Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Mimpi Buruk


__ADS_3

Kehidupan yang tidak bisa diprediksi bagaimana akhirnya. Cepat atau lambat kematian itu akan datang menjemput. Bahkan tidak ada yang tahu umur seseorang akan sampai kapan.


Jika boleh memilih, mungkin tidak ada orang yang ingin mati dengan jalan yang begitu mengerihkan. Atau mungkin, tidak ada orang yang ingin cepat mati ketika kebahagiaan baru saja direngkuh.


Pesawat yang mengudara yang membawa harapan dan impian untuk bertemu dengan orang orang tersayang, namun nyatanya malah terbang mengudara dan tidak lagi kembali. Bukan pulang bertemu dengan orang tersayang, melainkan pulang meninggalkan jejak kenangan yang terasa menyakitkan.


Harapan dan impian terhempas begitu saja. Kerinduan dan kebahagiaan yang ingin didapat langsung hancur berantakan disaat waktu sudah ingin berkhianat.


Menyedihkan...


Air mata dan tangisan pilu sudah pasti mengiringi kepergian mereka yang bahkan tidak bisa lagi untuk dipeluk. Jangankan untuk dipeluk, bahkan hanya untuk sekedar melihat mayat nya saja pun sudah tidak lagi bisa.


Hancur tenggelam dalam samudra yang begitu dalam...


Meninggalkan seluruh kenangan dan cerita manis yang tersimpan dilubuk memori.


Nara mengusap air matanya yang menetes ketika melihat berita dibandara pagi itu.


Pesawat yang seharusnya dia dan Reynand tumpangi malah lost Contact dan akhirnya ditemukan jatuh di lautan Jepang yang terkenal dalam dan luas.


Bagaimana jika siang itu mereka memang naik ke pesawat itu?


Bagaimana jika mereka juga ikut menjadi korban disana?


Bagaimana jika mereka memang akan tiada dengan cara yang tragis itu?


Ya Tuhan...


Membayangkan nya saja Nara sudah benar benar tidak sanggup. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana takut dan mencekamnya keadaan di dalam pesawat saat kejadian itu.


Begitu baiknya Tuhan pada dia dan Reynand, yang masih membiarkan mereka hidup sampai detik ini.


Sungguh, Nara tidak bisa membayangkan jika mereka yang ada dipesawat itu semalam.


"Sayang" panggilan Reynand membuat Nara terkesiap dan langsung menoleh ke arahnya.


Wajah Reynand masih terlihat pucat, namun dia tetap kekeh untuk mengurus penerbangan mereka pagi ini.


"Rey... sudah?" tanya Nara.


Reynand tersenyum dan mengangguk seraya duduk disamping Nara dan merebahkan kepala nya dipundak istri nya.


Nara mengusap kepala Reynand dengan lembut dan meraba dahi nya yang masih terasa hangat.


"Seharusnya biar aku saja yang mengurus tiket keberangkatan kita. Kamu bisa menunggu disini" ujar Nara.


Reynand menggeleng pelan seraya merangkul lengan Nara dengan lembut.


"Aku masih sanggup, lagi pula kita harus cepat pulang. Orang orang disana pasti sudah mengkhawatirkan keadaan kita" ungkap Reynand.


"Kamu sudah menghubungi mereka kan? ponsel ku kehabisan daya" ucap Nara.


"Sudah, baru saja. Mereka mengira kita sudah mati" jawab Reynand


Nara tersenyum getir dan menghela nafasnya dengan berat.


Ya, siang semalam Nara dan Reynand tidak jadi berangkat karena tiba tiba Reynand yang demam tinggi, bahkan dia sampai tidak sadarkan diri karena pusing nya. Nara panik dan langsung membawa nya kerumah sakit. Hingga akhirnya mereka membatalkan penerbangan mereka siang itu.


Karena begitu panik nya, Nara sampai lupa menghubungi siapapun di Indonesia. Dan disaat dia ingat, malah beberapa jaringan terputus akibat cuaca yang ekstrim dan ada gangguan disana, hingga dia tidak bisa menghubungi siapapun lagi sampai malam tadi.


