
Dan tidak sampai menunggu besok, siang ini tiba tiba saja Guntur menghubungi Nara. Dia berkata jika Reynand mengamuk diperusahaan, dan dia sungguh tidak bisa untuk mengendalikan emosi Reynand.
Sungguh, Nara benar benar terkejut mendengar itu. Langsung saja siang itu juga dia pergi keperusahaan Adidaksa. Nara pergi dengan membawa mobil sendiri, mobil yang dibelikan Reynand untuk nya. Mobil yang mempermudahkan Nara untuk kemanapun.
Satu jam kemudian, Nara sudah tiba diperusahaan suaminya. Dan dia langsung disambut oleh semua karyawan Reynand.
Wajah mereka semua nampak kusut dan lelah, padahal hari masih siang, tapi kenapa dengan mereka?
Nara langsung disambut oleh Guntur. Dan wajah pria paruh baya berambut botak setengah ini bahkan jauh lebih parah dari pada karyawan nya.
"Apa yang terjadi?" tanya Nara pada Guntur. Seraya mereka yang berjalan menuju lift Presdir. Sesekali Nara tersenyum dan mengangguk menanggapi sapaan para karyawan Reynand.
"Entah ada apa dengan tuan Reynand nona, tapi sungguh, hari ini seperti nya dia memang sedang tiba baik baik saja. Sejak masuk kedalam perusahaan dia sudah mengeluh pada semua karyawan untuk mengganti parfum yang mereka pakai" ungkap Guntur.
"Mengganti parfum?" gumam Nara
Guntur langsung mengangguk dengan cepat.
"Bahkan rapat hari ini berantakan karena dia yang muntah muntah didalam ruangan. Dan lagi lagi karena parfum" kata Guntur lagi.
Nara langsung meringis mendengar itu. Segila itukah Reynand?
"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Nara lagi. Saat ini mereka sudah berada didalam lift.
"Didalam ruangan nya nona. Tadi sewaktu saat saya tinggal dia masih muntah muntah karena perutnya mual. Saya sudah menawarinya untuk pergi kerumah sakit. Tapi tuan Reynand menolak" jawab Guntur.
Nara menghela nafasnya dengan pelan dan mengangguk.
Hingga akhirnya mereka langsung berjalan keruangan Reynand. Dan lagi lagi Nara mendapati wajah sekretaris Reynand yang juga terlihat lelah.
"Kenapa dengan wajah semua orang hari ini?" tanya Nara begitu heran.
"Mereka bekerja begitu keras. Bahkan hanya karena salah sedikit saja tuan Reynand sudah menghukum mereka" jawab Guntur.
"Bahkan gaji saya juga sudah hilang separuh" sahutnya lagi, dan terdengar begitu lesu.
Nara jadi bingung, mau tertawa atau iba mendengar nya. Reynand selalu saja bertindak sesuka hati.
Guntur membukakan pintu ruangan Reynand hingga Nara langsung masuk kedalam dan langsung mendapati Reynand yang sudah terkapar lemas tidak berdaya diatas sofa.
"Sayang ...." panggil Nara yang langsung mendapati Reynand. Wajahnya benar benar pucat, bahkan nyaris menguning. Entah sudah berapa kali dia muntah hari ini.
"Oh sayang... akhirnya kamu datang" Reynand langsung beranjak dan memeluk Nara yang sudah duduk disamping nya.
Bahkan Reynand tidak malu lagi pada Guntur yang berada diambang pintu. Memeluk Nara dan menikmati aroma tubuhnya membuat perasaan Reynand jauh terasa lebih baik.
"Kamu muntah lagi" tanya Nara seraya mengusap bahu Reynand yang nampak lemas.
Reynand mengangguk pelan dalam dekapan Nara. Rasanya dia benar-benar sudah tidak sanggup untuk berjalan atau melakukan apapun. Rasa mual dan pusing ini benar benar menyiksanya.
"Kita kerumah sakit ya" ajak Nara.
Reynand menggeleng pelan.
"Aku lemas sekali" gumam nya.
"Iya, maka dari itu kita kerumah sakit. Aku takut magh kamu kambuh. Ayo, Guntur sudah menunggu" ujar Nara
"Tidak mau, dia bau" sahut Reynand
Nara langsung meringis dan menoleh pada Guntur yang terlihat menghela nafas nya dengan berat.
"Yasudah, ayo aku bantu pelan pelan. Masih sanggup berjalan keluar kan" tanya Nara seraya berdiri dan menjulurkan tangan nya pada Reynand.
"Jangan jauh jauh dariku, mereka semua bau, dan aku tidak suka" jawab Reynand
"Iya, sepertinya hidung mu yang sedang bermasalah Rey" ungkap Nara
Reynand terlihat mendengus kesal mendengar itu.
