
Sudah seminggu berlalu, namun Bimantara masih juga belum ada kemajuan. Dia masih belum sadar dari koma nya. Ya, kini dia dinyatakan koma oleh dokter. Dan kabar itu sungguh membuat perasaan eyang putri dan juga Gendis sama sama merasa begitu terpukul dan sedih.
Setiap hari selama seminggu ini Gendis selalu datang untuk menjaga Bima bersama eyang putri. Dia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Bima. Meski sudah ada eyang putri dan Naina yang ada disana, namun Gendis tetap ingin menemani Bima. Dua bulan Bima bersabar mengurusnya dan selalu menemani nya, dan sekarang gantian Gendis yang membalas kebaikan Bima dan eyang putri.
Pagi ini Gendis sudah datang, dia membawa makanan dan minuman untuk eyang putri yang memang menginap dirumah sakit. Eyang putri juga sama sekali tidak ingin meninggalkan Bima, sehingga tuan Renggono menyediakan satu kamar dirumah sakit itu untuk eyang putri menginap. Bahkan beberapa kali juga Gendis menginap disana bersama eyang putri.
Malam tadi dia pulang kerumah, karena ayahnya yang sedang tidak enak badan.
Gendis masuk kedalam kamar eyang putri terlebih dahulu untuk mengantarkan makanan untuk nya. Dan ternyata disana sudah ada Naina dan putra nya yang tampan.
"Eyang, selamat pagi, maaf Gendis agak lama datang nya" sapa Gendis.
Eyang putri menggeleng dan tersenyum.
"Tidak apa apa, eyang juga baru selesai mandi" jawab eyang putri. Gendis mengangguk dan meletakkan barang bawaan nya diatas meja.
"Mbak sudah lama?" tanya Gendis pada Naina yang nampak sedang merapikan pakaian eyang putri.
"Belum, baru juga tiba beberapa menit" jawab Naina.
Gendis melirik anak Naina yang sedang berdiri dan memperhatikan sebuah lukisan yang tertempel didinding.
"Dia Abimanyu, anak ku" ucap Naina
Gendis tersenyum dan mengangguk
"Tampan mbak, sama seperti ayah nya" puji Gendis
Naina langsung tertawa dan mengangguk,namun eyang putri malah menggeleng.
"Mana ada mirip ayah nya. Beda jauh, cicit ku ini bahkan lebih pintar dan cerdas. Ya to le" ucap eyang putri pada Abimanyu yang kini mendekat kearah mereka.
"Tentu saja eyang. Abi memang harus lebih hebat dari daddy. Ya kan mom" jawab Abimanyu pada Naina.
"Iya sayang" sahut Naina.
"Sayang nya om Bima belum bangun, padahal dia sudah berjanji untuk menemani Abi bermain catur. Hanya dia yang bisa menandingi Abi bermain" ucap Abimanyu seraya duduk disamping eyang putri.
Eyang putri mengusap kepala Abi dengan lembut, terlihat jelas raut kesedihan nya diwajah renta itu. Dan itu semakin membuat Gendis bertambah sedih saja.
Dokter bahkan belum bisa memastikan kapan Bima akan sadar. Lukanya sudah mulai membaik, namun karena cukup dalam dan merusak sedikit bagian hati nya, membuat keadaan Bima memburuk. Eyang putri tidak bisa memberikan obat tradisional nya seperti biasa, karena Bima yang benar benar tidak sadar. Dokter juga tidak memperbolehkan sesuatu yang asing masuk kedalam tubuhnya, takut keadaan Bima semakin memburuk.
"Eyang...." panggil Gendis dengan begitu lirih.
"Maafin Gendis ya, gara gara Gendis, Bima jadi seperti ini" ucap Gendis dengan mata yang berair kembali.
__ADS_1
"Sudah lah, eyang gak apa apa. Nama nya juga musibah. Kita berdoa saja semoga Bima cepat sadar" jawab eyang putri.
Namun Gendis hanya bisa tertunduk pedih. Dia benar benar menyesali kejadian ini.
"Gendis... jangan bersedih seperti itu. Gak ada yang mau ini terjadi. Kamu ingat kan apa kata dokter, Bima akan cepat sadar kalau kita bantu. Nah, kamu harus bantu dia juga buat sadar, jangan terus larut dalam kesedihan begini" ujar Naina begitu lembut.
Gendis memandang Naina dengan sendu.
"Saya cuma sedih mbak. Karena masalah saya, Bima yang jadi celaka begini" sahut Gendis.
"Gak apa apa, Bima pasti sembuh. Berdoa terus, kita bantu dia ya" kata Naina lagi.
"Om Bima itu selalu menepati janji aunty, dia pasti bangun karena dia udah janji untuk main catur bareng Abi" sahut Abimanyu pula.
