
Masih berada disiang hari yang cerah dibulan Maret. Aktivitas sudah dimulai kembali seperti biasa. Setelah berlibur selama dua hari, kini Nara dan Reynand sudah berada diperusahaan masing masing.
Pekerjaan mereka cukup banyak, dan itulah yang membuat mereka tidak bisa libur terlalu lama. Apalagi Reynand, bergelar tuan muda Adiputra yang menguasai perusahaan raksasa Adidaksa tidak bisa membuat nya berleha leha. Meskipun dia sibuk mengurus tentang pernikahan yang akan digelar dua bulan lagi, namun saat ini Reynand masih harus fokus pada perusahaan nya. Perusahaan yang hampir kacau karena tuan Agas waktu itu.
Sedangkan Nara, dia masih bisa bersantai sedikit, karena tugas tugas nya lebih banyak Arya yang mengerjakan.
Seperti siang ini, Nara masih menyantap makan siang nya. Makan siang yang baru saja dbeli oleh sekretaris nya, Nina.
Nara hanya sendirian, karena Arya masih sibuk diruangan nya.
Hingga tiba tiba pintu diketuk oleh seseorang.
"Masuk" seru Nara
"Hai kak.." sapa Zelina yang langsung masuk kedalam mendekati Nara.
"Ze.... sini duduk, kita makan" ajak Nara seraya tersenyum menyambut kedatangan calon adik iparnya itu.
Zelina menghempaskan tubuhnya disebelah Nara.
"Ze udah makan kak. Ze kemari mau ngajak kakak kerumah" ujar Ze
"Oh ya, ada apa?" tanya Nara.
"Mama mau ajak kakak milih dekorasi pesta nanti nya, sama catering dan lain lain. Kebetulan owner nya bisa dipanggil kerumah" jawab Zelina.
"Tapi bukan nya Minggu depan ya" sahut Nara seraya mengunyah makanan nya.
Zelina menggeleng.
"Dipercepat sama mama. Takut gak sempat" jawab Zelina
Nara tersenyum dan mengangguk.
"Pergi aja terus, aku ditinggal sendiri lagi" sahut Arya tiba tiba
"Denger aja kamu Yo" ucap Nara.
"Pinjem bentar kak. Lagian nanti sore kakak kan bisa nyusul setelah pulang kerja" jawab Zelina
Arya mendengus dan duduk disofa singel.
"Iya iya.. aku pasti kesana nanti. Mau ketemu mama mertua" jawab Arya dengan tawa kecil nya.
"Mama mertua.. ngelamar aja belum kamu" ucap Nara. Seraya dia yang membereskan sisa makanan nya.
"Nanti lah, setelah kamu menikah baru aku gas, ya kan Ze" jawab Arya seraya beralih pada Zelina.
Zelina tertawa dan langsung mengangguk.
"Iya, sediain aja dulu uang banyak banyak dan jangan lupa janji kakak" jawab Zelina.
"Aman, maka nya ini aku kerja lembur siang malam demi kamu dan calon buah hati" jawab Arya
"Jauh banget sampai calon buah hati" gumam Nara.
"Ya harus, udah di ancang ancang mulai dari sekarang" jawab Arya
Nara hanya mendengus, sedangkan Zelina tertawa lucu melihat Arya.
"Oh iya Ra, aku baru inget, tadi kan aku kemari mau ngasih tahu kamu ini. Kok jadi lupa udah ngelihat wajah Zelina" ucap Arya tiba tiba
"Gitu aja terus" sahut Zelina
"Ngasih tahu apa?" tanya Nara.
"Tadi asisten tuan Renggono ngirim email. Kalau besok rapat dibatalkan" jawab Arya
"Kok gitu, padahal kan mereka yang minta cepat. Kita bahkan maksain pulang cepat semalam" protes Nara.
Namun Arya langsung mengendikan bahunya.
"Entah lah, dia bilang tuan Renggono masuk rumah sakit. Jadi mungkin nunggu keadaan nya pulih dulu" jawab Arya.
Nara hanya mengangguk saja dan menghela nafas pasrah.
"Tapikan ada bagus nya juga. Tuan Bima juga gak bisa ikut rapat besok. Jadi kita masih bisa cari alasan kalau dia sembuh" ungkap Arya.
__ADS_1
"Iya sih, tapi kan kalau lama keputusan nya, proyek juga bakal lama berjalan nya" jawab Nara.
