Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Kehancuran Nara


__ADS_3

Nara sudah tiba diperusahaan Polie. Dia dan Arya terpaksa masuk melalui jalur lain karena didepan perusahaan sudah banyak para pendemo yang menuntut hak mereka. Entah apa yang sudah diperbuat Reynand, tapi hari ini Nara tahu jika perusahaan nya memang akan hancur.


Rasa sakit yang mendera membuat Nara tidak berdaya selain hanya pasrah akan apa yang terjadi. Dia langsung masuk kedalam ruangan dan mengabaikan seluruh petinggi perusahaan yang sudah menunggu nya sejak pagi.


Didalam ruangan itu sudah duduk seorang pengacara keluarga nya sejak dulu. Pria paruh baya yang memandang Nara dengan begitu iba.


Nara duduk dihadapan pria itu, menarik nafas nya dalam dalam dan mencoba menenangkan fikiran nya yang benar benar kacau. Bagaimana mungkin dia bisa tenang seperti biasa jika keadaan nya tampak rumit seperti ini. Nara benar benar kalah, dia bahkan tidak sanggup untuk menghadapi puluhan orang diluar sana.


"Nona Anara, bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Perusahaan bisa terlilit hutang begitu banyak, begitu pula proyek dikota B. Semua yang terkait meminta pertanggung jawaban atas apa yang telah telah terjadi" ucap pengacara itu


Nara memejamkan matanya sejenak dan kembali memandang pengacara nya


"Aku akan menyerahkan perusahaan ini pada Reynand Adiputra" kata Nara tanpa berfikir panjang


Pengacara itu dan juga Arya tampak terperangah tidak percaya. Bagaimana mungkin Nara bisa menyerahkan perusahaan ini dengan mudah pada pria angkuh itu. Apa Nara memang berniat untuk menjualnya??


"Nara, fikirkan lagi. Kita bisa mencari jalan keluar lain" sahut Arya terasa tidak terima. Nara memang sudah gila, atau mungkin karena Reynand suami nya. Tapi sedikit banyak nya Arya berfikir jika masalah ini adalah ulah Reynand Adiputra. Hanya dia yang bisa menjatuhkan perusahaan dalam waktu satu malam.


"Aku sudah lelah Yo. Aku tidak bisa lagi memimpin perusahaan ini. Lihat semua nya sudah hancur, apalagi yang bisa kita perbuat. Aku masih punya sedikit tabungan untuk mengganti kerugian mereka, dan juga bisa menjual rumah peninggalan ayah ku" jawab Nara


"Tapi itu untuk pengobatan mu" seru Arya begitu kesal. Namun Nara tidak mengindahkan perkataan Arya. Apa lagi yang bisa dia perbuat selain itu. Reynand memang menginginkan kehancuran nya, maka tidak akan ada lagi yang bisa dia perjuangkan. Sampai disini, dan Nara akan menyerahkan semua nya pada Reynand, biar lelaki itu puas telah berhasil menghancurkan nya.


"Nona anda yakin?" tanya pengacara itu


Nara langsung mengangguk pelan dengan senyum getir nya.


Dan akhirnya, surat kuasa pun dalam sekejap telah berhasil dipindah tangankan atas nama Reynand. Hanya tinggal tanda tangan dari lelaki itu. Nara tidak bisa membiarkan perusahaan ini jatuh pada Baskoro, ayah tirinya. Biar perusahaan ini membusuk atas nama Reynand. Dia sudah memutuskan nya.


Sekarang Nara dan Arya berjalan keluar melihat keadaan diluar perusahaan nya. Dimana puluhan orang masih ada disana. Beribu pertanyaan sejak tadi dilontarkan oleh para petinggi perusahaan mengenai kelangsungan perusahaan dan juga nasib ratusan karyawan ini. Namun Nara hanya bisa diam, hanya Arya yang mencoba menenangkan para petinggi itu. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Mereka semua merasa marah pada Anara Polie, karena sebagai pimpinan tertinggi, akhir akhir ini Nara memang sangat jarang mengurus perusahaan, bahkan beberapa waktu lalu dana perusahaan juga keluar begitu banyak. Dan sekarang tiba tiba saja saham diperusahaan anjlok bahkan habis tak tersisa, tentu saja semua karyawan Nara tidak terima mereka keluar begitu saja.


Nara memandang getir kumpulan orang orang diluar sana yang menyerukan suara mereka agar Nara bertanggung jawab atas kelangsungan nasib mereka. Entah berita dari mana bahkan ada yang dengan tega memfitnah Nara menghabiskan uang perusahaan untuk kepentingan nya sendiri hingga semua pemegang saham menarik saham mereka dan perusahaan bangkrut seperti sekarang.


