Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Isi Surat Guntur


__ADS_3

Reynand mematung memandangi sebuah surat yang sejak tadi dia pandangi. Dibelakang nya berdiri Nara yang juga ikut membaca surat itu. Bukan sebuah surat, melainkan hanya sebuah alamat dan catatan kecil.


"Bukankah itu alamat perumahan asing yang pernah aku datangi" gumam Nara. Kini dia beranjak dan duduk didepan Reynand.


Sore ini Nara sudah berada dirumah Reynand. Dia tidak bisa lagi menunda untuk memberikan surat itu pada Reynand. Karena Nara tahu jika surat ini adalah surat yang cukup penting, terbukti sekarang, ada alamat yang pernah dia datangi waktu itu, dimana dia yang pernah melihat tuan Abas dan ibu Cleo.


"Sepertinya Guntur tahu sesuatu. Tapi kenapa dia tidak mendatangiku langsung dan mengungkapkan semuanya" gumam Reynand.


Sejuta pertanyaan langsung berputar diotak nya. Dia yang mengira jika awalnya Guntur juga mengkhianati nya, namun sampai detik ini, rasanya Guntur adalah orang yang paling perduli. Terbukti dengan dia yang mau memberinya uang untuk operasi Nara. Dan yang lebih mengejutkan adalah, Guntur adalah orang yang mengurus Reynand ketika dia kecelakaan waktu itu. Guntur juga yang membawa Reynand beserta mama dan adiknya kerumah kecil ini.


Dan sekarang, sepertinya Guntur sedang memberikan sebuah petunjuk untuk dia selidiki. Ada dua alamat yang tertera disurat itu. Yang pertama adalah komplek perumahan asing, dan yang kedua adalah rumah lama pamannya.


"Aku rasa bukan karena dia tidak ingin Rey, melainkan karena dia yang tidak bisa berbuat apa apa" ucap Nara.


Reynand memandang Nara dengan serius, dia juga berfikiran seperti itu.


"Sepertinya ini memang saling berkaitan. Papa dan Tante Guzel memang ingin merebut semua kekuasaan kakek" ungkap Reynand.


"Tapi.... bagaimana dengan orang yang mereka sekap itu?" tanya Nara.


Reynand terdiam, otak nya berfikir keras saat ini. Orang yang mereka sekap. Siapa?


"Aku masih belum bisa memastikan siapa. Jika ini tentang kekuasaan. Hanya aku satu satu nya orang yang bisa merebut itu dari papa. Karena bagaimana pun kakek memang mewariskan itu padaku setelah aku berusia 30 tahun dan sudah menikah. Seharusnya, jika papa ingin menyingkirkan saingan nya, maka aku adalah orang yang pertama kali dia buang." ungkap Reynand.


"Tapi ... orang yang mereka sekap, siapa?" gumam Reynand lagi


"Bukankah kematian pamanmu masih belum jelas, bahkan kamu bilang jika mayatnya juga belum ditemukan sampai saat ini" tanya Nara.


Reynand mengangguk pelan.


"Tapi paman sama sekali tidak pernah mau tahu tentang perusahaan. Sejak dia bersekolah dulu, dia lebih menyukai tentang dunia medis. Pamanku adalah seorang ilmuan Nara" ungkap Reynand.


"Ilmuan?" tanya Nara.


Reynand langsung mengangguk, dia terlihat menghela nafasnya dalam dalam.


"Ini sedikit rumit. Tapi mulai besok aku akan mulai untuk membantumu diperusahaan. Seraya menunggu kakiku pulih. Setelah itu, kita akan cari tahu ada apa di perumahan asing itu dan juga aku akan pergi kepenjara dimana paman pernah ditahan" ujar Reynand.


"Baiklah, sepertinya itu rencana yang cukup baik. Tapi apa kamu yakin akan bekerja diperusahaan, kesehatan kamu belum cukup pulih" ucap Nara seraya memandang kaki Reynand.


Reynand tersenyum melihat wajah khawatir Nara.


"Jangan khawatir, bukankah aku hanya duduk disana. Yang bekerja adalah tangan ku, bukan kakiku. Lagi pula, aku memang harus melihat bagaimana kemajuan perusahaan Adidaksa setelah kepergian ku. Ini cukup bagus, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui" ungkap Reynand.


Nara mendengus senyum dan mengangguk pelan.


"Yah, terserah kamu saja. Seperti nya ambisi kamu memang masih begitu kuat" ucap Nara.


