Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Arya Yang Menyebalkan


__ADS_3

Nara memandangi Reynand yang nampak begitu serius duduk dimeja kerjanya. Tangan nya sejak tadi tidak berhenti memeriksa satu persatu dokumen yang ada diatas meja. Dokumen berisi data data tentang perusahaan Polie.


Kaca mata baca yang dipakai Reynand menambah kesan serius nya. Wajahnya yang tampan dan datar membuat nya terlihat begitu berwibawa dan mempesona. Sudah lama sekali Nara tidak melihat Reynand yang seperti ini. Reynand yang penuh ambisi dan keseriusan didalam setiap tindakan yang dia lakukan.


Ya, siang ini Reynand sudah ada diperusahaan Polie. Dia sedang memeriksa dan mempelajari tentang sistem kerja perusahaan Polie.


Pagi tadi Nara dan Arya menjemput Reynand kerumah nya. Mereka memerlukan bantuan Reynand untuk melawan perusahaan tuan Abas bersama Bimantara dan juga perusahaan Dopindo. Tentu dengan kedatangan Reynand diperusahaan Polie bukan hanya menguntungkan Nara, melainkan Reynand sendiri. Sedikit demi sedikit dia akan menghancurkan perusahaan Adidaksa dan akan merebut kembali apa yang menjadi hak nya. Meski itu dari tangan papa nya sendiri.


Nara yang sedang duduk disofa juga masih sibuk menandatangani laporan hari ini. Namun matanya sesekali memandangi Reynand didepan nya. Tidak percaya, jika saat ini mereka bisa bekerja bersama. Bahkan untuk bermimpi dan berkhayal saja Nara tidak pernah.


"Apa wajah ku sudah jelek sekarang, hingga kamu terus saja memperhatikan aku?" tanya Reynand tiba tiba.


Nara sedikit terkesiap mendengar itu. Dia jelas tahu jika Reynand sejak tadi begitu serius pada pekerjaan nya, tapi kenapa dia bisa tahu jika Nara memperhatikan nya???


Reynand tersenyum memandang Nara yang terkejut. Dia sedikit membenarkan kaca mata dipangkal hidungnya.


"Bisakah kamu menjelaskan ini sedikit. Ada sedikit data yang menurutku kurang pas dan sedikit tidak sesuai" ungkap Reynand.


Nara mengangguk, dan langsung beranjak menuju Reynand.


"Yang mana?" tanya Nara. Kini dia dia sudah berdiri tepat disamping Reynand.


"Yang ini dan berkas yang ini" tunjuk Reynand pada layar komputer nya dan juga dokumen diatas meja.


Nara memandangi itu dengan lekat, manik matanya bergulir kesana dan kemari. Reynand menoleh kearah nya, wajah cantik itu terpampang nyata dengan sempurna. Ah, rasanya dia begitu merindukan untuk menyentuh wajah ini lagi. Menikmati harum dan kelembutan nya, juga manis nya bibir ranum itu.


"Hei... kamu tidak mendengarkan aku" sentak Nara tiba tiba. Reynand langsung mengerjapkan matanya sekilas dan mengembalikan kesadaran nya yang sudah jauh melenceng.


"Em...maaf. Bisa kamu ulangi?" tanya Reynand dengan senyum getir nya.


Nara menghela nafas sejenak, dan kemudian menjelaskan pada Reynand tentang apa yang ada didalam data data itu. Memang sedikit ganjal, mungkin karena dia yang tidak memeriksa nya dengan benar.


"Memang kurang signifikan Nara. Apa boleh aku ubah sedikit sistem kerja nya?" tanya Reynand.


Nara mengangguk dan tersenyum tipis.


"Tentu saja, kamu lebih berpengalaman dari pada aku" jawab Nara.


"Tidak juga, kamu sudah memimpin perusahaan ini dengan baik. Hanya saja kita harus kejar target dalam seminggu ini. Bukankah pihak Dopindo memberi waktu dalam seminggu untuk menentukan keputusan nya?" tanya Reynand.


"Ya, mereka ingin melihat kenaikan nilai saham kita dalam akhir bulan ini. Sepertinya dia tidak yakin karena perusahaan ku masih baru dibangun kembali. Sedangkan perusahaan Bimantara juga bukan perusahaan raksasa" ungkap Nara.


Reynand menghela nafasnya dan mengangguk.


"Tenang saja. Aku sudah tahu cara untuk mencari investor dalam waktu dekat. Nilai kerja perusahaan kamu sejauh ini cukup baik. Hanya perlu menambah beberapa aspek dan merubah sedikit cara kerja saja" jawab Reynand seraya kembali menggulir touchpad komputer nya.


"Ya, sesudah jam makan siang nanti, kita akan membahas ini dengan Bimantara" ucap Nara.


Reynand langsung menoleh pada Nara.