Sungguh, Nara merasa hidupnya benar benar hancur sekarang.


Bahkan dia tidak bisa berkata apapun untuk membela dirinya saat ini. Orang orang diluar sana begitu menggebu bahkan mereka tidak lagi menghiraukan hujan yang mulai mengguyur siang itu.


Tiba tiba saja beberapa mobil polisi tiba ditempat itu, membuat kumpulan pendemo langsung terdiam dan saling pandang bingung. Begitu pula dengan Nara dan Arya. Apalagi para petinggi perusahaan. Mobil polisi itu datang bersamaan dengan sebuah mobil mewah dan Nara tahu siapa pemilik nya.


Seseorang keluar dengan cepat dari dalam mobil dan membukakan payung hitam besar. Dia membuka pintu dengan begitu penuh hormat. Semua orang tahu siapa yang keluar dari mobil itu. Seorang lelaki gagah dengan wajah angkuh dan dingin nya.


"Tuan Adiputra" gumam semua orang yang ada disana.


Nara memandang datar Reynand yang terlihat memandang nya dengan lekat. Rasa sakit dan hancur terlihat jelas dimata Nara, membuat semburat emosi dihati Reynand kembali menggebu.


"Nona Anara Polie" ucap salah seorang polisi


Nara hanya mengangguk datar


"Anda harus ikut kami kekantor polisi, untuk menindak lanjuti kasus yang ada dikota B" kata polisi itu


"Itu adalah urusan saya pak. Biar saya yang ikut kalian" sahut Arya, dia tidak akan terima jika Nara harus kekantor polisi. Gadis ini sudah begitu menderita, Nara tidak akan sanggup jika harus menerima tekanan lain nya.


"Tidak bisa tuan, nama nona Anara Polie sudah...."


"Biarkan dia pergi" kata Reynand tiba tiba membuat perkataan polisi itu langsung terhenti


"Nona Anara Polie masih harus menyelesaikan urusan nya disini. Aku yang akan bertanggung jawab untuk itu" tambah Reynand yang berjalan mendekat kearah mereka.

__ADS_1


Dan karena kekuasaan nya, polisi itu langsung mengangguk patuh dan membawa Arya bersama mereka. Nara memandang kepergian Arya dengan rasa tidak menentu. Dia kembali menoleh pada Reynand yang tersenyum sinis melihat nya.


Reynand berjalan mendekat kearah Nara, memperhatikan penampilan Nara dengan lekat. Meski dia berusaha untuk tenang, tapi Reynand tahu jika Nara sangat tertekan saat ini.


Nara tersenyum melihat wajah sinis yang terlihat merasa menang itu.


"Kamu tahu, inilah resiko nya jika sudah berani mempermainkan ku" ucap Reynand pada Nara. Semua orang hanya berani memperhatikan mereka tanpa ada yang berani untuk mendekat. Mereka semua bertanya tanya tentang apa yang membuat tuan Adiputra datang keperusahaan yang sudah hancur ini.


"Apa kamu bahagia melihat ku hancur seperti ini?" tanya Nara masih memandang wajah tampan yang begitu angkuh itu


"Aku hanya ingin membuktikan padamu jika perkataan ku tidak pernah main main" jawab Reynand


"Kamu terlalu sombong karena merasa memiliki semua nya Anara. Dan jika kamu sudah tidak memiliki apapun lagi, apa kamu masih bisa tersenyum?" tanya Reynand


Nara menggeleng dan menunduk. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis dihadapan lelaki kejam ini. Tidak tahukah Reynand jika Nara sangat takut menghadapi ini? Tidak tahukah dia jika Nara merasa ingin menangis saat melihat apa yang dia perjuangkan selama ini dihancurkan begitu saja??


Nara sendirian, dia merasa takut dan hancur. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan nya lagi. Melihat karyawan nya sendiri yang mendemo nya, melihat Arya yang dibawa polisi dan melihat perusahaan yang terlepas begitu saja dari genggaman nya, sungguh mengerihkan. Bahkan rasa sakit ditubuhnya kini sudah tidak lagi dia tahu mana yang lebih sakit.


"Perusahaan Bimantara juga sudah aku sentil. Kamu tahu bukan bagaimana dampaknya" ucap Reynand lagi. Nara langsung mendongak dan menatap tidak percaya pada Reynand. Apa lelaki ini sudah tidak waras mengusik perusahaan Bimantara yang bahkan tidak salah apa apa??


