Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Kemalangan Reynand


__ADS_3

Reynand duduk memandangi langit malam yang gelap namun cukup cerah. Pertengahan november ini setiap malam bulan dan bintang selalu hadir. Tidak terasa indah, karena keindahan yang dia inginkan sudah hancur dan tidak lagi tersisa. Bahkan sedikit puing cinta pun tidak lagi dia temukan dalam binar mata indah Anara. Tidak ada lagi senyum indah yang selalu menyambut kedatangan nya, tidak ada lagi tatapan cinta yang selalu dia lihat setiap harinya.


Kini hanya tatapan hampa dan kosong yang seolah mampu menghujam jantung Reynand dengan kuat. Ya, dia sudah kehilangan cinta Anara, dan sakitnya adalah Anara pergi disaat dia sadar jika ternyata dia memang telah jatuh cinta pada istrinya itu. Bahkan sudah sejak sebelas tahun yang lalu, jatuh cinta pada adik kecil yang dia temui dibawah pohon kemuning diawal bulan oktober.


Tapi kini, semua seolah sirna, musnah dan tidak lagi tersisa karena kesalahan nya sendiri. Kebodohan nya yang tidak pernah menyadari tentang cinta Nara dan ternyata Nara adalah orang yang memang dia cari selama ini.


Reynand tersenyum miris, mengusap wajah kusutnya dengan kasar. Penyesalan ini benar benar membuatnya tidak berdaya. Baru dua minggu, tapi sudah begitu berat, bagaimana dengan Nara yang bisa bertahan selama dua tahun? Bahkan kini tubuh gadis itu juga sudah menanggung penyakit yang tidak mudah untuk disembuhkan. Penderitaan Nara cukup besar, dan semua adalah karena Reynand.


Ya, jika Nara bisa bertahan selama itu, maka Reynand juga harus bisa. Meskipun untuk seumur hidupnya dia menanggung penyesalan ini, maka dia terima. Asalkan dia masih bisa melihat Anara.


Hari sudah lewat tengah malam, dan Reynand masih betah duduk didepan saung yang menjadi tempat bermalam nya. Dia sama sekali tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam rumah Eyang putri, bahkan hanya untuk sekedar melihat Nara sebentar juga tidak bisa. Jadi, akhirnya dia hanya bisa duduk ditempat ini sembari sesekali memperhatikan pintu belakang yang sudah tertutup rapat sejak sore tadi.


...


Keesokan paginya.....


Reynand sudah bangun dan sudah membersihkan dirinya. Tidur nya hanya beberapa jam saja, itupun tidak bisa nyenyak dan nyaman lagi. Saat ini dia sudah duduk didepan saung dan kembali memperhatikan pintu rumah Eyang putri yang masih tertutup. Berharap seseorang keluar dari sana dan membawa Nara untuknya. Tapi...semua terasa mustahil. Reynand sudah seperti orang bodoh dengan wajah sedihnya sekarang. Seperti pengemis yang mengharapkan belas kasihan mereka. Terkadang, dia tidak menyangka jika kehidupan nya akan berubah drastis seperti ini. Dari seorang tuan muda Adiputra yang memiliki segalanya, kini hanya seorang Reynand yang menyedihkan dan dipenuhi oleh kemalangan.


Pintu rumah tiba tiba terbuka, dan sontak saja itu membuat Reynand langsung berdiri dan ingin mendekat kerumah itu. Namun langkah kaki nya langsung terhenti saat yang dia lihat hanyalah Arya yang keluar dengan sesuatu ditangan nya.


Arya berjalan mendekat kearah Reynand, memandang Reynand dengan datar dan dingin. Tidak ada lagi rasa hormat dan pandangan sopan nya pada tuan Adiputra ini. Karena sekarang Reynand bukan lagi siapa siapa.


"Ini sarapan untuk mu" ucap Arya yang menyerahkan nampan yang berisi semangkuk bubur pada Reynand dan juga segelas air putih


"Dimana Nara?" Reynand tidak lagi memperdulikan itu, yang dia inginkan hanyalah Anara


Arya mendengus sinis, dia menyerahkan dengan kasar nampan itu pada Reynand. Reynand dengan sigap menerima nya dan langsung mendekapnya kedada hingga air minum itu tertumpah sedikit mengenai baju kaus nya.


"Apa anda sudah tidak lagi punya fikiran tuan, anda dibiarkan tinggal disini saja sudah bagus, dan sekarang anda masih ingin mencari Nara. Tidak cukupkah anda membuatnya menderita?" tanya Arya dengan geram


Reynand menghela nafasnya dengan pelan dan tertunduk sekilas


"Apa aku tidak boleh untuk menebus kesalahan ku, aku hanya ingin memperbaiki semuanya" ungkap Reynand


"Anda ingin kembali setelah anda kehilangan semua nya. Apa jika anda masih berkuasa anda masih ingin berniat baik begini?" sinis Arya. Ingin sekali rasanya dia menghajar batang hidung Reynand ini. Jika bukan mengingat Nara dan Eyang putri, sudah habis Reynand sejak semalam.


