Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Semua Sudah Mulai Kembali


__ADS_3

"Rasa sakit itu masih membekas hingga saat ini Rey. Aku berhasil merebut semua yang ayahmu miliki. Hartanya, kekuasaan nya, bahkan istrinya . Tentu saja aku bahagia. Aku bisa merasakan memiliki wanita yang aku cintai. Tapi sialnya, bayang bayang ketidak adilan itu selalu menghantui hidupku. Membuat aku tidak bisa untuk merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia sudah menghancurkan mentalku begitu dalam"


...


Ungkapan tuan Agas sebelum dia dibawa oleh polisi tadi selalu terngiang ditelinga Reynand. Apa semua yang diucapkan nya adalah benar?? Apa dia tidak sedang berbohong??


Perlakuan yang berbeda antara dia dan ayah Reynand membuat dendam tersendiri dihatinya, ditambah dengan wanita yang paman nya cintai adalah ibu Reynand. Ini seperti kisah cinta yang begitu rumit. Apa karena itu yang membuat paman nya tega menyiksa istrinya sendiri dan bahkan tidak ingin memiliki anak dari wanita lain???


Entahlah, Reynand benar benar bingung setelah mengetahui apa alasan yang membuat paman nya bisa bertindak keji seperti ini.


Tapi tetap saja, mau bagaimanapun alasan nya, kejahatan yang sudah dia lakukan harus ada balasan nya. Reynand tidak bisa memaafkan nya begitu saja atas semua yang telah dia lakukan. Kisah masa lalu mereka yang kelam itu adalah urusan mereka, biar ayah Reynand yang menyelesaikan perkara ini. Reynand dan Zelina tidak ada sangkut pautnya dengan kisah mereka. Dan tentu Reynand tidak terima dengan perlakuan yang dia dapatkan selama ini.


"Rey..." suara Nara membuat Reynand sedikit terkesiap. Dia langsung menoleh pada Nara yang duduk disamping nya. Saat ini mereka sudah berada diperjalanan menuju kota. Hari sudah lewat dini hari bahkan hampir pagi. Bimantara yang sedang fokus pada kemudi nya hanya bisa melirik pada Nara dan Reynand sesekali.


Ya, Reynand dan Nara mengikuti mobil polisi yang membawa tuan Agas kekantor kepolisian. Sedangkan Arya membawa Zelinda dan juga Guntur untuk menuju kerumah sakit bersama anggota kepolisian yang lain. Mereka akan berpisah dikota nanti.


"Apa ada hal yang masih mengganjal?" tanya Nara. Dia sama sekali tidak diperbolehkan oleh Bimantara untuk turun dari mobil tadi. Jadi Nara tidak tahu apa yang sudah terjadi.


"Banyak hal Nara. Nanti akan aku ceritakan ketika dirumah" jawab Reynand.


"Disini juga aku tidak akan ikut campur" sahut Bima dari depan.


Reynand memandang nya dengan kesal.


"Berisik kau" seru Reynand. Jika bukan karena Bimantara yang memberi tahu tentang adiknya diculik dan juga sudah berbaik hati membantu membawa polisi mungkin Reynand tidak akan mau satu mobil dengan lelaki ini.


"Kamu tidak tahu betapa kejam nya tuan angkuh ini tadi Nara. Bisa bisa nya dia begitu tega menghajar ayahnya sendiri. Aku benar benar tidak habis fikir" ucap Bimantara dari depan. Dia tidak tahu saja jika yang dia lihat bukanlah tuan Abas, melainkan tuan Agas.


"Kamu menghajarnya Rey?" tanya Nara tidak percaya.


"Bahkan ingin aku bunuh jika polisi itu tidak mencoba menghalangi" jawab Reynand seraya memandang datar pada Bimantara yang selalu saja melirik pada Nara


"Dasar anak durhaka" gumam Bimantara.


Buk


Reynand menendang kursi Bimantara dengan kuat


"Aku masih ingin menghajar orang sekarang, jangan sampai kau yang aku cincang ya" ucap Reynand begitu kesal.

__ADS_1


Namun Bimantara malah tertawa melihat wajah kesal Reynand.


"Yakin masih ingin menghajar orang. Bahkan untuk berjalan saja anda sudah kepayahan" ledek Bimantara.


"Kau memang benar benar..." geram Reynand.


"Sudahlah, kalian ini kenapa selalu bertengkar. Astaga, seperti anak anak saja" gerutu Nara memandang Bimantara dan Reynand bergantian. Berada diantara kedua orang ini benar benar membuat Nara selalu pusing. Lebih baik tadi dia bersama Arya dan Zelina saja. Biarkan mereka berdua disini bergelut dan saling hajar. Menyebalkan sekali memang.


Reynand mendengus kesal memandang Bimantara, namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum tipis.


"Nara, tangan ku terluka" Reynand berkata dengan begitu lembut seraya menjulurkan tangan nya pada Nara.


Nara melirik nya dengan malas, namun memang luka ditelapak tangan Reynand masih nampak mengeluarkan darah.


"Kamu bermain pisau?" tanya Nara seraya mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya.


"Hmmm... ini perih sekali" ucap Reynand seraya memandang sinis pada Bimantara yang tampak memandang nya begitu jengkel. Sedangkan Nara masih melilitkan sapu tangan itu ditangan Reynand.


"Modus sekali, padahal dari tadi tidak ada seperti itu. Menjijikkan" gumam Bimantara begitu jengah


"Kau yang membuatnya bertambah perih, bahkan kaki ku juga sakit karena kau" sergah Reynand.


Reynand langsung tersenyum dan menggeleng dengan cepat seraya merebahkan kepala nya dibahu Nara.