Pagi ini, Reynand yang sudah mulai membaik langsung memutuskan untuk mengambil penerbangan pagi. Cuaca juga sudah mulai kondusif hingga mereka bisa pulang dengan tenang.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita yang ada didalam pesawat itu. Mungkin kita sudah tidak bisa lagi seperti ini" ungkap Reynand.


Nara mengusap kepala Reynand dengan lembut. Matanya kembali berair jika mengenangkan itu.


"Nyatanya Tuhan masih membiarkan kita hidup Rey. Begitu baik nya Dia pada kita" jawab Nara.


Reynand menegakkan tubuhnya dan memandang kearah Nara yang terlihat ingin menangis. Dan kini bergantian dia yang menarik Nara untuk bersandar di dadanya.


Helaan nafas mereka cukup berat, namun ada rasa lega dan rasa syukur yang begitu mendalam didalam hati mereka masing masing.


"Tuhan masih begitu baik memberiku kesempatan untuk membahagiakan kamu sayang" ucap Reynand.


Nara meraih tangan Reynand dan mengusap nya dengan lembut.


"Sudah berkali kali aku diberi kesempatan hidup, rasanya sungguh malu jika meminta hal lain" ucap Nara.


"Kita jalani waktu yang Dia beri dengan baik ya. Dia masih menginginkan kita bahagia bersama dengan orang orang yang menyayangi kita." ungkap Reynand


Nara mendongak dan tersenyum memandang Reynand.


"Membayangkan jika kita yang berada didalam pesawat itu saja sudah membuat ku takut Rey. Bagaimana jika kita yang merasakan itu" ungkap Nara.


Reynand mengusap wajah Nara dengan lembut dan memandang nya dengan penuh cinta dan rasa syukur yang begitu besar.


"Tidak usah dibayangkan. Aku yang sakit dan kamu yang panik ternyata ada hikmah nya" ucap Reynand.


Nara tersenyum dan mengangguk.


"Tapi kita juga sudah membuat orang orang yang ada disana panik dan cemas" ungkap Nara


"Yang penting kita selamat. Mereka juga sudah sangat senang" jawab Reynand yang kembali merebahkan kepala nya dibahu Nara.


"Masih pusing ya?" tanya Nara.


Ya tuhan..


Jangan dulu..


Reynand masih ingin membahagiakan Nara nya..


Tapi jika boleh memilih, jika ingin mengambil nyawanya, dia harap jika mereka memang bisa mati bersama.


Reynand tidak ingin meninggalkan Nara sendiri, dan dia juga tidak ingin di tinggal oleh Nara.


"Apa kita batalkan lagi penerbangan kita?" tanya Nara.


Dan kali ini Reynand langsung terkekeh mendengar nya.


"Aku tahu uang ku banyak sayang. Tapi jika setiap hari kita membatalkan penerbangan, aku jamin tidak akan ada lagi pesawat yang mau membawa kita pulang" jawab Reynand.


Nara tertawa kecil dan memijat lembut kepala Reynand.


Penerbangan mereka masih ada lima belas menit lagi. Dan semoga saja pagi ini mereka bisa pulang tanpa drama dan selamat sampai di rumah.


...


Beberapa saat sebelumnya di Indonesia.


Pagi itu di rumah utama keluarga Adiputra sudah begitu ramai oleh orang orang yang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.


Kabar pesawat jatuh yang membawa Reynand dan Nara sudah menjadi berita panas yang sedang berseliweran dimedia dan berita.

__ADS_1


Hingga pagi ini rumah kediaman tuan Abas sudah dipenuhi oleh orang orang terdekat mereka.


Arya duduk bersama Zelina yang masih menangis sesunggukkan dibahu nya. Mereka duduk bersama Bimantara dan Gendis, juga Naina dan Reyza.


Wajah mereka semua menunjukkan duka yang begitu mendalam. Apalagi Arya dan Zelina. Nara dan Reynand adalah orang yang paling dekat dengan mereka sehingga kabar buruk ini benar benar membuat mereka begitu terpukul.