"Emang gak bisa diwakilkan gitu" sahut Zelina
"Mana mau tuan Renggono. Perusahaan Dopindo itu hampir sama kayak perusahaan Adidaksa. Sama sama harus perfect semua nya." jawab Arya.
"Ya kalau dia stroke atau gak bisa ngapa ngapain. Kan juga harus diwakilkan" ucap Zelina.
"Tuan Renggono cuma punya anak perempuan satu. Itu juga diluar negeri. Jadi siapa yang bisa mewakilkan" sahut Arya.
"Susah banget emang. Untung Adidaksa punya kak Rey" gumam Zelina.
Arya langsung mengangguk setuju.
"Iya, udah punya anak cuma satu. Gak ada yang tahu lagi gimana rupanya" ungkap Arya.
"Disembunyikan, begitu?" tanya Nara
Arya langsung mengangguk.
"Mereka gak mau post tentang keluarga. Cukup tertutup. Sejak dulu, sejak zaman pewaris sebelum nya. Mereka akan diperkenalkan setelah menjabat sebagai ahli waris. Kayak nya putri tuan Renggono juga begitu" ungkap Arya.
"Tapi denger kabar kalau perusahaan Dopindo bakalan mengadakan pesta pernikahan mewah loh kak. Berarti kan gak lama lagi bakalan dipublish" sahut Zelina.
Mereka jadi menggibah sekarang.
"Kabar nya, tapi belum tahu. Ada kabar juga kalau pernikahan itu dibatalkan." ucap Arya.
"Pernikahan bisnis, pasti sulit" sahut Nara.
"Benar" ucap Arya.
"Biasanya kalau cuma punya anak perempuan satu, pasti cantik dan manja. Mana disembunyikan diluar negeri lagi" gumam Zelina.
Arya mengangguk setuju
"Kayak kamu dulu kan, lama diluar negeri jadi manja" ledek Arya.
Zelina langsung mendengus kesal.
Nara dan Arya langsung tertawa mendengar itu. Nara mengusap lengan Zelina dengan lembut.
"Anggap sebagai pelajaran" ucap Nara.
Zelina hanya mengangguk dan tersenyum. Semua memang seperti pelajaran hidup untuk nya.
"Sepertinya tuan Renggono masuk rumah sakit pasti karena pernikahan putrinya yang dibatalkan itu" ungkap Arya lagi.
Dia senang sekali jika menceritakan tentang orang lain.
"Sok tahu kamu" sahut Nara.
"Siapa ya anak nya. Aku penasaran" kata Zelina pula.
"Kalau gak salah, aku pernah baca dibio tuan Renggono. Nama anak nya..
"Diandra Gendis Ayu" jawab Arya.
"Wajah nya blasteran, karena almarhumah istri tuan Renggono orang luar" tambah nya lagi.
...
Sementara dirumah eyang putri...
Bimantara memandang Gendis yang baru saja dinaikkan keatas tempat tidur nya oleh pelayan eyang putri.
Hari ini dia sudah membawa Gendis kerumah eyang putri. Gadis itu benar benar sudah tidak betah berada dirumah sakit. Dan dengan terpaksa akhirnya mereka membawa Gendis pulang kerumah.
Entah siapa dan dari mana asalnya. Bima hanya berharap dia tidak akan terkena masalah lagi karena telah membantu gadis ini.
"Apa sudah nyaman?" tanya eyang putri seraya memperbaiki kaki Gendis.
Gendis mengangguk seraya meringis tipis karena kakinya yang masih berdenyut.
"Jika butuh sesuatu, kamu bisa memanggil pelayan. Sore nanti eyang akan membalurkan ramuan dikaki kamu" ujar eyang putri.
"Terimakasih eyang, tapi biarkan cucu eyang itu yang melayani saya. Saya tidak mau dilayani oleh pelayan" ucap Gendis seraya melirik pada Bimantara.
__ADS_1
Bima mendengus.
"Kenapa harus aku, bukankah pelayan lebih tahu bagaimana cara merawatmu" jawab Bima
"Kamu yang berbuat, kamu yang harus bertanggung jawab. Jangan semua dilimpahkan pada orang lain" sahut Gendis.
Eyang putri menghela nafasnya seraya menggeleng pelan.
Sudah sejak semalam ketika dirumah sakit, kedua orang ini selalu saja meributkan segala hal.
