Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Zelina Diculik


__ADS_3

Hari sudah hampir gelap saat Reynand dan Nara tiba di Jakarta. Siang tadi mereka menunggu orang orang suruhan Guntur untuk menjaga tuan Abas dirumah sakit. Reynand tidak akan membiarkan keselamatan ayahnya terancam lagi. Karena bagaimanapun ayahnya adalah saksi kunci atas segala masalah yang mereka hadapi. Guntur mengerahkan banyak orang orang nya untuk pergi ke kota Bandung, orang orang setia tuan Abas dan kakek nya dulu. Ada niat untuk memindahkan tuan Abas kerumah sakit lain atau kerumah sakit yang lebih besar agar ayahnya itu aman dan cepat sadar, namun keadaan nya yang lemah tidak memungkinkan. Jadi Reynand dan juga Guntur memutuskan untuk menjaga tuan Abas dan rumah sakit itu dengan ketat.


Reynand juga sudah bekerja sama dengan pihak rumah sakit agar keamanan ayahnya terjaga selama dia pergi. Reynand benar benar berharap semoga ayahnya cepat sadar dan bisa membalas kejahatan dan keserakahan paman dan juga mantan kekasih ayah nya itu.


Diperjalanan hari mulai gerimis, padahal sebentar lagi mereka akan tiba dirumah Reynand. Namun dipertigaan jalan, Arya langsung menghentikan mobil nya saat melihat Bimantara nampak kebingunan berdiri dipinggir jalan seraya mengotak atik ponselnya. Ada apa dengan pria melankolis itu?? Apa mobilnya mogok???


"Ada apa Yo?" tanya Nara. Reynand juga mengarah padanya.


"Ada tuan Bimantara, aku lihat sebentar" pamit Arya yang langsung keluar dari dalam mobil.


Reynand langsung mendengus kesal melihat itu.


"Membuang buang waktu saja" gerutunya.


Nara hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Jangan sampai mereka bertemu, jika mereka bertemu maka Nara yang akan pusing nantinya.


Namun tiba tiba...


"Nara, tuan muda" panggil Arya seraya mengetuk pintu mobil Nara. Nara membuka pintu mobil itu dan memandang Arya dengan aneh.


"Ada apa?" tanya Reynand.


"Bisa keluar sebentar" pinta Arya. Tapi entah kenapa Nara dan Reynand bisa melihat jika wajah Arya nampak panik. Apa telah terjadi sesuatu???


Dan akhirnya mau tidak mau Nara dan Reynand keluar dari mobil dan mendekat kearah Arya dan Bimantara yang baru saja selesai menghubungi seseorang.


"Ada apa?" tanya Reynand.


"Tuan Bimantara bilang jika baru saja dia melihat seorang gadis yang diculik dihalte, dan gadis itu memakai waitress direstaurant yang sama dengan tempat Zelina bekerja" ungkap Arya.


"Benar begitu?" tanya Reynand. Jantung nya mulai berdetak tidak beraturan sekarang.


"Ya, aku berusaha mengejarnya, tapi sampai ditempat ini aku kehilangan jejak nya. Aku tidak tahu siapa gadis itu, aku hanya tahu dia gadis muda dengan rambut pirang" ungkap Bimantara. Namun sesekali matanya memandang kearah Nara dan Reynand bergantian. Kenapa mereka bisa bersama???


"Ponsel Zelina juga tidak bisa dihubungi tuan" ucap Arya yang sudah panik.


Reynand langsung mengeluarkan ponselnya. Dia juga mencoba menghubungi Zelina, namun tidak juga tersambung. Dan Reynand mencoba menghubungi ibunya dirumah, menanyakan tentang Zelina, namun nihil, Zelina memang belum pulang kerumah. Dari ciri ciri yang disebutkan oleh Bimantara tadi, itu memang Zelina, tapi Reynand sungguh berharap jika itu bukan adiknya.


"Sial, dia tidak dirumah" gumam Reynand.


