Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Vila Dibukit Sinai


__ADS_3

Malam semakin larut, dan hujan masih terus mengguyur langit kota Jakarta malam itu. Sudah hampir dua jam Arya mengemudikan mobilnya. Dan kini mereka sudah memasuki daerah perbukitan yang cukup lengang. Tidak ada siapapun dijalanan yang meliuk dan cukup terjal itu. Mungkin karena hari sudah larut dan hujan yang sedari tadi tidak ada berhenti, seolah memang mengiringi perjalanan mereka untuk menyelamatkan Zelina dan juga Guntur.


Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, jalanan yang licin dan meliuk membuat dia harus fokus pada kemudianya. Sedangkan Reynand baru saja selesai menghubungi Nara dan menyusun rencana dengan para polisi. Matanya memandang tajam kedepan. Reynand sangat berharap mereka bisa menyelamatkan Zelina dan menangkap orang orang itu.


"Apa memang ini jalan nya?" tanya Arya sedikit ragu.


"Ya, aku masih ingat" jawab Reynand.


Lagi lagi jalan menuju tempat menyeramkan. Bahkan diperjalanan saja Arya sudah merasakan hal yang berbeda. Apa keluarga Reynand memang menyukai hal hal yang ekstrem seperti ini?? Atau memang karena Arya yang penakut. Entahlah.


Sekarang fokus Arya hanya ingin menolong Zelina, dia harus bisa membuang rasa takut nya untuk saat ini.


Tidak berapa lama kemudian, mata Arya dapat melihat sebuah vila kecil diatas bukit. Dari jauh saja vila itu sudah terlihat menyeramkan. Tapi mungkin jika siang hari pemandangan disini cukup indah, apalagi vila itu yang berada tepat diatas bukit. Bukit Sinai.


"Arya" panggil Reynand tiba tiba


"Ya" sahut Arya, matanya masih fokus kedepan.


"Aku tidak bisa menjamin keselamatan mu malam ini. Kau tahu aku masih tidak bisa berbuat banyak dengan kaki yang masih belum pulih. Lagi pula kita juga harus berhadapan dengan paman Agas dan orang orang nya" ungkap Reynand.


"Aku tahu tuan. Anda tidak perlu khawatir. Cukup selamatkan Zelina saja itu sudah cukup." jawab Arya begitu serius.


Reynand tersenyum tipis dan mengangguk.


Hingga tidak lama kemudian mereka telah memasuki area vila itu. Dan benar saja didepan vila itu sudah berjaga beberapa orang bertubuh besar dengan jaket kulit mereka. Tuan Agas memang sudah menyiapkan ini ternyata. Dan mereka bahkan langsung disambut dengan tatapan tajam dari mereka semua.


Arya menghentikan mobilnya tepat didepan pintu masuk. Dan kelima orang itu langsung berjejer menyambut kedatangan mereka.


Jantung Arya langsung bergemuruh hebat memandang orang orang itu. Bahkan beberapa kali dia terlihat menarik nafasnya dalam dalam untuk mengurangi rasa cemas nya.


"Kita turun, jangan jauh dari ku" ujar Reynand yang langsung keluar dari dalam mobil. Arya juga langsung ikut turun, dia mencoba biasa saja meski dia benar benar takut. Tapi jika mengingat Zelina, Arya bisa sedikit mempunyai keberanian.


"Dimana tuan kalian" tanya Reynand.


"Dia didalam, dan sudah menunggu anda sejak tadi tuan muda. Masuk lah, tapi tinggalkan orang ini disini" ujar salah satu dari mereka.


"Tidak bisa, mana boleh begitu. Apa kalian tidak tahu kalau aku sudah susah payah membujuk nya kemari. Jika bukan karena aku dia tidak akan mau datang menemui tuan besar, apalagi menjemput adiknya" sahut Arya dengan cepat.


Reynand langsung memandang Arya dengan heran, apa apaan dia berbicara seperti itu???


"Tapi kau memang tidak diperlukan didalam" sahut mereka.


"Aku ingin bertemu tuan besar. Aku ingin meminta imbalan karena sudah berhasil membawa tuan muda kalian. Jangan halangi aku, atau aku akan melapor polisi jika aku tidak mendapatkan imbalam malam ini" ancam Arya pula.


"Coba saja kalau kau berani, aku akan membunuhmu disini sebelum kau melapor" balas orang itu pula.


Arya nampak menenggak ludah nya sejenak. Sialan mereka, membuat lutut Arya bergetar saja.

__ADS_1


"Jika aku mati, maka tuan muda juga harus mati. Dengan begitu tuan besar tidak akan bisa mendapatkan apa yang dia mau" ancam Arya seraya mengeluarkan pisau dari balik jas nya dan mendekatkan nya keleher Reynand.