"Tentu saja, yang pertama aku bisa membantu memajukan perusahaan kamu agar lebih dikenal dan berjaya. Yang kedua, aku bisa masuk dan mengetahui tentang keadaan perusahaan Adidaksa. Dan yang ketiga......" perkataan Reynand yang menggantung membuat Nara memandang nya dengan bingung.


"Aku juga tidak akan membiarkan Bimantara bisa mendekati kamu" ungkap Reynand.


Nara sedikit terkejut mendengar itu, namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum dan menggeleng pelan. Bisa bisanya Reynand berfikiran jauh kesana ditengah tengah masalah yang sedang menimpanya.


"Kenapa fikiran kamu begitu. Bimantara hanya rekan bisnis ku diperusahaan" jawab Nara


"Itu hanya modusnya, aku tahu dia sejak dulu." jawab Reynand. Terdengar begitu tidak suka. Karena bagaimanapun Bimantara adalah orang yang paling bisa menjadi saingan cintanya.

__ADS_1


Nara tertawa kecil dan menggeleng. Dia beranjak dari duduk nya membuat Reynand memandang nya dengan bingung.


"Mau kemana?" tanya Reynand dengan cepat.


"Aku haus, sejak tadi bercerita kamu tidak memberi tamu mu ini air minum" jawab Nara seraya mendekat ke dispenser air yang ada didapur itu. Karena mereka memang sedang duduk berdua didapur. Mama Reynand ada didepan sedang mengurus tanaman nya, sedangkan Zelina seperti biasa dia masih bekerja di restoran.


Reynand tersenyum dan terus memandangi Nara dengan lekat.


"Kamu bukan tamu Nara. Rasanya sampai saat ini aku masih merasa kamu adalah istriku" gumam Reynand.


brusshhh


Nara langsung tersedak dan menyemburkan air minum nya mendengar perkataan Reynand yang seperti itu.


"Hei... pelan pelan" kata Reynand yang langsung mendekat kearah Nara dengan kursi rodanya.


Dengan cepat Nara mengusap bibirnya yang basah dan memandang Reynand yang kini sudah berada disamping nya.


Mata mereka kembali bertabrakan dengan manik yang tampak saling berbinar. Namun tidak lama, karena Nara yang langsung memalingkan wajahnya. Mata tajam itu selalu membuat nya salah tingkah dan gugup.


"Apa aku salah bicara?" tanya Reynand.


"Jelas saja salah. Kamu ini" gerutu Nara.


Reynand hanya tersenyum dan masih memperhatikan Nara. Hal yang paling membuat hatinya bahagia adalah melihat wajah cantik Nara yang merona. Kenapa tidak sejak dulu saat wanita ini masih menjadi miliknya, kenapa baru sekarang dia bisa melihat keindahan ini. Kenapa disaat Nara sudah bukan lagi miliknya semua terasa begitu indah. Ya Tuhan.... Reynand memang manusia yang paling bodoh karena pernah menyakiti dan menyia nyiakan wanita sebaik dan secantik ini.


"Sudah lah, jangan melihat ku seperti itu. Sekarang lebih baik kamu melatih otot kakimu" ujar Nara seraya beranjak kebelakang Reynand, dan langsung mendorong kursi rodanya.


Reynand tersenyum dan hanya bisa pasrah saat Nara membawanya ketaman belakang.


"Kamu yakin?" tanya Nara


"Ya, pagi tadi aku sudah mencoba nya" jawab Reynand.


"Lalu apa bisa?" tanya Nara seraya menahan senyum nya.


Reynand tertawa kecil dan menggeleng. Karena dia memang belum mampu menahan tubuhnya dengan satu kaki, apalagi untuk dibawa jalan. Reynand tidak memiliki tongkat, sehingga agak susah. Dan lagi, karena begitu lama tidak digerakkan, tubuhnya terasa kaku semua.


"Tidak bisa terlalu jauh, tapi selangkah dua langkah sudah mulai bisa" jawab Reynand.


Nara mendengus senyum dan berjalan kedepan Reynand. Dia menjulurkan kedua tangan nya dihadapan lelaki itu.


"Jangan dipaksakan. Besok aku akan membawakan tongkat untuk kamu. Sekarang kamu aku bantu dulu" ujar Nara.


"Kamu lelah seharian bekerja, dan sekarang masih membantuku. Lagi pula aku berat, kamu bisa jatuh lagi nanti" jawab Reynand.


