
Masih dimalam yang sama, malam yang indah untuk sepasang pengantin baru. Meski diluar sedang huru hara, namun berbeda lagi pada Reynand dan Nara yang sedang berbahagia menikamati malam pengantin mereka. Meski bukan malam yang pertama, namun suasana ini memang terasa seperti yang pertama untuk mereka.
Ya, yang pertama untuk kembali memulai kehidupan yang baru, malam yang pertama untuk memulai kembali semua nya. Memulai hubungan yang pernah rusak, dan kini kembali berusaha untuk dirajut kembali.
Reynand dan Nara saling pandang dengan senyum simpul mereka masing masing, saat masuk kedalam kamar yang telah disediakan untuk mereka, Kamar pengantin yang sudah dihias dengan begitu indah, bertabur kelopak bunga mawar dan juga lilin aroma terapi yang begitu membuai.
Reynand menjulurkan tangan nya pada Nara untuk membawanya masuk kedalam kamar. Kamar yang akan menjadi saksi cinta mereka dimalam itu.
Nara tersenyum dan langsung menyambut uluran tangan itu. Langkah kaki mereka mulai melangkah perlahan, dimana semakin masuk kedalam aroma bunga dan pengharum ruangan begitu membuai. Hingga mampu membuat hasrat Reynand langsung naik dan mencuat.
Reynand membawa Nara keranjang besar yang bertabur kelopak bunga mawar. Lampu yang temaram dan aroma yang memikat membuat mereka langsung membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Reynand memandang kearah Nara, seraya tangan nya yang masih menggenggam tangan lembut itu dengan erat. Pandangan matanya penuh cinta dan kekaguman, memandang indah wajah yang selama ini begitu didamba oleh Reynand.
"Terimakasih sudah memberikan kesempatan kedua untuk ku Nara. Aku berjanji tidak akan lagi menyia nyiakan apa yang sudah kamu berikan pada ku" ucap Reynand begitu tulus. Dan ini entah ucapan yang keberapa kali yang didengar Nara.
Nara tersenyum dan mengangguk. Dia bahkan sampai tidak bisa lagi untuk berkata kata. Apalagi saat Reynand langsung menarik tubuhnya dan memeluk nya dengan lembut dan sangat erat.
"Aku merindukan mu, sangat merindukan mu" bisik Reynand
Nara langsung memejamkan matanya saat Reynand mulai mencumbu bahu telanjang nya, sentuhan yang sangat lembut yang dulu begitu dirindukan nya.
Reynand benar benar sudah tidak lagi bisa menahan hasratnya, bahkan dia tidak lagi membiarkan Nara untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Dia sudah menunggu ini sejak lama. Kenikmatan yang hanya dia rasakan pada Nara seorang. Dan sekarang, Reynand sudah begitu mendamba nya lagi.
"Izinkan aku memiliki mu lagi malam ini" Bisik Reynand saat dia sudah puas bermain dibibir manis istrinya.
Nara tersenyum dan langsung merangkul leher Reynand dengan mesra.
"Aku milikmu malam ini" bisik Nara tidak kalah lembut.
"Oh Nara... aku mencintaimu" ucap Reynand yang langsung mengangkat tubuh Nara ketempat tidur mereka. Tempat peraduan yang menjadi saksi bisu bagaimana mereka bersatu dalam satu rasa yang tidak bisa dijelaskan bagaimana rasanya.
Malam yang panjang yang mereka lalui dengan penuh cinta dan kasih. Bersatu dalam satu lautan feromon yang menguar dan menandakan jika mereka benar benar menikmati malam itu.
Kelopak bunga yang tertata rapi kini sudah berhamburan diatas lantai, lampu yang tadinya temaram kini semakin termaram dan meredup karena Reynand mematikan lampu utama untuk menambah gairah diantara mereka.
Suara kenikmatan dan lenguhan panjang terdengar dimalam itu. Malam yang panjang untuk mereka berdua. Malam yang menjadi akhir dari sebuah penantian dan perjuangan tentang kisah cinta yang pernah terluka dan ternodai.
Semoga ini yang terakhir dan sampai selama nya.
__ADS_1
....
Jika Reynand dan Nara sibuk menghabiskan malam dengan cinta dan kasih mereka, maka berbeda dengan Bima dan Gendis yang menghabiskan malam dengan taruhan nyawa yang sudah berada diujung tanduk.
Gendis berteriak kencang seraya terus memberontak saat orang orang David ingin menyeret nya dan membawa nya masuk kedalam mobil. Apalagi saat Gendis melihat jika Bima sedang bertarung melawan tiga orang berbadan besar itu. Dia sudah benar benar panik sekarang.
"Lepaskan aku" teriak Gendis
"Diam" bentak orang itu. Namun Gendis segera menggigit tangan salah seorang dari mereka dengan kuat dan menendang kaki seorang lagi. Hingga dia bisa lepas dan segera menjauh dari mereka.
Ayolah Gendis, harus fokus, bukankah kau bisa bela diri. Batin Gendis dengan nafas yang bergemuruh hebat memandang ngerih orang orang itu. Dia benar benar berharap jika orang orang ayahnya akan segera tiba disini tepat waktu. Gendis tidak ingin ada drama penculikan dan pembunuhan disini. Tidak, jangan sampai itu terjadi.
"Kau mau melawan ha?" tanya orang itu seraya ingin menangkap Gendis lagi. Namun Gendis langsung menghindar dan menendang kembali tangan orang itu.
"Kurang ajar" geram mereka.
