Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Makan Malam Berdua


__ADS_3

Kalah dengan keadaan


Cinta yang seakan ingin membunuhku perlahan


Mengikis setiap sendi kehidupan yang ku punya


Tapi harapan tetap membuat aku harus bertahan hidup


Ada banyak hal yang belum aku selesaikan


Cinta..


Apa kabarmu?


Hatiku rindu ingin bertemu?


Adakah kamu yang masih mengingatku


Di oktober ini, cintaku masih bersamamu


\~\~\~\~


Mata indah itu mengkilat memandangi setiap ukiran indah yang tersemat diatas kanvas putih. Setiap lekukan dan warna yang tergambar benar benar seperti terlukis dari dalam hati. Ada banyak makna yang tersirat didalam lukisan itu, jejak jejak kisah yang tidak akan mungkin bisa terlupa.


Lihatlah, meski sudah berusaha untuk melupa dan menyerah, namun tetap saja hati selalu berkhianat. Meski rasa sakit dan kecewa masih begitu melekat, tapi kenapa masih merindu???


Dimana pun dan bagaimana pun keadaan nya, tetap satu nama yang selalu terlintas dihati dan fikiran.


Orang orang pernah berkata, jika obat terbaik bukanlah orang baru, melainkan waktu!


Tapi kenapa kedua hal itu sama sekali tidak berlaku pada Nara? Tidak ada obat terbaik yang dia dapatkan selama beberapa bulan ini. Semakin banyak waktu yang dia lewati, semakin banyak rindu yang terkumpul didalam hati. Semakin dia mengenal orang baru, semakin enggan dia menutup lembaran yang telah berlalu.


Kenapa sesakit ini????


Sekali lagi, mata Nara masih memandangi lukisan yang dia beli dipameran siang tadi. Lukisan yang benar benar mengingatkan tentang kisah nya dua belas tahun lalu. Tidak ada tertera siapa pelukis nya. Hanya ada sebuah tulisan kecil disudut kain kanvas itu.


'oktober terindah'


Nara tersenyum tipis namun terlihat begitu getir. Dia tahu ini siapa, tidak ada yang lain selain dia.


Ya, munafik sekali hatinya. Berkata menyerah dan berhenti, namun tetap saja masih mencinta dan merindu.


Sudahlah, semua sudah berlalu. Biarkan cinta ini ada sampai kapanpun dia mau bersemayam disana.


Nara membalikkan tubuhnya, meraih tas kecil diatas meja dan memakai jaket kulit nya. Suara klakson mobil sudah terdengar diluar sana, membuat langkah kaki Nara langsung pergi meninggalkan lukisan itu disudut kamar.


...


"Kenapa lama sekali? Aku kira kamu ketiduran?" tanya Bimantara seraya membukakan pintu mobil untuk Nara


Nara tersenyum dan masuk kedalam mobil, membuat Bimantara langsung menutup pintu mobil itu dan segera masuk menyusul Nara.


"Kamu begitu tidak sabar. Apa kamu sudah begitu lapar?" tanya Nara seraya menoleh sekilas pada Bimantara yang sedang mengenakan sabuk pengaman nya

__ADS_1


Bimantara terkekeh kecil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nara


"Sudah kesekian ribu kali aku menagih janji mu untuk keluar dan makan bersama. Dan baru malam ini kamu menyetujui nya. Tentu saja aku sudah tidak sabar dan rasa laparku juga berkali lipat bertambah" jawab Bimantara


Nara langsung mendengus senyum mendengar ungkapan itu.


"Ungkapan mu terlalu berlebihan Bima" ucap Nara


"Semua akan selalu berlebihan jika berhadapan dengan kamu" sahut Bima


Nara hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis.


Bimantara menoleh sekilas kearah Nara dan tersenyum tipis. Dia begitu senang malam ini, karena akhirnya Nara mau keluar berdua dengan nya. Biasanya mereka selalu keluar bertiga dengan lelaki berambut gondrong itu. Tapi malam ini, akhirnya Bima bisa menikmati waktu hanya berdua dengan Nara. Hal yang tidak pernah terjadi selama beberapa bulan ini. Jika diajak berdua saja, Nara pasti selalu menolak, dan berjanji dilain waktu. Mungkin malam ini Nara sudah bosan dengan tagihan janji dari Bima, maka dengan terpaksa Nara menerima ajakan nya.


Tidak masalah, Bima tahu jika Nara belum bisa melupakan tuan angkuh itu, yang bahkan keberadaan nya saja tidak ada yang tahu.


Semenjak kepergian Reynand, Bimantara selalu mencoba mendekati Nara, mencoba mengetuk kembali hati Nara yang sudah dia tutup dengan rapat. Namun sampai saat ini, masih terasa sulit. Entah sebesar apa cinta Nara pada lelaki angkuh itu, Bima benar benar takjub.


Tapi meskipun begitu, dia tidak akan menyerah. Cinta nya pada Nara sudah cukup dalam dan mendamba.


Tidak banyak yang mereka bicarakan dalam perjalanan menuju ketempat makan yang dituju. Nara lebih banyak diam dan hanya menanggapi seadanya perkataan Bimantara.


Dan tidak berapa lama kemudian Bima langsung memarkirkan mobilnya didepan sebuah restaurant klasik. Malam ini hujan tidak turun, sehingga niat nya untuk dinner berdua dengan Nara lancar dan terkendali.


Nara turun dari dalam mobil dan memperhatikan restauran itu. Restaurant cukup mewah, namun tempatnya nyaman dan berdiri serupa saung saung yang dihiasi dengan lampu yang indah.


