Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Oktober Kedua Belas


__ADS_3

Pagi ini cuaca cukup cerah, matahari juga sudah bersinar dan menghangatkan bumi. Tidak seperti hari biasanya hujan selalu turun setiap pagi. Tapi sudah lebih dari seminggu ini setiap pagi cuaca mulai cerah, hujan hanya akan turun disetiap malam saja.


Pagi ini Nara juga sudah berada diperusahaan, seperti biasa dia masih memeriksa laporan mingguan dan dokumen dokumen penting lain nya. Wajahnya terlihat begitu serius dalam bekerja, bahkan suara ketukan pintu dan seseorang yang masuk kedalam ruangan nya juga tidak membuat dia berpaling.


"Aaahhh hari begitu cerah seminggu ini, matahari bersinar begitu indah bahkan ruangan ini juga terlihat jauh lebih segar dari biasa" ucap Arya seraya meletakan sebuah dokumen diatas meja Nara. Dia memandang Nara dengan senyum menggoda.


Nara melirik nya sekilas dan kembali memeriksa dokumen nya.


"Semangat bekerja juga semakin kuat. Ck ck ck.... memang sungguh besar pengaruh nya" kini Arya duduk didepan Nara seraya menopang dagu dan memandangi Nara dengan wajah yang begitu menyebalkan.


Nara mendengus gerah melihat Arya.


"Apa kamu tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu ku?" tanya Nara begitu kesal. Namun Arya malah terkekeh geli melihat wajah kesal Nara.


Sudah seminggu ini Nara begitu semangat bekerja, wajahnya juga terlihat berbeda. Ya apalagi, semuanya pasti karena tuan angkuh itu. Sejak bertemu dan berdamai dengan Reynand, Nara memang jauh lebih semangat dan tidak banyak melamun lagi. Arya senang sebenarnya, namun dia hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Bahkan dia rasa sebentar lagi Nara pasti akan menerima Reynand kembali, dan jika itu terjadi, bagaimana dengan Bimantara????


"Jangan lupa siang nanti kita ada rapat dengan perusahaan tuan Bimantara" ujar Arya


"Iya, hanya dua jam kan?" tanya Nara pula, tangan nya masih sibuk menandatangani dokumen yang ada didepan nya.


"Iya, apa kamu mau menemani tuan angkuh itu kerumah sakit?" tanya Reynand


"Iya, aku sudah berjanji. Zelina masih bekerja, lagi pula hanya memeriksa, tidak lama" jawab Nara


Arya terdiam, dia jadi mengingat Zelina karena Nara menyebut namanya. Bahkan kini dia malah tersenyum tanpa sebab. Membuat Nara yang memandang nya menjadi aneh


"Hey" Nara menjetikkan jarinya didepan wajah Arya membuat senyum Arya langsung memudar.


"Kenapa kamu senyum senyum seperti itu?" tanya Nara


Arya menggeleng dengan cepat.


"Kamu merusak suasana saja" ucap Arya


"Kenapa aku, kamu yang menganggu ku. Sekarang malah menyalahkan aku, memang aneh" gerutu Nara


Arya terkekeh dan menggeleng


"Sudah lah, nanti aku akan mengantar kalian kerumah sakit" ujar Arya yang langsung beranjak dari duduk nya.


"Aku bisa membawa mobil sendiri Yo" jawab Nara namun Arya langsung menggeleng


"Tidak boleh berdua duaan. Kalian bukan muhrim" kata Arya yang langsung keluar dari ruangan Nara.


Nara memandang nya dengan wajah terperangah, namun sedetik kemudian dia langsung mendengus dengan kesal dan begitu jengah.


"Tidak boleh berdua duaan, lalu dia yang menjemput Zelina setiap malam itu apa namanya??? Mana pakai motor pula" gumam Nara tidak habis fikir.


....


Dan tidak terasa hari sudah pukul dua siang saat Nara tiba dirumah kecil Reynand. Setelah selesai rapat dan makan siang dengan Bimantara, Nara langsung pergi kerumah Reynand dengan mobilnya. Dia mengendarai mobilnya sendiri, setelah berdebat lama dengan Arya. Lelaki berambut gondrong itu benar benar menyebalkan, padahal pekerjaan diperusahaan masih begitu banyak, namun dia ingin ikut pergi juga. Tentu Nara melarang, karena Arya pasti hanya akan membuat mereka kesal, lagi pula dia hanya modus untuk mendekati Zelina. Nara sudah paham itu.


Nara memarkirkan mobilnya didepan rumah Reynand. Dia membawa sesuatu ditangan nya, sekotak kue yang dia beli direstaurant tempat nya makan siang tadi.


Nara mengetuk pintu rumah beberapa kali. Dan saat pintu terbuka, senyum hangat dari mama Reynand langsung menyambut kedatangan nya.