"Jangan marah, aku akan diam. Dan biarkan aku tertidur sebentar" ucap Reynand


"Kamu baik baik saja bukan?" tanya Nara memandang wajah Reynand yang memang pucat. Apalagi dia memang baru keluar dari rumah sakit pagi tadi. Bekas trauma semalam masih ada, dan sekarang harus mengalami nya lagi. Tentu itu pasti masih berdampak.


"Aku baik baik saja, hanya sedikit pusing" jawab Reynand, matanya memejam dengan tangan yang melingkar ditubuh Nara. Entah sengaja atau bagaimana. Tapi ini memang bisa membuatnya lebih nyaman. Tubuhnya benar benar lelah dan sakit semua.


Nara tidak tahu harus bagaimana, dia memandang Bimantara dengan getir. Lelaki itu pasti kesal sekali sekarang. Tapi.... Reynand juga nampak lemah. Ya ampun, sungguh tidak enak berada diantara mereka berdua.


Ya, apa mau dikata, Bimantara hanya bisa menghela nafas pasrah. Memaksakan kehendak memang bukan hal yang baik. Sudah berbulan bulan dia mencoba merebut hati Nara, namun tidak juga berhasil. Bahkan disaat Nara sedang membenci Reynand pun, dia juga tidak bisa merebut hatinya. Apalagi sekarang, mungkin dia dan Nara memang hanya ditakdirkan untuk bertemu, bukan bersatu.


....


Hari sudah pagi saat mereka sudah tiba dikota.


Mobil yang membawa Arya dan Guntur langsung menuju rumah sakit. Sedangkan Bimantara langsung membawa Nara dan Reynand menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan tentang tuan Agas dan orang orangnya.

__ADS_1


Saat ini Arya baru saja selesai memeriksakan tangan nya yang terluka akibat pecahan kaca tadi. Cukup dalam luka lukanya, apalagi kaca itu begitu tebal. Karena umur yang sudah tua, membuat kaca itu sudah lapuk dan mudah untuk dipecahkan, tapi tetap saja, tangan nya juga menjadi korban.


Saat ini dia duduk diranjang rumah sakit bersama Zelina. Zelina sedang mengikat rambut Arya yang berantakan. Bahkan tubuh mereka yang basah sudah mengering dengan sendirinya.


"Pasti tangan kak Arya sakit kan, mana harus dijahit" ucap Zelina yang masih mengikat rambut gondrong Arya dengan ikat rambutnya.


"Enggak apa apa, yang penting kita bisa selamat" jawab Arya seraya memandangi tangan nya yang diperban.


"Terimakasih ya udah mau nolongi aku. Kalau gak ada kakak, gak tahu deh gimana jadinya nasib aku tadi" ucap Zelina dengan begitu lirih. Dia masih tidak menyangka jika akan mengalami kejadian yang begitu mengerihkan seperti ini.


Arya langusng menurunkan kaki nya dan menghadap ke Zelina saat gadis itu sudah selesai mengikat rambutnya.


"Jangan takut lagi, semua udah selesai. Aku gak akan biarin kamu kenapa kenapa. Kan aku udah janji buat jagain nona kecil ini" ucap Arya seraya mencubit gemas hidung Zelina yang tiba tiba merona.


Zelina mengangguk dan tertunduk sedih.


"Aku masih gak nyangka papa bakalan setega ini sama kami" gumam Zelina.


Arya terdiam mendengar itu, dia baru ingat jika Zelina belum mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Kasihan sekali mereka. Mereka menjadi korban dari kisah rumit orang tuanya.


"Ze... sebenarnya dia bukan papa kamu" ucap Arya pelan pelan.


Zelina mengernyit bingung.


"Bukan papa?" gumam nya


Arya langsung mengangguk dengan pelan. Dia langsung menceritakan tentang semua yang dia ketahui dan dia cari bersama Reynand dan Nara kemarin. Tentang ayahnya yang disekap dibekas rumah paman nya. Semua nya Arya ceritakan agar Zelina tidak lagi salah paham dan menganggap ayahnya berkhianat.


"Jadi yang selama ini bersama kami bukan papa, melainkan paman Agas???" tanya Zelina lagi. Wajahnya benar benar syok dan terkejut.


"Ya, papa kamu sekarang ada dirumah sakit didekat rumah kakek kamu dulu" ungkap Arya.


"Astaga... pantas saja. Kenapa paman begitu tega. Bertahun tahun dia buat kami menderita. Bahkan aku sempat membenci papa karena ini. Tapi nyatanya dia malah hampir mati karena ulah paman" ucap Zelina yang mulai menangis sedih. Dia berfikir pamannya telah meninggal dalam tragedi dipenjara waktu itu. Tapi nyatanya itu hanya alibi untuk menutupi semua kejahatannya. Benar benar keterlaluan.


"Tenanglah, semua sudah selesai. Sekarang kakak kamu sudah menangkapnya, dan semua yang kalian miliki sudah kembali" ucap Arya seraya menarik Zelina kedalam pelukan nya. Membiarkan Zelina menangis sedih disana.


"Aku rindu papa..." isak Zelina begitu sedih.


Hampir satu tahun dia menjalani kehidupan yang begitu keras. Kerja membanting tulang demi untuk ibu dan kakak nya. Belajar menjadi dewasa disaat dia ingin bersenang senang itu sangat tidak enak. Melihat ibunya yang selalu bersedih, melihat kakak nya yang terpuruk, membuat Zelina benar benar ditempah untuk menjadi kuat. Dia berfikir jika semua karena ayahnya yang begitu tega, namun kenyataan nya ini semua adalah karena ulah paman nya yang kejam dan membuat mereka semua menderita. Zelina benar benar tidak habis fikir.

__ADS_1


__ADS_2