
Reynand keluar kamar dengan sedikit tergesa. Wajah nya begitu kusut, bahkan bulu bulu halus sudah menumbuhi rahang nya yang mengurus. Tampak sekali jika lelaki angkuh itu sudah jatuh terpuruk dengan beban yang begitu berat.
"Kakak mau kemana?" tanya Zelina saat Reynand sudah tiba didepan pintu
Reynand menoleh kearah nya, memandang Zelina yang juga berwajah sendu. Gadis itu tampak nya baru pulang dari membeli sesuatu diluar
"Aku akan keluar sebentar. Kamu jaga mama dirumah" pinta Reynand
"Kakak mau menemui papa lagi?" tanya Zelina terlihat khawatir. Karena setiap kali pulang kerumah setelah berniat untuk menemui papa mereka, Reynand pasti pulang dalam keadaan terluka. Sungguh Zelina tidak ingin melihat Reynand selalu terluka hanya karena ulah papa nya itu
"Tidak" jawab Reynand
"Lalu mau kemana, jangan lagi kesana kak. Ze tidak ingin melihat kakak terluka. Mama sudah sakit, kalau kakak juga sakit, bagaimana dengan Ze?" ungkap Zelina dengan mata yang berkaca kaca menahan isak tangis nya. Kehidupan nya yang sekarang benar benar berubah drastis. Dulu dia adalah anak manja yang dipenuhi oleh kasih sayang dan kemewahan, namun sekarang, hidupnya bagai dineraka. Keluarga nya hancur tanpa dia tahu apa yang sebenar nya terjadi.
Reynand menghela nafasnya sejenak, dia mengusap kepala Zelina sekilas
"Aku pasti baik baik saja, jangan khawatir" ucap Reynand
Zelina tertunduk dengan air mata yang sudah menetes dari matanya
"Bagaimana Ze tidak khawatir, Ze sedih kita jadi seperti ini. Semua nya terasa begitu berat. Papa begitu tega mengusir kita, padahal dulu papa sangat menyayangi kita" kata Zelina yang mulai terisak
Reynand memejamkan matanya sejenak dan kembali memandang adik perempuan nya. Jika bertanya padanya, Reynand juga tidak tahu harus menjawab apa. Tuan Abas memang begitu berubah semenjak meninggal nya tuan Bagasyaksa. Dan Reynand juga tidak tahu apa penyebab nya.
"Dia bukan papa kita lagi Ze. Papa sudah mati, dan dia hanya seorang pengkhianat yang dengan tega membuang kita. Maafkan aku, tapi aku berjanji untuk membuat kalian hidup layak meski tanpa dia lagi" ucap Reynand
Zelina mendongak dan memandang Reynand dengan sendu. Dia mengusap air matanya dengan kasar dan menggeleng pelan
"Kak, jika karena harta yang membuat kita hancur seperti ini. Ze tidak apa apa kita hidup susah. Ze cuma ingin kakak tidak pergi meninggalkan Ze dengan mama. Ze takut..........." pinta Zelina yang langsung menangis terisak kembali.
Dan sungguh Reynand benar benar tidak tega melihat itu. Dia langsung menarik Zelina kedalam pelukan nya. Memejamkan matanya dengan erat. Karena sungguh, tangisan Zelina dan keadaan mama nya benar benar menambah beban dihati.
"Aku tidak akan meninggalkan kalian" ucap Reynand
"Kakak janji" pinta Zelina
"Aku janji" jawab Reynand lagi. Dia melepaskan pelukan nya dan memandang Zelina yang masih menangis
"Sekarang aku harus pergi. Jaga mama dengan baik" pinta Reynand, dan Zelina langsung mengangguk seraya mengusap air matanya.
Reynand memandang Zelina sekilas dan langsung berlalu keluar rumah untuk pergi kesuatu tempat. Hari ini dia harus kembali mencari Nara. Bagaimana pun caranya dia harus bisa menemukan gadis itu. Gadis yang masih menjadi istrinya. Dia ingin meminta ampun dan memulai semua nya dari awal, dia tidak ingin beban dihatinya tidak akan pernah hilang sebelum dia menemui Nara.
