
Malam ini cuaca cukup cerah untuk menikmati waktu dan mengobrol ringan di taman belakang rumah eyang putri.
Banyak bintang yang bertaburan diatas langit begitu nampak indah menemani waktu waktu mereka.
Hari sudah mulai larut, namun belum ada satupun dari mereka yang mengantuk atau ingin beristirahat.
Duduk dilesehan dengan tikar yang dibentang. Memandangi api unggun yang berkobar untuk menghangatkan tubuh mereka.
Beberapa gelas kopi dan cemilan sudah mulai habis, namun mereka masih asik mengobrol dan berbagi kisah. Apalagi Nara dan Naina. Dua gadis yang seumuran itu nampak cocok. Bahkan sedari siang tadi mereka selalu melakukan apapun bersama sama.
"Kamu belum lelah?" tanya Reynand pada Nara. Mereka duduk bersebelahan seraya menikmati kacang dan kopi dengan caffeine rendah. Nara dan Reynand tidak boleh terlalu banyak minum kopi.
"Belum" jawab Nara.
"Kalian sedari tadi terlihat cocok" ucap Reyza pula.
Naina tertawa dan mengangguk.
"Nara sangat humble by. Jika tahu sejak dulu, mungkin di Jakarta dia bisa jadi teman Nai kan" ujar Naina
"Tentu saja sayang. Setelah ini kita akan sering mengunjungi mereka. Apalagi tuan Reynand sudah setuju untuk melakukan kerja sama dengan gemilang grup" jawab Reyza.
"Beneran?" tanya Naina. Dan Reyza langsung mengangguk dengan cepat.
"Rey.. jiwa bisnis mu memang sudah mendarah daging" ucap Nara memandang Reynand yang tersenyum dan mengangguk.
"Selagi ada kesempatan" jawab Reynand
"Bukan selagi ada kesempatan, melainkan mencari kesempatan didalam situasi yang tepat. Tuan Reynand saja, siapa yang tidak tahu" sahut Bima. Dia datang dengan sebotol anggur merah ditangan nya.
"Kau ini kenapa datang lagi, merusak suasana saja" gerutu Reynand.
"Ini rumah saya, anda lupa" sindir Bimantara.
Reynand hanya mendengus dan langsung bergeser lebih dekat kearah Nara.
Reyza dan Naina langsung tertawa memandang Reynand dan Bimantara. Sejak sore tadi kedua lelaki ini nampak sekali saling perang dingin. Rasa cemburu kedua nya memang sama sama berkobar seperti api unggun yang sedang dibuat oleh Arya dan Sean disana.
"Bim... kamu gak sopan tahu" ucap Nara seraya menepuk pundak Bima yang duduk disebelah nya.
"Udah sopan sekali aku kak. Untung saja enggak mengajak gelut" jawab Bima.
"Tampang mu saja sudah tidak meyakinkan, bagaimana bisa mengajak gelut" dengus Reynand.
"Rey... sudah lah" Nara memandang jengah kedua orang ini. Tidak bisa tenang sedikit saja. Ada saja yang diributkan. Nara benar benar pusing dan tidak enak dengan Naina dan Reyza.
"Rekan bisnis kamu ini benar benar mencari masalah" gerutu Reynand.
"Bim, seperti nya kamu kurang vitamin. Mau aku Carikan?" ledek Reyza.
"Mas dari dulu mau Carikan vitamin. Tapi sampai sekarang aku tetap saja jomblo. Malah menyukai istri orang" jawab Bima terlihat kesal.
Reyza dan Naina langsung tertawa mendengar itu.
"Kamu jujur banget sih Bim. Ya ampun" gumam Naina
"Dia memang seperti itu. Ingin merebut secara terang terangan. Memang kurang akal" sahut Reynand. Seperti nya tuang angkuh ini selalu tidak bisa menahan emosinya jika sudah bertemu dengan Bimantara.
"Enak saja mengatai saya kurang akal. Apa anda tidak sad....."
emmppphh
Mulut Bima langsung disumpal roti oleh Naina.
"Berisik.... mending kamu makan" ujar Naina.
Bimantara langsung mendengus dan mengunyah rotinya penuh nafsu.
"Pusing aku kalau mereka sudah berjumpa" gumam Nara.
Naina dan Reyza kembali tertawa.
"Itu karena kamu terlalu cantik Ra, pintar pula. Bagaimana tidak jadi rebutan" sahut Naina.
"Kamu berlebihan, mereka saja yang aneh tidak bisa memilih" jawab Nara.
"Kenapa malah mengataiku sayang. Rekan bisnis kamu itu yang aneh. Sudah tahu milik orang malah masih nekad" ucap Reynand.
Bimantara kembali mendengus dan meminum anggur nya.
"Sama saja" sahut Nara.
"Bim... kamu kalau tahu eyang putri bisa dihajar tahu" ucap Naina saat melihat Bima meminum anggur nya.
"Enggak, udah ijin kok. Maka nya bawa sebotol" jawab Bima
"Aku mau sedikit" pinta Reyza seraya menyerahkan gelas kosong nya.