"Reynand, kenapa kamu begitu tega? Bahkan dia tidak ada hubungan nya dengan kebencian kamu" kata Nara dengan suara yang terasa berat. Namun Reynand hanya mendengus sinis


"Aku tidak perduli. Kamu sudah berani mendekatinya dibelakang ku, dan aku tidak terima" desis Reynand


Mata Nara berkaca kaca, dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada lelaki ini. Sungguh keputusan Nara untuk pergi dari hidupnya memang sudah bulat. Bersama Reynand hanya akan membuat nya semakin tersiksa, begitu pula orang lain.


Reynand memandang Nara yang seperti menahan tangis, apa sebegitu risau nya dia dengan Bimantara???


"Apa kamu begitu sedih karena dia?" tanya Reynand dengan geram


Nara langsung menggeleng lemah. Sungguh demi apapun rasa sakit ini benar benar ingin membunuhnya


"Aku sedih karena kamu tidak pernah sedikitpun melihatku" tambah nya lagi


Reynand tertegun sejenak, namun dia kembali mendengus sinis melihat wajah hancur Nara


"Aku tidak pernah percaya dengan perkataan dari seorang wanita yang hanya pintar berbicara seperti mu. Kamu sudah menipuku selama ini. Kamu selalu memanfaat kan setiap kesulitan ku. Dan saat ini aku yang akan membuat mu merasakan masa masa sulit itu" geram Reynand


Nara mendongak dan memandang mata tajam itu


"Aku akan membiarkan mu bebas dan melihat bagaimana orang terdekatmu dipenjara, aku akan membiarkan mu melihat bagaimana Bimantara yang kamu kasihi itu juga merasakan kehancuran secara perlahan. Dan kamu juga akan melihat bagaimana perusahaan ini hancur dan rata dengan tanah" ucapan Reynand yang terdengar begitu mengancam itu benar benar terasa mengiris hati Nara yang telah terluka. Beginikah cara Reynand membalas setiap perlakuan nya? Begini kah cara Reynand membalas cinta yang selama ini dia beri???


"Rey, kamu membenci ku, maka tolong lampiaskan semua nya padaku, jangan pada orang lain. Mereka tidak tahu apa apa Rey" pinta Nara dengan setitik air mata yang jatuh diwajah nya


Reynand mengiba, tidak dia pungkiri. Tapi hati masih tertutupi oleh ego yang begitu tinggi. Dia hanya ingin membuat Nara jera, dan tidak lagi mempermainkan nya. Tapi Reynand tidak sadar jika yang dia lakukan telah membunuh hati dan jiwa Nara.


"Apa perduliku. Kamu yang memulai" jawab Reynand masih memandang lekat wajah pucat Nara


"Aku mohon" pinta Nara memelas, untuk yang terakhir kalinya dia menjatuhkan harga diri didepan lelaki ini


Nara ingin meraih lengan Reynand, namun langsung ditepis oleh lelaki ini, bahkan dia tidak memakai tenaga sedikitpun, namun Nara sudah langsung terhempas kelantai. Selemah itukah dia??


Nara meringis meraba pinggang nya yang begitu berdenyut, dan tentu saja itu membuat Reynand kembali bertanya tentang apa yang sebenar nya terjadi pada Anara.


Sudah dua kali dia melihat Nara berdarah, dan akhir akhir ini dia memang begitu pucat dan sangat layu, bagai bunga yang tidak lagi memiliki serbuk sari.


Reynand menarik lengan Nara dan membantunya berdiri. Memandang wajah pucat itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan

__ADS_1


"Aku bisa memperbaiki semuanya, tapi kamu harus melakukan sesuatu untukku" ucap Reynand begitu dingin


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nara. Apapun itu akan dia lakukan agar Arya terbebas dan Bimantara terlepas dari Reynand. Lelaki ini tidak bisa dianggap remeh. Nara tidak ingin orang orang yang dekat dengan nya menderita. Cukup Nara saja, cukup Nara yang merasakan sakitnya perlakuan Reynand


"Berlututlah dihadapan semua orang didepan sana selama lima belas menit untuk meminta maaf pada mereka semua. Dan buktikan pada mereka jika kamu adalah pemimpin yang bertanggung jawab" ucap Reynand terdengar sinis.


Nara memandang wajah Reynand tidak percaya. Tapi memang begitulah sifat Reynand. Dia tidak akan puas sebelum melihat Nara malu dan menderita. Nara tersenyum sekilas dan langsung memalingkan wajahnya.