Reynand mendongak dan memandang Arya


"Aku tahu kesalahan ku sudah begitu besar. Bahkan membuat Nara sampai membenciku seperti ini. Tapi aku benar benar ingin memperbaiki semua nya, aku ingin meminta maaf pada Nara dan membuktikan padanya jika aku benar benar tulus" ungkap Reynand begitu serius. Namun Arya tetap saja tidak akan lagi mempercayai perkataan lelaki yang masih menjadi suami Nara ini. Dia sudah begitu kecewa, dan untuk percaya memang akan begitu sulit.


Arya mendengus sinis dan menggeleng

__ADS_1


"Setelah apa yang anda lakukan anda kira Nara akan mau kembali semudah itu? Tidak akan. Anda bukan hanya sudah menghancurkan hatinya, melainkan juga hidupnya" sergah Arya


Reynand kembali tertunduk dan menghela nafasnya dengan berat dan terasa pedih. Dia tahu, dia sangat tahu. Tapi...apakah tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki dan menebus kesalahan nya????


"Sudah lah, percuma berbicara dengan orang yang keras kepala seperti anda. Saya cuma berharap agar anda tidak lagi membuat Nara terbebani dengan kehadiran anda disini. Luka dihatinya sudah cukup dalam" ujar Arya. Dan Reynand hanya terdiam mendengar itu. Perkataan yang sudah seperti sebuah sayatan yang cukup dalam dihatinya.


"Lebih baik sekarang anda sarapan dan setelah itu bekerja" ketus Arya


"Bekerja?" gumam Reynand


"Ya, apa anda kira anda hanya makan tidur disini. Eyang putri meminta anda untuk membersihkan kandang sapi itu. Sudah bersyukur dia mau memberi anda sarapan hari ini" ucap Arya begitu ketus dan setelah berkata seperti itu dia langsung berjalan meninggalkan Reynand menuju kandang sapi milik Eyang putri, meninggalkan Reynand yang masih mematung memandangi mangkuk bubur itu.


Reynand menarik nafasnya dengan berat, dia kembali duduk dikursi yang ada didepan saung. Memandang mangkuk bubur itu dengan pandangan pedih.


Tangan nya bergetar meraih sendok, menyendokkan nya sedikit dan memasukkan nya kedalam mulut yang terasa kering. Sejak semalam bahkan dia lupa kapan terakhir kalinya memasukkan sesuatu kedalam perutnya. Tidak ada rasa lapar dan harus yang dia rasa, hanya tubuhnya yang memang lemas karena asam lambung yang meningkat.


'Sudah bersyukur diberi sarapan' perkataan Arya kembali terngiang, membuat Reynand langsung tersenyum miris. Ya, memang dia harus bersyukur, karena untuk membeli makanan saja bahkan dia tidak lagi memiliki uang. Benar benar menyedihkan.


Meski tidak berselera, namun Reynand tetap memaksakan untuk menghabiskan semangkuk bubur tanpa toping dan kuah. Hanya beras yang dimasak dengan begitu banyak air dan diberi sedikit garam. Sepertinya nenek Bimantara itu memang benar benar membantu Nara untuk membalaskan rasa sakit hatinya.


Setelah selesai sarapan, Reynand langsung menyusul Arya yang telah berada dikandang sapi yang terlihat sangat luas itu. Ada banyak puluhan sapi perah disana, dan itu membuat Reynand sedikit bergidik dan merinding.


"Mas Reynand" sapanya


Reynand langsung mengangguk dan memandang heran pria paruh baya itu, dia memakai sepatu bot dan membawa sebuah sapu penyikat lantai dan juga seember air


"Tugas mas nya bersihin kandang disebelah sini ya. Ini alat alatnya" ujar pekerja itu seraya menyerahkan sapu dan ember berisi air pada Reynand. Reynand menerima nya dengan ragu dan memandang kandang sapi yang sudah dipenuhi oleh kotoran. Dia menoleh pada Arya yang sedang memberi makan sapi sapi itu bersama dengan pekerja yang lain


"Bisa kan mas?" tanya pekerja itu yang mengejutkan Reynand


"Oh iya pak" jawab Reynand dengan cepat. Dia tidak mungkin menolak kan, bisa bisa dia langsung diserang oleh Eyang putri dan Arya nanti, apalagi Bimantara. Reynand menghela nafasnya kembali dan entah sudah yang kesekian ribu kali dia melakukan itu. Mengingat tentang Bimantara membuat hatinya semakin getir saja. Entah apa yang dilakukan Bimantara didalam sana bersama Nara. Reynand benar benar tidak tahu harus bagaimana, baru mau berjuang tapi saingan nya sudah berat.