"Heii.... kami juga mau" teriak Sean yang masih duduk bersama Arya di dekat api unggun.
__ADS_1
Lolita dan anak nya sudah masuk kedalam rumah, begitu pula dengan Abimanyu.
"Kemari!!" seru Bima
Sean dan Arya langsung beranjak dan mendekati mereka.
"Awas mabuk by" ujar Naina.
"Sedikit aja sayang. Lagian ini anggur merah" jawab Reyza.
"Waaahh ada anggur merah, siap mabuk ini" seru Arya begitu girang
"Selagi si Loli tidur, kayak nya minum ini dulu biar hangat" sahut Sean pula.
Mereka langsung menyodorkan gelas masing masing pada Bima yang dengan sigap mengisi nya.
"Jangan banyak banyak, kamu mau si Loli ngamuk" ujar Naina
"Siap Kakak ipar, sedikit doang" jawab Sean
"Tuan Rey, gak mau coba. alim bener" ucap Arya pada Reynand yang hanya diam dan memperhatikan mereka.
Dia ingin, tapi dia tidak bisa.
"Tuan Reynand tidak minum?" tawar Reyza pula
"Dia tidak minum tuan" Nara yang langsung menyahuti Reyza.
"Waaahh apa itu modus untuk mempertahankan cinta" goda Bima
Reynand hanya mendengus dan menjulurkan kaki nya yang terasa pegal.
"Itu baru lelaki yang baik, enggak suka minum minum. Lihat kalian, suka nya malah mabuk" gerutu Naina
Reyza langsung tertawa dan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Seteguk aja kok. Ini udah enggak lagi. Jangan marah" rayu Reyza
Naina hanya mendengus, membuat Nara dan Reynand langsung tersenyum melihat mereka. Pasangan yang begitu serasi, bahkan nampak sekali cinta dan kekaguman Dimata mereka masing masing.
"Kamu mau itu?" tanya Nara, namun terdengar berbisik
Reynand tersenyum dan menggeleng.
"Aku mau sehat, supaya bisa hidup lebih lama bersama kamu" jawab Reynand dengan senyum nya yang memandang Nara.
Nara mendengus senyum dan mengangguk. Ya, mereka sudah sama sama tidak sehat. Dan mereka memang harus bisa menjaga tubuh mereka dengan baik sekarang. Tidak bisa makan sembarangan, apalagi dengan minuman beralkohol seperti ini.
"Anggur merah..... yang selalu memabukkan diri kuanggap. Belum seberapa... dahsyat nya" ucap Arya tiba tiba, bahkan dia seperti menadakan ucapan itu.
"Bila dibandingkan dengan senyuman mu, yang membuat aku...."
"Jatuh cinta" tambah nya lagi, dan kali ini dia mengucapkan itu bersama sama dengan Sean seraya wajah menyebalkan mereka yang memandang licik ke arah Bimantara.
Reyza langsung terbahak melihat dua orang asisten ini. Sepertinya mereka memang cocok berdua. Sama sama menjengkelkan dan suka menggoda orang.
"Berisik kalian" sahut Bimantara dengan wajah kesalnya.
"Supaya malam ini tidak terasa mengantuk tuan. Anda terlihat sensi sekali sejak tadi" ucap Arya
"Lagi pms mungkin" sahut Sean pula
Bimantara hanya mendengus dan kembali meneguk anggur nya. Entah sudah berapa banyak dia minum. Rasanya benar benar nikmat.
Mereka benar benar menikmati malam bersama sama. Bahkan hari sampai begitu larut barulah mereka membubarkan diri masing masing.
Hanya Reynand saja yang terlihat waras malam itu , karena dia memang tidak ikut minum. Sedangkan yang lain sudah mulai mabuk. Bahkan Naina sudah menarik Reyza untuk masuk kedalam rumah.
Sean membawa Bimantara yang sudah mabuk dan hampir oleng. Sedangkan Arya sudah masuk kedalam rumah karena omelan Nara. Jika tidak dihentikan, maka besok pagi, mereka tidak akan bisa pulang.
"Tidurlah, besok pagi kita pulang kan" tanya Reynand.
Mereka juga sudah masuk kedalam rumah menuju kamar mereka masing masing.
Nara tersenyum dan mengangguk.
"Iya, perusahaan tidak bisa ditinggal terlalu lama" jawab Nara.
Reynand mengusap kepala Nara dengan lembut. Usapan yang selalu membuat Nara begitu nyaman.
"Jangan terlalu difikirkan. Meskipun kamu tidak ada, perusahaan pasti akan berjalan dengan baik" ujar Reynand.
"Aku tahu, kamu bisa menghandle semua nya" sahut Nara.
"Aku hanya tidak ingin kamu lelah dan membuat mu sakit lagi" kata Reynand
"Aku tidak akan sakit, bukan kah kamu selalu bisa menjadi obat untuk ku" ungkap Nara.
"Kamu sudah bisa berkata manis sayang" ucap Reynand seraya tersenyum dan kembali mengusap wajah Nara.
