
Gendis memandangi wajah Bima yang sudah tertidur lagi sekarang. Bima baru saja diberi suntikan dan obat oleh dokter, dan sekarang dia sudah terlelap dalam tidur nya. Wajahnya masih pucat karena dia memang masih lemah. Tapi sudah ada rona dan binar kehidupan diwajah tampan nya yang tenang itu. Tidak seperti sebelum dia sadar, Gendis benar benar takut jika terjadi sesuatu pada Bima. Wajah dan tubuhnya yang pucat, dingin dan juga lemah seperti tidak dialiri darah, tapi sekarang dia sudah terlihat baik baik saja.
Dan sekarang, dia sudah bisa tenang. Bima sudah sadar dan sudah bisa tersenyum lagi. Hanya tinggal masa masa pemulihan nya saja.
Bimantara ... Lelaki baik yang mampu mengobati luka dihati Gendis akibat pengkhianatan kekasih nya. Dan sekarang, tanpa sadar kehidupan Gendis malah sudah diambil alih oleh Bima. Gendis takut Bima terluka, Gendis takut Bima pergi meninggalkan nya. Hingga tidak ada lagi ruang untuk memikirkan tentang David. Dan itu memang sudah terjadi cukup lama. Senyum dan sifat Bima yang menyebalkan ternyata mampu menjadi obat luka hatinya.
Gendis tersenyum memandang Bima, lelaki yang sudah menjanjikan masa depan untuk nya. Dan semoga saja Bima tidak seperti David yang dengan mudah menghancurkan kepercayaan yang telah dia berikan.
Gendis mengusap wajah Bima dengan lembut, sebelum dia keluar untuk menemui yang lain nya. Seperti nya ayah nya sudah datang, terdengar suara beberapa orang lelaki diluar ruangan ini.
"Jangan lama lama tertidur nya ya" bisik Gendis. Dia mengecup dahi Bima sekilas dan dengan cepat pula dia memalingkan wajah nya yang merona.
Dan setelah itu, Gendis langsung keluar dari ruangan Bima. Dan memang didepan ruangan Bima sudah ada ayahnya dan juga Reyza bersama Reynand. Sepertinya mereka datang untuk menjemput istri mereka masing masing.
"Gendis, apa Bima sudah tidur?" tanya Naina
"Sudah mbak, baru saja" jawab Gendis.
"Syukurlah dia sudah sadar sekarang. Jika terjadi sesuatu padanya, mungkin aku yang akan mencincang David" ucap Reynand.
"Anda terlihat mendendam sekali tuan" sahut Reyza.
"Aku pernah bermasalah sedikit dengan dia. Waktu itu aku masih berbaik hati. Tapi nampak nya dia masih saja tidak jera dan malah memanfaatkan kekuasaan nya untuk mencelakai orang" ungkap Reynand.
"Sekarang David sudah tertangkap. Mungkin besok dia sudah ada dikota ini. Saya serahkan dia pada anda tuan Reyza. Mungkin pihak anda lebih berwenang untuk memberikan nya hukuman" ujar tuan Renggono.
Gendis hanya diam ketika mendengar itu. Tidak ada rasa iba sedikitpun. Dia malah semakin membenci David sekarang. Karena ulah nya, semua orang jadi susah dan sibuk. Apalagi dengan Bimantara yang hampir mati, tentu Gendis tidak ingin lagi memaafkan nya.
"Jika tuan mneyerahkan nya pada saya, mungkin saya akan menyerahkan kasus ini pada pihak yang berwenang. Mungkin itu lebih baik kan. Semoga dengan dia yang dipenjara dia bisa menyesali perbuatan nya" ucap Reyza.
"Untung saja tidak diserahkan pada saya, dia lebih cocok digantung didepan perusahaan nya dan menjadi bahan tontonan orang orang. Atau mungkin membuat nya cacar seumur hidup" sahut Reynand.
"Rey..."panggil Nara dengan pandangan kesal nya. Heran sekali dia melihat suami nya ini. Suka sekali memang menyiksa orang.
Reyza dan yang lain nampak langsung tertawa mendengar itu. Bahkan eyang putri juga langsung menampar lengan Reynand dengan tongkat nya.
__ADS_1
"Buang jiwa psikopatmu itu" dengus eyang putri.
Reynand hanya tersenyum getir dan menggaruk pelipisnya sebentar. Entah kenapa dia begitu suka untuk memberikan hukuman yang mengerihkan untuk orang orang seperti David. Sepertinya darah darah psikopat paman nya memang sedikit banyak nya sudah mengalir dalam tubuh Reynand. Hingga terkadang dia bisa menjadi iblis yang begitu kejam.
"Saya setuju dengan tuan Reynand, sepertinya hukuman penjara memang terlalu ringan untuk manusia brengsek seperti dia" sahut Gendis pula.