Orang orang itu nampak terkesiap dan ingin mendekat, namun Arya semakin merapatkan pisau itu pada leher Reynand. Bahkan Reynand sendiri begitu ngerih saat ini. Apa Arya akan benar benar membunuhnya, sialan sekali memang. Lagi pula dari mana dia mendapatkan pisau ini, dan sejak kapan pula dia menyimpan benda tajam.


"Ayolah, katakan sesuatu" bisik Arya


"Biarkan dia masuk, hanya meminta imbalan, kalian tidak akan merugi" ucap Reynand pada orang orang itu.


Orang orang itu saling pandang bingung, namun akhirnya mengangguk pasrah.


"Baiklah, lepaskan pisau mu dari leher tuan muda" ucap mereka.


"Tidak akan, jalan duluan kalian, dan bawa kami masuk kedalam" perintah Arya. Dia sudah seperti seorang aktor drama saja sekarang.


"Kau mau membodohi kami" bentak salah seorang dari mereka


"Cepatlah, aku hanya butuh uang, dan kau malah mempersulit masalah disini" sahut Arya tidak mau kalah.


"Sudahlah biarkan saja dia masuk" bisik orang itu. Hingga mau tidak mau dua orang langsung berjalan masuk kedalam.


"Jangan ada yang dibelakang ku, masuk kalian semua. Kalian mau membunuh ku dari belakang kan. Dasar licik. Cepat masuk" perintah Arya pada tiga orang yang masih ada didepan pintu.


"Kurang ajar, kami tidak akan membunuhmu sialan" bentak mereka.


"Aku tidak percaya, cepatlah masuk dan jalan duluan. Apa susahnya mengantar masuk" gerutu Arya.


Dan bodohnya mereka malah mendengus dan langsung masuk kedalam mendahului Arya yang masih menodongkan pisau nya dileher mereka.


"Awas saja jika pisau mu melukai leherku, kau yang aku cincang" bisik Reynand.


"Hei tenang lah tuan muda. Anda mau kedalam sendirian dan mati tanpa ada yang tahu. Lagi pula siapa yang akan menolong Zelina jika aku tidak ikut masuk" balas Arya pula.


Orang orang yang berjalan didepan mereka membalikkan tubuh dan memandang Arya dengan curiga, namun Arya kembali mendekatkan pisau itu keleher Reynand, bahkan sudah sedikit menggores membuat Reynand nampak memejamkan matanya sekilas.


"Apa lihat lihat, cepat jalan !!!!" seru Arya.


Kelima orang itu langsung berjalan masuk kembali seraya sesekali menoleh pada Arya. Hingga mau tidak mau Arya memang harus meneruskan akting nya sampai mereka bertemu dengan tuan Agas.


Yah, dari pada memakai kekerasan untuk masuk kedalam tentu dia tidak akan sanggup. Lebih baik memakai hal licik dan gila saja. Itu lebih baik dari pada harus adu jotos. Arya tidak ingin mati sebelum menikah, oh salah, mati sebelum berperang.


Kelima orang itu membawa Arya dan Reynand kesebuah ruangan dimana tuan Agas sudah duduk dikursi nya membelakangi mereka, dia duduk dengan pandangan dan gestur yang terlihat berbeda. Dan baru Reynand sadari, jika ini memang paman nya, paman nya yang seorang psikopat.


"Tuan muda sudah tiba tuan, tapi....." ucapan orang yang membawa Reynand dan Arya masuk langsung terhenti saat tuan Agas melambaikan tangan nya dan menyuruh mereka pergi, sementara Arya langsung menurunkan pisau nya dan menyimpan kembali disebalik jaket yang dia kenakan dengan cepat sebelum tuan Agas melihat.


Mata Reynand dan Arya melebar saat dua orang pria membawa dua orang yang mereka ikat dengan kejam.


Zelinda dan Guntur.....!!!

__ADS_1


"Kurang ajar" geram Reynand. Dia benar benar tidak terima melihat adik nya terikat dengan mulut yang tersumpal kain. Sedangkan Guntur tampak sudah lemas dengan luka disekujur tubuh dan wajahnya. Sepertinya tuan Agas sudah mengetahui tentang Guntur yang ternyata mengkhianatinya.


Arya memandang sedih pada Zelina yang nampak memandang mereka dengan pandangan memelas. Penampilan gadis itu benar benar menyedihkan. Sungguh Arya benar benar ingin membunuh tua bangka sialan ini.


"Kau mencari ku kan. Maka lepaskan mereka" seru Reynand dengan tangan yang terkepal kuat.


"Aku sudah meminta mu datang kemarin anak muda. Tapi kau malah pergi dan menyelamatkan saudaraku itu. Tentu aku tidak akan terima. Jadi sekarang bagaimana jika kita bertukar saja" ujar tuan Agas dengan senyum nya yang menyeringai.