Dan langkah terakhir dia menghubungi Guntur untuk menanyakan sesuatu tentang paman nya, jangan sampai Zelina memang diculik oleh mereka. Namun Reynand langsung mengernyit saat nomor Guntur juga tidak bisa dihubungi. Beberapa kali Reynand mencoba menghubungi nya, namun sama sekali tidak tersambung. Kenapa dengan pria itu??? Tidak biasa nya. Siang tadi ponsel nya masih aktif, kenapa sekarang tidak????


"Bagaimana Rey???" tanya Nara yang juga ikut khawatir.


"Guntur juga tidak bisa dihubungi, ada apa ini" gumam Reynand dengan wajah yang sudah begitu kelam.


"Kita harus mencari Zelina tuan. Pihak restauran berkata jika Zelina sudah pulang sejak satu jam yang lalu" ucap Arya yang baru saja menghubungi menejer restaurant tempat Zelina bekerja.


"Tua bangka kurang ajar. Ini pasti ulahnya" geram Reynand.


"Tua bangka siapa?" tanya Bimantara yang tidak tahu apa apa tentang masalah mereka.

__ADS_1


"Yo hubungi polisi, kita ke vila kakek sekarang. Aku yakin dia membawa Zelina kesana" ujar Reynand mengabaikan pertanyaan Bimantara.


"Aku sudah menghubungi polisi, sebentar lagi mungkin mereka akan kemari" sahut Bimantara


"Jika begitu kita langsung pergi" ajak Reynand.


"Biarkan aku membantu" tawar Bimantara.


Reynand yang sudah membalikkan tubuhnya nampak terdiam mematung dan memikirkan sesuatu. Dan beberapa detik kemudian dia langsung berbalik arah memandang Nara dan Bimantara bergantian.


"Kau yakin ingin membantu?" tanya Reynand. Wajah serius nya sedikit membuat Bimantara gentar. Namun dia tetap mengangguk yakin.


"Jika begitu kau bisa pergi bersama Nara kesana, bekerja sama lah dengan pihak polisi. Aku dan Arya akan pergi lebih dulu" ujar Reynand pada Bimantara. Dan kini dia beralih pada Nara.


"Nara, kamu tahu bagaimana bahaya nya paman Agas dan orang orang nya kan. Jangan jauh dari Bimantara dan polisi. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan, nanti kita susun rencana diperjalanan" ucap Reynand.


Nara hanya mengangguk saja, meski ragu, namun nampak nya malam ini mereka memang akan menyelesaikan misi yang cukup sulit.


"Aku titip Nara jika kau memang ingin membantu" Reynand memandang Bimantara dengan lekat. Dan sungguh Bimantara ingin sekali menghajar wajah angkuh nya ini.


"Nara bukan milikmu" sergah Bimantara


"Sekarang belum, tapi sampai kapan pun dia adalah milikku" jawab Reynand.


"Sudah lah, ayo pergi, malah berdebat disini. Membuang waktu saja" sahut Arya yang langsung masuk kedalam mobil.


Reynand memandang Nara kembali sebelum pergi.


"Hati hati" ucap Nara.


Reynand tersenyum sejenak dan langsung masuk kedalam mobil yang dikemudikan oleh Arya. Setelah Reynand masuk, tanpa menunggu apapun Arya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dimalam yang gerimis itu. Sedangkan Reynand kembali mencoba menghubungi Guntur, namun hasilnya tetap sama. Tidak tersambung sama sekali. Semoga pria itu baik baik saja.


"Apa anda yakin Zelina di bawa kesana tuan?" tanya Arya yang matanya masih fokus kearah jalanan didepan mereka.


"Ya, aku yakin. Tidak ada tempat lain selain itu. Tempat itu adalah tempat yang dia incar sejak dulu. Paman Agas tidak mempunyai tempat lain selain rumahnya dan vila itu. Entah lah jika dia bergabung dengan tante Guzel, tapi aku yakin saat ini mereka memang sedang berada disana." jawab Reynand.


"Apa ini ada hubungan nya dengan Guntur?" tanya Arya lagi


"Ya, bisa jadi. Mungkin saja paman Agas menggunakan Zelina untuk mendesak Guntur memberi tahu dimana tempat harta itu. Entah apa keputusan mereka siang tadi, mungkin itu yang membuat tua bangka itu bertindak nekad" ungkap Reynand.