"Ayo masuk" ajak Bima


Nara mengangguk dan tersenyum tipis. Mereka berdua langsung masuk kedalam dan berjalan beriringan. Pengunjung malam itu cukup banyak, karena memang hari ini adalah hari libur.


Mereka duduk disebuah meja yang terletak sedikit kesudut ruang, membuat pemandangan dari sana terlihat jelas namun mereka yang tidak terlalu mencolok. Cukup nyaman untuk Nara.


Seorang waitress restauran datang dan membawa buku menu


"Kamu pesan apa Nara?" tanya Bima


"Apa saja, yang terpenting jangan berlemak" jawab Nara


Bima terkekeh pelan dan langsung mengangguk. Karena dia sudah sering bersama Nara, dia sudah tahu bagaimana selera wanita ini.


Quinoe, brown rice, salmon dan salad serta smothies bowl menjadi pilihan untuk mereka santap malam ini.


Bima menyerahkan kembali buku menu nya pada waitress itu setelah dia mencatat pesanan mereka.


"Tempat nya cukup nyaman bukan?" Bimantara mencoba membuka obrolan. Dia tidak bisa diam saja jika sudah bersama dengan Nara. Memandangi wajah cantik dan anggun Nara membuat nya tidak pernah bosan. Jadi jalan satu satunya untuk melihat pemandangan itu adalah selalu mengajak nya untuk berbicara. Karena jika hanya memandang saja itu tidak akan sopan.


"Ya, kamu sering ketempat ini?" tanya Nara pula


"Hmm... lumayan. Makanan nya cukup enak, tapi jika datang sendiri itu bukan pilihan terbaik" jawab Bimantara


"Kenapa?" tanya Nara dengan aneh


"Kamu tidak lihat yang datang ketempat ini lebih banyak muda mudi berpasangan. Dan jika datang sendiri apa mereka tidak akan berfikir jika aku adalah lelaki yang menyedihkan?" ungkap Bimantara

__ADS_1


Nara langsung mendengus senyum mendengar itu


"Fikiran mu terlalu berlebihan. Ini tempat makan bukan tempat untuk memamerkan pasangan" ucap Nara, namun Bima langsung menggeleng dan menghela nafasnya sejenak


"Kamu mana mengerti nasib orang jomblo seperti ku. Diumur yang sudah tua ini tentu hal seperti itu menjadi hal yang cukup sensitif" kata Bimantara


Nara tersenyum memandang Bima, wajah lelaki ini tampan, tapi selalu bisa merubah ekspresi. Sangat satu frekuensi dengan Arya


"Maka dari itu kamu harus mencari pasangan" ujar Nara


"Ya, memang aku sedang mencari. Tapi sayang yang aku dekati berhati batu" sindir Bima


Nara tersenyum tipis dan menggeleng pelan


"Maka cari yang berhati lembut. Ada banyak pilihan didunia ini" jawab Nara


"Untuk cinta, apa bisa memilih?" tanya Bimantara memandang Nara dengan lekat


Nara tertegun sejenak, namun sedetik kemudian dia langsung mengendikkan bahunya dengan acuh bertepatan dengan pelayan yang datang membawakan pesanan mereka.


"Silahkan tuan, nona" ucap pelayan itu begitu ramah


"Terimakasih" ucap Bimantara sementara Nara hanya tersenyum saja


Mereka mulai menikmati makanan mereka dan mengabaikan perbincangan sensitif mereka tadi.


"Enak?" tanya Bimantara


"Lumayan" jawab Nara


"Bukan jawaban yang memuaskan" kata Bimantara membuat Nara langsung tertawa. Dan sungguh, tawa dan senyum Nara benar benar membuat hati Bima begitu berdesir dengan hangat bahkan tanpa sadar dia terus memandangi wajah cantik ini tanpa bosan.


Nara yang merasa dipandangi hanya diam dan acuh, karena sungguh dia tidak ingin memberikan harapan apapun pada lelaki baik ini.


Nara mengunyah buah nya seraya memalingkan wajah memandang objek lain, namun tiba tiba dia mengernyit saat melihat seseorang diujung sana juga memperhatikan nya dengan lekat.


Bukankah itu........ Zelina????


Cukup jauh antara meja nya dan meja kasir. Namun mata Nara masih bisa memandang dengan jelas jika gadis itu adalah Zelina. Nara benar benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kenapa Zelina ada disini dan memakai pakaian pelayan? Apa dia bekerja disini?? Sejak kapan???? Sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Zelina, tapi dia masih ingat benar wajah cantik gadis muda itu.


"Hei, apa yang kamu lihat?" pertanyaan Bima membuat Nara terkejut. Dia langsung mengerjapkan matanya dan menggeleng pelan


"Tidak ada" jawab Nara dengan senyum tipisnya


Dia kembali melanjutkan memakan makanan nya sedangkan Bimantara menoleh kearah pandangan Nara tadi. Tidak ada objek apapun yang menarik, lalu apa yang Nara lihat????


...


Sedangkan Zelina juga masih terpaku ditempat nya. Sejak Nara dan Bima masuk tadi dia sudah melihat mereka. Zelina benar benar tidak menyangka akan bisa melihat Nara disini, kemarin Arya dan sekarang Nara.


Dan yang lebih membuat nya terkejut adalah, ternyata Nara sudah memiliki pengganti kakak nya.


Zelina tersenyum pedih melihat ini. Nara tidak salah jika dia berhubungan dengan lelaki lain karena bagaimana pun hubungan Nara dengan kakak nya sudah berakhir.

__ADS_1


Tapi yang membuat Zelina sedih adalah, Nara terlihat bisa tertawa dan tersenyum, sedangkan kakaknya, terpuruk dalam kerinduan dan cintanya pada Nara......


__ADS_2