"Kau memang keterlaluan paman. Apa salah kami padamu hingga kau tega memperlakukan kami seperti ini. Kau bahkan nyaris membunuh saudara kandung mu sendiri" ucap Reynand begitu menggebu


Tuan Agas terkekeh sinis dan mengisap kembali cerutunya


"Kau mana mengerti. Aku hanya ingin membalas perlakuan ayah kami tercinta. Dan ini belum seberapa. Ayo cepatlah, kita bertukar saja. Kau serahkan harta tersimpan itu maka aku akan melepaskan adikmu" ujar tuan Agas


Guntur nampak menggeleng dengan pelan ditempat nya. Dia tidak rela jika orang gila sekejam dan selicik tuan Agas memiliki semua nya. Jika dia sampai memiliki semua harta itu, maka tidak akan bisa ada yang mengalahkan nya, bahkan polisi pun mungkin bisa dia tundukkan. Dan itu akan semakin menambah masalah.


Arya memandang Reynand dengan lekat. Dia tahu ini pilihan yang sulit. Tapi bagaimana dengan Zelina???


"Oh, kau tidak mau ya. Tidak masalah, maka kau akan menyaksikan dia disiksa didepan matamu sendiri. Gadis secantik adikmu ini pasti banyak yang menginginkan nya bukan. Dan anak buah ku sudah mengintai nya sejak tadi" ungkap tuan Agas begitu licik


"Jangan coba coba menyentuhnya sialan" teriak Arya begitu menggebu. Dia benar benar jijik mendengar perkataan itu.


Alis tuan Agas tergerak, dia memandang Arya dengan sinis.


"Ah sepertinya kau begitu tidak suka" gumam tuan Agas


"Bawa dia dan ikat bersama mereka. Aku sudah lama tidak menyiksa orang" perintah tuan Abas pada beberapa anak buahnya yang ada didalam sana.


"Baiklah, aku terima tawaran mu" seru Reynand tiba tiba, seraya dia memandang kearah Guntur yang nampak menggeleng dengan berat.


"Bagus, cepat ikat lelaki ini dan ambilkan surat itu" perintah tuan Abas lagi.


"Tapi lepaskan dulu mereka" pinta Reynand.


Tuan Agas tersenyum sinis dan menggeleng.


"Hou... kau ingin menipuku anak muda, kau harus menandatangi surat itu dan Guntur juga harus memberitahu dimana tempat itu berada. Baru adikmu bisa aku lepaskan. Begitu pula dengan orang ini" jawab tuan Agas


"Kau memang licik" geram Reynand


"Kakek mu yang mengajari ku menjadi seperti ini. Maka jika kau ingin marah, marahlah pada bangkai yang ada didalam tanah sana" ujar nya seraya beranjak dari atas kursi dan mendekat kearah Guntur.


Sedangkan Arya sudah dibawa bergabung bersama Zelina, mereka dikurung didalam sebuah ruangan kosong yang pengap dan kecil, masih berada diruangan luas itu juga.


"Kau berani mengkhianati ku bukan. Maka jika kau masih tidak ingin memberitahuku dimana tempat itu, aku akan membuat mu menyesal seumur hidup" ancam tuan Agas pada Guntur yang hanya bisa diam karena mulutnya dibungkam dengan kain sekarang.


Reynand masih diam ditempat nya seraya memandangi semua orang yang ada disini. Dia harus bisa mencari cara unuk membebaskan Zelina dan juga Guntur, dan memikirkan cara untuk bisa menangkap tuan Agas yang sudah seperti orang gila ini. Jika bertindak nekad, maka nyawa mereka bisa terancam. Apalagi dengan kegilaan pamannya yang tidak mengenal ampun bahkan terkesan sadis. Guntur saja sudah penuh sayatan diwajah dan tubuhnya sekarang, entah apa yang sudah dilakukan tua bangka itu pada Guntur. Namun yang jelas, Reynand berharap, polisi segera datang namun tidak menimbulkan kekacauan yang fatal. Dia tidak ingin Zelina terluka.

__ADS_1


Dan lagi perkataan paman nya tentang dendam dan juga pembalasan perlakuan kakek nya membuat Reynand bingung. Memang nya apa yang sudah dilakukan oleh kakek nya dulu hingga paman nya bisa bertindak begitu kejam seperti ini??? Bahkan itu juga dituliskan di dalam surat yang ditinggalkan oleh kakek Reynand dibrankas rumahnya.


Apa hal itu begitu fatal dan membekas hingga tuan Agas begitu menaruh dendam??? Tapi kenapa mereka yang terkena imbasnya???


__ADS_2