
Nara menatap datar sepasang kekasih yang terlihat begitu serasi didepan nya. Hatinya tercabik oleh sesuatu yang tidak nampak, tapi dapat membuat nya merasakan sakit yang teramat dalam. Senyuman Cleo seolah mampu menunjukkan jika dia memang selalu bisa menang dari seorang Anara Polie.
Tidak ada yang bisa Anara lakukan melihat suaminya sendiri digandeng oleh perempuan lain. Sudah beberapa kali seperti ini, disetiap acara besar, Reynand memang selalu membawa Cleo sebagai pasangannya, dan tentu semua orang memang sudah tahu jika Cleo adalah kekasih dari Reynand Adiputra. Bukan suami dari Anara Polie, menyedihkan memang.
"Selamat datang tuan Reynand, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang diacara kecil perusahaan saya" ucap Bimantara menyapa Reynand
Reynand hanya mengangguk datar dan membalas jabatan tangan nya. Sesekali dia melirik Anara yang berdiri tidak jauh dari meja Bima. Dan Anara hanya memasang wajah datar nya, dia juga menyambut kedatangan tuan Adiputra itu dengan sopan seperti tamu yang lain.
"Nona Anara, anda kelihatan sangat cantik malam ini, tapi kenapa sedikit suram?" tanya Cleo dengan senyum sinis nya.
Anara hanya tersenyum manis dan elegan seperti biasa. Dia tahu Cleo akan mencari sesuatu yang akan menjatuhkan namanya, namun Nara sudah mempersiapkan apapun yang terjadi. Dia sudah tahu apa yang akan dilakukan wanita cantik itu, dia tidak akan senang jika belum melihat Nara malu.
"Anda yang paling tahu keadaan saya nona" jawab Nara seadanya.
"Hmh, kita tidak sedekat itu" sahut Cleo yang semakin mengeratkan rangkulan nya pada Reynand. Gadis itu seolah sengaja memamerkan jika Reynand adalah miliknya, dan hanya miliknya
Reynand hanya melirik nya saja dan malas ikut campur pembicaraan dua wanita yang ada dihidupnya itu.
"Tuan Reynand, ayo silahkan duduk dan nikmati pestanya. Sebentar lagi akan ada sedikit pertunjukan yang bisa membuat mata segar" ucap Bimantara
"Apakah ada hal lain yang lebih segar dengan kehadiran kekasih nya disini tuan Bima?" tanya Cleo yang juga duduk disebelah Reynand, tepat dihadapan Bimantara
Bimantara tersenyum dan mengangguk
"Ya, tentu saja tidak akan ada yang mengalahkan keindahan anda bagi tuan Reynand" jawab Bimantara. Namun matanya malah melirik Anara yang duduk dimeja belakang Cleo. Dan tentu itu tidak lepas dari mata tajam milik Reynand
"Tentu saja, hanya aku yang ada dipandangan nya. Benar kan sayang" Cleo langsung mengusap lengan Reynand yang hanya mengangguk datar saja.
Cleo memang seolah ingin menaburkan garam diluka Nara. Nara hanya diam saja mendengar nya, meski hatinya terluka lebih lebar, tapi apa yang bisa dia lakukan selain menerima dan mendengar.
Bibirnya tersenyum memperlihatkan pada semua orang jika dia adalah Anara Polie yang anggun dan menawan. Tapi sungguh, tersenyum dikala hati terluka adalah sesuatu hal yang sangat menyakitkan.
Hiruk pikuk pesta malam itu seolah tidak bisa dirasakan oleh Nara. Sesekali ekor matanya masih bisa melihat bagaimana Cleo bergelayut manja pada Reynand. Meski pria itu hanya diam dengan wajah datar dan dingin nya, tapi perlakuan Cleo selalu bisa membuat hatinya remuk redam. Bagaimana mungkin Reynand tidak bisa menghargai perasaan nya sedikit saja. Apa dia tidak ingat jika Nara adalah istrinya, apa dia tidak tahu jika Nara juga punya hati yang tidak sekuat batu karang ditengah laut, yang setiap hari dihempas ombak tetapi masih bisa berdiri kokoh. Tidak, hati Nara tidak sekuat itu.