Dan karena Gendis yang berusaha melawan membuat mereka juga akhirnya menangkap Gendis dengan paksa dan melakukan perlawanan juga.
Gendis terus berusaha untuk mengulur waktu, semoga saja dia bisa bertahan sedikit lebih lama sampai orang orang ayahnya datang.
Tendangan dan elakan begitu gesit Gendis lancarkan, dia sudah seperti seorang preman jalanan saja sekarang, yang berkelahi dengan orang orang berbadan besar ini.
Buk
Gendis langsung mundur kebelakang beberapa langkah saat purut nya tertendang oleh mereka. Rasanya sakit sekali.
"Menyerahlah, atau kau mau mati disini ha" bentak salah seorang dari mereka.
Gendis menggeleng dengan nafas yang tersengal sengal. Melawan dua orang berbadan besar ternyata tidak semudah itu. Ini benar benar sulit. Gendis melirik kearah Bima sejenak, yang ternyata sudah bisa melumpuhkan dua orang, tapi dengan keadaan nya yang juga sudah babak belur dan menyedihkan.
Tidak bisa dibiarkan, jika lebih lama lagi, mereka bisa mati sia sia disini.
Gendis kembali berlari dan menerjang salah seorang dari mereka, membuat orang itu juga langsung terhempas kebelakang. Jangan ragukan kemampuan nya, meski dia putri yang manja, tapi dia juga masih bisa menjaga dirinya sendiri.
"Bilang pada tuan kalian itu, aku tidak sudi pergi menemui nya" teriak Gendis
"Maka kau memang memilih mati nona" ucap orang orang itu.
Dan perkelahian terjadi lagi, cukup lama Gendis bertahan, namun tenaga lelaki dan wanita tentu saja berbeda. Hingga akhirnya dia juga jatuh terhempas dengan darah yang langsung menyembur keluar.
__ADS_1
Gendis memegang dadanya yang terasa benar benar sakit, rasanya sudah remuk semua, hingga dia tidak sanggup lagi untuk berdiri.
"Apa kau masih berani melawan ha?" tanya orang itu.
Gendis terdiam dan memandang nya dengan tajam, dia sudah tidak dapat lagi bergerak. Dan disaat orang itu ingin menarik lengan nya, tiba tiba tubuhnya langsung terpental jauh.
Gendis memandang kesamping nya yang ternyata Bima datang dengan keadaan yang juga sudah berdarah darah.
"Bima" lirih Gendis
"Kamu tidak apa apa?" tanya Bima seraya membantu Gendis berdiri, namun Gendis langsung melebarkan matanya saat pria berbadan besar itu ingin menghunuskan pisau pada mereka.
"Bima awas" teriak Gendis begitu kuat. Dia ingin memutar tubuh Bima dan melindungi nya, namun Bima malah mendorong tubuh Gendis dengan kuat, hingga pisau itu langsung menghunus perut nya.
"Tidak... Bima" teriak Gendis.
Bima meringis dan memegangi perut nya yang tertusuk pisau, bahkan dia langsung tersungkur diatas jalanan karena rasa sakit yang langsung menggigit.
Gendis langsung menendang orang itu dengan sekuat tenaganya, dan bersamaan dengan suara pistol yang berdentum dengan nyaring dan langsung melumpuhkan pria berbadan besar yang sudah menusuk Bima. Ternyata ayah nya dan orang orang nya sudah tiba ditempat.
Gendis langsung berlari kearah Bima yang sudah terkapar diatas jalan, bahkan dia sudah melupakan rasa sakitnya sendiri karena benar benar panik melihat keadaan Bima sekarang. Perut Bima sudah bersimbah darah karena tusukan itu cukup dalam, apalagi saat Bima menarik pisau itu, darah langsung menyembur keluar dengan begitu cepat.
"Bima.... dasar bodoh, kenapa kamu lakukan ini ha" tanya Gendis yang sudah menangis melihat Bima yang sudah tidak berdaya. Dia memangku kepala Bima dan mengusap wajah tampan itu yang sudah mulai hilang kesadaran nya.
Bima tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Aku tidak suka dilindungi. Dan memang sudah tugas ku untuk melindungimu ... kan" ucap Bima dengan terbata bata.
Gendis menangis dan menggeleng kuat, dia memandang ayahnya yang sudah berlari kearah mereka.
"Jangan menangis, kalau aku selamat kamu harus menikah dengan ku" pinta Bima dengan tawa kecil nya, meski wajahnya sudah pucat pasih sekarang, bahkan nafasnya juga sudah tersengal.
"Iya, kamu harus selamat. Aku tidak mau kamu mati. Aku janji akan menikah dengan mu, asal kamu selamat" kata Gendis disela sela tangisan nya.
Bima tersenyum dan langsung memejamkan matanya. Dia merasa dia sudah tidak sanggup lagi. Bahkan kepala nya langsung terkulai dalam rengkuhan Gendis.
"Bima" panggil Gendis seraya tuan Renggono yang sudah datang bersama dengan orang orang nya.
"Kita kerumah sakit nak" ajak tuan Renggono.
__ADS_1
Gendis menangis dan langsung menyerahkan Bima pada orang orang ayahnya. Mereka langsung membawa Bima kerumah sakit terdekat. Kondisi Bima benar benar sudah lemah, bahkan Gendis bisa merasakan jika tubuh Bima sudah mulai dingin dengan detak jantung yang mulai melemah, bahkan nyaris menghilang.
"Bima... aku mohon bertahanlah"