"Apalagi yang harus dibahas?" tanya Reynand. Sepertinya dia masih selalu sensitif jika nama Bimantara disebut.


Nara tersenyum dan membalas tatapan mata itu.


"Bagaimana pun sejak awal, kerja sama ini memang sudah melibatkan dia. Dan kita juga perlu dia bukan" jawab Nara.


Reynand terlihat mendengus kesal.


"Yasudah lah, yang penting kalian tidak bertemu hanya berdua saja" gumam Reynand. Namun Nara masih mendengar dengan jelas.


"Apa kamu cemburu?" tanya Nara dengan senyum lucunya.


"Tentu saja, dulu kamu masih menjadi istriku saja dia sudah blak blakkan ingin merebut mu. Apalagi sekarang" gerutu Reynand.


Nara langsung tertawa mendengar itu.

__ADS_1


"Itukan terserah dia. Memang nya hati bisa diatur bisa suka dengan siapa" ucap Nara yang seakan ingin mempermainkan perasaan Reynand.


Reynand memandang Nara dengan lekat.


"Apa kamu juga menyukai nya?" tanya Reynand begitu serius. Alis Nara sedikit terangkat dan dia langsung menahan senyum melihat wajah kesal itu.


"Menurut kamu?" tanya Nara.


"Nara...." panggil Reynand terlihat begitu frustasi.


Nara langsung tertawa melihat Reynand, membuat lelaki itu langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Kamu kejam sekali. Apa kamu pernah keluar berdua bersama dia?" tanya Reynand lagi.


Dan Nara kembali mengangguk disela sela tawa nya.


"Pernah????" tanya Reynand tak percaya, bahkan suara nya sedikit berseru.


"Iya pernah, kenapa?" tanya Nara yang kini sudah berhenti tertawa dan masih menahan senyum nya.


"Apa yang kamu lakukan bersama nya?" tanya Reynand. Wajahnya sudah memerah sekarang. Apa Reynand kesal???


Nara tampak terdiam sejenak dan menoleh kearah dinding kacanya, namun kembali memandang kearah Reynand yang masih mendongak dan memandang nya dengan lekat.


"Jalan berdua, dinner dan....."


"Stop" seru Reynand yang langsung menghentikan ucapan Nara.


"Kenapa?" tanya Nara. Nafas Reynand tampak memburu dan dia langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Kenapa dia menjadi kesal sekali sekarang. Dia merasa jika dadanya seperti terbakar, bahkan nafasnya menjadi sesak. Ingin sekali dia menghajar wajah Bimantara sekarang. Bisa bisanya dia mendekati Nara secepat itu. Niat sekali memang menjadi perebut istri orang.


Tapi...


Bukankah Nara memang bukan istrinya lagi.


Tepukan lembut dibahu Reynand membuat dia terkesiap dan kembali memandang Nara yang tersenyum padanya.


"Tuan Reynand Adiputra, bisakah sekarang lanjutkan saja pekerjaan kita. Dari pada harus menahan marah yang tidak jelas begitu" ucap Nara


Reynand mendengus senyum dan menggeleng.


"Rasanya aku ingin sekali memukul batang hidung nya. Jika tidak mengingat Eyang putri adalah nenek nya, sudah aku gantung dia diatas Monas. Bisa bisanya mendekatimu secepat itu" gerutu Reynand.


Dan sungguh, Nara sangat tidak bisa menahan tawanya.


"Kamu ini. Tidak bisakah kamu menyadari sesuatu. Jika aku mau aku tidak akan lagi mendatangi mu" ucap Nara. Dia langsung memalingkan wajahnya saat Reynand memandang nya dengan lekat.


Reynand tersenyum dan menarik lengan Nara saat Nara ingin pergi.


"Coba ulangi lagi" pinta Reynand.


"Ulangi apa?" tanya Nara


"Ulangi perkataan kamu tadi" jawab Nara.


Nara mendengus senyum dan menggeleng.


"Aku rasa kamu tidak peka bukan?" ucap Nara.


Reynand tertawa dan semakin menarik Nara. Meraih tangan nya dan menggenggam nya dengan lembut. Memandang wajah cantik itu dengan lekat, membuat jantung Nara kembali berulah melihat tatapan itu.


"Sudah aku bilang, aku benar benar tidak bisa menahan cemburu" ungkap Reynand.


"Aku tahu, terbukti dari wajahmu" jawab Nara.


"Jika begitu, bolehkah untuk tidak membuatku cemburu lagi?" pinta Reynand. Wajah memelas nya itu membuat Nara menjadi gemas. Kenapa tuan angkuh ini bisa menjadi seperti ini???

__ADS_1


"Tergantung" jawab Nara begitu acuh.


"Nara...." Reynand semakin menarik Nara, bahkan dia sudah menggenggam kedua tangan Nara dengan kuat.


