
Hari ini Nara berada disalah satu butik yang terkenal di kota Jakarta. Butiknya cukup besar dan tentunya pasti dimiliki oleh seorang desainer yang juga terkenal. Nara baru saja selesai merancang sebuah gaun pengantin yang akan dipakainya nanti bersama desainer itu. Gaun pengantin yang menjadi impian nya sejak dulu.
Nara bahkan tidak menyangka jika dia bisa ada difase ini sekarang. Memesan gaun pengantin dan menentukan pilihan nya sendiri. Bahagia sekali rasanya.
Reynand belum bisa datang menemui nya karena masih ada meeting pagi ini. Mungkin sebentar lagi dia akan menyusul. Dan sekarang Nara hanya ditemani Zelina saja. Tidak masalah, karena Nara sudah tidak lagi mempunyai siapapun. Hanya Reynand dan keluarga nya.
Sedih memang...
Dia ingin menikah, namun satu keluarga pun tidak ada yang menemani nya. Jika saja orang tua nya masih hidup. Mungkin Nara akan merasa sangat bahagia.
Tapi tidak apa...
Masih ada Arya yang akan menjadi saksinya nanti. Tidak ada yang perlu disesali. Nara harus bersyukur dia sudah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan hal ini, diberikan umur panjang dan tentunya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Nara tersenyum saat desainer itu baru saja selesai mengukur tubuhnya.
"Oke selesai... Saya akan memastikan membuat yang terbaik untuk anda nona Nara" ujar lelaki dengan perawakan kemayunya.
"Ya, aku percaya padamu Vale" jawab Nara.
"Ini pasti akan menjadi gaun terindah yang pernah aku rancang. Selera anda memang benar benar keren dan tentunya elegan. Tidak salah tuan muda memilih anda sebagai calon istri" jawab Vale seraya memandang Nara dengan kagum. Lelaki kemayu itu begitu terkejut saat Zelina berkata jika Nara adalah calon istri tuan muda Adiputra.
Nara tertawa kecil dan menggeleng
"Tentu saja, kak Nara sudah sangat sempurna untuk dia" puji Zelina pula. Sedari tadi dia tidak pernah jauh dari Nara.
"Ze... kamu terlalu memuji" ucap Nara.
"Itu benar, Nara memang sudah sempurna untukku" sahut seseorang yang baru saja datang.
"Rey..." Nara sampai terkejut Reynand sudah ada dibutik itu.
"Wow tuan muda Adiputra. Selamat datang dibutik saya" sapa Vale langsung. Dia semakin bertambah tidak percaya sekarang. Tuan Adiputra datang dengan segala pesona nya.
Reynand tersenyum dan berjalan mendekati mereka. Senyum nya tidak pernah pudar saat memandang Nara. Dan tentu saja itu membuat Vale tahu jika dia pasti sangat mencintai calon istrinya ini.
"Kakak, kenapa baru datang???" tanya Zelina.
Reynand mengusap kepala Zelina sekilas.
"Maaf.... rapat hari ini tidak bisa ditinggal."
"Apa sudah selesai?" kini Reynand menoleh pada Nara.
"Sudah, tinggal giliran mu" jawab Nara.
"Baiklah, kau bisa melakukan nya sekarang." ucap Reynand pada Vale.
Vale langsung dengan sigap meraih alat pengukur dileher nya. Dia benar benar senang sekali hari ini. Kedatangan tuan muda Adiputra yang terkenal dengan pesona nya. Dan tentu dengan cerita viral nya beberapa waktu lalu dengan model yang bunuh diri itu.
Vale tidak tahu jika klien nya adalah tuan muda Adiputra, dia hanya tahu Anara Polie saja, dan mungkin menikah dengan orang lain. Namun kenyataan nya, calon Anara adalah Reynand Adiputra. Wow sekali memang.
Vale dengan sigap mengukur seluruh tubuh Reynand, tentunya dengan hati hati dan penuh ketelitian. Jangan sampai ada salah dan keteledoran sedikitpun. Ini adalah aset penting untuk butik nya. Karena dia yakin setelah ini butik nya pasti akan ramai dipemberitaan.
"Oke selesai.." ucap Vale, saat asisten nya sudah selesai mencatat semua ukuran untuk Reynand.
"Kau harus memberikan yang terbaik untuk kami" ujar Reynand.
"Tentu tuan. Saya pastikan tidak akan ada kurang sedikitpun." jawab Vale
"Ya, harus. Jika tidak aku akan menutup butikmu ini" ancam Reynand dengan wajah santainya. Namun itu cukup mampu membuat Vale merasa terancam.
__ADS_1
"Rey....." tekan Nara
Reynand langsung mendengus senyum dan segera menarik tangan Nara.
"Aku hanya berpesan sayang." ucap Reynand
"Oooooo so sweet sekali" gumam Vale tanpa sadar. Namun dia langsung terkesiap saat Zelina langsung menyenggol bahunya.
"Oh ya ampun. Maafkan saya tuan" sahut nya dengan cepat dan juga dengan senyum yang terasa getir.
"Sudah lah, ayo kita pergi. Aku ingin membawa mu kesuatu tempat" ajak Reynand.
"Kemana?" tanya Nara
"Rahasia" jawab Reynand.
Nara hanya menggeleng dan kembali menoleh pada Vale.
"Kami pamit dulu Vale, sanpai jumpa dipertemuan selanjutnya"pamit Nara
"Tentu nona, saya akan mengabari anda secepatnya" jawba Vale.
Nara tersenyum dan mengangguk. Dia langsung merangkul lengan Zelina dan langsung keluar bersama sama. Meninggalkan Vale yang masih memandang kagum pada Reynand.
