Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Empat Bulan Kehamilan


__ADS_3

Nara berbaring diatas sofa, seraya membaca buku tentang kehamilan. Dia berbaring disofa belakang rumah, tepat menghadap ketaman belakang. Tempat dia menghabiskan waktu sehari hari nya. Usia kehamilan yang sudah menginjak empat bulan ini sudah membuat Nara sering merasa lelah. Apalagi dia mengandung dua anak sekaligus. Hingga baru empat bulan, tapi sudah seperti mengandung tujuh bulan. Untung saja tubuh Nara tinggi, jadi dia tidak terlalu kesusahan membawa dua bayi dalam perutnya.


Setiap hari jika Reynand bekerja, Nara hanya menghabiskan waktu ditaman belakang. Berjalan jalan mengelilingi taman dan sesekali menyirami tanaman bunga mama.


Dia tidak kesepian, karena ada mama dan Zelina yang menemaninya. Dan semenjak hamil, Reynand juga tidak pernah pulang lama. Bahkan dia bekerja hanya beberapa jam saja diperusahaan. Selebihnya, tuan Abas yang menghandle.


Karena sampai saat ini Reynand masih merasakan efek dari kehamilan Nara.


Meski sudah tidak separah pada bulan awal kemarin. Tapi tetap saja, terkadang Nara merasa kasihan dengan suami nya itu.


"Nara"


Suara mama membuat perhatian Nara langsung teralih. Dia meletakkan bukunya dan memandang mama yang datang dengan segelas minuman ditangan nya.


"Minum dulu jamu kamu" ujar mama seraya duduk disamping Nara.


Nara bangun dengan perlahan dan sedikit kepayahan.


"Udah mulai susah gerak ya" kata mama seraya membantu Nara untuk bangun.


Nara tertawa kecil dan mengangguk.


"Kalau mau bangun susah ma, padahal masih empat bulan ya" jawab Nara seraya menyandar disandaran sofa.


"Kamu mengandung dua anak sayang. Wajar dong jika besar begini. Belum ada pergerakan yang kamu rasain?" tanya mama seraya mengusap perut Nara dengan lembut.


"Sudah mulai ma, tapi belum terlalu. Sesekali aja kalau Nara lagi tenang, atau lagi di usap sama Daddy nya" jawab Nara.


"Nanti kalau udah lima bulan pasti terasa banget. Apalagi dua" sahut mama


"Iya, dokter Sandra juga bilang begitu" jawab Nara.


"Yasudah, ini minum dulu jamu dari eyang putri. Selain susu, kamu juga harus minum ini supaya kamu sehat dan kuat." ungkap Mama seraya menyerahkan gelas yang sejak tadi dia pegang.


"Eyang putri kirim ini lagi ma? Kapan?" tanya Nara.


"Semalam, Bima yang antar. Kamu udah tidur." jawab mama


Nara mengangguk dan meminum ramuan itu. Rasanya manis dan sedikit asam. Tidak seperti ramuan saat Nara sakit dulu. Jika mengingat itu, rasanya sekarang Nara mual.


"Eyang putri baik sekali, padahal Nara belum ada kerumah Bima lagi untuk melihat nya" ucap Nara.

__ADS_1


"Nanti kalau Reynand sudah tidak mabuk. Kalian kesana. Bima bilang, eyang putri juga akan lama dirumah nya. Apalagi sekarang, dia sudah punya cicit, tentu eyang juga tidak ingin jauh dari cicit nya" ungkap Mama


Nara langsung mengangguk dan tersenyum


Ya, Gendis sudah melahirkan hampir tiga bulan yang lalu. Anak mereka laki laki, sangat tampan dan menggemaskan. Nara baru sekali melihatnya, dan entah kapan lagi dia bisa kesana.


"Zelina mana ma, sejak tadi Nara tidak ada melihat nya" tanya Nara.


"Ze pergi dengan Arya. Melihat mahar untuk pernikahan mereka nanti" jawab mama.


"Taman bunga tulip" ucap Nara.


Mama langsung mengangguk


"Dia rela menunggu lama hanya demi taman bunga itu. Mama juga heran bagaimana Arya menyiapkan nya" ungkap mama


"Arya sudah menyiapkan nya sebelum kami menikah dulu ma. Sudah sangat lama, dan mungkin sekarang baru jadi taman itu" sahut Nara


"Iya, mama cukup bangga dengan dia. Walaupun terkadang menyebalkan karena sering berdebat dengan Reynand, tapi dia cukup mampu membahagiakan adik kamu" ucap mama


"Itu karena dia serius ma. Lalu sudah sampai mana persiapan pernikahan mereka. Mama tidak ingin Nara bantu" ucap Nara.