"Tidak, itu karena Aryo yang mengejutkan. Bukan kah kaki kiri kamu juga bisa menahan tubuh kamu?" tanya Nara pula. Seraya dia yang membantu Reynand untuk berdiri. Merangkul lengan sebelah kanan Reynand dengan begitu erat.


"Bukankah besok pekerjaan ku sudah lebih ringan, ada kamu yang membantu" ucap Nara lagi, dia memandang Reyand dengan lekat.


Reynand langsung tersenyum dan mengangguk, meski Nara bisa melihat jika dia sesekali meringis menahan sakit.


"Yah, besok aku akan menggantikan tugas mu. Kamu tidak perlu bekerja terlalu keras lagi. Cukup duduk dan temani aku" jawab Reynand.


"Apa itu seperti asisten pribadi" tanya Nara dengan tawanya, membuat Reynand juga ikut tertawa.


"Sepertinya itu ide yang bagus" jawab Reynand.

__ADS_1


Mereka langsung tertawa bersama seraya saling menahan tubuh masing masing saat Reynand mulai melangkah kan kakinya perlahan lahan.


Sesekali Reynand meringis, meski dia sudah menahan, namun tetap saja Nara tahu jika Reynand kesakitan.


"Apa sakit sekali?" tanya Nara yang masih merangkul lengan Reynand.


"Tidak" jawab Reynand, namun wajahnya yang memerah membuat Nara tertawa.


Reynand langsung beralih dan memandang Nara yang tertawa, wajah mereka begitu dekat, hingga Reynand dapat dengan jelas memandang tawa itu.


Indah sekali..


"Kamu bukan pembohong yang baik tuan Rey" ucap Nara.


Reynand mendengus senyum dan menggeleng pelan.


"Aku memang tidak bisa berbohong jika didekat kamu" jawab Reynand yang juga ikut tertawa.


"Sudah lah, kita istirahat dulu. Cukup empat langkah, jika dipaksakan aku takut kaki kamu malah bermasalah lagi" ujar Nara seraya membawa Reynand kembali pada kursi roda nya.


"Ini bahkan sudah lebih dari empat langkah" kata Reynand yang langsung menghempaskan tubuhnya diatas kursi roda dengan wajah memerah dan berkeringat. Bahkan hanya berjalan sebentar saja dia sudah mengeluarkan tenaga yang cukup banyak. Bagaimana mau melawan orang orang itu, astaga.


"Coba aku periksa" Nara langsung berlutut dihadapan Reynand dan memeriksa kaki Reynand. Kakinya sudah tidak lagi diperban, hanya meninggalkan sisa luka yang membekas dan juga sedikit lekukan ditempat patahan tulang itu.


"Aku tidak yakin jika aku akan bisa berjalan dengan cepat lagi" gumam Reynand.


Nara mengusap sekilas kaki itu dan tersenyum tipis.


"Tapi aku yakin kamu bisa cepat pulih." kata Nara seraya berdiri dan meraih kursi untuk duduk dihadapan Reyand.


Reynand memandang Nara dengan lekat, dia tersenyum dengan helaan nafas yang cukup panjang.


"Dulu aku berfikir aku tidak akan bisa seperti ini lagi dengan mu. Bahkan untuk berharap bertemu saja, aku tidak lagi berani. Jadi sama sekali aku tidak memiliki semangat untuk berjuang" ungkap Reynand terdengar begitu sedih. Bahkan Nara bisa melihat jika dimata cokelat itu masih tersimpan rasa bersalah yang begitu besar.


"Padahal kamu sudah berjanji untuk tidak menyerah" ucap Nara


"Maaf" pinta Reynand


"Tapi sekarang, walapun sudah sangat terlambat, aku akan berjuang. Berjuang untuk mu dan untuk kehidupan yang lebih baik" ungkap Reynand lagi.


"Itu harus, aku menantikan itu" sahut Nara.


Reynand tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih sudah memberiku kesempatan. Aku janji, aku tidak akan mengecewakan dan menyakiti kamu lagi" ucap Reynand dengan yakin.


Nara hanya tersenyum dan mengangguk.


Semoga, semoga janji ini benar..


Semoga semua sesuai harapan mereka..


Kesembuhan Reynand, dan kebangkitan nya, adalah harapan Nara.


Sedangkan senyum Nara, adalah tujuan Reynand.


Rasa sakit, kecewa dan luka, semua harus dibuang dan diganti dengan lembaran yang baru.

__ADS_1


__ADS_2