__ADS_1
Reynand memacu mobilnya menuju perusahaan Polie. Perusahaan yang sudah tidak aktif lagi sejak beberapa hari terakhir. Perusahaan yang sudah seperti gedung mati, hanya ada beberapa penjaga dan security yang masih berada disana. Tidak ada lagi hiruk pikuk pekerja yang memenuhi gedung megah itu. Semuanya sudah tidak lagi berpenghuni. Dan melihat itu hati Reynand bertambah sakit. Dia sudah meminta Guntur untuk mengembalikan kerugian perusahaan Polie, tapi nyatanya, lelaki tua itu malah berpihak pada ayahnya, dan sekarang, apa yang menjadi keinginan nya dulu telah terkabul. Perusahaan Nara hancur dan tidak lagi berkembang. Dan karena perusahaan Nara yang sudah vakum inilah yang membuat nya menjadi kesulitan untuk mencari jejak keberadaan Nara
Reynand turun dari mobil nya, memandang gedung megah itu dengan perasaan getir. Dia melangkah masuk menuju lobi gedung. Namun saat tiba dilobi dia kembali menoleh kearah luar saat sebuah mobil juga berhenti didepan lobi itu.
"Tuan Adiputra" sapa seorang lelaki paruh paya
Reynand mengernyit memandang siapa orang itu
"Beberapa hari ini saya sudah mencari tuan, tapi tidak juga saya temui, bahkan orang orang diperusahaan Adidaksa juga tidak tahu dimana keberadaan tuan" ungkap lelaki itu yang berjalan mendekat kearah Reynand
"Ada apa?" tanya Reynand dengan wajah datar nya
Lelaki paruh baya itu menghela nafas nya sejenak dan memperhatikan penampilan Reynand dengan bingung. Baru kali ini dia melihat Reynand berpakaian terlihat sangat santai, hanya dengan sebuah kemeja biru dan juga celana hitam, itu juga sedikit terlihat kusut. Sejak kapan tuan angkuh ini berubah seperti ini? Apa benar desas desus yang mengatakan jika dia telah didepak dari perusahaan Adidaksa karena telah memakan dana perusahaan begitu banyak???
"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, kebetulan kita bertemu disini" ucap lelaki paruh baya itu lagi
"Aku tidak punya waktu" jawab Reynand yang langsung membalikkan tubuh nya dan ingin berlalu masuk kedalam gedung. Dia ingin masuk kedalam ruang kerja Nara untuk mencari sesuatu tentang istrinya itu
"Tuan, ini penting" panggil lelaki paruh baya itu yang langsung mengejar langkah Reynand. Tangan nya membawa sebuah tas kerja. Namun Reynand terus saja berjalan tanpa ingin mendengarkan nya lagi
"Tuan...."
"Tuan ini tentang nona Anara dan perusahaan Polie" seru lelaki itu, dan tentu saja itu membuat langkah kaki Reynand langsung terhenti. Dia segera membalikkan tubuhnya dan memandang lelaki itu yang berjalan mendekat kearah nya
"Sebaiknya kita bicarakan didalam tuan" ajak lelaki itu yang langsung mendahului langkah kaki Reynand. Reynand memicingkan matanya. Dan mau tidak mau dia pun mengikuti langkah kaki itu. Dan yang membuat nya semakin bingung adalah, lelaki itu memegang kunci ruangan kerja Nara????
"Siapa kamu sebenar nya?" tanya Reynand saat mereka sudah berada didalam ruang kerja Nara. Mereka duduk saling berhadapan disofa yang ada diruangan itu.
"Saya Mahendra, pengacara nona Anara" jawab pengacara yang bernama Mahendra itu. Dia mengeluarkan beberapa surat dan dokumen dari dalam tas nya
"Pengacara Nara. Jadi apa kamu tahu dimana dia sekarang?" tanya Reynand begitu menggebu, namun dia langsung menghela nafasnya saat Mahendra malah menggelengkan kepala nya
"Saya tidak tahu tuan, terakhir kali saya bertemu dengan nya adalah saat dia mengalihkan perusahaan ini atas nama anda"
deg
Jantung Reynand seperti tersentak oleh sesuatu
"Mengalihkan perusahaan???? Atas namaku????" tanya Reynand tak percaya.
Mahendra mengangguk dan membuka sebuah map bertuliskan nama perusahaan Polie
__ADS_1
"Saat perusahaan diambang kehancuran hari itu, nona Nara sudah memutuskan untuk mengalihkan perusahaan atas nama anda. Dia memberikan perusahaan dan segala yang terkait dengan perusahaan Polie pada anda. Bahkan semua aset dan saham yang ada disini, meski sudah hancur, namun masih ada juga sedikit saham yang tersisa" ungkap Mahendra seraya menyerahkan map cokelat itu pada Reynand
Reynand mematung memandang berbagai tulisan dan surat pengalihan itu. Semua nya memang berkas asli bahkan tanda tangan diatas materai juga sudah tertera disana. Mata Reynand tidak berkedip memandang surat surat itu. Tulisan tulisan yang tertera didalam sana seolah ingin sekali menghajar kembali otak nya. Kenapa Nara malah memberikan perusahaan Polie padanya? Apa maksud Nara?