Bagaimana jika Nara yang melakukan itu dengan pria lain, apa Reynand akan marah? Apa dia akan sakit hati? Atau malah tidak perduli?
Beberapa model tampak berlenggak lenggok diatas panggung mini yang memang disiapkan diaula gedung itu. Sepertinya model model seksi ini memang disediakan untuk menghibur para tamu yang memang kebanyakan adalah para lelaki. Dan tentu saja itu salah satu pertunjukkan yang membuat mata segar seperti perkataan Bimantara tadi.
Nara menarik nafas nya dalam dalam, dia sudah lelah berada disini, tapi untuk pulang, rasanya masih terlalu cepat.
"Kamu lelah?" tanya Arya begitu pelan
Nara tersenyum dan menggeleng. Hanya Arya yang mengerti keadaan nya saat ini. Dan dia tidak ingin membuat lelaki itu khawatir dengan nya.
Reynand hanya menatap datar keatas panggung. Sama sekali tidak menarik, karena dia bukan seorang penggila wanita, ya meskipun dia memiliki dua wanita dihidupnya. Tapi melihat hal yang seperti ini, bukan hobinya. Matanya bukan hanya fokus keatas panggung melainkan sesekali melirik kearah Bima. Mata lelaki pemilik acara pesta ini tampak mencuri pandang kesampingnya. Dan dia tahu siapa yang menjadi target mata liar itu, Anara. Sedari dulu pria ini memang sudah mengincar Nara, dan beruntungnya Nara tidak pernah menanggapinya sedikitpun.
__ADS_1
Reynand terkadang heran melihatnya, apa yang membuat Bimantara terus memandang Nara. Apa ada sesuatu yang lebih dari wanita itu?
Setelah acara hiburan para model selesai, tiba tiba musik romantis mengalun begitu merdu. Lampu lightroom langsung berkelip dengan indah. Tampak temaram namun dibuat dengan banyak efek sehingga membuat ruangan yang tadi nya terlihat glamour dan megah kini berubah suasana menjadi romantis.
Bimantara beranjak dari duduknya, dia berjalan keatas podium dimana suara MC yang tadi memanggil nya untuk naik dan mengumumkan sesuatu. Bimantara berdiri diatas sana dengan begitu gagah. Matanya masih saja fokus pada seorang gadis bergaun merah yang duduk dimeja nya dengan wajah datar, namun terkesan sendu.
"Malam ini adalah malam spesial untuk saya, terutama untuk perusahaan Bimantara" ucap Bima dengan suara yang cukup berwibawa
"Jadi untuk memeriahkan malam ini. Saya sedikit mengadakan acara pesta dansa untuk kita semua. Pesta ini bukan hanya untuk pasangan muda saja, tapi juga untuk para senior senior saya. Saya harap kita bisa bersama sama menikmati malam yang indah ini bersama pasangan kita masing masing. Ya, meskipun saya belum memiliki pasangan, tapi semoga saja dengan adanya acara ini saya bisa menemukan pasangan saya nantinya" ungkap Bima dengan sedikit tawa kecil nya yang begitu ramah dan manis. Namun matanya malah memandang gadis bergaun merah yang menatapnya tidak berkedip
"Silahkan untuk tuan tuan dan nona nona. Tempat dan waktu saya persilahkan." ujar Bimanatara lagi
"Tuan Adiputra, anda bisa membuka acara ini dengan nona Cleo" kini Bima sedikit membungkukkan tubuhnya pada Reynand
Cleo langsung tersenyum dengan penuh kemenangan. Ini yang dia tunggu, hal hal yang bisa membuat Nara tahu, jika seorang Cleo, tidak akan terkalahkan dalam hal apapun.
Nara menoleh pada Reynand, yang tanpa sengaja juga menoleh padanya. Mata mereka tampak bertabrakan beberapa detik. Ada perasaan sakit yang tidak bisa tergambarkan diwajah cantik itu, tapi sayang nya Reynand tidak memperdulikan nya. Dia malah berdiri dan mengulurkan tangan nya pada Cleo. Tersenyum begitu manis memandang kekasihnya, mengabaikan Anara yang memandang mereka dengan hati yang semakin hancur. Begitu tega nya dia..