"Tua bangka sialan, awas saja jika dia sampai berani melukai Zelina" gerutu Arya. Dia benar benar panik dan cemas dengan keadaan Zelina nya. Niat hati ingin bertemu Zelina malam ini untuk mengobati rasa rindu dan lelah nya, tapi kenyataan yang dia dapatkan malah seperti ini. Sialan memang. Sekarang Arya juga jadi ikut membenci tua bangka itu. Awas saja jika mereka berani melukai gadis incaran Arya, tidak akan dia biarkan.


Reynand tersenyum sinis memandang Arya. Sepertinya asisten Nara ini memang memendam perasaan pada adiknya. Kita lihat seberapa besar perasaan nya pada Zelina dengan keadaan ini.


...


Sementara didalam mobil yang dikendarai Bimantara, sesekali lelaki itu menoleh kearah Nara yang masih diam sejak tadi. Nara hanya memandang nanar kedepan, dimana hujan semakin malam semakin deras saja membuat mereka tidak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dibelakang mereka beberapa mobil polisi nampak membuntuti.


"Nara..." panggil Bimantara, memecah keheningan mereka malam itu.


Nara langsung menoleh kearah Bimantara.

__ADS_1


"Kapan kamu akan kerumah Eyang putri, dia sudah merindukan mu" tanya Bimantara yang lain ingin ditanya, namun lain pertanyaan yang dia keluarkan. Dasar bodoh.


Nara tersenyum tipis mendengar itu.


"Setelah masalah ini selesai, aku akan kesana. Aku juga sudah merindukan eyang putri" jawab Nara.


Bimantara sedikit mengernyit mendengar itu.


"Bukankah ini masalah tuan angkuh itu. Kenapa kamu ikut campur? Apa kamu...." Bimantara langsung menghentikan ucapan nya karena dia cukup ragu untuk bertanya lebih.


"Masalah ini ada sangkut pautnya dengan masalalu kami Bim. Lagipula kamu bisa melihat bagaimana cemas nya Arya tadi kan, aku tidak bisa pergi meninggalkan mereka yang sedang kacau seperti ini" ucap Nara.


"Apa Arya menjalin hubungan dengan gadis itu?" tanya Bimantara.


"Sekarang belum, tapi tidak tahu kedepan nya" jawab Nara.


"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Bimantara lagi.


"Maksud kamu?" tanya Nara


"Apa kamu akan menjalin hubungan kembali dengan tuan angkuh itu. Aku lihat kalian sudah cukup dekat sekarang" tanya Bimantara. Rasanya terlalu getir jika itu memang benar, bahkan membayangkan nya saja sudah cukup sulit.


Nara terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.


Namun dengan diamnya Nara membuat Bimantara tersenyum tipis.


"Dengan diam nya kamu, aku sudah tahu jawaban nya" ucap Bimantara.


Nara menoleh pada Bimantara dan memandang nya dengan lembut.


"Kamu berhak mendapatkan wanita yang sepadan dengan kamu Bim. Yang masih suci lahir dan batin nya, kamu lelaki hebat dan baik, pasti ada seseorang yang sudah ditakdirkan untuk kamu diluar sana" ungkap Nara.


Bimantara mendengus senyum mendengar itu.


"Apa aku kalah sebelum berjuang?" tanya Bimantara.


"Tidak ada yang perlu diperjuangkan. Kamu hanya perlu membuka hati dan mata kamu untuk keindahan yang lain" ujar Nara.


"Apa itu bisa, setelah semua nya tertutupi?" gumam Bimantara.


"Yang kamu lihat selama ini hanyalah keindahan yang semu, kamu tidak akan bahagia jika hanya melihat semua itu" jawab Nara.


Bimantara tersenyum memandang Nara.


"Jika boleh meminta, jika keindahan yang semu itu tidak ditakdirkan untukku, aku selalu berharap akan mendapatkan keindahan yang sama seperti itu meski dalam wujud yang berbeda" ungkap Bimantara


Nara tersenyum tipis dan menggeleng, memandang wajah Bimantara yang tenang namun terluka.


"Kamu pasti bisa"


"Aku harap begitu"

__ADS_1


__ADS_2