Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Meminta Restu


__ADS_3

Gendis memandang Bima dengan wajah datar nya. Namun hatinya saat ini sedang bertanya tanya kenapa Bima bisa tahu jika dia adalah anak dari tuan Renggono. Hubungan nya dengan David juga tidak pernah mereka publikasikan. Tapi kenapa Bima bisa tahu?


Sesekali Gendis meringis sakit saat eyang putri membenarkan kakinya yang patah. Mengusap kaki itu dan membalurkan ramuan yang sudah dia tumbuk. Akibat terjatuh dari kursi roda tadi, Gendis merasa jika kakinya semakin bertambah sakit dan berdenyut.


Dan ini semua karena Bima. Coba saja dia tidak pulang hari ini, tentu Gendis tidak akan merasa kesal dan sial seperti ini. Sudah pergi tidak mengatakan apapun, dan sekarang dia tiba tiba pulang malah menambah kadar rasa sakitnya.


Kenapa para lelaki didunia ini memang suka sekali menyakiti nya?


"Sudah, jangan banyak bergerak dulu. Kakimu masih belum pulih. Takut saraf tulang muda nya tidak tumbuh dengan baik" ujar eyang putri.


"Iya eyang, maaf" jawab Gendis.


"Ini diminum" kata eyang putri lagi seraya menyerahkan secawan jamu untuk Gendis.


Gendis meraih nya dengan wajah yang getir, dia sudah tidak tahan sebenarnya jika harus meminum minuman yang sangat tidak enak ini setiap hari. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga ingin cepat sembuh dan berkeliling desa. Berada di dalam rumah sepanjang waktu membuat Gendis benar benar bosan.


Lagi pula, dia memang sudah harus segera pergi dari rumah ini kan?


Tapi bagaimana dengan kaki nya?


"Kamu juga, ada kamu Gendis malah jadi seperti ini. Kenapa kamu tidak membantu nya ha?" kini eyang putri beralih pada Bima dan memandang cucunya itu dengan pandangan kesal.


Bima ingin menjawab, tapi Gendis lebih dulu menyahut.


"Salah Gendis eyang, Gendis yang tidak mau dibantu" sahut Gendis dengan cepat.


Bima melirik Gendis dengan senyum sinis nya.


"Biar saja, ini memang tugasnya. Kamu seperti ini juga karena dia. Sudah tiga hari tidak pulang, sekalinya pulang malah menambah masalah" gerutu eyang putri lagu.


"Mana ada begitu eyang" sahut Bima tidak suka.


"Seperti nya kamu memang mau Gendis lebih lama berada disini ya" tuding eyang putri.


Bima dan Gendis langsung terbelalak mendengar itu. Bahkan Gendis langsung memandang pada Bima yang nampak mendengus kesal.


"Eyang.... pekerjaan Bima di Jakarta cukup banyak. Perusahaan terbengkalai karena harus mengurus Gendis. Bagaimana mungkin Bima ingin dia lebih lama disini. Bagaimana bisa mencari cucu menantu jika tidak bekerja dan menjadi miskin" ungkap Bima begitu kesal.

__ADS_1


Eyang putri langsung mendengus mendengar itu.


"Kamu masih bisa mengurus sapi eyang jika jatuh miskin" sahut eyang putri seraya beranjak dari duduk nya.


Gendis langsung tersenyum sinis memandang Bima yang lagi lagi hanya bisa mendengus kesal.


"Sudah, eyang mau istirahat. Jangan ribut lagi kalian. Jika kalian ribut, eyang akan menikahkan kalian besok" ancam eyang putri.


Gendis langsung menoleh pada eyang putri dengan wajah terperangah. Menikah? Itu adalah hal yang paling menakutkan bagi dia sekarang.


"Tidak lucu bercandaan eyang" sahut Bima.


"Siapa yang bercanda. Eyang ini sudah tua, dan sudah ingin memiliki cicit. Jika kalian ribut terus, itu berarti kalian memang mau dinikahkan" jawab eyang putri seraya berjalan menuju keluar pintu.


Gendis dan Bima langsung saling pandang dengan lekat.


"Tidak akan" ucap mereka berdua.


..


Sore itu Reynand dan Nara sudah berada disebuah pemakaman umum. Setelah pulang dari perusahaan siang tadi, Reynand langsung menjemput Nara untuk membawa nya beziarah kemakan orang tua Nara. Memenuhi janji Reynand yang akan mengunjungi makam orang tua Nara sekaligus untuk meminta restu pada mereka.