"Jika kamu bisa merebut hatiku lagi, maka aku tidak akan membuat mu cemburu. Aku juga tidak bisa menghentikan Bimantara. Bukan kah sekarang aku bukan milik siapa siapa" ungkap Nara. Senyum nya terlihat menggoda membuat Reynand kesal bercampur senang melihat senyum ini.


Dan memang begitu kenyataan nya, Nara memang semakin senang menggoda Reynand. Padahal sama sekali, tidak ada sedikitpun perasaan nya pada Bimantara, meski lelaki itu sudah begitu baik dalam hidupnya.


"Baiklah, akan aku buktikan jika aku memang lebih baik dari dia" kata Reynand begitu yakin.


Nara langsung mengangguk dan tersenyum.


"Teruslah tersenyum seperti ini. Aku begitu suka melihat mu tersenyum" pinta Reynand.


"Kamu sumber dari segala rasaku" ucap Nara.


Reynand mengangguk dan tersenyum


"Aku tahu, aku janji, tidak akan ada air mata yang menetes lagi diwajah kamu setelah ini, apalagi karena aku" ucap Reynand begitu yakin.


"Astaga" seru seseorang membuat Nara dan Reynand sama sama terlonjak kaget. Nara bahkan langsung menjauh dan melepaskan genggaman tangan Reynand.


Mereka menoleh kearah pintu bersama sama. Dimana Arya yang masuk dan menggelengkan kepala nya dengan wajah yang menyebalkan seperti biasa.


"Kalian ini bukan nya bekerja, malah bermesraan. Kalian lupa jika kalian bukan muhrim" ucap Arya memandang tajam Nara dan Reynand bergantian.


Nara langsung beranjak kesofa dan duduk disana, sedangkan Arya meletakkan beberapa dokumen yang dia bawa kehadapan Reynand.


"Baru hari pertama tapi anda sudah mau berbuat mesum" ucap Arya pada Reynand.


Reynand mendengus kesal memandang Arya. Asisten kesayangan Nara ini selalu saja mengganggunya. Apa Arya tidak tahu jika dia baru saja ingin menikmati suasana manis bersama Nara, tapi Arya malah datang tanpa diundang, menyebalkan memang.


"Siapa yang berbuat mesum. Kamu yang masuk tidak tahu mengetuk pintu dulu" gerutu Reynand.


"Pintu nya tidak dikunci. Lagi pula sudah biasa saya masuk. Kalian saja yang bisa bisanya berduaan begini" ucap nya lagi.


"Kamu ini cerewet sekali sih Yo. Kami juga tidak berbuat apa apa" sahut Nara dari tempat nya.


Namun Arya langsung memasang wajah jelek nya memandang Reynand dan Nara bergantian.


"Tidak berbuat apa apa tapi berpegangan tangan" ucap Arya dengan sinis.


Mata tajam Reynand langsung memandang Arya dengan lekat.


"Kalau begitu jangan lagi kamu berduaan dengan Zelina setiap malam. Mulai besok, aku tidak akan memperbolehkan Zelina bekerja lagi" ungkap Reynand.


Arya langsung terkesiap mendengar nya. Dia memandang Reynand tidak percaya.


"Hei... tuan ... anda mana bisa begitu. Zelina begitu menyukai pekerjaan nya. Dia pasti tidak ingin berhenti" kata Arya dengan cepat. Bahkan dia terlihat kelabakan sekarang.


Nara langsung mendengus tawa melihat nya. Nampak sekali jika memang selama ini dia memodusi gadis cantik itu. Dasar!


"Tuan Adiputra" panggil Arya lagi saat Reynand masih diam


"Gaji ku bekerja diperusahaan ini sudah cukup untuk menghidupinya. Jika kamu melarang ku berduaan dengan Nara. Maka begitu pula dengan aku, jangan harap kamu bisa mendekati adik ku lagi." ancam Reynand pula. Dia tahu jika asisten Nara ini sudah menaruh rasa pada adiknya. Tidak ada yang tidak dia ketahui.


Arya langsung mendengus kesal mendengar nya. Dia langsung beranjak dengan wajah kesal, memandang kearah Nara yang pura pura tidak mendengar padahal senyum lucu nya tidak bisa dia tutupi.


"Baiklah, terserah pada kalian. Mau berbuat apapun terserah. Yang penting jangan mengganggu kesenangan ku" kata Arya langsung beranjak keluar.


"Kamu yang sering mengganggu kesenangan ku gondrong" seru Reynand tak kalah kesal.


Arya hanya mengangkat tangan nya dengan acuh dan langsung menghilang dibalik pintu.


"Astaga, kenapa ada manusia menyebalkan seperti itu" gumam Reynand tidak habis fikir.

__ADS_1


__ADS_2