketika eyang putri memandang mereka berdua dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Eyang merestui kalian. Tapi apa kalian memang sudah yakin dengan keputusan kalian ini. Menikah itu bukan sebuah permainan. Bukan sekedar cocok dan nyaman apalagi hanya sebagai pelampiasan. Apalagi kalian juga sama sama baru sedang patah hati. Sudahkah hati kalian memang yakin untuk saling mencintai, bukan hanya sekedar hubungan yang sebagai obat hati saja???" pertanyaan eyang putri membuat Bima dan Gendis terdiam dan mematung.
Mencintai???
Obat hati???
Dua kata itu sebenarnya yang sama sama sedang mereka cari perbedaan nya. Mereka nyaman, mereka merasa cocok, dan mereka sama sama tidak bisa melihat salah satu diantara mereka ada yang terluka.
Apakah itu hanya sekedar sebagai obat hati yang terluka???
Tidak, sepertinya tidak sesederhana itu. Apalagi untuk sebuah kata pelampiasan.
Bukan, bukan seperti itu. Perasaan mereka lebih luas dan terlalu sulit untuk dijelaskan.
Tapi untuk kata mencintai....
Apakah itu sudah???
Bima dan Gendis langsung saling pandang, bahkan tatapan mata mereka langsung saling tatap dengan begitu lekat dan sangat dalam. Hingga tanpa terasa membuat jantung mereka berdua sama sama langsung berdebar tidak beraturan.
Gendis langsung memalingkan wajahnya yang entah kenapa dia menjadi salah tingkah seperti ini. Begitu pula dengan Bima. Sedangkan eyang putri nampak mendengus senyum melihat dua orang yang ada dihadapan nya ini.
Sepertinya dia sudah tahu jawaban nya. Tidak diragukan lagi.
Eyang putri langsung beranjak dari tempat duduk nya dan memandang Bima sejenak sebelum dia pergi meninggalkan mereka untuk beristirahat dikamar nya.
__ADS_1
"Jika begitu cepatlah sembuh, nanti eyang akan menyiapkan hantaran yang cocok untuk Gendis" ujar eyang putri. Dan setelah mengatakan itu dia langsung pergi menuju kamar nya, meninggalkan Bima dan Gendis yang nampak mematung dengan wajah yang sama sama terperangah heran.
"Tadi dia bertanya, sekarang malah meminta cepat" gumam Bima.
Gendis menghela nafas nya dengan pelan dan kembali memandang Bima disamping nya.
"Kamu benar tidak ingin pesta yang mewah?" tanya Bima lagi.
Gendis menggeleng dan tersenyum.
"Tidak, aku hanya ingin yang sederhana saja" jawab Gendis
"Apa karena kamu sudah tidak sabar lagi untuk menikah dengan ku?" tanya Bima dengan senyum menggoda nya membuat Gendis langsung mendengus gerah.
"Anggap saja begitu" jawab Gendis.
"Baiklah, aku pastikan semua sudah selesai dalam waktu satu bulan dari sekarang" ucap Bima.
"Jangan banyak berencana Bim. Aku hanya ingin semua dikerjakan tanpa rencana apapun" sahut Gendis.
Bima tersenyum dan mengusap bahu Gendis dengan lembut. Dia tahu Gendis pasti masih trauma. Bukan karena menganggap semua hanya hutang budi, tapi Bima tahu Gendis sangat takut semua nya tidak sesuai rencana lagi.
"Gendis... tanpa rencana semua tidak akan berjalan dengan baik. Pertemuan kita saja pasti sudah direncanakan oleh Tuhan dengan cara yang menyakitkan terlebih dahulu. Jika tidak begitu, kita tidak akan bertemu kan" ungkap Bima
Gendis menghela nafasnya dan mengangguk pelan.
"Hanya saja aku memang sudah takut untuk merencakan sesuatu. Aku sudah takut untuk bermimpi memiliki pernikahan yang indah" jawab Gendis begitu pelan.
"Tidak perlu ada yang ditakutkan. Kamu hanya perlu diam dan menunggu ku dirumah seraya terus berdoa pada Tuhan agar hati kita semakin di dekatkan" ujar Bima.
Gendis langsung memandang Bima yang kini tersenyum memandang nya.
"Kamu hanya perlu meyakinkan hatimu untuk bisa selalu mencintaiku" ucap Bima lagi.
"Apa kamu juga bisa begitu?" tanya Gendis pula.
Bima tersenyum dan mengangguk yakin.
"Tidak ada alasan untuk tidak bisa jatuh cinta padamu" jawab Bima
__ADS_1