Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Aku Mencintai Istrimu!


__ADS_3

Pagi ini hari sedikit mendung membuat suasana menjadi tidak pas untuk bekerja. Namun untuk Reynand, dia bahkan sudah menyelesaikan pekerjaan nya membersihkan kandang sapi milik Eyang putri. Dan seperti semalam, setelah membersihkan kandang sapi itu, dia pasti terduduk lemas didepan saung nya. Isi perutnya kembali terkuras habis karena dia yang tidak bisa menahan mual. Bahkan kini wajahnya masih kelihatan pucat.


Namun saat masih ingin menenangkan diri, tiba tiba kedatangan Bimantara membuat nya sedikit terkesiap. Namun Reynand tetaplah Reynand. Dia masih saja memasang wajah dingin dan angkuh nya dihadapan cucu Eyang putri ini. Apalagi dia benar benar kesal dengan Bimantara, bisa bisanya dia tidak pergi dari rumah ini dan masih berada disini untuk menunggu Nara. Menyebalkan.


"Aku tidak menyangka jika seorang tuan Adiputra bisa melakukan ini demi untuk mendapatkan perhatian istri" ucap Bimantara yang berdiri sedikit didepan Reynand. Dia memandang taman belakang Eyang putri yang nampak begitu segar pagi ini


Reynand masih diam dan mendengus gerah. Ingin sekali dia memukul wajah tampan itu. Terlihat tenang, tapi sungguh, Bimantara pasti senang melihatnya menderita seperti ini.


"Apa kau akan terus berada disini dan membiarkan Nara terkurung dirumah?" tanya Bimantara, kini dia menghadap kearah Reynand yang terlihat mengernyitkan alis nya


"Apa maksudmu. Bukankah seharusnya kau yang tidak ada disini!" dengus Reynand


Bimantara tersenyum sinis dan mengendikkan bahunya


"Ini rumah ku. Kau yang tamu disini" sahut nya


"Nara istriku, dan aku akan tetap ada disini sampai dia mau ikut bersamaku" jawab Reynand tidak mau kalah


Bimantara langsung mendengus sinis dan menggeleng pelan. Memandang Reynand dengan remeh. Masih tidak disangka jika ternyata pria ini adalah suami dari wanita yang dia minati sejak dulu. Padahal yang dia tahu, Reynand adalah satu satunya orang yang tidak suka dengan Nara. Bahkan dibeberapa kesempatan dia selalu menolak kerja sama dengan perusahaan Nara. Namun nyatanya dia melakukan itu untuk istrinya sendiri. Suami macam apa dia, tega menghancurkan istrinya sendiri. Jika merebut milik orang lain bukan dosa, mungkin saat ini Bimantara sudah membawa Nara pergi jauh dari Reynand. Bimantara tidak tahu apa masalah mereka, tapi hanya dengan melihatnya saja, dia sudah bisa memahami jika Nara memendam kekecewaan yang begitu besar dari pria angkuh ini.


"Nara memang masih istrimu. Tapi suami macam apa yang selalu membiarkan istrinya menderita" ucap Bimantara


Reynand terdiam dan membalas pandangan Bimantara dengan lekat


"Setiap pagi dia selalu menikmati waktunya disini. Berjemur untuk menyegarkan kembali tubuhnya. Tapi sejak kedatangan mu. Dia selalu mengurung diri dikamar. Kau bukan membuat nya sembuh, tapi memperburuk keadaan nya" ungkap Bimantara


"Apa niatmu memang seperti itu?" tuding Bimantara


"Jaga ucapan mu" sentak Reynand tidak terima. Bahkan dia langsung berdiri dan menatap kesal pada cucu Eyang putri itu. Namun Bimantara hanya tersenyum remeh memandangnya


"Aku hanya mengingatkanmu tuan Adiputra. Tidak tahu apa masalah kalian, tapi yang jelas aku tahu jika Nara memendam kekecewaan yang cukup besar padamu" ungkap nya lagi


"Jika aku jadi kau. Aku tidak akan menambah beban Nara. Bukankah kau sudah menghancurkan semua yang dia punya. Lantas tidak cukupkah itu untuk membuat nya menderita?" tanya Bimantara. Ungkapan itu benar benar membuat darah Reynand berdesir kembali. Apa Bimantara tidak tahu jika Reynand begitu menyesal melakukan itu? Apa Bimantara tidak tahu jika Reynand kemari untuk meminta ampun pada istrinya???


Pandangan mata Reynand meredup dan dia menarik nafas nya dalam dalam. Dia tidak boleh marah, bukankah semua memang benar?