Eyang putri langsung mendengus senyum dan mengusap kepala cicit nya itu. Dia juga sebenarnya sedih dan begitu terpukul dengan keadaan Bima yang sekarang. Hanya Bima yang dia punya setelah anak semata wayang nya meninggal. Bima adalah harapan eyang putri dimasa tua nya, Bima adalah segala nya untuk eyang putri. Tentu dengan Bima yang seperti ini dia pasti akan sangat bersedih. Tapi dengan menyalahkan keadaan juga bukan jalan terbaik. Ini memang musibah, dan dia harus menerima. Semoga Bima bisa bertahan dan bangun kembali.
"Sekarang, dari pada kamu sedih, mending kamu coba bangunin lagi. Kamu belum ketemu dia pagi ini kan" ujar Naina.
"Iya mbak, saya memang mau melihat dia" jawab Gendis.
"Kalau gitu Gendis pamit dulu ya eyang, mbak" pamit Gendis.
Eyang putri dan Naina langsung mengangguk dan membiarkan Gendis melihat keadaan Bima yang masih betah dalam tidur panjang nya.
Sementara dirumah utama keluarga Adiputra...
Saat ini Nara dan Reynand baru saja selesai sarapan bersama dengan kedua orang tua nya dan juga Zelina. Reynand sudah akan bersiap siap pergi keperusahaan sekaligus untuk menemui Reyza. Mereka masih bekerja sama dalam kasus untuk menangkap David. Yang sampai sekarang juga belum bisa mereka tangkap.
Pria itu cukup licik, dan orang orang mereka bahkan bisa kecolongan karena dia yang berhasil kabur keluar negeri.
"Jadi sampai mana pencarian kalian Rey?" tanya tuan Abas.
"Orang orang Adidaksa dan juga Gemilang grup sudah menyebar di Thailand pa. David dikabarkan sudah berada disana sejak hari pertama kita mencari nya. Dia kabur tepat di malam dimana Bima celaka" jawab Reynand.
"Berarti dia memang sudah merencakan ini dengan matang. Dan beruntung nya dia tidak bisa membawa putri tuan Renggono itu" sahut tuan Abas.
Reynand langsung mengangguk dengan cepat.
"Benar, David sepertinya memang sudah berencana untuk membawa Gendis kabur ke Thailand, hanya saja orang orang nya tidak berhasil, dan akhirnya dia yang pergi sendiri. Pantas saja kita tidak menemukan jejak nya di sini, jika ternyata dia sudah pergi lebih dulu kesana" ungkap Reynand.
"Dia pasti sudah lebih dulu memalsukan identitas nya" ucap tuan Abas
"Benar" sahut Reynand.
"Jadi, bulan madu kalian akan ditunda sampai masalah ini selesai?" tanya tuan Abas lagi.
__ADS_1
Nara dan Reynand langsung saling pandang sejenak dan mengangguk bersama.
"Ya, tidak mungkin kami bersenang senang dan tidak ada membantu mereka. Meski perusahaan David sudah hancur, tapi dia sendiri belum tertangkap. Meski Rey tidak terlalu dekat dengan Bimantara, tapi setidak nya dia adalah cucu dari orang yang pernah merawat Nara saat sakit dulu nya" jawab Reynand.
"Benar nak. Mudah mudahan masalah ini cepat selesai, dan Bimantara bisa pulih kembali. Agar kalian bisa tenang dan tidak lagi memikirkan apapun" sahut mama pula.
"Iya ma. Lagi pula bulan madu juga bisa kapan saja" jawab Nara
Reynand tersenyum memandang Nara.
"Kamu tidak apa apa kan sayang?" tanya Reynand.
Nara menggeleng pelan.
"Justru jika kita pergi, aku yang tidak setuju Rey" jawab Nara
"Baiklah, semoga dalam waktu dekat ini lelaki itu bisa tertangkap" sahut tuan Abas
"Iya pa, jika begitu kami pamit dulu" izin Reynand.
"Kamu juga pergi nak?" tanya mama pada Nara.
"Nara mau menemani eyang putri dirumah sakit ma. Tidak apa apa kan?" tanya Nara
"Tentu saja tidak, mungkin sore mama baru akan kesana. Masih ada acara siang ini" jawab mama.
"Ze juga nanti bersama kak Arya baru kesana kak" sahut Zelina pula.
"Jangan ganggu dia bekerja Ze... perusahaan Polie cukup sibuk akhir akhir ini. Jangan sampai kekasih mu itu membuat Nara menjadi sibuk" ujar Reynand.
Zelina langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Tidak tidak. Cuma kalau malam juga bertemu nya. Itu juga jarang" jawab Zelina.
"Tentu saja tidak boleh sering sering" sahut Reynand.
"Kenapa memang nya" tanya Zelina dengan kesal.
"Tidak baik" jawab Reynand yang langsung beranjak dari kursi nya bersama dengan Nara yang hanya tersenyum saja.
"Tidak sadar memang, kalian dulu bagaimana" dengus Zelina.
"Kami kan berbeda, kamu itu masih kecil" sahut Reynand
Zelina langsung memandang Reynand dengan kesal. Kakaknya ini memang cukup cerewet. Selalu saja banyak sekali pesan nya. Padahal dia jika rindu saja sudah uring uringan sendiri. Dan sekarang malah banyak sekali melarang.
__ADS_1