Reynand membawa Cleo ketengah area dansa yang sudah disediakan. Melewati Nara dengan senyum sinis penuh kemenangan, seolah sedang menunjukkan pada Nara jika mereka adalah sepasang kekasih yang benar benar saling mencintai. Meski Nara istrinya, tapi Cleo adalah segalanya.
Nara terdiam, mematung ditempatnya. Tangan nya saling meremas menahan sakit yang tidak bisa dijabarkan bagaimana bentuk nya. Bibir nya tersenyum miris melihat kenyataan ini. Terkadang dia berfikir, apa yang salah dari dirinya, sehingga sedikitpun Reynand tidak bisa melihat keberadaan nya.
"Nona Anara" panggil Bimantara
Anara sedikit terkesiap, dia kembali mendongak dan menoleh pada Bimantara yang sudah berada disamping nya.
Nara mematung menatap uluran tangan itu. Apa Bimantara tidak salah orang batin nya
"Nona, saya tidak ingin ada penolakan untuk malam ini. Hanya malam ini dan untuk memeriahkan pesta. Anda tidak kasihan melihat saya yang tidak memiliki teman dansa, padahal saya adalah tuan rumah" ungkap Bimantara dengan wajah yang dia sedih sedihkan
Nara langsung tersenyum melihat nya, dia menoleh kearah Arya, lelaki itu tampak mengangguk dan tersenyum.
"Tuan asisten tidak akan keberatan" Bima yang menjawab isi hati Arya
"Baiklah jika anda memaksa tuan" sahut Nara yang menyambut uluran tangan Bima. Lelaki itu tampak begitu senang. Bahkan dia tersenyum dengan lebar karena begitu bahagia nya Nara mau menerima ajakan nya untuk berdansa. Namun lain halnya dengan sepasang mata tajam yang telah berada dilantai dansa. Mata tajam itu begitu terasa menghunus menatap Nara yang dengan berani nya menggandeng lengan Bimantara.
Nara tahu jika Reynand memandang marah padanya. Tapi Nara sudah tidak perduli. Untuk malam ini dia ingin Reynand merasakan bagaimana jika istrinya bermesraan dengan lelaki lain. Apakah dia sakit hati?
Nara tersenyum lembut memandang wajah Bima. Dia meletakkan tangan nya didada lelaki itu seraya tangan Bima yang merangkul mesra pinggang kurus nya. Membuat mata tajam Reyland langsung berkilat begitu tajam.
"Hmh.. lihat begitukah istri yang masih ingin kamu pertahankan" ucapan Cleo seolah menyundutkan api yang ada didalam dada nya. Membuat Reynand terdiam, dan hanya mata tajam itu saja yang tidak lepas dari sosok Nara yang kini sudah mulai menggerakkan tubuhnya dalam rengkuhan Bimantara.
Cleo memandang wajah Reynand. Wajah nya begitu dingin, bahkan rahang nya nyaris mengeras memandang Nara. Apa lelaki ini cemburu?
"Kenapa kamu memandangnya begitu?" tanya Cleo. Reynand menunduk dan memandang wajah Cleo yang terlihat tidak suka
__ADS_1
"Tidak ada" jawab Reynand
"Apa kamu cemburu?" tanya Cleo lagi. Reynand terdiam, cemburu? Dia langsung tersenyum sinis
"Mustahil, apa yang harus aku cemburukan?, jika kamu yang disana mungkin aku sudah menghajar lelaki itu" jawab Reynand, namun dengan nada yang memang terdengar menyimpan kekesalan.
Cleo tersenyum tipis, namun dia tahu jika sebenarnya Reynand tidak suka melihat Anara bersama lelaki lain. Dan tentu saja itu membuat Cleo semakin membenci Anara. Sudah cukup dia merebut raga Reynand, jangan sampai Nara bisa merebut hati Reynand. Tidak akan dia biarkan.
Nara memandang wajah Bimantara yang sejak tadi tidak lepas menatap wajahnya. Lelaki ini tampan dan sangat baik, tapi kenapa malah Nara yang dia ajak berdansa?