Reynand langsung tersenyum lebar dan mengangguk.
"Memaafkan itu lebih baik dari pada mendendam nak. Sudahlah, biar pihak berwajib saja yang mengurusnya. Lagi pula Bima sudah sadar sekarang" ujar eyang putri.
"Benar, lagi pula hukuman yang diberikan pasti tidak akan ringan juga. Minimal penjara dalam waktu yang lama bahkan seumur hidup karena dia sudah melakukan kejahatan berencana" tambah Reyza.
"Ya, kita bisa menuntut nya dipengadilan nanti. Sudah banyak yang dia rugikan disini." ucap tuan Renggono.
"Semua sudah berlalu tuan, jika tidak begini, mungkin kita tidak akan mengenal satu sama lain" jawab Reyza.
"Benar. Saya sangat berterimakasih pada anda tuan Reyza, karena bisa menerima masalah ini. Saya benar benar tidak enak" ucap tuan Renggono pada Reyza.
"Tidak apa apa tuan, jangan difikirkan. Bima saudara kami, dan siapa tahu dengan ini kita bisa menjadi keluarga yang baik nantinya" ucap Reyza dengan senyum simpul nya seraya melirik Gendis yang nampak tertunduk malu.
"Sepertinya, kalian memang akan berbesan" sahut Reynand pula.
"Saya tidak berharap banyak. Saya serahkan itu pada mereka berdua" jawab tuan Renggono.
"Ya, memang sudah seharusnya begitu" sahut Reyza.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih tuan Reyza, dan untuk tuan Reynand, saya juga berterima kasih karena anda sudah mau membantu kami" kini tuan Renggono beralih pada Reynand.
"Jangan sungkan tuan. Kita adalah rekan" jawab Reynand.
Tuan Renggono benar benar bersykur dikelilingi oleh orang orang hebat yang mau membantu nya dalam masalah ini. Mungkin jika tidak ada Bima, entah bagaimana nasib Gendis. Dan jika tidak ada dua pengusaha muda ini juga David pasti belum tertangkap sekarang.
"Eyang juga sudah bisa beristirahat dengan tenang sekarang. Bima sudah sadar, dan eyang bisa tidur dirumah kami" ucap Naina pada eyang putri.
"Nantilah, eyang masih ingin disini. Lagipula tuan Renggono juga sudah menyiapkan kamar yang nyaman untuk eyang menginap" jawab eyang putri.
__ADS_1
"Kan sudah ada Gendis yang menjaga Bima eyang" sahut Reyza seraya memandang Gendis.
Gendis tersenyum getir memandang eyang putri.
"Mereka belum menikah" ucap eyang putri.
"Jika begitu kita nikahkan saja" sahut Reynand.
"Rey... astaga" Nara lagi lagi tidak habis fikir dengan Reynand.
Reynand tersenyum penuh arti memandang Nara.
"Tidak apa apa sayang, bukankah lebih cepat lebih baik. Lagi pula tuan Renggono juga tidak ada masalah jika Bima yang menjadi menantu nya. Benarkan tuan" ucap Reynand seraya menoleh pada tuan Renggono.
"Jika cocok, tidak masalah" jawab tuan Renggono.
"Nah, dengar. Setelah ini anda bisa melamarkan Bima untuk Gendis tuan Reyza" kata Reynand pada Reyza yang terlihat tertawa.
"Kau ini menjodoh jodohkan Bima dan Gendis pasti ada niat terselubung nya kan" tuding eyang putri.
Naina dan Reyza yang kini tertawa melihat wajah terkejut Reynand.
"Tidak ada eyang" jawab Reynand.
Namun eyang putri langsung mendengus melihat nya. Sudah bisa ditebak jika Reynand ingin Bima menikah dengan Gendis adalah karena agar dia yang tidak cemburu lagi dengan Bima yang mendekati Nara. Dasar!
Gendis memandang Reynand dengan lucu, sepertinya jika menikah dengan Bima, Gendis pasti juga akan merasakan apa yang dirasakan oleh tuan angkuh ini.
Ya, pasti dia akan menahan cemburu setiap kali Bima dan Nara bertemu. Nara yang cantik jelita seperti ini, bagaimana dia tidak cemburu?
Huh... membayangkan nya saja Gendis sudah uring uringan. Semoga saja perkataan Bima tadi adalah benar jika dia adalah alasan untuk lelaki itu bangun kembali, dan bukan Nara.
Tapi, tiba tiba Gendis tertegun...
Dia ingat, jika Nara membisikkan sesuatu ditelinga Bima waktu itu kan.
__ADS_1
Lalu apa yang sudah Nara bisikkan pada Bima?
Kenapa Gendis tidak bertanya tadi, astaga.... dasar bodoh!