
Nara tiba dirumah lebih awal, hari masih sore namun langit sudah kembali mendung. Dia benar benar tidak keperusahaan hari ini. Berada diperjalanan yang lumayan jauh cukup membuat nya kelelahan dan tentu saja yang dia butuhkan hanyalah meminum obatnya dan istirahat untuk meredakan pinggang nya yang lagi lagi sudah terasa berdenyut.
Tidak lagi membersihkan diri, setelah meminum obatnya, Nara langsung naik keatas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya yang sangat berat. Malam tadi dia tidak cukup tidur, sehingga sore ini, karena lelah akhirnya dia bisa tertidur dengan tenang. Meski tidak mendapatkan kenyamanan, namun dia berharap tubuhnya bisa beristirahat sejenak dari lelah nya kehidupan.
Dan disaat Nara tertidur, disaat itu pula Reynand kembali kerumah itu. Hari sudah begitu senja dan gerimis sudah mulai turun. Lelaki itu tampak sedikit berlari masuk kedalam rumah. Dia langsung membuka pintu yang ternyata tidak dikunci oleh Nara.
Langkah kaki Reynand berjalan dengan pasti memasuki rumah. Matanya mengedar mencari dimana keberadaan penghuni rumah yang berstatus sebagai istrinya itu. Dia masih mengenakan setelan jas formal nya, sepertinya dia baru saja pulang dari perusahaan dan terus kembali kerumah ini.
Mata tajam Reynand sedikit memicing saat melihat rumah begitu sepi dan lampu yang belum dihidupkan sama sekali. Seharusnya Nara dirumah kan, karena mobilnya ada digarasi.
Karena penasaran, Reynand akhirnya menuju kamar Nara. Dia masuk kedalam kamar itu dengan begitu pelan. Kamar Nara gelap, seperti tidak berpenghuni. Tapi dia tahu jika ada orang yang bergelung didalam selimut diatas tempat tidur.
Reynand berjalan perlahan mendekati ranjang itu. Ingin memastikan apakah Nara tertidur atau????
Dia langsung terkesiap saat Nara tiba tiba bergerak dan memiringkan tubuhnya, masih dengan mata yang terpejam.
"Tidur" gumam Reynand
Dia masih memperhatikan wajah Nara yang tidak tampak begitu jelas, tapi dia tahu jika wajah itu kelihatan pucat dan tidak berona.
Reynand bertanya tanya tentang apa yang sebenar nya terjadi pada wanita itu semalam, kenapa dia berdarah begitu banyak. Reynand ingin bertanya, tapi rasa ego dihatinya cukup besar meski dia merasakan ada hal aneh yang membuat hatinya terusik.
Lama Reynand mematung disana, memandangi wajah seseorang yang dia benci, tapi juga ada didalam fikiran nya setiap hari.
Akhir akhir ini dia merasa ada sesuatu yang selalu membuatnya tidak tenang, ada sesuatu yang membuat nya merasa terganggu. Tapi dia tidak tahu apa. Masalah yang Reynand hadapi sudah begitu rumit, dan Nara, Nara adalah salah satu masalah nya.
....
Beberapa jam kemudian...
Nara mulai membuka matanya, masih terasa berat, tapi dia sudah merasa jika tubuhnya sudah mulai berkeringat dan lengket. Nara langsung beranjak dan duduk disisi tempat tidur. Mengusap sedikit matanya yang sembab dan mengedarkan pandangan nya kekamar yang begitu gelap. Nara menghidupkan lampu tidur nya dan melirik jam kecil yang ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Selama itu dia tertidur.
Nara segera beranjak kekamar mandi, dia ingin membersihkan dirinya dan mencari makanan. Perutnya sudah meminta untuk diisi dan pinggang nya juga sudah harus menemukan obatnya.
__ADS_1
Tidak lama, hanya beberapa menit didalam kamar mandi Nara sudah keluar dengan wajah pucat yang lebih segar. Dia hanya memakai gaun tidur tipis dan langsung keluar rumah. Rumah nya gelap karena dia ingat dia tidur dan belum menghidupkan lampu lampunya.
Nara berjalan perlahan menuju dapur seraya meraba dinding agar tidak tertabrak sesuatu seperti meja atau guci. Mencari dimana saklar lampu. Dia memang bodoh, kenapa tidak membawa ponsel tadi, dan sekarang dia sendiri yang kesusahan.
