
Arya berlari dengan tergesa gesa menuju pusat informasi yang ada dibandara itu. Jantung nya bergemuruh hebat. Kaki nya lemas tidak bertulang, namun keinginan hatinya begitu kuat untuk ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sungguh Arya sangat berharap jika kabar buruk itu tidak benar, dia benar benar tidak ingin kehilangan Nara secepat ini. Tidak, Arya tidak bisa. Nara adalah keluarga yang dia punya. Sejak dulu hidupnya sudah bersama Nara. Dan Arya sangat tidak ingin melihat Nara pergi secepat ini. Tidak, dia bahkan baru saja mendapatkan kabahagiaan nya. Tidak mungkin dia akan pergi secepat ini.
Didepan ruang tunggu informasi, sudah begitu ramai orang orang yang juga menantikan kabar ini ternyata. Ada beberapa orang yang bahkan sudah menangis, Arya berjalan cepat dengan menerobos kerumunan orang orang itu. Sedangkan Guntur berjalan menyusul Arya dibelakang. Dia juga begitu mengkhawatirkan keadaan tuan muda nya.
"Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa kabar ini baru diketahui sekarang?" tanya Arya pada petugas iniformasi.
Petugas itu nampak terkesiap saat melihat Guntur dibelakang Arya. Mereka sudah mendapat panggilan dari tuan Abas tadi. Sehingga melihat kedatangan Arya dengan Guntur, mereka sudah tahu jika ini pasti menyangkut tentang tuan muda Adiputra yang ikut masuk dalam list penumpang yang ada di pesawat yang lost contact itu.
"Maaf tuan, kendala cuaca yang ekstrem yang terjadi di Jepang membuat kita mendapatkan informasi yang lambat. Pihak penerbangan masih terus melakukan pencarian pada pesawat itu" jawab petugas itu.
"Apa benar pesawat dengan nomor itu yang lost contact, mungkin saja kalian salah informasi" sahut Arya yang masih begitu berharap jika Nara dan Reynand akan baik baik saja.
Tapi gelengan kepala dari petugas itu membuat Arya kembali merasa lemas dan ingin menangis rasanya.
"Kami tidak salah informasi tuan. Memang pesawat itu yang lost contact. Mohon bersabar untuk menunggu. Semoga bisa secepatnya ditemukan"
Arya menghela nafas dengan berat. Dia langsung berjalan mundur dan duduk dikursi yang ada disana. Sedangkan Guntur juga sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Segera kabari kami jika kalian sudah mendapatkan informasi terbaru" ujar Guntur.
"Baik tuan" jawab petugas itu.
Sungguh, seharusnya Arya datang kebandara saat ini adalah untuk menjemput Nara dan Reynand. Tapi nyatanya da malah harus menunggu kabar baik ditengah kabar buruk yang terasa begitu membuat dada nya berdenyut sakit.
Ya Tuhan...
Semoga mereka baik baik saja.
"Kamu tunggu informasi disini. Aku akan menemui tuan Abas didepan" ujar Guntur pada Arya.
Arya hanya mengangguk saja dan membiarkan Guntur pergi. Sedangkan dia kembali tertunduk dengan tangan yang langsung menarik rambut nya dengan kuat.
'Nara, kamu harus selamat. Kamu tidak boleh pergi secepat ini. Kamu tidak boleh pergi sebelum melihat ku bahagia. Tidak Nara' gumam Arya yang terlihat begitu frustasi.
Sementara dirumah utama, mama dan Zelina sudah menangis bersama sama diruang makan. Kabar buruk ini benar benar membuat mereka takut.
Mereka sudah begitu merindukan kedua orang itu, bahkan mereka juga sudah menyiapkan sesuatu untuk menyambut kepulangan mereka.
Tapi kenapa begini jadinya???
Mama menangis tertunduk menghadap meja makan yang sudah tertata dengan rapi. Berharap yang di tunggu akan segera tiba. Namun yang terjadi, sekarang hanyalah rasa takut dan rasa panik yang luar biasa yang datang menghampiri merekaa.
Bagaimana jika anak anak nya tidak selamat?
__ADS_1
Bagaimana jika pesawat itu tidak ditemukan lagi?
Bagaimana jika mereka benar benar pergi???
"Ini pasti karena bunga ini. Seharusnya Ze tidak meletakkan nya disini. Seharusnya ini tidak ada" tiba tiba Zelina berteriak dengan begitu hancur dengan tangannya yang langsung meraih bunga lily putih diatas meja dan membuang nya kelantai dengan penuh emosi.
"Ini salah Ze.... huuuu kak Nara, kak Rey...." Zelina terduduk dengan lemas di atas lantai dan menangis terisak begitu pilu.
Bahkan para pelayan yang ada disana juga bingung bagaimana cara menenangkan kedua majikan mereka, sedangkan mereka sendiri juga terpukul dengan kabar mengerihkan ini.
...
Sementara dirumah tuan Renggono, suasana masih terlihat tenang, karena mereka belum mengetahui kejadian yang menimpa Reynand dan Nara. Bahkan malam ini Bima dan Eyang putri datang kerumah tuan Renggono untuk melamar Gendis. Naina dan Reyza juga ada disana untuk menemani Bima dan eyang putri. Mereka datang bersama putera tampan mereka, Abimanyu.
Bima tidak lagi membuang buang waktu, meski kemarin malam dia sudah melamar Gendis dengan lamaran romantis, namun malam ini waktunya Bima membawa keluarga nya untuk melamar Gendis secara resmi pada tuan Renggono.