"Selamat siang tante" sapa Nara dengan ramah

__ADS_1


"Sore nak, kamu sudah datang. Bahkan Reynand belum siap siap" kata mama Reynand


Nara tersenyum dan menggeleng


"Enggak apa apa tante, lagian jadwal nya jam empat nanti" jawab Nara


"Yasudah, ayo masuk. Reynand ada dihalaman belakang, dia masih melukis. Mungkin dia lupa jika hari ini ada jadwal pemeriksaan" ungkap mama.


"Iya, dia memang begitu kalau sudah serius. Oh ya, ini kue buat Tante dan Zelina. Saya tidak tahu Tante suka atau tidak" Nara menyerahkan kue yang dibawa nya pada mama Reynand seraya mereka yang berjalan masuk kedalam rumah.


"Tante pasti suka nak, apalagi Zelina. Terimakasih ya, kamu baik sekali" puji mama membuat Nara tersenyum malu


"Jangan begitu tante, hanya kue" jawab Nara


Mama Reynand mengusap bahu Nara dengan lembut. Dia begitu bersyukur Nara mau memaafkan kesalahan Reynand dan mau membuat Reynand bangkit kembali. Dan terbukti, baru seminggu kedatangan Nara, Reynand sudah banyak mengalami perubahan. Semangat hidupnya kembali mencuat, bahkan dia benar benar sudah segar dan terlihat ingin sembuh sekarang.


"Yasudah, kamu kebelakang saja. Ibu buatkan teh dulu" ujar mama


"Jangan repot repot tante" sahut Nara


"Hanya teh, tante tidak repot. Tante senang kamu kemari, rumah ini tidak sepi lagi" jawab mama dengan senyum bahagia nya. Bahkan dia dengan semangat langsung beranjak kedapur dengan memeluk kotak kue yang Nara beri.


Ah, Nara benar benar merindukan ibunya sekarang.


Setelah mematung sejenak, Nara langsung berjalan kebelakang rumah. Pintu terbuka, dan dia dapat melihat langsung Reynand yang masih begitu serius melukis dibawah pohon cempaka yang berdaun rindang. Ceceran cat air yang berjatuhan disekitar sana membuktikan jika dia memang sedang begitu menghayati pekerjaan nya.


Nara tersenyum dan berjalan mendekat kearah lelaki itu. Lelaki yang tanpa sadar selalu ada dalam setiap harapan nya.


Sudah seminggu ini, Nara selalu datang dan menemani Reynand menjalani hari hari, memberikan semangat dan juga senyum nya untuk lelaki itu. Dan beruntung nya Nara, karena bukan hanya Reynand yang terhibur dengan kedatangan nya, melainkan juga hati nya sendiri.


Yang dulunya mengaku menyerah, namun kini malah kembali...


"Aku seperti mengenal tempat itu" ucap Nara


Reynand sedikit terkesiap dan langsung menoleh kebelakang. Dia tersenyum memandang Nara yang tidak dia sadari kehadiran nya.


Senyum ini, senyum yang begitu sulit Nara dapatkan dulu. Namun sekarang, sudah bisa dia dapatkan setiap hari. Senyum yang selalu mampu membuat hatinya berdesir hangat.


"Kamu sudah datang, apa sudah waktunya kita pergi?" tanya Reynand yang masih memandang Nara yang kini berdiri disamping nya dan memandangi lukisan yang baru setengah jadi.


"Belum, masih lama, masih dua jam lagi" jawab Nara. Matanya masih fokus pada lukisan Reynand.


"Ah syukurlah, aku kira aku melupakan waktu" jawab Reynand.


Nara tersenyum dan menggeleng.


"Apa ini telaga biru?" tanya Nara


Reynand tersenyum dan mengangguk. Dia kembali mengoleskan kuas nya kekain kanvas itu


"Ya, tapi aku lupa apa saja yang ada disana selain telaga itu" jawab Reynand


"Ada banyak bunga teratai diatas nya, juga jembatan yang memanjang yang membelah telaga itu" jawab Nara


"Kamu masih mengingat nya" ucap Reynand


"Tentu saja, semua masih aku ingat dengan jelas" jawab Nara

__ADS_1


"Ya, ditempat itu aku memulai semua kebodohanku" gumam Reynand dengan helaan nafas yang begitu berat.


"Tapi ditempat itu aku bisa menepati janjiku" sahut Nara pula.


Mereka saling berpandangan dengan lekat dan beberapa detik kemudian saling tersenyum dan sama sama memalingkan wajah yang merona. Sudah seperti dua orang yang baru bertemu dan merasakan jatuh cinta.


"Aku tidak pernah tahu jika kamu suka melukis" ucap Nara seraya terus memandangi Reynand yang begitu lincah memainkan kuas dan menggradasi warna yang dia pilih. Wajah nya tidak sepucat saat pertama mereka bertemu, sekarang Reynand sudah terlihat segar, bahkan rambut halus yang tumbuh dirahang nya juga sudah bersih. Hanya tinggal tubuh kurus nya yang belum pulih.


"Aku suka melukis sejak kecil, ini adalah hobiku. Hanya saja kakek tidak begitu mendukung, dia hanya selalu mengajari ku bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Jadi aku hanya bisa melukis jika ada waktu saja, itu juga diam diam" ungkap Reynand.