"Sudah Ze... jangan menangis lagi" ucap Gendis seraya mengusap bahu Zelina dengan lembut.


"Ze masih tidak menyangka kak, Kak Nara dan kak Rey akan pergi secepat ini" jawab Zelina yang kembali menangis.


Naina memandang Zelina dengan begitu iba. Dia memang baru sebentar kenal dengan Nara dan keluarga ini, namun sifat mereka yang baik sudah membuat kesan tersendiri dihatinya.


Arya sudah terdiam sejak semalam, tidak ada sepatah kata pun yang dia keluarkan jika tidak ditanya. Sepertinya pria berambut gondrong ini benar benar terpukul dengan kabar yang mereka terima.


Bahkan Bimantara saja terlihat begitu sedih. Walau bagaimana pun dia cukup dekat dengan Nara dan Reynand. Dan kabar ini membuatnya juga ikut bersedih.


Nara adalah seseorang yang pernah singgah dihatinya. Seseorang yang pernah dia perjuangkan. Dan ketika mendengar kabar mengejutkan ini, tentu dia juga begitu terpukul.


"Sabar... kita kirim doa bersama sama ya" ujar Naina pada Zelina.


Zelina hanya mengangguk dan mengusap air matanya. Arya sesekali mengusap kepala Zelina dengan lembut. Dia tahu bagaimana sedih nya Zelina kehilangan mereka.


Tuan Abas sedang duduk bersama dengan tuan Renggono dan juga beberapa orang tua lain nya. Sedangkan mama duduk bersama eyang putri yang juga hadir disana.


Sungguh, suasana rumah pagi itu benar benar terasa memilukan bagi mereka semua.


Mereka baru berkumpul, baru merasakan kebahagiaan karena pernikahan Nara dan Reynand. Tapi kenapa kebahagiaan yang baru mereka rasakan itu begitu cepat berlalu dan digantikan dengan kabar buruk ini.


Sungguh mereka semua benar benar lemas tidak berdaya.


Hingga tiba tiba...


Kedatangan Guntur yang masuk dengan wajah berbinar nya langsung membuat mereka semua yang sedang duduk berkumpul nampak terkesiap. Pasalnya asisten Adiputra ini terlihat masuk dengan tergopoh-gopoh.


"Tuan besar, tuan muda masih hidup" seru Guntur pada tuan Abas. Membuat semua orang langsung terkesiap kaget.


"Apa maksud mu Guntur?" tanya tuan Abas yang bahkan langsung berdiri dan segera berjalan mendekat kearah Guntur. Begitu juga dengan yang lain nya. Bahkan mama yang sejak tadi diam dengan tangisan nya juga ikut berdiri bersama eyang putri.


"Guntur, kamu tidak bercanda kan" tanya mama pula.


"Hei.. cepat katakan" seru Arya yang sudah begitu ingin tahu. Jantung nya bahkan sudah bergemuruh hebat sekarang


"Tuan Reynand baru saja menghubungi saya tuan. Dia berkata jika mereka tidak naik kepesawat itu, karena dia yang tiba tiba tidak sehat dan masuk kerumah sakit. Mereka mengambil penerbangan pagi ini" ungkap Guntur.


"Hubungi lagi dia. Aku tidak percaya jika belum mendengar suaranya" ujar tuan Abas.


Guntur mengangguk, dan langsung menghubungi ponsel Reynand. Cukup lama mereka menunggu dengan jantung yang saling berdegup dengan kencang.


Hingga sebuah suara terdengar dengan lemas dan serak namun mampu menjadi angin segar untuk mereka semua.


"Halo..."


Arya langsung jatuh terduduk dengan lemas diatas sofa, namun dengan rasa lega yang tidak terhingga benar benar menyelimuti perasaan nya.


Mama dan Zelina kembali menangis, tapi kali ini mereka menangis bahagia.


Ya tuhan...


Ternyata ini hanya mimpi buruk yang membuat mereka serasa ingin terbunuh.


Reynand dan Nara Masih Hidup...

__ADS_1


Sungguh, mereka semua bagai diselimuti mimpi buruk sejak semalam.


__ADS_2