
Percikan air yang terasa dingin dan mengejutkan langsung membangunkan Reynand dari tidurnya. Dia terkesiap kaget saat melihat seorang wanita tua pemilik rumah ini sudah berdiri dihadapan nya. Dan itu membuat Reynand juga langsung berdiri seraya mengusap wajah nya dengan kasar. Tubuhnya serasa oleng karena bangun dengan tergesa. Kepala nya juga terasa pusing karena hanya terlelap beberapa menit. Itupun apa karena dia ketiduran?
"Kamu begitu keras kepala" kata Eyang putri begitu ketus, tangan nya dia lipat kedada dan memandang Reynand dengan tajam. Dia mengira jika Reynand akan pergi dari rumahnya, namun kelihatan nya lelaki ini memang cukup keras kepala. Yah, memang sudah kelihatan dari wajahnya.
"Sekarang bolehkah saya menemui Nara nyonya" pinta Reynand langsung. Sungguh dia sudah tidak bisa untuk menunggu lagi. Hatinya benar benar gundah gulana
"Mau apa bertemu dengan dia? Bukankah kalian sudah berpisah?" tanya Eyang putri masih dengan wajah angkuh nya.
Reynand menggeleng dengan cepat.
"Tidak, tidak ada perpisahan yang terjadi. Saya tidak ingin berpisah dengan nya. Jadi tolong izinkan saya untuk bertemu dengan Nara. Saya mohon nyonya" kata Reynand lagi. Wajah nya kusut, bahkan sangat memelas. Dan sedikit banyak nya itu membuat hati Eyang putri mengiba. Tapi dia tahu jika Nara memang sudah menginginkan perpisahan dengan lelaki ini.
"Saya ingin meminta maaf pada Nara, saya ingin meminta ampunan dari istri saya" ungkap Reynand dengan pandangan yang tertunduk. Bahkan tubuhnya pun seakan ikut merunduk karena beban penyesalan yang dia tanggung.
"Apa kamu yakin dia mau memaafkan mu?" tanya Eyang putri
Reynand langsung mendongak, memandang Eyang putri dengan pandangan yang begitu getir. Dia kembali menunduk dan menghela nafasnya dengan berat.
"Kesalahan saya memang cukup besar. Dia pantas marah dan membenci saya. Tapi saat ini saya hanya ingin bertemu dengan dia. Meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan. Dan jika dia tidak bisa memaafkan saya, saya tidak akan memaksa. Saya tahu kesalahan saya memang tidak bisa dimaafkan dengan mudah" ungkap Reynand
"Ya, kamu memang tidak bisa memaksa nya. Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan nya saat ini. Sakitnya sudah cukup parah, dan jika kamu menambah beban fikiran nya lagi, maka sama saja kamu akan mempercepat kematian nya" jawab Eyang putri. Dan entah kenapa perkataan Eyang putri ini benar benar terasa menusuk jantung Reynand.
Dia mengangguk dengan perasaan yang begitu getir dan pedih, apalagi jika mengingat kondisi Nara yang menderita penyakit mematikan itu. Entah Nara bisa sembuh atau tidak, apalagi dengan golongan darah nya yang langka. Namun Reynand selalu berharap dia bisa melihat Nara sembuh dan bahagia kembali.
"Dia ada ditaman belakang" ujar Eyang putri yang langsung berbalik arah dan mendahului Reynand
Reynand tersenyum dan segera mengikuti langkah kaki Eyang putri. Mereka tidak masuk kedalam rumah melainkan melewati jalan disamping rumah itu. Halaman yang dipenuhi oleh berbagai tanaman, ada beberapa tempat seperti green house, namun ditanami dengan berbagai tanaman obat obatan dan rempah rempah. Halaman itu cukup luas dan menghijau, berbagai pohon, bunga dan tanaman tanaman lain nya membuat pemandangan disana terlihat begitu asri dan segar.
Namun sayang nya kesegaran dan kesejukan tempat itu tidak bisa dirasakan oleh Reynand. Saat ini yang ada didalam hati dan fikiran nya hanya tentang Nara. Tentang bagaimana keadaan nya yang sekarang, tentang bagaimana perasaan nya pada Reynand? Apakah Nara membencinya?