Setelah pekerja itu pergi, Reynand langsung mendekat kearah kandang sapi. Bau menyengat kotoran sapi itu membuat nya benar benar mual dan ingin muntah. Kepala nya juga menjadi pusing, namun sebisa mungkin dia berusaha untuk menahan nya.


Perlahan lahan dia mulai menyapu kotoran itu dan menyirami nya dengan sedikit air. Beberapa kali dia terlihat ingin muntah, bahkan wajah nya sudah pucat dan berkeringat dingin. Tapi untuk berhenti dia harus berfikir seribu kali, apalagi sekarang pelayan pribadi Eyang putri sudah ada disini dan memantau pekerjaan nya.


Arya yang berada tidak jauh dari sana sesekali hanya melirik sinis pada Reynand yang terlihat begitu menderita. Tidak menyangka jika tuan Adiputra yang terkenal angkuh dan sombong itu kini mau membersihkan kandang sapi dan bermain dengan kotoran kotoran itu. Miris sekali. Jika publik tahu, maka ini akan menjadi berita yang paling menghebohkan dunia bukan? Seorang Reynand Adiputra, setelah didepak dari perusahaan Adidaksa kini beralih menjadi seorang pekerja serabutan dan rela membersihkan kandang sapi demi sesuap nasi??? Wow.... Arya langsung tersenyum geli jika membayangkan itu. Tapi..... apa itu harus dia lakukan???????? Sepertinya menarik kan jika melihat tuan angkuh ini bertambah menderita. Tawa jahat langsung keluar dari mulutnya.


....


Sementara tidak jauh disudut rumah, Eyang putri dan Bimantara berdiri berdua dengan wajah yang sama sama tidak bisa menahan senyum saat melihat Reynand yang begitu kesulitan. Sepertinya semua orang memang benar benar menikmati kesusahan Reynand saat ini. Miris sekali

__ADS_1


"Jadi dia adalah tuan muda yang baru saja bangkrut?" tanya Eyang putri


"Benar Eyang, Bima malah gak nyangka kalau dia suami Nara" jawab Bimantara


Eyang putri tersenyum dan mengusap pundak kekar cucu semata wayang nya itu


"Mereka sedang ada masalah, kamu jangan masuk dan menambahi masalah mereka. Gak baik" ujar Eyang putri


Bimantara mengernyit dan langsung memandang nenek nya itu dengan heran


"Maksud Eyang apa?" tanya Bima, Eyang putri langsung menggeleng dan kembali memandang Reynand yang masih bekerja disana


"Eyang tahu kamu menyukai gadis itu" ucap Eyang putri, dan Bimantara sedikit terkesiap mendengar nya


"Untuk saat ini kita hanya perlu menolongnya, biar Tuhan yang membawa jalan takdir sendiri" ungkap Eyang putri lagi


Bimantara tersenyum dan mengangguk


"Bima tahu Eyang, Bima juga tidak ingin menjadi perebut istri orang. Tapi jika mereka sudah berpisah, mungkin berbeda cerita" jawab Bimantara dengan tawa kecilnya membuat Eyang putri langsung memukul pundak nya dengan gemas


"Seneng nya kok sama istri orang" ejek Eyang putri


"Ya gimana, suka nya udah dari dulu. Bima juga gak tahu kalau dia udah nikah. Gak ada yang tahu juga hubungan mereka. Tahu nya juga baru semalam"  jawab Bimantara


"Tapi Eyang...." panggil Bimantara kemudian


"Apa?" tanya Eyang putri


"Apa Nara bisa sembuh?" tanya Bimantara dengan wajah yang berubah sendu. Meski dia sakit hati dan kecewa saat tahu Nara sudah menikah, tapi bagaimana pun hatinya memang sudah jatuh pada gadis itu sejak lama. Dan melihat keadaan Nara yang sekarang dia benar benar tidak tega dan begitu sedih. Tidak perduli Nara milik siapa, Bimantara hanya mengkhawatirkan keadaan nya


Eyang putri menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya


"Entah lah, darah nya sangat langka. Kamu tahu golongan darah emas hanya ada beberapa didunia. Eyang gak yakin jika Nara bisa sembuh, apalagi mencari donor ginjal, pasti juga gak akan bisa dengan mudah didapat" ungkap Eyang putri


"Bima pasti bantu cari Eyang" sahut Bima begitu yakin


"Kamu membantu nya seperti ini, tapi jika dia memilih kembali dengan suaminya bagaimana?" tanya Eyang putri


Bimantara tersenyum tipis dan menggeleng, meski hatinya pedih mendengar itu, tapi dia juga tidak bisa tinggal diam


"Tidak apa apa. Bima akan mengikuti takdir seperti yang Eyang bilang tadi" jawab Bimantara begitu pasrah

__ADS_1


__ADS_2