Sore itu udara cukup cerah, namun tidak lagi terik. Suasana yang mendayu membuat mereka sama sama terdiam saat masuk kedalam area pemakaman itu.


Kerudung biru muda yang Nara kenakan terlambai tertiup angin, bersamaan dengan dress senada yang dia gunakan. Ditangan nya Nara membawa sekeranjang bunga tabur. Sedangkan Reynand berjalan disampingnya dengan setelan serba hitam dan kaca mata hitam yang juga bertengger diatas hidung mancung nya.


Mata mereka memandang kedepan, berjalan melewati setiap gundukan gundukan tanah tempat orang yang sudah mendahului mereka.


Setiap kali ketempat ini, entah kenapa perasaan dan hati Nara begitu tersentuh. Apalagi ketika mengingat bagaimana dulu dia bertahan untuk hidup ditengah rasa sakit dan tekanan yang dia derita. Seharusnya Nara sudah berada diantara gundukan tanah ini. Namun nyatanya, dia masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan untuk menjalani waktu lebih lama. Dan tentunya kini bersama dengan orang yang dia cinta.


Tuhan memang begitu baik padanya...


Nara berlutut dihadapan makan ayahnya, dan langsung diikuti oleh Reynand.


Mata Reynand memandang batu nisan itu dengan lekat. Tertulis nama 'Surya Syahputra' disana.


"Ayah, ibu .... apa kabar. Nara datang lagi. Tapi Nara datang bersama dengan Reynand. Calon suami Nara" ucap Nara seraya mulai membersihkan makam itu dan menaburkan bunga diatas makam ayahnya.

__ADS_1


Reynand tersenyum dan ikut menaburkan bunga disana.


"Hai om... saya Reynand. Jika om masih ada mungkin sekarang om pasti sudah memukul saya karena kecewa" Reynand mulai membuka suara. Helaan nafasnya cukup berat. Karena bagaimanapun, memang begitu berat untuk mengakui kesalahan nya dihadapan orang tua wanita yang pernah dia kecewakan. Meski sudah tidak ada, tapi Reynand yakin, mendiang orang tua Nara pasti tahu dengan apa yang pernah Reynand perbuat pada Putri mereka dulunya.


"Maafkan saya yang sudah pernah menyakiti gadis cantik om. Saya benar benar menyesal om. Saya harap om tidak akan menghajar saya jika kita bertemu disana nanti" ucap Reynand.


Nara tersenyum seraya mengusap bahu Reynand dengan lembut.


Reynand menoleh kearah nya, dan meraih tangan Nara. Menggenggam nya dengan erat dan kembali memandang kearah gundukan tanah itu.


"Om.... meskipun om sudah tidak ada. Tapi saya yakin om pasti melihat kami kan. Hari ini, sore ini, dan ditempat ini. Saya meminta putri om untuk saya jadikan istri. Saya harap on akan merestui kami dari atas sana" ucap Reynand.


Nara tertunduk, matanya mulai berair sekarang.


"Saya berjanji, akan menjaga Nara dengan seluruh jiwa raga saya. Saya berjanji akan mencintai Nara dengan seluruh hidup saya. Dan saya berjanji untuk tidak akan menyakiti nya lagi. Saya berjanji om" ucap Reynand seraya semakin mengeratkan genggaman tangan nya.


Reynand memandang kearah Nara dengan penuh cinta.


"Dan berjanji untuk menebus semua kesalahanku dengan memberikan seluruh hidupku untuk kamu" kata Reynand lagi.


Setitik air mata langsung jatuh diwajah Nara. Dia benar benar terharu dengan ungkapan Reynand dihadapan orang tua nya.


"Terimakasih om dan Tante karena sudah menghadirkan Nara didunia ini. Tenanglah kalian Disana, karena selama saya ada, saya pasti akan menjaga Nara dengan baik" ungkap Reynand lagi.


Semilir angin langsung berhembus dan menerpa tubuh mereka. Semilir angin yang cukup sejuk dan menenangkan. Seolah menjadi perantara ungkapan dan janji Reynand pada orang tua Nara.


Janji yang akan dia tepati untuk seumur hidupnya. Janji yang tidak akan pernah dia langgar. Karena sudah cukup banyak kesakitan Nara yang sudah dia torehkan dahulu.


Sekarang, tugas nya adalah menebus kesalahan itu dengan memberikan cinta untuk Nara setiap harinya.


Permohonan restu,


permintaan maaf,


dan juga doa.


Mereka hantarkan sore itu untuk orang yang terkasih. Orang yang sudah tidak ada tapi masih selalu mereka rindui setiap waktunya.

__ADS_1


__ADS_2