Tangan Nara terus meraba dan menyusuri dinding, hingga tiba tiba dia menyentuh sesuatu yang terasa....berbeda. Nara mencoba meraba nya lagi dan
"Aaaaaaahhh" Nara langsung berteriak kencang saat tiba tiba dia merasa jika yang dia sentuh adalah seseorang. Bahkan Nara semakin ketakutan saat orang itu langsung menarik tubuhnya dengan kuat
"Jangan....tolong" teriak Nara ketakutan namun mulutnya langsung dibekap oleh tangan kekar itu. Dan tiba tiba saja lampu dihidupkan hingga membuat Nara langsung dapat melihat siapa orang itu
Mata Nara membesar sempurna saat melihat ternyata orang yang dia kira pencuri itu adalah Reynand.
Reynand memandang Nara dengan wajah datar dan dingin seperti biasa, dia langsung melepaskan tubuh Nara dan bekapan tangan nya hingga membuat Nara langsung terjerembab diatas lantai
"Rey, kamu..." Nara benar benar kesal karena dia terkejut, dan juga merasakan pinggang nya kembali berdenyut ngilu karena dihempaskan begitu saja
"Kenapa kamu berteriak begitu?" tanya Reynand dengan tangan yang dia lipat didepan dada, memandangi Nara yang masih meringis dan memegangi pinggangnya
"Kamu bilang aku penjahat" kata Reynand tidak terima, matanya bahkan hampir menyembul keluar membuat Nara ketakutan lagi
"Ti..tidak. Bukan begitu maksudku, aku fikir kamu pencuri, eh itu,, aku fikir kamu tidak dirumah, jadi aku fikir ada orang lain yang masuk" jawab Nara gelagapan memandang wajah Reynand yang mendengus kesal
"Salah sendiri kenapa lampunya tidak dihidupkan. Kamu tidur seperti babi mati" gerutu Reynand
"Kenapa kamu tidak menghidupkan nya?" tanya Nara heran namun melihat wajah Reynand yang lagi lagi memandang nya dengan kesal membuat Nara kembali menunduk dan merutuki kebodohan nya. Seharusnya dia diam, Reynand adalah manusia yang paling benar didunia ini, jadi mau bertanya bagaimanapun tetap Nara yang akan disalahkan. Lagi pula sudah bersyukur dia tidak marah saat Nara meraba tubuhnya tadi. Lagi pula Nara juga heran, kenapa pria itu sudah dirumah? Dia sudah terlihat segar seperti habis mandi, tapi kenapa tidak ingin menghidupkan lampu. Aneh sekali.
"Kenapa kamu hanya diam disitu. Aku lapar menunggu mu sejak sore tadi" seru Reynand tiba tiba. Membuat Nara kembali terlonjak kaget dan segera berdiri namun lagi lagi pinggang nya berdenyut begitu ngilu karena dia bangun dengan tergesa membuat nya langsung oleng dan ingin terjatuh lagi. Nara meringis dan langsung memejamkan matanya saat dia merasa tubuhnya akan kembali membentur lantai, namun dia begitu terkejut karena Reynand yang ternyata menangkap tubuhnya hingga dia jatuh kedalam pelukan lelaki itu.
Mata sendu Nara langsung terbuka dan memandang mata tajam milik Reynand yang memandang nya dengan heran. Tidak ingin berlalu, Nara segera berdiri dengan tegak meski dia harus menyandar di dinding dan menahan sekuat tenaga rasa sakit dipinggang nya.
"Ada apa dengan mu?" tanya Reynand begitu heran. Apalagi melihat wajah Nara yang memucat dan terlihat menahan sakit hingga berkeringat dingin.
Nara mengerjapkan matanya beberapa kali dan menarik nafas nya dalam dalam. Dia menggeleng pelan dan tersenyum seraya mendongak dan menatap Reynand
__ADS_1
"Tidak apa apa, hanya sedikit ngilu dipinggang, mungkin aku kurang minum. Kamu lapar, tunggu sebentar ya. Aku akan memasakan sesuatu untuk mu" jawab Nara yang langsung beranjak dan pergi dengan sedikit tertatih menuju dapur, meninggalkan Reynand yang masih memandang nya dengan heran.
Apa Nara menyembunyikan sesuatu???
Tapi.... apa perdulinya?
Lagi lagi perkataan kejam itu yang terlintas diotak nya.