Reynand sedikit terkesiap saat melihat Nara yang langsung berjalan keluar gedung. Dia tidak menyangka jika wanita sekelas Anara Polie ternyata mau melakukan apa yang diminta nya. Sebegitukah Nara demi orang orang terdekat nya???


Nara melangkahkan kaki nya keluar gedung. Menapak pada tanah basah yang sejak pagi diguyur oleh air hujan. Dia langsung berlutut dihadapan semua orang yang masih ada disana. Pandangan matanya begitu sendu, dia hanya berani memandang sekilas pada wajah wajah tidak percaya orang orang itu.


"Maafkan aku. Aku sudah berjuang untuk mempertahankan perusahaan ini sebisa ku. Tapi nyatanya aku memang belum cukup mampu untuk menjadi pemimpin yang baik" ungkap Nara dengan nada suara yang terdengar bergetar.


Reynand yang berdiri didalam gedung memandang Nara tidak berkedip, wajah nya masih datar dan dingin bahkan begitu angkuh. Tapi tidak ada yang tahu jika sebenarnya hatinya bergejolak hebat melihat Nara berlutut dihadapan orang banyak seperti itu. Bahkan dia sendiri tidak tahu kenapa bisa. Bukankah dia yang meminta, tapi kenapa hatinya yang malah begitu mengiba melihat Nara yang begitu rendah dihadapan semua orang??


Nara masih berlutut dengan tegak, meski rasa sakit dipinggang nya begitu menggigit. Ini adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidup Nara. Menyaksikan sendiri kehancuran nya dan semua yang dia miliki. Jabatan, orang orang terdekatnya, bahkan cinta nya sendiri. Semua hancur dan tidak lagi tersisa.


Air mata Nara menetes bercampur dengan air hujan yang masih turun siang itu. Seolah semua nya mewakili hati Nara yang sudah hancur dan tidak lagi berbentuk. Betapa semesta begitu kejam padanya. Dia hanya menginginkan cinta, tapi kenapa malah hal sekejam ini yang dia terima? Apa sudah begitu banyak dosa yang telah dia perbuat???


Reynand mengerjapkan matanya saat melihat tubuh Nara yang semakin menunduk, seolah air hujan yang mengguyur tubuhnya adalah suatu beban yang sangat memberatkan.


Tidak, Reynand tidak bisa membiarkan nya lebih lama lagi


Reynand berjalan keluar gedung dan mendekati Nara. Dapat dia lihat wajah Nara yang semakin pucat. Wajah nya yang layu terkena air hujan semakin membuat nya terlihat begitu lemah


"Berdirilah" pinta Reynand


Namun Nara masih terdiam, hanya tangan nya yang mengepal menahan sakit yang tidak bisa lagi dia tahan.


"Anara" panggil Reynand lagi


Anara mendongak dan memandang Reynand dengan mata yang begitu sayu dan sendu


"Apa ini sudah cukup?" tanya Nara terdengar begitu lirih dan sungguh kenapa hati Reynand malah tidak menentu memandang wajah yang penuh kehancuran itu


"Hmm" gumam Reynand mengangguk pelan


Anara tersenyum dan berusaha berdiri sekuat tenaganya, namun tubuh nya langsung oleng karena dia merasa pinggang nya sudah tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya. Namun Reynand dengan sigap menangkap tubuh Nara, membuat Nara langsung bergelayut dibahu Reynand.


Pandangan mata mereka bertabrakan satu sama lain. Menyiratkan perasaan yang tidak bisa dimengerti. Wajah yang dipenuhi oleh rasa sakit dan kehancuran itu terasa membuat hati Reynand teketuk.


"Hari ini adalah oktober terakhir ku bersama mu Rey. Aku sudah tidak sanggup lagi menanggung kesakitan lebih lama. Sakit sekali ketika cinta ku selalu kamu balas dengan kebencian." gumam Nara dengan begitu pelan


Reynand masih menahan pinggang Nara dan memandang lekat wajah yang semakin pucat itu


"Aku sudah menepati janji ku. Sudah cukup sebelas tahun untuk aku yang mencintai kamu" kata Nara dengan mata yang mulai meredup lemah


Mata Reynand langsung membesar saat mendengar ungkapan Nara


Janji???


Sebelas tahun???


Oktober???


"Nara...kamu"

__ADS_1


Perkataan Reynand langsung terputus saat Nara sudah terkulai dan tidak sadarkan diri dalam rengkuhan nya. Dengan linangan darah yang lagi lagi keluar dari inti tubuh Nara


__ADS_2