
Siapa yang menyangka jika hari ini Nara dan Reynand sudah akan pergi ke Jepang untuk berbulan madu. Ya, meskipun mereka menjalin hubungan sudah cukup lama, dan sepertinya kata berbulan madu juga sudah tidak lagi pantas untuk menemani perjalanan mereka kali ini. Tapi untuk Reynand, dia akan mengembalikan setiap detik waktu yang telah terlewati dulu. Meski terlambat, tapi dia masih ingin menikmati masa masa bulan madu seperti pasangan pengantin baru lain nya.
Mengajak Nara berlibur dan mengabiskan waktu bersama. Melupakan segala kesibukkan yang selama ini menyita waktu, dan juga membahagiakan wanita yang paling dia cintai untuk menghabiskan waktu di Jepang dan Hanami (melihat bunga sakura yang sedang bermekaran). Mewujudkan semua impian sederhana Nara.
Dan saat ini, mereka sudah berada dibandara. Mereka pergi di antar oleh Arya dan Zelina, juga mama dan papa Reynand. Mereka semua ingin mengiringi kepergian anak anak mereka. Sekaligus ikut berbahagia untuk Nara dan Reynand.
"Jaga kesehatan disana ya nak. Ingat jangan terlalu kelelahan dan jangan lupa meminum obat kalian" ujar mama saat Nara memeluk nya.
"Iya ma. Reynand tidak pernah lupa untuk itu" jawab Nara.
"Ya, bagaimana mau lupa, jika itu adalah umur untuk kami" sahut Reynand.
Tuan Abas menepuk pundak Reynand sekilas dan tersenyum lembut pada putra kebanggaan nya ini.
"Kalian akan selalu panjang umur nak. Berbahagialah disana, jangan memikirkan apapun tentang perusahaan dan pekerjaan mu disini. Nikmati waktu kalian" ujar tuan Abas pula.
"Tentu pa. Dua minggu jangan ganggu kami" sahut Reynand.
"Kau juga" kini Reynand langsung beralih pada Arya yang hanya bisa mengangguk pasrah.
"Ya tuan... aman. Saya tidak akan mengganggu kalian. Ya, hanya terkadang saja jika membutuhkan bantuan Nara" jawab Arya dengan senyum simpul nya.
"Enak saja kau, dua minggu Nara tidak boleh sibuk. Waktu nya hanya untuk ku. Kau ini curang sekali, sudah diserahkan perusahaan tapi masih tetap saja tidak bisa menguruskan nya dengan baik" gerutu Reynand.
"Kenapa jadi cerewet sekali sih sekarang kak" sahut Zelina.
Reynand mendengus sedangkan yang lain tertawa melihatnya. Semenjak menikah Reynand memang lebih banyak berbicara, dari pada dulu yang jarang sekali seperti ini, bahkan untuk tersenyum pun sangat susah.
"Bukan tidak bisa mengurus tuan, hanya saja jika tidak menganggu tidak enak" jawab Arya dengan tawa yang menjengkelkan.
Reynand langsung berdecih kesal mendengar nya.
"Sudah lah, kalian sudah berpamitan dengan eyang putri kan?" tanya mama
"Sudah ma, semalam kami sudah kesana. Bima juga sudah mulai pulih, jadi eyang sudah bisa pulang kerumah Naina" jawab Nara.
"Yasudah kalau begitu, ingat pesan mama. hati hati" ujar mama lagi, seraya kembali memeluk Nara kembali, bergantian juga dengan Reynand.
"Kak Nara nanti pulang bawa oleh oleh yang banyak untuk Ze ya" pinta Zelina saat tiba giliran Zelina yang memeluk nya.
"Tentu" jawab Nara seaya mengusap wajah cantik adik ipar nya ini.
"Hei Nara.." bisik Arya yang kini mendekat kearah Nara. Membuat mata Reynand langsung memicing melihat mereka.
"Apa ?" tanya Nara yang memandang Arya dengan bingung.
__ADS_1
Arya membisikkan sesuatu ditelinga Nara, dan ketika mendengar itu mata Nara langsung melebar memandang Arya.
"Untuk apa itu?" tanya Nara, membuat semua orang semakin heran dan penasaran, apa yang dibisikkan oleh Arya pada Nara?
"Ck, jangan banyak tanya. Lakukan saja. Aku hanya minta itu" jawab Arya lagi.