"Hidung kebanggaan ku ini tidak mungkin bermasalah. Mereka saja yang tidak tahu kebersihan. Memakai parfum tapi parfum yang menyengat. Menjengkelkan, aku jadi mual mencium bau mereka." gerutu Reynand
Guntur dan Nara bahkan saling pandang dengan canggung dan getir. Kali ini mereka cukup cemas. Entah penciuman Reynand yang sedang bermasalah, atau bahkan otak nya yang sudah bergeser.
Entahlah...
Nara cukup cemas melihat keadaan Reynand sebenarnya. Tapi masih sakit pun dia masih bisa berbicara angkuh dan sombong. Benar benar suaminya ini selalu bisa membuat kesal akhir akhir ini.
Reynand berjalan dengan dirangkul oleh Nara. Dia benar benar lemas, bahkan rasanya dia sudah berjalan diatas air saat ini. Terasa ingin terjatuh selalu, tapi dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan nya karena Nara pasti keberatan membawa tubuhnya yang besar dan tinggi ini.
Semua karyawan langsung membungkuk hormat saat melihat Reynand yang berjalan dengan Nara. Wajah bos mereka terlihat pucat Pasih bagai tidak lagi di aliri darah.
__ADS_1
"Tuan, anda baik baik saja?" tanya seorang staf petinggi perusahaan yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka dilantai bawah.
"Uuuhhh kenapa semua orang sangat bau hari ini. Pergi sana kau" usir Reynand seraya menutup hidung nya dengan lengan.
"Bau" ucap orang itu dengan begitu bingung.
"Pergilah, tuan Reynand baik baik saja" sahut Guntur dari belakang mereka.
"Tidak apa apa. Hanya kurang enak badan. Kalian kembalilah bekerja" ujar Nara pula.
"Baik nona, permisi" jawab staf perusahaan itu.
Mereka memandang Reynand dengan bingung, wajahnya pucat tapi dia masih bisa cerewet. Dan lagi, sejak pagi dia sudah selalu berkata jika mereka bau dan bahkan sudah ada beberapa orang karyawan yang diminta Reynand untuk pulang dan berganti pakaian.
Entah sedang ada masalah apa dengan Indra penciuman Reynand hari ini.
Rapat bahkan batal dan berantakan hanya karena bau yang dia maksud itu.
Tiba tiba ketika sampai diambang pintu, Reynand menghentikan kakinnya, membuat Nara yang merangkul lengan nya nampak berhenti dan memandang nya dengan bingung.
"Ada apa?" tanya Nara
Reynand kembali membalikkan tubuhnya dan memandang beberapa karyawan dan juga receptionis yang sedang bekerja.
"Berikan pengumuman pada seluruh karyawan, jika masih mau bekerja, suruh mereka ganti semua parfum mereka dengan parfum yang sama seperti milik istriku" ujar Reynand dengan begitu gila.
Mata seluruh karyawan yang mendengar itu langsung melebar sempurna. Bahkan Nara dan Guntur juga begitu.
"Rey... apa apaan kamu. Mana bisa begitu" proses Nara.
"Tuan" panggil Guntur pula
"Diam, tidak ada bantahan jika kalian tidak mau aku potong gaji" seru Reynand lagi.
"Rey... tapikan" ucapan Nara terhenti ketika melihat Reynand yang memandang nya dengan lekat.
"Kamu mau melihatku mati diperusahaan ku sendiri. Sudahlah, ayo kita pergi. Aku sungguh tidak kuat lagi" pinta Reynand yang langsung merebahkan kepala nya dibahu Nara.
Guntur langsung memandang semua karyawan mereka. Mereka semua nampak bersedih dan frustasi. Bagaimana tidak, jika mereka yakin, parfum yang dipakai Nara pasti lebih mahal dari gaji sebulan yang mereka terima.
Astaga....
Reynand benar benar ingin mengajak mereka mati bersama.
Beberapa waktu kemudian, Reynand dan Nara sudah berada dirumah sakit.
Reynand sedang diperiksa oleh seorang dokter diruangan nya.
Dan lagi, sudah dirumah sakit pun Reynand tidak ingin jauh dari Nara, hingga kini Nara tetap berada disampingnya yang sedang diperiksa.
Dokter itu terlihat mengernyit bingung, dan itu semakin membuat Nara menjadi cemas.
Apakah ada sesuatu yang membahayakan?
Atau benarkah tubuh Reynand memang sedang tidak baik baik saja?
"Bagaimana dokter, apa ada yang serius?" tanya Nara dengan nada panik dan khawatir.
Reynand yang sejak tadi menggenggam tangan nya kini semakin mengeratkan genggaman nya. Meskipun matanya terpejam karena dia benar benar pusing.
"Semua terlihat baik baik saja nona. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan tidak ada yang salah sedikitpun" jawab dokter itu.
Nara memandang bingung pada dokter wanita ini.
"Kenapa begitu. Suami saya sudah beberapa hari ini tidak selera makan, dia mual dan muntah terus. Bahkan hari ini dia sudah muntah berkali kali" ungkap Nara.