"Lihatlah, bukan saja makhluk sejenis yang menyukai kakak, tapi makhluk dua jenis seperti Vale juga memandang kakak seperti itu" ledek Zelina saat mereka sudah tiba diluar butik.
Nara langsung tertawa mendengar perkataan Zelina. Sedangkan Reynand langsung menarik hidung gadis itu dengan gemas.
"Kamu ini" geram Reynand
"Memang iya kok" sahut Zelina terbahak
"Arya?" gumam Nara.
Reynand langsung mengangguk.
"Curang sekali pergi berdua saja" gerutu Zelina.
"Anak kecil tidak boleh ikut ikutan. Jangan kemana mana sebelum Arya menjemput" ujar Reynand
"Iya iya, anak kecil dari mana. Bentar lagi aku juga bakalan buat anak" gumam Zelina.
"Bilang apa kamu?" tanya Reynand
"Tidak ada" sahut Zelina dengan cepat.
....
Dan setelah berdebat kecil bersama Zelina. Akhirnya kini mereka sudah berada didalam mobil menuju kesuatu tempat. Tempat yang membuat senyum Nara sejak tadi tidak juga memudar dari wajahnya.
Hari sudah siang saat ini, bahkan sudah lewat tengah hari. Mereka baru saja selesai makan siang. Dan kini sudah kembali melanjutkan perjalanan lagi.
"Apa kamu tidak sibuk hingga bisa membawaku kemari?" tanya Nara
Reynand tersenyum dan menggeleng.
"Ada Guntur dan semua masih bisa dia handel" jawab Reynand
Hingga beberapa menit kemudian mereka tiba didepan sebuah rumah masa kecil Nara. Rumah yang menjadi tempat kenangan manis Nara bersama orang tua nya.
"Ayo turun" ajak Reynand. Namun Nara masih memandang ragu tempat itu. Ada rasa sedih dan bahagia yang tercampur diraut diwajahnya.
__ADS_1
"Hei... kenapa?" tanya Reynand seraya mengusap lengan Nara.
Nara memandang Reynand dengan getir.
"Tapi ini bukan rumah ku lagi Rey" ucap Nara dengan sendu. Dia ingat ketika dia terpuruk dan terjerat hutang hari itu, Nara terpaksa menjual rumah peninggalan ayahnya untuk menutupi kerugian diperusahaan demi untuk membayar gaji karyawan.
Namun Reynand malah tersenyum dan mengusap wajah sedih Nara.
"Jangan sedih, ini masih rumah mu. Aku sudah menebus nya kembali" jawab Reynand.
Nara terkesiap mendengar itu.
"Benarkah???" tanya Nara tidak percaya.
Reynand tersenyum dan mengangguk. Dia mengehela nafasnya sejenak.
"Aku sudah berjanji untuk mengembalikan semua yang sudah aku rusak bukan. Dan ini adalah salah satu nya. Tidak ada yang berubah Nara. Semua masih sama. Maafkan aku, karena kejahatan ku kamu sempat kehilangan tempat ini" ungkap Reynand penuh rasa bersalah.
Nara menggeleng dengan cepat. Matanya berkaca kaca sekarang.
"Tidak apa apa, semua sudah berlalu. Terimakasih Rey, aku senang sekali rumah ini masih bisa aku miliki lagi. Padahal waktu itu aku sudah ingin menebusnya, tapi pemilik nya sama sekali tidak ingin menjual nya lagi" jawab Nara
"Bagaimana mungkin kamu bisa menebusnya???" tanya Nara seraya memandang Reynand.
Reynand hanya mendengus senyum dan mengendikkan bahunya sekilas.
"Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan jika itu menyangkut tentang kamu" jawab Reynand
Nara hanya menghela nafas jengah mendengar itu. Yah, seorang Reynand Adiputra, tentu apapun bisa dia lakukan. Entah dengan cara apa, tapi yang jelas, Reynand pasti sudah menekan orang itu.
"Sudah lah, ayo turun" ajak Reynand seraya dia yang keluar dari mobil dan berlari untuk membuka pintu mobil Nara.
"Silahkan nona" ujar Reynand dengan senyum manis nya sembari tangan yang langsung menjulur kearah Nara.
Nara tersenyum dan langsung menyambut uluran tangan itu.
Mereka berjalan masuk kedalam saling bergandengan tangan.
Rumah itu masih sama seperti dulu, saat terakhir kali Nara melihatnya. Tidak ada yang berubah. Hanya catnya saja yang sudah berubah dibeberapa bagian. Isi didalam rumah nya juga sama sekali masih sama. Hanya figura dan foto foto nya saja yang sudah tidak ada lagi.
Nara tersenyum sendu...
Dia jadi merindukan kedua orang tuanya sekarang. Sangat merindukan mereka. Jika saja mereka masih ada, pasti Nara akan menjadi orang yang paling bahagia didunia ini.
"Jangan sedih, rumah ini akan selalu menjadi kenangan indah untuk mu. Tidak ada yang berubah bukan?" ujar Reynand
Nara hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Memang tidak ada yang berubah. Hanya saja semua sudah tidak lagi seperti dulu. Tempat nya masih sama, kenangan nya juga masih sama. Hanya saja, rasanya yang sudah jauh berbeda.
Merindukan seseorang yang sudah tiada itu begitu terasa menyesakkan. Apalagi mendatangi tempat yang menjadi kenangan manis itu tercipta. Kenangan yang tidak akan pernah terulang lagi.
Kenangan masa kecil yang penuh dengan kebahagiaan.
Dimana tawa ayah dan ibunya masih selalu dia dapatkan.
Dimana semua rasa sedih dan perjuangan hidup belum dia rasakan.
Namun sekarang, semua sudah tidak lagi ada. Sudah hilang bersama waktu yang terus bergulir dan berganti pandang..
...
__ADS_1