"Hei... apa yang kau minta ha. Kenapa tidak minta padaku?" tanya Reynand.
Arya mendengus
"Anda pelit tuan, jadi lebih baik saya meminta pada Nara saja" jawab Arya
"Pelit dari mana, bahkan aku tidak pernah me....."
"Hei, sudahlah, kalian ini jika bertemu selalu saja ribut. Kalian sudah harus pergi sekarang" sahut tuan Abas. Heran sekali dia melihat Reynand dan Arya, setiap bertemu pasti selalu saja ada yang di ributkan. Bagaimana jadi nya jika mereka sudah menjadi ipar nanti.
Astaga ... tidak bisa di bayangkan.
Reynand melengos, sedangkan Nara dan mama saling pandang canggung. Arya memang selalu bisa membuat orang kesal, dan Reynand yang dengan bodohnya selalu saja termakan kata katanya.
"Kalau begitu kami pamit dulu ma , pa" ucap Nara.
"Ya, berhati hati lah dan jaga kesehatan kalian" jawab mama dan papa.
"Pesanan ku juga" sahut Arya pula.
Nara tersenyum dan mengangguk.
Dan waktunya mereka berpisah disini. Dengan lambaian tangan yang mengantarkan mereka pergi menuju ke tempat yang paling indah.
....
Sementara dirumah sakit....
Gendis masih menyuapi Bima makan siang. Keadaan Bima sudah mulai pulih, dan dia juga sudah bisa makan dengan baik sekarang.
Saat ini mereka hanya berdua disini, eyang putri sedang kerumah Naina untuk beristirahat disana. Berada lebih seminggu dirumah sakit membuat kesehatan nya juga menurun. Jadi dia memutuskan untuk bermalam dirumah Naina dari semalam.
"Hari ini nona Nara dan tuan Reynand pergi ke Jepang kan" ucap Gendis seraya memberikan Bima air putih.
"Tidak tahu" jawab Bima.
"Semalam sewaktu dia berpamitan pada eyang, aku mendengar nya" kata Gendis lagi.
"Mereka menunda keberangkatan karena harus membantu ayah menangkap David. Tuan Reynand juga yang sudah membuat agensi David tutup sekarang" ungkap Gendis.
__ADS_1
Bima sedikit terkejut mendengar itu. Pasal nya dia memang belum tahu tentang agensi David.
"Benarkah?" tanya Bima dan Gendis langsung mengangguk.
"Tuan Reynand sejak dulu memang tidak bisa di anggap remeh. Dia memang suka sekali menghancurkan usaha orang dalam sekejap mata jika tidak suka" jawab Bima.
Gendis mengangguk dan menyerahkan obat Bima.
"Kamu tidak sedih mendengar itu?" tanya Bima
"Sedih kenapa?" tanya Gendis dengan heran.
"Sedih dengan nasib David, bagaimana pun dia adalah orang yang pernah dekat dengan kamu kan" jawab Bima.
Gendis tersenyum dan menggeleng.
"Dia memang orang yang pernah dekat dengan ku, tapi dengan apa yang sudah dia perbuat, aku sudah tidak lagi menyimpan rasa iba sedikitpun" ucap Gendis.
"Benarkah?" tanya Bima
"Kamu tidak percaya?" tanya Gendis pula.
"Aku hanya tidak ingin kamu menangis lagi untuk dia" jawab Bima.
Gendis tersenyum dan menggeleng.
"Justru sekarang kamu yang membuat ku menangis" sahut Gendis.
"Kenapa aku?" tanya Bima
"Aku tidak suka melihat mu tertidur begitu lama seperti kemarin" jawab Gendis.
Dan mendengar itu, Bima langsung mendengus senyum.
"Jika aku tidak tertidur lama, mungkin aku tidak akan mendengar ungkapan hati kamu dan juga tidak bisa melihat wajah cemburu kamu" goda Bima.
Gendis langsung memalingkan wajahnya yang merona mendengar itu.
"Setelah aku sembuh akan melamar kamu" ucap Bima.
Gendis kembali memandang Bima
"Aku ingin lamaran yang romantis" pinta Gendis.
"Tentu saja, aku akan menyiapkan semua nya untuk gadis cantik yang begitu cengeng ini" jawab Bima seraya menarik hidung Gendis dengan gemas.
__ADS_1