"Saya tidak mengerti apa alasan nona Anara memberikan perusahaan ini pada anda. Padahal saya tahu jika sejak dulu dia selalu mati matian berusaha untuk memajukan perusahaan ini, dan dia juga selalu berusaha untuk menjaga perusahaan ini agar tidak jatuh ketangan tuan Baskoro, ayah tirinya" ungkap Mahendra
"Baskoro" gumam Reynand dan Mahendra langsung mengangguk
"Perusahaan ini adalah perusahaan peninggalan keluarga ibu nona Nara. Sejak dulu anda pasti tahu, meski kecil tapi perusahaan ini cukup mampu bersaing didunia bisnis dan bersanding dengan perusahaan perusahaan lain. Tapi sekarang, saya juga tidak mengerti kenapa perusahaan bisa hancur seperti ini, karena setahu saya, nona Nara sudah bekerja keras untuk ini" ungkap Mahendra begitu menyesal
Reynand memejamkan matanya sejenak. Menghela nafasnya dengan berat, karena sungguh, dia adalah dalang dari kehancuran perusahaan Polie. Dan sekarang Nara malah memberikan perusahaan ini padanya. Kenapa Nara bisa berfikir seperti itu. Dia seolah memang ingin membuat hati Reynand merasa semakin bersalah
"Tuan, saya tidak tahu apa hubungan anda dengan nona Nara. Tapi yang jelas, nona Nara pasti mempunyai alasan tertentu untuk menyerahkan perusahaan yang menjadi sumber kehidupan nya ini pada anda" ujar Mahendra, namun Reynand malah menggeleng
"Tidak, aku tidak bisa menerima nya" jawab Reynand dengan suara yang terasa mencekat ditenggorokan. Bagaimana mungkin dia bisa menerima ini. Sudah cukup dia yang menghancurkan perusahaan ini, jangan lagi dia yang ingin menguasai nya. Tidak akan dia lakukan. Luka penyesalan nya bahkan semakin lebar karena ini.
"Tidak bisa tuan, nona Nara sudah menandatangani ini, dan hanya tinggal tanda tangan anda saja" kata Mahendra lagi. Namun Reynand tetap menggelengkan kepala nya
"Tidak, kamu bisa mengalihkan lagi atas nama nya" ujar Reynand
"Tapi tuan, saya bahkan tidak tahu dimana keberadaan nona Nara. Jika perusahaan ini lebih lama terbengkalai, saya begitu tidak rela jika perusahaan ini hanya tinggal nama saja" sahut Mahendra begitu iba
"Aku pasti akan membangun perusahaan ini lagi. Tapi untuk mengambil alih, aku tidak bisa. Kamu bisa mengatur nya" kata Reynand dengan yakin. Ya, dia yang menghancurkan, maka dia yang harus bertanggung jawab. Cukup sudah dia menghancurkan Nara, bahkan dia juga sudah menerima karma nya. Jika Adidaksa tidak lagi menginginkan nya, maka Reynand akan membangun perusahaan Polie untuk Nara.
"Anda yakin" tanya Mahendra sekali lagi dan Reynand langsung mengangguk yakin
"Ya" jawab Reynand
....
Sementara disuatu tempat....
Seorang gadis dengan wajah pucat nya duduk melamun disebuah gazebo dibelakang sebuah rumah besar. Dia memandang nanar taman yang menghijau didepan pelupuk matanya. Tidak ada sinar kehidupan disana. Yang ada hanya pandangan mata kosong dan nanar.
Sudah seminggu menghilang dari dunia nya, bersembunyi dari semua hiruk pikuk yang membuat dia merasa terhempas dan tidak berdaya. Bersembunyi dari kejam nya dunia yang seakan ingin membunuhnya. Namun sialnya, sampai detik ini dia masih tetap diberikan nafas oleh yang Maha Pemberi.
"Kamu benar benar tidak ingin memberitahukan nya Nara?" tanya Arya yang datang dengan sebuah cangkir unik ditangan nya. Dia meletakkan cangkir itu disebelah Nara
"Untuk apa memberitahukan nya, bukankah ini yang dia inginkan" gumam Nara dengan senyum tipis nya. Pandangan matanya benar benar tidak lagi menunjukkan ekspresi apapun. Hanya kosong dan hampa
"Setidaknya jika kamu meninggalkan nya, kamu sudah tahu status apa yang kamu miliki sekarang" kata Arya lagi
__ADS_1
"Aku sudah menyerah, dan itu berarti aku sudah tidak lagi mengharapkan apapun" jawab Nara