Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Mulai Berteman


__ADS_3

Bima memandangi Gendis yang sedang makan malam diatas tempat tidurnya. Gadis ini sudah mandiri sekarang. Tidak lagi manja dan ingin disuapi. Entah karena dia yang sakit hati dengan perkataan Bima waktu itu. Entahlah. Yang jelas, Gendis sudah tidak banyak mulut lagi sekarang. Dia tidak lagi meminta ini dan itu yang membuat Bima pusing dan kesal. Sekarang Gendis lebih banyak diam dan berbicara seperlu nya saja.


Bima memandangi wajah Gendis dengan lekat. Gadis ini sedikit tomboy, tidak.. tidak. Bukan tomboy, tapi berani. Ya, itu lebih pantas. Karena jika dibilang tomboy, itu bukan kriteria Gendis. Wajah nya cantik, blasteran dengan rambut pirang nya yang panjang. Hidung mancung dan mata yang sedikit lebar. Tubuh tinggi dan juga semampai.


Dia cukup cantik dan beraura, tapi ternyata cantik saja tidak cukup untuk membuat kekasihnya setia. Bima sudah mendengar dari Arya jika David adalah seorang casanova yang sering bermain dengan para model model di agensi nya dibalik layar. Ya, tidak banyak yang tahu karena David bisa menyembunyikan hal itu dengan baik. Tapi entah kenapa Arya bisa tahu, bahkan lelaki itu bilang jika dia siap untuk menunjukkan buktinya pada Bima jika dia tidak percaya.


Yah... entahalah. Itu bukan urusana nya. Bima hanya iba melihat Gendis, waktu pernikahan sudah didepan mata, tapi nasib nya yang malang malah mengetahui keburukan kekasih nya sendiri.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Gendis.


Bima sedikit terkesiap dan mengerjapkan matanya sekilas. Dia melihat jika ternyata Gendis sudah selesai makan. Dan Bima langsung mengambilkan air putih yang ada diatas meja dan menyerahkan nya pada Gendis.


"Aku masih tidak menyangka ternyata kamu adalah putri dari tuan Renggono" ucap Bima.


Gendis melirik Bima sekilas dan langsung meminum air putih nya.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Gendis.


"Satu kota sudah dibuat heboh dengan David yang mendatangi perusahaan Dopindo. Bagaimana aku tidak tahu" jawab Bima seraya meraih gelas dari tangan Gendis.


Gendis terdiam, dia sebenarnya tidak ingin membahas ini, namun kenapa dia penasaran. Dan lagi benarkah itu jika David sudah berani datang keperusahaan ayahnya?


"Sepertinya dia tidak ingin berpisah darimu" kata Bima lagi.


Gendis mendengus dan menggeleng pelan.


"Apa kamu bilang pada ayah jika aku disini?" tanya Gendis.


Bima langsung mengangguk


"Tentu saja, ayah mu adalah rekan bisnis ku. Dan aku tidak ingin terlibat masalah jika aku tidak memberi tahu yang sebenarnya. Jangan sampai aku dituduh menculik anak gadis orang dan menyembunyikan mu disini" jawab Bima seraya memandang Gendis yang tertunduk. Dan entah kenapa wajah datarnya itu terlihat begitu sendu.


"Besok pasti dia akan menjemputku" gumam Gendis. Namun Bima malah menggeleng.


"Sepertinya tidak" sahut Bima, membuat Gendis langsung menoleh kearahnya.


"Ayahmu malah menitipkan mu padaku disini" ucap Bima.


Gendis langsung mengernyitkan dahinya memandang Bima dengan bingung.

__ADS_1


"Kamu mau menipuku" kata Gendis. Namun Bima langsung tertawa sinis mendengar itu.


"Untuk apa aku menipumu. Aku malah ingin sekali dia membawamu pulang agar tidak ada lagi yang perlu aku fikirkan. Tapi kenyataan nya dia malah membiarkan mu disini. Dia berkata jika dia tidak ingin David menemukan mu. Lelaki itu sepertinya sedang menggila sekarang" jawab Bima.


Gendis menghela nafas nya dengan berat.


"Apa kamu tidak bilang jika aku cidera" tanya Gendis lagi.


"Tentu saja aku bilang, aku bukan pecundang yang menutupi diri. Tuan Renggono adalah orang besar dan jika dia tahu sendiri jika anak semata wayang terluka parah seperti ini, apa kamu fikir aku akan baik baik saja. Perusahaan ku akan hancur dalam waktu semalam" ungkap Bima.


Gendis langsung mengerucutkan bibinya dengan kesal.


"Tapi kamu sudah tidak menyukai ku dan ingin aku pergi, seharusnya kamu menolak permintaan ayahku" ujar Gendis. Dan kini Bima yang mendengus.


