
Nara mengusap air mata yang lagi lagi kembali turun. Dia beranjak dan segera berdiri, memandang dengan sendu makam dua orang yang paling dia sayangi. Nara melepaskan senyuman terakhirnya sebelum pergi. Sudah cukup dia mencurahkan isi hatinya pada dua gundukan tanah yang berisi jasad kedua orang tuanya itu. Sepaling tidak, setelah dari sini dia merasa jauh lebih baik. Mencurahkan segala isi hati yang tidak ada orang lain tahu, jika saat ini dia sedang memendam rindu dan sakit sekaligus, namun lagi lagi dia harus menutupi semua dengan senyuman.
"Ayah, Ibu. Nara pulang dulu. Terimakasih sudah mendengarkan isi hati Nara" pamit Nara. Dan setelah itu dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan pemakaman kedua orang tua nya.
Hari sudah senja bahkan langit mulai gelap saat Nara pulang. Taksi yang dia pesan juga sudah ada didepan pemakaman itu. Tapi yang dia heran, kenapa supir taksi itu melihat nya sampai seperti itu???
....
Sementara ditempat lain...
Arya baru saja menyelesaikan pekerjaan nya. Hari sudah gelap, dan hanya tinggal dia dan juga security yang berjaga diperusahaan, juga ada beberapa OB yang masih bekerja.
Lelaki berambut gondrong itu tampak meregangkan otot otot tangan nya yang kram dan begitu pegal. Apalagi pinggang nya. Pekerjaan hari ini sangat banyak, ditambah dengan berbagai kerja sama dari perusahaan lain yang mulai berdatangan, membuatnya harus bekerja dengan ekstra.
Dia melihat jam dipergelangan tangan nya, dan ternyata sudah pukul sembilan malam.
"Astaga, sudah malam. Pantas saja perut ku sudah lapar. Sebaiknya aku cari makan dan pulang. Bekerja dari pagi sampai malam, cepat kaya tidak, cepat gila iya. Astaga" gerutu nya seraya merapikan meja dan menyimpan pekerjaan nya yang berserakan.
Setelah itu Arya langsung keluar dari ruangan nya, berjalan dengan sedikit cepat, karena dia merasa takut sekarang. Sebagian lampu sudah dimatikan, membuat perusahaan itu terasa begitu horor. Jangan sampai dia bekerja lembur dan ditemani oleh hantu wanita berambut panjang sepertinya.
Didepan lobi Arya disapa oleh dua orang security yang berjaga
"Pak Arya baru pulang" sapa security itu
"Iya, lembur mas. Jaga jaga ya, awas lari nih gedung" balas Arya yang langsung berjalan keparkiran mobilnya meninggalkan kedua security itu yang saling pandang bingung
"Mau lari kemana, yang ada orang orang nya yang lari" gumam mereka.
Arya melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju kesebuah restaurant cepat saji. Dia sudah sangat lapar sekarang, bekerja dari pagi sampai malam sungguh membuat energi nya terkuras habis. Apalagi Nara yang belum terlalu bisa bekerja lebih banyak, jadi sedikit banyak nya dia yang menghandle pekerjaan Nara.
Setelah tiba direstaurant itu Arya langsung saja masuk kedalam dan duduk dimeja yang kosong. Sudah mulai sepi, mungkin karena sudah malam. Hanya ada muda mudi yang berpasang pasangan yang duduk disana. Seperti nya hanya dia yang duduk seorang diri.
"Kayak nya salah milih restaurant deh ini" gumam Arya dengan helaan nafas yang berat.
Seorang waitress langsung datang ketempat nya, dan melayani pesanan Arya. Setelah waitress itu pergi, Arya meraih ponsel nya untuk memeriksa beberapa pesan yang masuk. Dia begitu serius dan terlihat tidak lagi memperhatikan sekitar nya.
Hingga beberapa menit kemudian pesanan nya datang dan suara seorang gadis terdengar ditelinga nya.
"Permisi tuan, pesanan anda" ucap pelayan itu
Arya mendongak sekilas dan mengangguk, namun dia kembali memandang gadis pengantar makanannya, gadis itu seperti nya sama seperti dia. Sama sama terkejut.
"Kamu" gumam Arya memandang gadis yang tidak lain adalah Zelina.
"Tuan Asisten" gumam Zelina pula.
Zelina tersenyum tipis dan segera meletakan pesanan Arya dihadapan nya. Sedangkan Arya masih terus memandangi Zelina. Penampilan nya yang seperti ini membuat Arya tidak percaya. Nona muda keluarga Adiputra menjadi seorang pelayan? Yang benar saja????
"Silahkan dinikmati tuan, permisi" ucap Zelina yang segera berlalu dari hadapan Arya. Membuat Arya langsung terkesiap dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Astaga, kenapa dia bisa bekerja menjadi pelayan disini?" gumam Arya tidak habis fikir. meski dia baru beberapa kali bertemu dengan Zelina tapi dia tahu jika gadis itu adalah gadis cerewet dan pasti manja. Tapi apa yang telah terjadi??? Bukankah perusahaan Adidaksa masih berjaya? Tidak mungkin nasib nya sama dengan Reynand kan.