"Apa kau berkata seperti itu karena ingin aku pergi. Dan kau bisa merebut Nara dariku?" tanya Reynand


Bimantara tersenyum sinis dan menggeleng


"Jika aku bisa sudah aku lakukan sejak dulu. Aku bukan tipe orang pemaksa tuan Adiputra. Aku benar benar mencintai Anara, istrimu" ungkap Bimantara

__ADS_1


deg


Jantung Reynand serasa diterjang sesuatu mendengar itu. Apa Bimantara sudah gila mencintai istri orang???


"Sadarkah kau dengan apa yang kau ucapkan itu?" tanya Reynand sedikit menggeram. Untuk yang satu ini dia benar benar tidak terima.


"Aku sadar. Aku sudah jatuh hati padanya sejak dulu, bahkan sebelum aku tahu jika kalian adalah pasangan suami istri." jawab nya begitu santai. Namun Reynand yang terlihat begitu kesal sekarang. Meski dia sudah tahu sejak dulu, namun tetap saja, mendengar nya langsung dari mulut Bimantara sungguh membuat hatinya benar benar terusik dan sakit.


"Tapi kau harus tahu, cinta ku tulus. Aku mendekati nya secara perlahan dan tidak memaksakan perasaan ku. Aku tidak ingin merebut kebahagiaan nya seperti yang kau lakukan sekarang" sergah Bimantara


Reynand langsung terdiam, mengartikan setiap perkataan lelaki ini


"Aku tidak tahu apa tujuan mu mendekati Anara lagi setelah kau menghancurkan nya. Tapi aku tidak suka kau menyakitinya terus menerus. Melihat Nara yang sekarang, sungguh aku menjadi jijik padamu. Luka yang kau buat pasti cukup besar. Hingga untuk tersenyum pun tidak bisa lagi keluar dari wajahnya" tuding Bimantara terus menerus


Hati Reynand semakin bertambah pilu mendengar itu. Dia tertunduk dan kembali menghela nafasnya perlahan. Apa dia sudah terlalu memaksakan kehendaknya? Tapi jika tidak begini, bagaimana dia bisa mendapatkan maaf dari Nara???


"Kau tidak perlu tahu apa tujuan ku karena ini bukan urusan mu. Tapi untuk semua yang kau tuduhkan, aku tidak mungkin membuat nya menderita lagi" ungkap Reynand


"Aku tidak percaya perkataan mu" remeh Bimantara


"Aku tidak minta itu" dengus Reynand yang langsung pergi mengarah ke aula, meninggalkan Bimantara yang memandang nya dengan sinis. Sepertinya ini akan sulit. Dia tahu jika Reynand telah menyadari kesalahan nya, dan akan dia lihat seberapa jauh Reynand memperjuangkan istrinya. Jika Reynand tidak bisa maka jangan salahkan dia, jika dia yang akan berjuang nantinya.


Reynand duduk diaula dengan pandangan kosong. Meski terlihat acuh, namun perkataan Bimantara selalu terngiang di telinganya. Sungguh, dia tidak ingin melihat Nara menderita lagi. Tapi dia juga ingin ada didekat Nara dan menemani hari hari nya yang telah banyak dia lewati.


Tapi sampai hari ini, jangkan kan mendapatkan maaf, untuk melihatnya saja bahkan Nara tidak mau. Sesakit itukah dia? Atau sudah membenci???


Tapi.... untuk menemani Nara yang sakit juga Reynand begitu sulit. Bahkan ketika melihat Nara yang berdarah saja dia sudah hampir mati menahan perasaan nya. Lalu bagaimana dia bisa selalu ada untuk gadis itu???


Reynand meremas kepala nya yang terasa berat. Kenapa dia bisa menjadi tidak berguna seperti ini???? Tidak, tidak. Dia tidak boleh menyerah, dia harus melakukan sesuatu. Dia akan mengembalikkan kebahagiaan Nara lagi. Dia harus bisa melihat Nara tersenyum dan sehat kembali.


Tiba tiba suara pintu yang terbuka membuat Reynand langsung menoleh. Dan senyum nya langsung mengembang saat melihat yang keluar adalah Nara bersama Arya dan diikuti oleh pelayan Eyang putri. Sepertinya mereka akan berendam dikolam yang ada disamping aula itu. Terlihat dari pelayan Eyang putri yang membawa perlengkapan mandi


"Nara..." Reynand langsung mendekat kearah Nara. Namun Nara hanya diam dengan wajah dingin nya


"Biar aku saja" ujar Reynand yang langsung merebut kursi roda Nara membuat Arya langsung tergeser dengan paksa.