Entah bagaimana jadinya nanti.
"Aku...."
"Bima berhenti berdebat. Lakukan apa yang dia mau. Kamu lihat karena ulahmu dia jadi seperti ini. Iya kalau kakinya bisa tumbuh dengan baik lagi. Jika tidak, dia akan cacat nantinya" ucapan eyang putri langsung menghentikan perkataan Bima.
"Jika saya cacat, maka dia yang harus bertanggung jawab untuk seumur hidupnya" sahut Gendis memandang tajam pada Bimantara.
Bimantara melengos pasrah.
Dia mau bertanggung jawab dan mengurus gadis ini. Tapi wajah gadis ini selalu saja sinis dan ketus. Itu yang membuat Bima begitu kesal. Apalagi setiap perkataan nya, selalu dibantah oleh Gendis. Sungguh benar benar gadis yang sangat menjengkelkan.
"Kamu mengancam ku" tanya Bima
"Iya" jawab Gendis dengan berani.
Eyang putri kembali memijat pelipis nya.
"Sudahlah, kamu istirahat. Jangan banyak bergerak. Eyang keluar dulu" pamit eyang putri.
"Iya eyang, terimakasih" jawab Gendis seraya memandang kepergian eyang putri.
Bima memandang nya dengan lekat. Gadis ini tahu caranya berterima kasih. Tapi kenapa pada nya tidak???
"Apa lihat lihat" ketus Gendis.
"Kamu itu sudah sakit dan terluka cukup parah, tapi kenapa mulut mu itu tidak bisa diam. Selalu saja ada yang kamu ributkan sejak tadi" gerutu Bima.
"Itu karena kamu yang menyebalkan" sahut Gendis.
"Kenapa pula aku. Kamu yang memulai" ucap Bima tidak mau kalah.
Ya ampun, seperti nya ini bukan hal yang baik. Bahkan pelayan yang ada disana lebih memilih untuk keluar dari pada menonton tuan muda mereka yang berdebat seperti ini.
"Jelas wajahmu itu sudah menyebalkan , tentu saja aku semakin kesal. Apalagi kamu yang tidak bisa menyenangkan hatiku. Semua lelaki memang sama saja" gerutu Gendis. Seraya dia yang membenarkan letak bantal nya.
"Perempuan yang sama saja. Sama sama egois. Lihat lah kamu, sudah menghina ku tapi aku juga yang kamu suruh untuk merawat luka luka mu" jawab Bima
"Lalu siapa lagi, eyang putri? pelayan pelayan itu? heh... yang benar saja. Lalu kamu hanya berdiam diri dan menonton ku begitu?" sahut Gendis.
Lihatlah, bahkan sedang sakit pun gadis ini bisa mengoceh begitu cepat. Bagaimana lagi jika dia sehat.
Bimantara benar benar tidak habis fikir dengan gadis ini. Jika dia lelaki, mungkin sudah Bima hajar batang hidung nya.
"Berhenti memandang ku seperti itu" seruan Gendis membuat Bimantara terkesiap.
"Kamu yang berhenti berteriak. Kamu mau luka luka mu itu tidak sembuh. Heran sekali aku. Kenapa sial sekali aku bertemu dengan gadis aneh sepertimu. Sudah sakit saja masih bisa cerewet." gerutu Bima
Gendis mendengus kesal.
"Terserah aku" jawab nya.
"Ya memang terserah kamu. Apa peduliku. Jika kamu lama sakit, kamu juga yang merasakan nya. Dasar preman jalanan" umpat Bima seraya berjalan menuju keluar kamar.
"Apa kamu bilang????" seru Gendis dengan mata yang melebar
"Preman jalanan" seru Bima diambang pintu
buk
Satu lemparan bantal langsung mendarat di daun pintu tepat setelah Bima menutup pintu nya.
"Dasar laki laki kurang ajar. Berani berani nya dia mengataiku seperti itu" gerutu Gendis.
Dia kembali meringis saat kaki nya berdenyut ngilu. Apalagi lengan nya yang masih sangat perih.
"Kenapa hidupku jadi sial begini. Papa... semoga papa tidak mencari Gendis. Menenangkan diri disini mungkin lebih baik. Dari pada harus ada dirumah, tapi tersiksa" gumam nya dengan helaan nafas yang cukup panjang.
__ADS_1