__ADS_1
Nara meraih tangan Reynand dan menurunkan nya, dia tidak enak jika ada yang melihat.
"Aku belajar dari kamu Rey" Jawab Nara.
"Aku sungguh tidak sabar ingin memiliki kamu lagi" bisik Reynand.
Nara tersenyum dan mengangguk.
"Sebentar lagi" balas Nara.
"Aku masuk dulu ya" pamit Nara
Reynand mengangguk
"Ya, selamat berisitirahat sayang. Aku mencintaimu" bisik Reynand.
"Aku tahu" jawab Nara.
Nara tersenyum memandang Reynand, dan setelah itu, dia langsung masuk kedalam kamar nya. Meninggalkan Reynand yang masih memandangi punggung Nara dengan senyum penuh harap nya.
Berharap, agar waktu cepat berlalu dan mereka bisa bersatu kembali.
"Nara..." panggil Reynand lagi. Dan Nara yang baru masuk kembang pintu kembali menoleh.
"Ada yang teringgal" ucap Reynand.
Nara mengernyit bingung, apalagi saat Reynand mendekat kearah nya.
"Apa yang tertinggal?" tanya Nara.
cup
Mata Nara langsung melebar sempurna saat tiba tiba Reynand mengecup bibir Nara dengan cepat.
"Vitamin malam yang teringgal" ucap Reynand seraya terkekeh melihat wajah terkejut Nara , apalagi wajah itu yang langsung merona merah.
"Rey... kamu ini" Nara menampar sekilas pundak Reynand yang semakin terbahak.
Tanpa mereka sadari seseorang sejak tadi memandangi mereka dengan sendu dibalik dinding.
Hari sudah lewat tengah malam. Dan karena rasa pusing dikepala nya karena mabuk, Bima ingin mengambil air putih dan juga obat. Namun saat melihat Nara dan Reynand, entah kenapa kaki nya malah mengikuti mereka berdua. Dan akhirnya, kini dia malah melihat hal yang menyakitkan hati.
Bimantara tersenyum getir. Kepala nya semakin berdenyut, seirama dengan hatinya yang terluka. Sudah bertahun tahun menyimpan perasaan pada Nara, tapi kenyataan nya tidak semudah itu. Dia benar benar belum bisa melupakan Anara. Wanita cantik yang telah merebut seluruh hatinya.
"Nara... sakit sekali" gumam Bimantara seraya berjalan dengan terhuyung menuju keluar rumah.
Dia tidak bisa berada disini terus. Dia butuh udara segar yang bisa menjernihkan kepala dan otak nya.
Ini benar benar membuat kepalanya semakin ingin pecah.
Bimantara berjalan menuju parkiran mobil. Dia ingin pergi menenangkan diri. Rasanya benar benar sakit.
Dia berkata dia bisa merelakan, namun nyatanya semua tidak semudah itu.
Cinta nya cukup dalam, dan bukan sesederhana yang dibayangkan. Dia bisa tertawa dan tersenyum, namun hatinya benar benar terluka.
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi didaerah terpencil itu. Hari sudah mulai dini hari, semua rumah dan jalanan sudah begitu sepi dan lengang.
Membuat Bimantara yang memang sudah mabuk semakin kalap dan tidak terkendali.
...
Keesokan pagi nya...
Saat ini semua orang sudah bangun dari tidur lelap mereka. Wajah mereka sudah nampak segar. Dan saat ini mereka juga baru saja menyelesaikan sarapan mereka diruang makan rumah tua eyang putri.
Malam yang indah telah terlewati. Dan pagi ini mereka semua sudah berniat untuk pulang kembali ke Jakarta. Perusahaan mereka masing masing tidak bisa ditinggal terlalu lama. Apalagi untuk Reynand dan Reyza. Sebagai pemimpin, mereka tentunya tidak bisa bersantai seperti yang lain.
"Ini si Bima kok gak ada eyang. Apa belum bangun?" tanya Loli pada eyang putri.
"Entahlah, gak biasanya" jawab eyang putri. Sebenarnya sejak tadi perasaan nya benar benar tidak enak.
"Malam tadi dia mabuk parah, mungkin belum bangun" sahut Arya.
"Biar saja eyang. Sesekali. Dia juga belum mau kembali ke Jakarta bukan" kata Reyza pula.
Naina yang sedang membereskan makanan Abimanyu hanya melirik saja.
Sedangkan Nara dan Reynand hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Reynand bersyukur jika tidak ada Bimantara, dan Nara tidak ingin membahas lelaki itu, karena pasti akan menimbulkan keributan lagi.
Namun tiba tiba, seorang pelayan datang dengan tergopoh gopoh.
"Eyang putri.. maaf. Didepan ada polisi" ucap pelayan itu
"Polisi?" tanya Reyza
Dan pelayan itu langsung mengangguk
"Tuan Bima sekarang dirumah sakit, malam tadi dia kecelakaan dan menabrak seseorang" jawab pelayan itu.
__ADS_1
"Apa.....
Semua orang langsung telonjak kaget mendengar kabar buruk itu.