Baru ingin membuka mulut nya, tepukan dibahu nya membuat Arya langsung menoleh kebelakang.


"Pergi" bisik Eyang putri yang kembali menjauh dari sana


Arya mengernyit bingung. Dia kembali menoleh kearah Nara yang sudah dibawa Reynand kepinggir kolam. Dan mau tidak mau dia juga pergi dari sana meninggalkan Nara dan Reynand berdua. Entah apa maksud Eyang putri, Arya benar benar tidak mengerti. Apa dia ingin mendekatkan mereka kembali??? Tidak mungkin kan. Bahkan Arya lebih menyetujui jika Nara bersama Bimantara sekarang.

__ADS_1


Reynand menghentikan kursi roda Nara dipinggir kolam mandi itu. Dia menoleh kebelakang, namun dia sedikit heran kenapa malah tidak ada orang? Kemana Arya dan pelayan wanita tua itu, batin nya bingung.


Namun sedetik kemudian, dia langsung tersenyum. Sepertinya mereka memberikan nya waktu untuk berbicara berdua dengan Nara.


"Nara...." panggil Reynand


Namun Nara masih diam dan memandang kolam air didepan nya yang sudah ditaburi dengan bunga bunga tujuh warna.


Reyand berlutut dihadapan Nara, memandang dengan lekat wajah Nara yang semakin hari semakin pucat dan layu.


"Kapan kamu akan menandatangi surat itu?" tanya Nara tanpa memandang wajah Reynand yang terkesiap kaget


"Nara...aku tidak ingin berpisah dari kamu" sahut Reynand dengan cepat. Bahkan dia langsung meraih tangan pucat Nara dan menggengam nya dengan erat


"Tidak ada yang bisa kita pertahankan lagi" jawab Nara. Nada nya masih terdengar datar dan dingin


"Nara....aku mohon. Berikan aku kesempatan sekali lagi untuk menebus semua kesalahanku" pinta Reynand memandang Nara dengan pandangan yang begitu mengiba


"Nara....aku mohon" pinta Reynand dengan seluruh hatinya. Sungguh, dia masih ingin bersama Nara, dan menghabiskan waktu hidupnya hanya dengan menebus kesalahan nya


Nara menoleh dan memandang Reynand. Dia mengerjapkan matanya sekilas. Dulu....dia begitu ingin melihat Reynand yang tersenyum dan melihat semua cintanya. Tapi kenapa sekarang disaat dia sudah menyerah Reynand malah mengemis dan memohon kembali??? Apa memang begitu balasan cintanya, terlampau tidak penting dan tidak berharga.


"Aku tidak pantas kamu perjuangkan Rey. Aku bukan siapa siapa. Aku hanya wanita penyakitan yang sebentar lagi akan mati. Kamu bisa pergi dan mencari kebahagiaan diluar sana" jawab Nara yang kembali memalingkan wajahnya dari Reynand. Sakit, tentu saja. Cinta nya memang masih ada untuk Reynand, tapi untuk menerimanya kembali, Nara belum mampu.


"Nara...kamu pasti sembuh, dan kamu harus sembuh. Tolong, tolong jangan biarkan aku seperti ini. Aku masih ingin berjuang untuk mu. Aku masih ingin menebus kesalahanku." jawab Reynand yang semakin mengeratkan genggaman tangan nya


"Tidak perlu" jawab Nara


"Nara....." lirih Reynand tertunduk, namun dia kembali memandang Nara dengan lekat


"Tidak adakah lagi perasaan itu tersisa untuk ku?" tanya Reynand begitu pedih. Namun bukan hanya dia, melainkan juga Nara. Kenapa baru sekarang????


Nara tersenyum getir dan menggeleng memandang Reynand dengan mata yang mulai berair


"Perasaan??? Perasaan mana yang kamu maksud???" tanya Nara


Hati Reynand bagai teriris mendengar pertanyaan itu. Apalagi saat Nara menarik tangan nya dan memalingkan wajah nya dari Reynand


"Sudah aku bilang berulang kali. Sudah cukup mencintaimu selama sebelas tahun. Dan ketika aku memilih pergi, maka aku sudah membuang jauh semua perasaan ku" jawab Nara begitu dalam. Hati Reynand benar benar terhempas sekarang. Jatuh berderai bagai luka yang tidak bisa lagi tersembuhkan.


"Dua tahun aku memberimu waktu, dua tahun aku mencoba mengetuk hatimu. Tapi kamu tetap tidak mau melihatku. Maka sekarang jangan lagi mengharapkan apapun dariku. Karena aku.......tidak ingin kembali"

__ADS_1


__ADS_2