"Pergilah, dia ada disana. Aku tidak bisa menghalangi mu karena kamu masih suaminya. Tapi jangan paksakan kehendakmu. Dia sudah cukup terbebani dengan keadaan nya yang sekarang" ujar Eyang putri yang sedikit mengejutkan Reynand
"Baik nyonya, saya mengerti. Terimakasih banyak" jawab Reynand
Eyang putri hanya mengangguk dan dia langsung berlalu menuju green house bersama pelayan pribadi nya yang ternyata mengikuti mereka sejak tadi. Sedangkan Reynand berjalan menuju sebuah gazebo kecil yang ada ditengah taman milik Eyang putri.
Jantung nya bergemuruh hebat, bahkan langkah kakinya terasa begitu berat, apalagi ketika melihat seorang wanita yang masih menjadi istrinya duduk melamun digazebo itu.
Reynand menarik nafasnya dalam dalam, matanya berkaca kaca seirama dengan hatinya yang begitu mencelos melihat keadaan Nara.
Dari belakang saja dia tahu jika Nara pasti begitu menderita dengan penyakitnya. Tubuh wanita itu begitu kurus dan layu, meski kecantikan nya tetap saja tidak pernah pudar. Hanya tidak ada lagi binar dan aura terang yang terpancar seperti dulu.
"Nara......" panggil Reynand dengan suara yang terasa tercekat ditenggorokan. Nafasnya tertahan dengan degup jantung yang tidak beraturan. Apalagi saat Nara menoleh pada nya dengan pandangan yang terkejut
Beberapa detik mereka saling menatap dengan lekat. Jika pandangan mata Reynand penuh dengan kerinduan dan penyesalan, maka Nara memandang nya dengan tatapan hampa dan kosong. Tidak ada lagi tatapan cinta dan kekaguman seperti dulu. Tidak ada lagi senyum indah yang selalu menyambut kedatangan nya. Tidak ada lagi Nara yang meraih tangan nya untuk dicium. Tidak ada lagi, kini yang Reynand dapatkan hanya pandangan mata yang kosong dan kekecewaan yang besar. Dan itu membuat Reynand benar benar terluka
"Mau apa?" tanya Nara. Bahkan nada suara nya terdengar dingin dan datar. Sungguh Reynand benar benar hancur melihat ini. Seberapa besar kah Nara memendam kebencian untuknya???
"Nara...aku..." demi apapun, rasanya lidah Reynand tidak mampu untuk berucap. Seperti ada sebuah beban yang terasa menghantam jantung nya. Masihkah pantas dia meminta maaf pada Nara setelah semua yang dia lakukan? Apalagi melihat Nara yang seperti ini. Reynand benar benar lemah dan tidak berdaya
"Apa kamu datang membawa surat perceraian kita?" tanya Nara. Dia masih memandang lekat wajah kusut Reynand
__ADS_1
"Tidak Nara...aku tidak ingin bercerai denganmu" jawab Reynand. Dia segera berjalan mendekat kearah Nara, namun langsung terhenti saat Nara mengangkat tangan nya dan memandang Reynand dengan datar
"Semua sudah kamu dapatkan. Cintaku, darahku, kesakitanku, bahkan perusahaan ku. Apa itu masih belum cukup????" tanya Nara lagi
Reynand kembali menggeleng dan merunduk
"Nara......"
"Maafkan aku....maaf" ucap Reynand begitu pelan, namun sekuat mungkin dia menahan tangis yang sungguh tidak bisa dia tahan
Nara tersenyum sinis namun juga getir
"Untuk apa meminta maaf padaku?" tanya Nara yang langsung memalingkan wajahnya saat Reynand memandang nya dengan mata yang sudah berair dan terlihat begitu...........menyedihkan
"Nara... aku salah. Aku sangat bersalah padamu. Aku mohon izinkan aku untuk menebus semua kesalahan ku" ucap Reynand
Nara menggeleng pelan. Dia menurunkan kakinya dan memandang kembali pada Reynand
"Sedari dulu kamu selalu berkata jika aku adalah beban untukmu. Kamu selalu berkata jika aku adalah masalah yang mengganggu kehidupanmu. Dan kamu juga sudah sering untuk meminta ku pergi." ungkap Nara. Dia menarik nafasnya sejenak dan tersenyum memandang Reynand yang masih memandang nya dengan sendu dan penuh kehancuran
"Rey... aku hanya menuruti semua keinginan mu. Bukankah seharusnya kamu senang???" tanya Nara
Reynand menggeleng dengan lemah. Kepala nya tertunduk, bahkan bahu kekar nya juga seakan tidak mampu lagi untuk tegak dan berdiri angkuh seperti biasa. Semua perkataan Nara adalah benar. Dia yang selalu meminta Nara untuk pergi, dia selalu berkata jika Nara adalah penyebab masalah nya. Tapi setelah Nara pergi, hatinya malah berkhianat, dia benar benar menyesali semuanya. Semua yang dia lakukan hanya semata mata untuk menutupi jika dia telah mencintai Anara.