Mama tersenyum dan menggeleng.


"Iya, sebulan lagi, waktu yang tidak lama" sahut Nara


"Benar. Dan mama bahagia, anak anak mama sudah menemukan pasangan semua" ucap mama.


"Terimakasih sudah menerima Nara dan Arya masuk kedalam keluarga ini ma. Kami benar benar beruntung bisa mempunyai orang tua seperti mama dan papa" ungkap Nara dengan begitu terharu.


Ya, dia sudah tidak mempunyai siapapun lagi. Begitu pula dengan Arya. Mereka hanya berdua sejak dulu, saling berbagi dan saling menguatkan. Hingga sekarang, mereka dipertemukan dengan keluarga ini. Keluarga yang sempat hancur berantakan namun menyimpan sisi kehangatan tersendiri.


"Mama dan papa yang beruntung bertemu kalian nak. Anak anak mama dan papa bisa bahagia karena kalian. Jika tidak ada kamu dan Arya. Apa jadinya kami" ungkap mama.


"Mama... jangan begitu" sahut Nara. Matanya berair sekarang.


"Sekarang, kamu dan Arya sudah seperti anak mama dan papa, bukan hanya sekedar menantu. Kita memang harus saling menyayangi kan" kata mama lagi.


Nara tersenyum dan mengangguk haru. Ini benar benar nikmat yang luar biasa dari Tuhan.


"Kamu harus sehat dan kuat ya, jaga kehamilan kamu baik baik, agar bulan depan bisa ada dalam hari bahagia adik adik" ujar mama

__ADS_1


"Pasti ma. Nara pasti sehat. Dan semoga saja Reynand juga" kata Nara dengan tawa getir nya. Membuat mama juga ikut tertawa.


"Dia masih saja mabuk, mama terkadang suka heran. Apalagi jika sudah dirumah, hanya menyusahkan kamu saja. Manja sekali" ungkap mama dengan gelengan di kepala nya.


"Tidak apa apa ma. Dia juga pasti tersiksa seperti itu" sahut Nara.


"Iya, mungkin anak anak kamu balas dendam pada daddynya" ucap mama


Nara langsung tertawa kecil mendengar nya, sembari tangannya yang mengusap lembut perut nya yang dengan lembut.


Hingga tiba tiba...


"Sayang!!!!"


suara Reynand dari dalam rumah langsung membuat Nara dan mama sedikit terkejut.


"Lihatlah, selalu seperti itu jika sudah pulang" gumam Mama yang terlihat jengah.


Nara hanya bisa tertawa canggung mendengar nya. Karena memang seperti itu jika Reynand sudah pulang kerumah. Tidak ada yang dia cari selain Nara, Nara dan Nara.


"Sayang!!! kamu dimana ??." teriak Reynand lagi.


"Reynand, jangan teriak teriak nak. Ini dirumah, bukan dihutan. Astaga" seru mama yang langsung berjalan ke ambang pintu.


"Reynand cari Nara ma" sahut Reynand dari dalam.


"Aku disini Rey" ucap Nara dari tempat nya.


Reynand berdecak kesal dan berjalan menuju Nara.


"Kenapa kamu kusut begitu?" tanya mama yang diabaikan oleh Reynad. Rambut acak acakan, wajah pucat dan kusut, bahkan lengan kemeja juga sudah tergulung keatas. Sungguh jauh dari tuan muda Adiputra yang dulu. Tuan Adiputra yang penuh dengan kesempurnaan.


"Mual, tadi Reynand kedatangan klien dari luar, sepertinya dia sudah satu bulan tidak mandi. Bau sekali" gerutu Reynand yang langsung merebahkan diri dipangkuan Nara dan memeluk perut buncit Nara dengan lembut.


"Enggak boleh gitu sayang. Kamu yang lagi sensitif, bukan dia yang enggak mandi" ucap Nara seraya mengusap kepala Reynand dengan lembut.


"Memang bau" gumam Reynand yang begitu menikmati usapan tangan Nara. Kepala nya yang berat dan pusing kini mulai relaks kembali.


"Papa kemana memang nya?" tanya mama


"Tidak tahu, cari istri baru mungkin" jawab Reynand dengan asal.

__ADS_1


"Reynand!!!" teriak mama terlihat kesal.


Namun Reynand dan Nara malah terbahak melihat mama yang kesal.


__ADS_2