"Sudahlah, aku hanya emosi waktu itu. Kamu juga terluka karena aku. Kamu boleh tinggal disini asal jangan meminta ku untuk melakukan ini dan itu sesuka mu. Aku juga harus bekerja dari rumah" jawab Bima.


Gendis kembali tertunduk dan mengangguk. Jika sudah seperti ini, maka dia pasti akan tinggal lebih lama disini. David adalah orang yang nekad, dan Gendis memang sudah tidak ingin lagi menemui lelaki itu. Dia sudah cukup kecewa dan terluka karena pengkhianatan ini. Cinta tulusnya dipermainkan begitu saja. Meski Gendis tahu jika David mencintainya, tapi sungguh, nafsu laki laki itu lebih besar dari perasaaan cinta itu sendiri.


"Terimakasih. Aku janji tidak akan merepotkan mu lagi" ucap Gendis.


Bima hanya diam dan memandang nya dengan wajah datar. Dua minggu lebih dan hari ini dia baru mengucapkan terimakasih. Sungguh luar biasa. Tapi ya, itu sudah bagus. Bima juga salah karena sudah terlalu kasar waktu itu.


Gendis hanya mengangguk dan memalingkan wajah nya memandang keluar jendela.


"Lebih baik kita kurangi perdebatan kita mulai sekarang. Bukankah menjadi teman lebih baik" ujar Bima.


Gendis kembali memandang kearah Bima.


"Apa kamu takut dinikahkan eyang putri dengan ku?" tanya Gendis. Dan tanpa sadar pertanyaan dengan nada datar itu malah membuat Bima mendengus senyum.


"Anggap saja begitu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika harus menikah dengan mu" jawab Bima.


"Kamu tenang saja. Aku bahkan sudah tidak punya niat lagi untuk menikah" sahut Gendis.


"Apa kamu trauma?" tanya Bima.


Gendis menggeleng pelan dan memandang kaki nya kebawah.


"Tidak, hanya saja luka ini cukup membuat ku malas membuka hati. Seharusnya aku belajar dari kegagalan ayah dulu, dan sekarang aku yang mengalami nya. Bukan kah pernikahan semenakutkan itu" ungkap Gendis dengan senyum getir nya.

__ADS_1


Bima menghela nafas pelan dan menyandarkan dirinya di sandaran kursi seraya melipat tangan nya didepan dada.


"Entah lah, kamu bahkan tahu aku belum pernah merasakan itu" jawab Bima.


"Jatuh cinta itu menyakitkan" gumam Gendis.


"Sangat" sahut Bima pula.


"Apalagi ketika tidak terbalas dan malah melihat nya bahagia dengan orang lain. Sangat menyedihkan" gumam Bima tanpa sadar.


Gendis langsung menoleh pada Bima dan memandang nya dengan lekat. Membuat Bima langsung terkesiap. Gendis bahkan sampai mendengus senyum melihatnya.


"Jangan terkejut begitu. Aku tahu kamu juga sedang patah hati" tuding Gendis.


"Sok tahu" sahut Bima.


"Mana ada orang gila yang tengah malam keluyuran ditengah jalan dalam keadaan mabuk, mengemudikan mobilnya seperti orang gila. Apalagi namanya jika tidak sedang patah hati" ungkap Gendis.


Bima langsung mendengus mendengar itu.


"Tapi menurutku, seperti itu lebih baik jika harus dikhianati. Kamu hanya menyukai nya, dan sudah tahu dia memlih orang lain. Dari pada kamu tahu dia menyukai mu tapi malah masih menjalin hubungan dengan orang lain. Bahkan tega melakukan hal menjijikkan itu." ungkap Gendis lagi. Namun kali ini terdengar begitu getir.


Bima tertegun memandang Gendis, dia tahu itu. Masalah Gendis lebih menyakitkan dengan masalah hatinya saat ini.


"Bahkan pernikahan kami sudah didepan mata. Dan dia tega menghancurkan semuanya" tambah Gendis lagi. Bahkan bisa Bima lihat jika matanya sudah berair.


"Kamu seharusnya bersyukur" ujar Bima, membuat Gendis langsung menoleh pada Bima.


"Kamu tahu keburukan dia sebelum kalian menikah. Jika tidak, bukankah itu akan semakin sakit" ungkap Bima.


Gendis tertunduk mendengar itu.


"Sekarang, fokus saja pada kesembuhan mu. Jangan fikirkan laki laki bresngsek seperti dia. Bukankah kamu kemari untuk menenangkan diri" ujar Bima.


"Ya, tapi bagaimana bisa tenang jika aku seperti ini. Berjalan saja tidak bisa" sahut Gendis.


"Nanti aku akan membawamu berkeliling melihat kebun buah eyang" ucap Bima.


"Benarkah, kamu mau?" tanya Gendis.

__ADS_1


Bima langsung mengangguk pelan.


__ADS_2