Dokter wanita itu terlihat terdiam dan tersenyum tipis.
"Sebaiknya anda periksa ke dokter Sandra saja nona. Mungkin kalian akan menemukan jawaban nya disana" ujar dokter wanita itu.
"Dokter Sandra?" gumam Nara.
Dokter wanita itu mengangguk dengan cepat.
"Dokter spesialis kandungan?" jawab dokter itu.
"Hah, kenapa harus kesana dokter. Apa dokter fikir saya ini hamil?" sahut Reynand dengan cepat.
Nara langsung memandang Reynand dengan kesal, dia masih bingung kenapa dia yang harus periksa kesana. Dan sekarang Reynand malah berbicara yang tidak tidak.
Bahkan dokter wanita itu nampak mengulum senyum melihat Reynand.
__ADS_1
"Bukan tuan... Bukan anda, tapi nona Nara" ucap dokter wanita itu.
Reynand terdiam, dia langsung menoleh pada Nara yang nampak menghela nafasnya dan mengangguk.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mendatangi dokter Sandra yang memang sedang stand by diruangan nya.
Bahkan Nara langsung dibaringkan disebuah ranjang dan diperiksa oleh dokter Sandra.
Dokter Sandra nampak tersenyum saat memeriksa perut Nara dengan alatnya.
"Dokter bagaimana, apa istri saya memang hamil?" tanya Reynand yang masih tidak percaya. Begitu juga dengan Nara. Karen sungguh, kehamilan adalah hal yang tidak pernah mereka harapkan. Bukan tidak ingin berharap, tapi lebih kepada pasrah karena mereka sadar dengan kondisi kesehatan mereka masing masing.
Dokter Sandra tersenyum dan mengangguk.
"Selamat nona, tuan. Kalian memang akan menjadi orang tua sebentar lagi" jawab dokter Sandra.
deg
deg
deg
Nara dan Reynand langsung terpaku mendengar itu.
Benarkah ini?
Benarkah mereka akan mempunyai anak?
"Dokter... anda... Anda serius?" tanya Reynand dengan wajah yang tidak bisa diartikan. Bahkan mata Nara sudah berair dan ingin menangis.
Dokter Sandra mengangguk dan tersenyum.
"Ya, agar lebih jelas nya, kita lihat dulu berapa usia kandungan janin ini" ujar dokter Sandra yang langsung beranjak dan segera menyiapkan alat yang lain bersama asisten.
"Sayang... kamu... kamu hamil" gumam Reynand yang sungguh nampak sangat bahagia. Bahkan rasa mual dan pusing nya langsung menghilang begitu saja.
"Rey... ini... ini seperti mimpi" balas Nara yang langsung menangis.
Reynand mencium pucuk kepala Nara degan matanya yang juga berkaca kaca.
Mata mereka langsung melihat dokter Sandra yang mengusapkan gel diperut Nara dan meletakkan sebuah alat disana.
"Lihat... itu calon bayi kalian" dokter Sandra langsung menunjuk pada layar monitor
Mata Reynand dan Nara langsung memandang kelayar monitor itu.
"Tuan... nona... luar biasa. Nona Nara mengandung bayi kembar. Lihat lah... ada dua kantung didalam sana" ungkap dokter Sandra
"Ini ... ini benar kan dokter. Bukan mimpi?" tanya Nara yang masih tidak percaya.
Dia hamil
Anak kembar???
Dokter Sandra mengangguk dan tersenyum
"Benar nona, ini kenyataan. Selamat untuk kalian. Sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua dari dua bayi sekaligus" jawab dokter Sandra.
Reynand langsung menangis dan memeluk Nara dengan erat.
Bahkan mereka saling menangis bersama sama.
Kenapa Tuhan begitu baik pada mereka?
Kenapa lagi lagi Tuhan memberikan hal yang tidak pernah terduga.
Mereka hanya insan yang terkadang lemah dan selalu mengeluh, tapi lagi dan lagi. Tuhan memberikan hadiah yang tidak terduga pada mereka.
Setelah kesempatan kedua untuk mendapatkan cinta dan bahagia, kesempatan untuk hidup berkali kali, dan sekarang.... mereka dihadiahkan sepasang anak kembar didalam rahim Nara.
Anak yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya...
Ya Tuhan...
Terimakasih...
Sungguh begitu baik nya Engkau pada kami yang selalu meragukan Kuasa mu...
Nara dan Reynand benar benar menumpahkan tangis nya didalam ruangan itu. Apalagi ketika melihat calon bayi mereka yang masih sebesar biji kacang. Tapi sungguh, mereka sangat bahagia. Rasa bahagia mereka benar benar lengkap sekarang.
Dokter Sandra bahkan ikut menangis melihat kebahagiaan pasangan ini.
__ADS_1
Pasal nya dia tahu, jika Nara dan Reynand sudah menikah selama hampir satu tahun.