Reynand menggeleng pelan dan pergi kekamar nya, dia baru saja menerima email yang mengharuskan dia mengerjakan sesuatu sekarang, sehingga Nara kini sendirian didapur.
Nara membawa semua yang dia perlukan keatas meja, pinggang nya sakit, tapi jika tidak memasak Reynand pasti marah. Lagi pula dia masih bisa menahan sakit ini, dan selagi dia mampu dia akan melayani Reynand dengan baik. Dia tidak tahu kapan waktunya berakhir, jadi selama Reynand masih mau pulang, maka Nara akan berusaha menjadi istri yang baik untuk dia. Dan memang Nara sedikit heran, selama dua tahun terakhir ini, memang dibulan ini Reynand yang sering pulang kerumah dan menemui nya, biasa nya lelaki itu bisa dihitung berapa hari ada dirumah dalam sebulan. Tapi dioktober kali ini, dia hampir setiap hari ada dirumah.
Nara tersenyum sembari mengiris berbagai sayuran dan daging. Dia senang jika Reynand pulang. Apalagi oktober adalah bulan dimana pertemuan mereka pertama kali dulunya. Reynand mungkin sudah lupa tentang adik kecilnya yang berjanji akan mencari dan menikah dengan nya. Tapi tidak apa, biar Nara yang mengingat nya. Pertemuan itu, pertemuan yang tidak akan pernah Nara lupakan seumur hidupnya. Entah di oktober tahun depan dia masih bisa bertemu atau tidak, tapi dipenghujung oktober tahun ini, harapan nya hanya satu, semoga dia bisa melihat senyum manis Reynand untuknya seperti saat mereka bertemu dulunya.
...
Satu jam kemudian, Nara sudah siap dengan masakan nya. Reynand juga sudah duduk menunggu dikursinya. Sepertinya lelaki ini sudah sangat lapar, terbukti dengan dia yang tidak perlu dipanggil tapi sudah datang duluan.
Nara berdiri disamping Reynand, mengambilkan makanan untuk lelaki itu seperti biasa. Dan entah kenapa dia merasa jika Reynand tampak sesekali melirik kearahnya. Apa karena dia heran melihat wajah Nara yang pucat dan menyeramkan? Ya, Nara tidak memakai riasan sesudah mandi tadi. Dia tidak tahu jika Reynand ada dirumah.
"Malam ini hanya bisa memasak ini, aku lupa belum belanja mingguan" ucap Nara tiba tiba membuat Reynand sedikit terkesiap karena memang dia tengah memperhatikan istrinya itu
"Makanlah, besok jika kamu tidak sibuk, aku akan memasak makanan kesukaan kamu lagi" jawab Nara yang juga duduk dikursinya didepan Reynand
"Tidak usah sok perhatian" dengus Reynand seraya memasukan makanan kedalam mulut nya.
Nara hanya tersenyum dan mengambil makanan nya sedikit, dia hanya memasukkan nasi putih dan juga sayuran tanpa daging kepiring nya. Dan itu sedikit membuat Reynand memandang nya dengan heran. Ingin bertanya, namun lagi lagi egonya terlalu tinggi.
Tumis sayuran yang dicampur dengan daging cincang dan sambalado tempe cukup mampu memanjakan perut Reynand malam itu. Bahkan dia memang sudah begitu kelaparan. Dia bahkan ingat jika hari ini dia tidak ada makan sama sekali. Hanya meminum kopi yang dibelikan oleh asisten nya siang tadi. Reynand sedang pusing karena masalah diperusahaan saat ini, dia juga sedang bermasalah dengan ayahnya, belum lagi dengan Cleo yang terus mendesak nya untuk menceraikan Nara. Semua itu benar benar membuat Reynand pusing dan cukup tertekan. Tapi yang dia herankan adalah kenapa dia malah memilih pulang kerumah ini??????
Malam itu Nara merasakan sedikit kedamaian dirumah. Reynand tidak ada membuat sesuatu hal yang menyakiti hati atau fisiknya lagi. Sesudah makan, dia langsung kembali kekamar dan mengerjakan pekerjaan nya. Bahkan disaat tengah malam Nara menawarkan kopi, Reynand dengan senang hati menerimanya. Cukup aneh sebenarnya, tapi Nara sangat bersyukur. Semoga saja suatu hari nanti Reynand bisa menerimanya, agar dia bisa dengan mudah memberitahukan apa yang sebenar nya terjadi.
Tapi apakah semudah itu????????
__ADS_1