Ah, Arya jadi kehilangan selera makannya karena melihat Zelina seperti ini. Dia makan seraya sesekali melirik kemeja kasir dimana Zelina duduk disana. Zelina memang bekerja dibagian kasir, namun karena waitress yang bekerja sudah ada yang pulang dan sebagian sedang membersihkan restauran, jadi dia yang menggantikan pekerjaan teman nya. Tidak menyangka jika malam ini dia akan bertemu dengan tuan asisten yang menyebalkan ini. Zelina sebenarnya juga ingin sekali bertanya tentang keadaan Nara, tapi dia cukup malu dan tidak berani. Lagi pula dia juga sedikit kecewa dengan gadis baik yang menjadi teman pertama nya saat tiba di Indonesia waktu lalu.
__ADS_1
Malam semakin larut, dan Arya baru saja menyelesaikan santapan nya. Dengan ragu dia beranjak dan menuju meja kasir dimana Zelina berada.
Zelina tersenyum ramah namun terkesan dipaksakan
"Ini bill nya tuan" ucap Zelina seraya menyerahkan sebuah kertas dihadapan Arya
"Kamu bekerja disini?" tanya Arya seraya menyerahkan kartu kredit nya
"Iya" jawab Zelina singkat seraya mengerjakan tugas nya
"Apa kakakmu sudah tidak bisa lagi memberimu uang jajan?" tanya Arya seraya menerima kembali kartu kredit nya.
Mendengar itu Zelina langsung menyelis tajam kearah Arya
"Bukan urusan anda" jawab Zelina terlihat tidak suka. Namun Arya hanya mendengus sinis
"Yah memang bukan urusan ku. Aku hanya terkejut nona muda Adiputra ada disini dan memakai pakaian seperti ini" ungkap Arya
Zelina langsung memandang kesekitarnya, takut takut ada yang mendengar perkataan Arya. Karena dia tidak ingin status nya yang merupakan anak kedua dari keluarga Adiputra terbongkar. Sungguh Zelina tidak ingin hidupnya yang sudah rumit ini bertambah kacau.
"Kenapa, kamu takut ada yang mendengar. Apa mereka tidak tahu jika kamu adalah nona muda itu?" tanya Arya lagi. Entah kenapa dia tidak ingin cepat pergi dari sana. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya kemana perginya tuan angkuh itu selama beberapa bulan ini setelah kabar kecelakaan yang begitu menggemparkan jagad dunia maya lalu.
"Tuan tolong jaga bicara anda. Jika anda sudah selesai anda bisa pergi dari sini. Restauran kami sudah ingin tutup" usir Zelina secara tidak langsung
Arya mengendus senyum dan mengendikan bahunya dengan acuh
"Oke, baiklah. Selamat malam nona muda" ucap Arya dengan wajah yang begitu menyebalkan. Dia langsung pergi keluar dari resatauran itu meninggalkan Zelina yang memandang nya dengan kesal.
..
Arya mengemudikan mobilnya meninggalkan restauran tempat Zelina bekerja, dia benar benar masih terkejut melihat Zelina bekerja disana. Dan tentu nya dia semakin penasaran kemana pergi nya tuan Adiputra itu. Apa dia masih hidup? Kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan lalu cukup menghebohkan satu kota. Beritanya simpang siur, ada yang mengatakan jika dia meninggal dalam kecelakaan itu, namun ada juga yang mengatakan dia selamat. Tidak ada yang tahu bagaimana jelasnya. Bahkan dia dirawat dimana pun tidak ada yang tahu. Berita nya begitu tertutup untuk umum.
Namun untung nya saat itu Nara masih menjalani perawatan dirumah sakit dan keadaan nya masih lemah. Jadi dia tidak tahu jika Reynand mengalami kecelakaan yang begitu hebat yang entah merenggut nyawanya atau tidak. Karena sampai saat ini tidak ada berita ataupun kabar apapun dari tuan angkuh itu.
drrt drrt drrt
Ponsel yang bergetar didalam saku celana membuat Arya langsung mengendurkan laju mobilnya. Dia meraih ponsel itu dan tertera nama Nara disana.
"Ada apa?" tanya Arya langsung
"[apa kamu sudah pulang?]"
"Sudah, ini sudah dijalan. Apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya Arya lagi
"]Aku butuh pembalut, bisakah kamu membawakan nya sekarang?]"
Arya langsung mengernyit mendengar nya, apa Nara sudah gila meminta pembalut ditengah malam seperti ini?