Mereka tidak lagi memakai acara pertunangan, karena Bima dan Gendis memang ingin segera melangsungkan pernikahan mereka secepatnya.
Tidak ingin mengundur waktu, karena bagaimanapun Gendis masih benar benar trauma dengan persiapan pernikahan nya yang gagal dan hanya membuat malu beberapa waktu yang lalu.
"Sungguh, saya tidak menyangka jika eyang akan datang secepat ini untuk melamar putri saya" ucap tuan Renggono pada eyang putri.
"Lebih cepat lebih baik tuan. Lagi pula kedua anak kita sudah memutuskan untuk menikah secepatnya. Jadi saya hanya perantara untuk menyampaikan maksud cucu saya pada anda. Berhubung orang tua Bima yang sudah tidak lagi ada" ungkap eyang putri.
"Saya mengerti eyang. Dan saya juga tidak mempermasalahkan itu" jawab tuan Renggono.
Tuan Renggono langsung mengangguk dan tersenyum lembut.
"Tidak ada alasan untuk saya menolak keinginan baik kalian. Lagi pula Gendis juga sudah menyetujui. Dan saya hanya berharap, jika niat baik mereka dilancarkan sampai ijab kabul itu terucap" harap tuan Renggono.
Bima mengangguk dengan cepat.
"Saya pastikan jika tidak ada halangan semua pasti lancar tuan. Maka dari itu saya meminta waktu dua minggu untuk menyiapkan semua nya"ungkap Bima
"Dua minggu?" tuan Renggono nampak terkejut. Bagaimana mungkin pernikahan bisa disiapkan dalam dua minggu kedepan??
"Ayah... Gendis tidak ingin menunggu lama. Gendis juga yang mau pernikahan ini dipercepat. Cukup yang sederhana asalkan bisa bersama" sahut Gendis.
Tuan Renggono terlihat menghela nafasnya dengan berat. Dan akhirnya dia hanya bisa mengangguk pasrah. Dia juga tahu jika putrinya pasti masih trauma dan takut jika kejadian yang lalu akan terulang kembali.
"Baiklah, jika begitu dua minggu la...."
"Daddy, lihat!!!"
Perkataan tuan Renggono langsung terhenti ketika Abimanyu yang sejak tadi sibuk bermain dengan ipad nya langsung berseru pada ayahnya.
__ADS_1
"Abi... tidak baik nak" ucap Naina yang terlihat tidak enak. Namun sepertinya anak Naina dan Reyza itu tidak mendengar teguran dari ibunya. Dia bahkan melompat dari atas sofa dan berlari menuju sang ayah.
"Pesawat uncle Rey lost contact" seru Abimanyu seraya menyerahkan ipad nya pada sang ayah.
Mendengar perkataan Abimanyu yang seperti itu tentu membuat semua orang yang ada disana langsung terkejut.
"Benarkah itu?" tanya Bima yang langsung memandang Reyza.
Reyza masih diam dan membaca kabar berita terkini yang memang semua sedang membahas tentang pesawat yang hilang kontak sejak beberapa jam yang lalu. Dan yang lebih mengejutkan adalah pesawat yang hilang itu adalah pesawat yang ditumpangi oleh Nara dan Reynand.
'Pesawat dengan nomor penerbangan xxx Tokyo-Jakarta hilang kontak sejak pukul 16,15. Dan pesawat itu membawa tuan Muda Adiputra dan juga istrinya yang baru pulang berbulan madu'
Reyza membaca judul berita itu dengan suara yang terasa tercekat ditenggorokannya.
Semua orang langsung lemas mendengar itu.
"Tidak mungkin, pagi tadi aku masih bisa menghubungi nya untuk memberitahu tentang lamaran ini" gumam Bima dengan lemas.
"Sebaiknya kita kebandara sekarang" ujar tuan Renggono, membuat Bima dan Reyza langsung mengangguk dengan cepat.
Mereka bersenang senang disini, sementara keluarga Reynand sedang berduka. Astaga...
..
Sementara dibandara, tuan Abas dan juga Arya masih terus menunggu kabar terbaru tentang pesawat yang hilang itu. Bahkan Guntur sudah mencoba untuk menghubungi relasi mereka yang ada di Jepang, tapi sama sekali tidak bisa. Entah kenapa cuaca yang seharus nya cerah saat musim ini, disana malah ada hujan badai hingga beberapa jaringan terputus.
Wajah mereka semua masih begitu panik dan cemas. Bahkan tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Mereka hanya diam dan hanya bisa menunggu.
Hingga tiba tiba layar monitor dihadapan mereka menyala dan menampakkan beberapa puing pecahan badan pesawat diatas lautan lepas.
"Pesawat dengan nomor penerbangan xxx sudah ditemukan, namun kabar buruk nya pesawat jatuh dilaut Jepang. Dan kemungkinan besar, seluruh penumpang tidak ada yang selamat"
deg
deg
deg
Hancur sudah harapan mereka.
Arya bahkan langsung berteriak histeris mendengar kabar itu. Tuan Abas bahkan sudah tersandar lemas dengan air mata yang mengalir diwajanya.
Nara ... Reynand...
Apa mereka benar benar pergi secepat ini??
__ADS_1
Mereka hanya pamit untuk pergi bersenang senang, tapi kenapa mereka malah pergi dan tidak kembali?