"Kamu mau coba" tawar Reynand seraya menyerahkan kuas itu pada Nara.


"Tapi aku tidak terlalu bisa" kata Nara dengan senyum malunya.


Reynand terkekeh pelan, dia langsung menarik lengan Nara untuk lebih mendekat kearah nya.


"Cobalah gambar bunga teratai diatasnya. Bukankah kamu yang paling tahu bunga itu" ujar Reynand


"Bagaimana jika hasilnya jelek" tanya Nara sedikit ragu. Lukisan Reynand sudah begitu bagus, jika ditambah dengan tangannya, apa tidak akan menghancurkan karya seni ini.


"Tidak akan, kamu bahkan belum mencoba nya" kata Reynand


Dia memandang Nara dan mengangguk yakin.


Nara mengangguk dan mulai mengoleskan warna yang tersedia disana. Tubuhnya sedikit membungkuk, berada begitu dekat disamping Reynand, membuat Reynand begitu tenang dengan aroma tubuh Nara. Dia bukan nya memandangi goresan kuas Nara, melainkan memandangi wajah Nara yang begitu indah melebihi apapun. Semakin dilihat, maka semakin tampak keindahan nya.


Reynand tersenyum begitu dalam, dalam hatinya dia berjanji, jika Tuhan masih memberikan nya kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi orang yang lebih baik lagi, maka Reynand berjanji akan membuat Nara selalu bahagia hidup bersama nya, Reynand berjanji akan meratukan wanita ini untuk seumur hidupnya.


Tidak ada lagi yang dia mau, selain Anara. Kebahagiaan nya adalah Anara. Dan jika dia sudah pulih nanti, dia akan merebut kembali apa yang menjadi hak nya, dan akan dia balaskan rasa sakit dan darah yang telah Nara keluarkan untuk wanita licik itu. Ya, Reynand berjanji untuk membalaskan semuanya.


Tidak akan dia biarkan mereka hidup senang sementara dia dan Nara yang menanggung semua nya. Dia tidak bisa menunggu karma dari Tuhan. Karma tidak akan ada jika tanpa perantara, maka dia yang akan menjadi perantara untuk kedua manusia itu.


"Bagaimana?"  pertanyaan Nara langsung membuat Reynand terkesiap. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan langsung menoleh kearah lukisan Nara. Ada beberapa bunga tertatai yang sudah terbentuk, dan cukup bagus untuk seorang pemula.


"Cantik, kamu sudah bisa. Hanya saja, kamu perlu menambahkan sedikit gradasi warna hijau dan putih, dan juga kuas nya dipegang seperti ini" ujar Reynand seraya meraih tangan Nara dan mengoleskan kewarna yang dia pegang, lalu membimbing tangan Nara untuk mengoleskan ke kain kanvas. Nara mematung memandangi Reynand yang membawa tangan nya, apa Reynand tidak sadar???


Dan memang seperti itu yang terjadi, saat merasa tangan Nara sedikit kaku, Reynand terkesiap, bahkan hingga membuat cat air yang masih basah dikuas itu memercik kewajah mereka.


"Ah maaf" seru Reynand seraya mengusap wajah Nara dengan cepat, namun sialnya tangan nya juga dipenuhi oleh banyak warna, membuat wajah Nara kini kotor dan bewarna warni.


"Astaga..." Reynand langsung tertawa terbahak bahak melihat wajah Nara yang dipenuhi oleh cat air. Lucu sekali wajah nya, apalagi ditambah wajah Nara yang cemberut.


"Lucu sekali, maaf, aku tidak sengaja" ucap Reynand masih dengan sisa tawanya. Dia meraih tisu yang ada dibawah kaki nya dan ingin membersihkan wajah Nara. Namun saat ingin mendongak, wajah nya yang dicoret oleh Nara.


"Kamu harus merasakan nya juga" kata Nara dengan penuh dendam namun sedetik kemudian dia langsung tertawa saat melihat hasil karya nya.


Wajah Reynand begitu lucu dengan coretan kuas bewarna hijau yang dia lukis membentuk kumis diatas bibir Reynand.


Reynand terdiam memandang Nara yang terbahak bahak, tidak pernah dia melihat Nara yang tertawa lepas seperti ini, dan sekarang dia melihat nya. Ya Tuhan, indah sekali


"Kamu curang" kata Reynand yang langsung menarik tangan Nara dan kembali mengusap tangan nya kewajah Nara.


"Aaaahhh Rey... kamu yang curang!!!" teriak Nara mencoba menghindar namun Reynand masih senang menggoda nya.


Hal yang tidak pernah terbayangkan oleh mereka, bisa tertawa dan bercanda berdua seperti ini setelah rasa sakit yang mereka hadapi.


Bulan oktober, akhirnya ,,, kebahagiaan dan cinta itu bersemi kembali dioktober kedua belas mereka.

__ADS_1


__ADS_2