"Nara, yang benar saja" dengus Arya terlihat kesal. Dan terdengar tawa kecil Nara dari seberang sana
"[Ayolah, kamu sendiri yang tidak memperbolehkan aku menyetir mobil, aku butuh itu dan juga makanan. Sekalian kamu lewat, apa salahnya]"
Arya menghela nafas jengah. Dia sekarang memang sudah tinggal dikomplek perumahan Nara, hanya berbeda dua rumah saja, karena dia tidak ingin membiarkan Nara sendirian tinggal disana. Dia harus tetap menjaga Nara
__ADS_1
"Baiklah nona" ucap Arya begitu pasrah
Dia menggeleng dan langsung mematikan ponselnya saat sudah mendengar kata terimakasih dari gadis itu.
Dan terpaksa Arya harus putar balik karena tadi dia melihat ada minimarket yang masih buka. Arya menepikan mobilnya, dan langsung turun untuk membelikan keperluan Nara. Mungkin orang akan mengira jika dia yang memakai pembalut ini. Karena apa ada lelaki yang membeli pembalut??? Nara memang selalu membuat nya bertingkah aneh, bukan sekali ini saja dia minta dibelikan pembalut. Jika saja Nara bukan orang terdekatnya, mungkin Arya tidak mau seperti ini.
Setelah selesai membeli keperluan Nara dan beberapa roti, Arya kembali melajukan mobilnya. Namun saat tiba dihalte, lagi lagi dia melihat Zelina sedang duduk termenung disana. Mungkin gadis itu baru saja pulang dan sedang menunggu bus atau taksi. Apa dia singgahi saja? Siapa tahu dia bisa mendapatkan sedikit informasi. Bukan ingin apa apa, Arya hanya ingin membuang rasa penasaran nya saja.
Zelina yang melihat mobil berhenti didepan nya langsung terkesiap dan nampak takut. Sudah beberapa kali dia terlibat dengan orang orang jahat yang ingin menganggu nya saat dia menunggu bus ataupun taksi disini. Namun ketika melihat kaca mobil terbuka, dia langsung bernapas dengan lega. Setidak nya bukan orang jahat, ya meskipun ini adalah orang yang menyebalkan dan tidak ingin dia temui.
"Hei, hari sudah mau hujan. Ayo aku antar" seru Arya dari dalam mobil. Dia tahu Zelina terlihat takut, terbukti dari tangan nya yang memeluk tasnya dengan erat
"Tidak, saya menunggu taksi saja" jawab Zelina yang menggelengkan kepalanya
"Mana ada taksi yang lewat dijam seperti ini. Kamu mau menunggu hujan turun dan diculik orang jahat ha" seru Arya lagi
Zelina terdiam, dia benar benar takut, tapi jika menumpang dengan Arya, apa itu tidak sama saja membahayakan mentalnya? Sejak dulu kan Arya begitu tidak menyukai nya.
"Kalau tidak mau yasudah, aku sudah berbaik hati menawarkan tumpangan" ucap Arya seraya menutup kembali kaca mobil nya. Namun dengan cepat Zelina langsung berlari dan membuka pintu mobil Arya dan masuk kedalam.
Arya langsung tersenyum sinis melihat itu. Dia kembali melajukan mobil nya dan melirik kearah Zelina sekilas
"Sok malu malu. Dulu juga kamu langsung berdiri ditengah jalan dan menyetop mobilku" sindir Arya
Zelina langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal
"Itukan karena saya panik. Suka sekali mengungkit sesuatu" dengus Zelina
Arya langsung mencebikkan bibirnya dan tersenyum sinis
"Dimana rumah mu" tanya Arya
"Tidak jauh lagi" jawab Zelina
Mereka hanya diam sepanjang jalan, dan entah kenapa Arya tidak berani menanyakan tentang Reynand pada gadis ini. Apalagi Zelina terlihat begitu lelah, dia bahkan sudah tersandar disandaran kursi dengan mata yang memandang nanar keluar jendela mobil. Seperti orang dewasa yang menyimpan beban saja.
"Sudah lama kamu bekerja ditempat itu?" tanya Arya
"Bulan ini sudah masuk sepuluh bulan" jawab Zelina tanpa ingin memandang kearah Arya. Arya mengenyit heran, itukan disaat Reynand dikabarkan kecelakaan.
Namun disaat Arya ingin bertanya, tiba tiba ucapan Zelina kembali membungkam mulutnya.
"Tuan berhenti diujung sana saja, didekat papa iklan itu" ujar Zelina menunjuk sebuah pinggir jalan yang terdapat sebuah papan iklan besar yang menutupi jalan sebuah gang kecil
Arya menurut dan dia langsung menepikan mobilnya
"Dimana rumah kamu?" tanya Arya yang heran karena dipinggir jalan itu tidak ada rumah, melainkan hanya beberapa ruko yang sudah tutup.
"Masuk kedalam gang itu, mobil tidak bisa masuk. Gangnya cukup sempit. Terimakasih sudah mau mengantar. Selamat malam" ucap Zelina seraya membuka pintu mobil dan langsung keluar, bahkan sebelum Arya menjawab nya.
Arya masih memandangi Zelina yang memang memasuki gang kecil itu, bahkan dia sedikit berlari menyusuri jalanan itu.
"Apa mereka tinggal didalam sana?" gumam Arya yang semakin penasaran
__ADS_1