"Nara.... aku memang bodoh. Dulu aku memang tidak bisa memahami cinta yang kamu beri. Aku selalu menyakitimu dengan semua perlakuan ku. Tapi...kepergian mu telah membuka hatiku, jika ternyata aku sudah mencintai kamu" ungkap Reynand memandang Nara yang masih terdiam bahkan tanpa ekspresi sedikitpun.
Ya, apa yang harus dia rasakan untuk sekarang. Bahagia dengan ungkapan itu? Rasanya tidak, bahkan untuk sekarang dia sudah tidak menginginkan apapun lagi. Apalagi dengan perkataan manis yang sudah sangat terlambat itu.
"Bukankah cinta mu hanya untuk Cleo?" tanya Nara
"Tidak, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertemuan kita sebelas tahun yang lalu" jawab Reynand dengan cepat
"Cinta seperti apa yang kamu maksud Rey. Apa cinta memang harus menyakiti?" tanya Nara seraya turun dengan perlahan dari atas gazebo itu. Dia meraih sebuah kursi roda yang berada tidak jauh dari tempat nya duduk
"Nara... maafkan aku. Aku benar benar menyesal" ucap Reynand. Namun Nara hanya menggeleng dan mengacuhkan nya
"Pulanglah, dan tanda tangani surat itu. Kita sudah selesai saat akhir oktober dihari itu" ucap Nara. Dia ingin meraih kursi rodanya, namun tiba tiba Reynand langsung meraih kaki Nara dan berlutut dihadapan nya. Nara begitu terkejut, namun dia hanya memasang wajah datar memandang Reynand
"Aku mohon, maafkan aku Nara. Ampuni aku..."pinta Reynand begitu mengiba
"Aku benar benar menyesal. Ku mohon maafkan semua kebodohan ku. Izinkan aku memperbaiki semua nya" ucap Reynand lagi. Dia memandang Nara dengan tatapan begitu hancur dan memelas, bahkan bulir air sudah turun membasahi wajah tampan nya yang tidak lagi mempesona
Nara menggeleng dan mencoba melepaskan kaki nya, namun Reynand masih memeluk kaki kurus yang begitu lemah itu dengan erat dan penuh perasaan
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua nya Nara....aku mohon" Reynand masih memandang Nara yang kini sudah memalingkan wajahnya. Dia tidak pernah menyangka jika tuan angkuh ini akan sanggup berlutut dikaki nya dengan pandangan yang begitu hancur. Tapi sungguh, untuk kembali Nara belum siap, apalagi dengan keadaan nya yang sekarang.
"Aku sudah menawarkan kesempatan berkali kali padamu Rey" ucap Nara tanpa ingin memandang Reynand
"Sabarku, tulusku, cintaku dan senyumku semua kamu abaikan. Sedikitpun kamu tidak pernah melihatku bukan" kata Nara lagi. Mendengar itu Reynand langsung tertunduk pedih
"Dua tahun waktu ku bertahan untuk meyakinkan mu jika aku mencintaimu. Meskipun kamu membalasnya dengan kesakitan, tapi aku selalu mencoba untuk bertahan dan menjadi yang terbaik. Tapi apa yang aku dapatkan? Untuk sedikit saja senyum darimu pun tidak pernah aku temui. Cintaku tidak sekuat itu Rey. Aku sudah pernah bilang kan, sudah cukup sebelas tahun aku mencintai kamu" ungkap Nara dengan senyum pedih nya
__ADS_1
Tangan Reynand langsung terlepas dan saling menggenggam diatas tanah. Isak tangisnya mulai terdengar begitu pedih. Namun sekuat hati, Nara tidak ingin melihatnya lagi.