"Kenapa tuan tidak mengajak orang lain untuk berdansa. Saya merasa sungguh tidak pantas berada disini" tanya Nara. Dia masih bergerak dengan lembut mengikuti alunan lagu merdu yang mengalun dengan begitu indah
Bima tersenyum dan menggeleng pelan
"Tidak ada yang lebih pantas berada disini bersama saya selain anda, nona Anara" jawab Bima
"Kenapa?" tanya Anara heran
"Tidak tahu, mungkin karena anda yang juga tidak memiliki pasangan, bukankah kita seharusnya cocok?" tanya Bimantara
Nara langsung tertawa kecil mendengar itu. Benar juga perkataan Bima, mereka memang sama sama tidak memiliki pasangan disini.
Bimantara begitu senang melihat tawa diwajah cantik itu, meski sekilas dan terkesan dipaksakan, namun sudah cukup mampu membuat hatinya terhibur. Namun sangat berbeda dengan mata tajam Reynand yang sejak tadi tidak lepas dari mereka. Apalagi melihat Anara yang tertawa dan tersenyum seperti begitu menikmati waktunya, membuat sesuatu didalam dada Reynand terasa terbakar.
Nara tahu jika Reynand memperhatikan nya sejak tadi. Tapi dia berpura pura tidak tahu. Apa Reynand fikir hati Nara sekuat itu melihat mereka bermesraan berdua, bahkan begitu rapat tanpa jarak. Nara tentu sakit, tapi untuk terpuruk dimeja sendirian, itu tidak mungkin kan. Dia tidak ingin Cleo tahu jika dia bersedih.
Mereka melakukan gerakan berputar serempak, membuat Nara juga melakukan itu. Dia memutar tubuhnya begitu anggun dan indah. Saat ingin kembali, pandangan matanya lagi lagi bertabrakan dengan mata tajam milik Reynand. Ada sebuah isyarat mengancam dari mata itu, namun Nara hanya membalas nya dengan sebuah senyuman yang sangat indah. Yang lagi lagi mampu membuat dada Reynand bergemuruh hebat
Nara kembali kerengkuhan Bimantara dan meraih pundak kekar itu dengan begitu gemulai
"Anda begitu anggun nona" puji Bimantara namun Nara hanya tersenyum saja. Dia sedikit meringis saat pinggang nya terasa mulai berdenyut sekarang
"Ada apa?" tanya Bima yang heran melihat wajah Nara yang bereaksi
"Tidak apa apa tuan" jawab Nara mencoba memaksakan senyum nya. Tidak bisa dibiarkan, dia harus pergi sekarang, jika tidak dia takut menghebohkan semua orang karena dia yang pingsan dan sekarat disini
"Tuan, maaf, saya sudahi ini. Saya ingin kekamar mandi sekarang" kata Nara tiba tiba. Bahkan dia langsung pergi meninggalkan Bimantara yang mematung ditempatnya dan belum sempat berkata apapun.
Nara segera bergegas menuju kamar mandi, pinggang nya sangat sakit dan dia ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Ya, rasa ingin buang air kecil, tapi Nara tahu yang keluar adalah darah bukan air seni.
Nara terduduk lemas diatas Closet. Wajahnya memucat dan berkeringat dingin. Rasanya benar benar nyeri, dan untung nya dia masih bisa menahannya. Rasa sakit yang selalu datang, seharusnya dia tidak boleh kelelahan, tapi dia malah berdansa, memang keras kepala.
Nara berdiri dengan perlahan sembari memegang pinggang nya yang berdenyut. Dia membasuh sedikit wajahnya diwastafel, berharap rasa dingin air itu bisa membuat kesadaran nya bertahan lebih lama.
Dia harus cepat pulang sekarang, dia harap Arya bisa menunggunya dimobil. Nara akan lewat pintu belakang saja, dia tidak mungkin melewati pesta itu dengan keadaan yang seperti ini. Wajah pucat dan keringat dingin yang mengalir deras akan membuat orang orang bertanya tentang nya.
__ADS_1
Nara menarik nafasnya dalam dalam, mencoba menenangkan kembali tubuhnya. Setelah dia merasa cukup baik, Nara segera keluar dari dalam sana.
Namun tiba tiba seseorang menarik kasar tangan Nara dan membawa nya menjauh dari sana.