"Aku menyerah Rey" kata Nara untuk yang terakhir kalinya
"Nara......" panggil Reynand. Dia mendongak memandang Nara dengan gelengan kepala yang putus asa
"Aku mohon.... maafkan aku" pinta nya begitu pelan dan sangat pedih
"Aku sudah memaafkan mu, sejak dulu kamu tidak pernah salah. Akulah yang salah telah memaksa masuk kedalam hidupmu" jawab Nara
"Tolong, tolong jangan begini. Tolong beritahu aku bagaimana cara ku untuk menebus semua kesalahan ku padamu. Sakit sekali Nara..... Penyesalan ini sungguh membuat ku tidak berdaya" ucap Reynand lagi
Nara menoleh kearah nya, memandang Reynand yang menangis tertahan dibawah kakinya
"Apa kamu tahu rasa sakit yang sudah kamu berikan padaku?" tanya Nara pula
"Maafkan aku..... aku tahu kesalahan ku begitu besar. Jika pun kamu mau, kamu bisa membunuhku untuk melepaskan rasa bersalah ini. Aku menyesal Nara, sangat menyesal" ungkap Reynand. Tidak tahu lagi harus bagaimana dia meminta maaf pada Nara, semua nya terasa sulit, dan kebencian Nara sudah mendarah daging
"Jika bisa, aku sudah melakukan nya sejak dulu. Bahkan aku selalu meminta pada Tuhan untuk cepat mengambil nyawaku. Tapi nyatanya aku masih dibiarkan hidup sampai detik ini. Kamu tahu kan, betapa sakit untuk bertahan disaat kamu sudah ingin mati" jawab Nara memandang Reynand dengan penuh perasaan
"Nara......" lirih Reynand yang kembali tertunduk
"Ayo pergi" suara seseorang membuat Reynand terkesiap. Ternyata Arya yang datang dan mengambil alih kursi roda Nara
Nara mengangguk dan duduk dikursi roda nya, namun Reynand kembali meraih kaki nya masih dengan posisi berlutut
"Nara.... ku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi" pinta Reynand begitu berharap
"Aku sudah memaafkan mu, tapi untuk memberimu kesempatan aku sudah tidak bisa" jawab Nara
"Nara.... aku mohon. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu" kata Reynand lagi
"Kita pergi" ajak Nara pada Arya. Arya mengangguk dan kembali menarik kursi roda Nara. Dia hanya diam dan tidak ingin ikut campur meski ingin sekali menghajar batang hidung Reynand saat ini
"Nara...." panggil Reynand, namun Nara mengabaikan nya. Reynand ingin menahan namun dia tidak mungkin memaksa, hingga dengan terpaksa dia melepaskan Nara yang dibawa pergi oleh Arya.
Reynand beranjak dan berjalan mengikuti Arya yang membawa Nara
"Nara.... aku tahu kesalahan ku begitu besar. Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkan ku. Tapi aku tetap tidak mau berpisah dengan mu. Aku akan menunggu sampai kamu bisa menerima ku lagi" ucap Reynand yang terus mengikuti Nara
"Pergilah Rey" usir Nara
"Tidak... aku akan tetap disini menemanimu" jawab Reynand
"Tuan.... tolong jangan memaksa" kata Arya yang memandang Reynand dengan tajam. Reynand langsung menghentikan langkah nya dan memandang sedih pada Arya yang kembali membawa Nara masuk kedalam rumah. Dia tidak berani masuk, dia takut diusir oleh pemilik rumah ini. Lagi pula jika dia memaksa, dia takut jika Nara akan semakin membencinya.
Reynand jatuh terduduk disebuah pinggiran pembatas taman. Mengusap wajah nya dengan kasar, tarikan nafasnya benar benar berat dan sesak. Serasa oksigen didunia ini sudah tidak lagi tersisa untuknya.
Perlahan, ya. Perlahan lahan Reynand akan mencari maaf Nara dan membuktikan jika dia memang benar benar mencintai Nara.
Meski dia tahu ini sulit, tapi dia akan tetap berusaha. Kesalahan nya yang begitu besar tidak akan mungkin dengan mudah untuk dimaafkan maupun diterima kembali.
__ADS_1
Jika Nara bisa bertahan selama dua tahun untuk mencari cinta nya, kenapa Reynand tidak bisa melakukan itu??? Kesakitan Nara, harus dia rasakan, meski itu tidak sebanding dengan apa yang Nara rasakan.