Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Keperusahaan


__ADS_3

Siang ini Nara sudah berada diperusahaan Adidaksa. Dia datang dengan membawa Madeleine yang dia buat pagi tadi bersama Zelina.


Nara datang dengan di antar supir yang sudah disiapkan Reynand untuknya. Semua karyawan menyambut Nara dengan hangat dan penuh kekaguman dan juga kebahagiaan.


Ya mereka kagum karena semakin hari Nara semakin terlihat cantik dan anggun. Aura nya juga semakin kuat disaat dia mengandung. Meski dia terlihat sedikit kepayahan berjalan karena perut besar nya, namun pesona seorang Anara Polie tetap tidak bisa di ragukan. Nara memang pantas bersanding dengan tuan muda mereka.


Dan yang membuat seluruh karyawan bahagia dengan kedatangan Nara adalah, karena mereka bisa bekerja dengan tenang. Sebab Reynand benar benar menguras energi dan mental mereka dengan sifat aneh nya itu.


Semua karyawan memang sudah tahu jika Reynand begitu karena pengaruh kehamilan Nara. Tapi mereka cukup kerepotan dengan sikap cerewet Reynand yang selalu saja mempermasalahkan bau badan mereka.


Untung saja dia tidak jadi meminta mereka untuk mengganti parfum seperti parfum Nara. Jika tidak, mungkin perusahaan Adidaksa sudah menjadi perusahaan mati sekarang.


"Selamat siang nona" sapa sekretaris Reynand.


"Selamat siang, Reynand ada didalam kan?" tanya Nara


"Tuan Reynand sedang rapat bersama klien nona. Mungkin sebentar lagi selesai." jawab sekretaris itu.


"Oh begitu ya. Yasudah saya menunggu didalam saja" ucap Nara.


"Baik nona. Apa nona butuh sesuatu?" tawar sekretaris itu, namun Nara langsung menggeleng dan tersenyum.


"Tidak, terimakasih" jawab Nara.


Sekretaris itu hanya mengangguk dan memandang kepergian Nara yang masuk kedalam ruangan Reynand.


Dan benar saja, ruangan itu kosong. Namun saat masuk kedalam ruangan Reynand, bibir Nara langsung menyungging senyum seraya dia yang duduk disofa.


Aroma diruangan ini benar benar dipenuhi oleh parfum yang dipakai oleh Nara. Mungkin Reynand menyemprotkan parfum itu diseluruh ruangan ini hingga aroma nya terasa begitu kuat.


Suaminya itu memang aneh.


Nara melirik jam didinding, sudah hampir jam makan siang. Mungkin saja sebentar lagi suaminya itu sudah kembali.


Semoga saja rapat kali ini tidak berantakan lagi karena ulahnya yang cerewet itu.


Nara tersandar disofa seraya memainkan ponsel nya. Dia tersenyum saat mama mengirimkan foto pakaian pengantin yang akan dipakai oleh Zelina nanti.


Sangat cantik meski terlihat sederhana.


Entah kenapa Zelina tidak ingin pesta mewah seperti dia dan Reynand kemarin. Zelina hanya ingin pesta sederhana ditepi pantai. Yang pasti pesta yang akan berkesan di hati nya.


"Sayang....!" suara Reynand mengalihkan perhatian Nara.


Dia langsung tersenyum saat Reynand masuk kedalam dengan wajah yang lagi lagi terlihat kusut.


"Untung kamu datang" kata Reynand yang langsung merebahkan diri dipangkuan Nara.


"Kenapa memang nya?" tanya Nara seraya mengusap kepala Reynand dengan lembut.


"Mereka membuat ku pusing lagi" jawab Reynand. Tangan nya mengusap perut Nara dan juga menciumi nya sesekali.

__ADS_1


"Bukan orang orang itu yang pusing, tapi kami yang pusing berada didalam sana. Ya ampun, sepertinya suamimu ini memang sudah gila Nara" sahut Arya yang tiba tiba saja masuk keruangan Reynand.


"Enak saja kau mengatai aku gila. Kau mau aku pecat jadi adik ipar ku ha" sahut Reynand terlihat begitu kesal.


Arya hanya mendengus dan langsung duduk didepan mereka. Dia juga kelihatan lelah.


"Memang gila, bisa bisa nya di ruangan itu begitu pekat aroma parfum kamu. Semua klien yang hadir bahkan sampai pusing. Mungkin tuan Rey menyemprotkan satu botol disetiap sudut. Heran sekali." ungkap Arya


Nara langsung tertawa mendengar itu.


"Pantas saja stok parfum ku habis. Kamu membawa semuanya kesini Rey" tanya Nara.


Reynand yang masih asik mengusap perut Nara hanya mendengus.


"Nanti aku beli lagi yang banyak. Disini jika tidak ada parfum itu, semua nya terasa sangat bau. Aku tidak tahan" jawab Reynand.


"Hah.... memang sulit. Entah jadi apa anak kalian nanti" gumam Arya seraya mengendurkan dasi nya.


"Yang pasti jadi yang terbaik lah" sahut Reynand.


"Kenapa juga kau masih disini?" tanya Reynand yang kini beranjak duduk dan memandang kesal pada Arya.


"Kenapa memang nya. Aku mau bertemu Nara" jawab Arya.


"Ck, tidak boleh. Dia istriku, tidak ada yang boleh bertemu dengannya " sahut Reynand.


"Masa bodoh, Nara aku kemari ini berunding dengan mu" ucap Arya yang mengabaikan Reynand. Bahkan Reynand sampai mendengus kesal karena nya.


"Wow Madeleine. Tahu saja jika aku memang lapar" gumam Reynand


"Jika aku cuti menikah nanti, perusahaan aku serahkan pada Nina dulu tidak apa apa kan. Aku sudah menilai pekerjaan nya selama beberapa bulan terakhir ini. Dia cukup bagus dan bisa dipercaya untuk menjadi asisten direktur" ungkap Arya


"Sayang kamu buat sendiri?" tanya Reynand.


Nara melirik Reynand sekilas dan mengangguk pelan.


"Tidak masalah, kamu yang paling tahu tentang perusahaan sekarang. Kamu mulai cuti kapan?" tanya Nara pula.


"Mungkin tiga hari sebelum menikah" jawab Arya.


"Sayang ini tidak pakai telur kan?" tanya Reynand yang masih asik mencicipi kue nya. Arya melirik sinis pada tuan muda ini.


"Tidak sayang" jawab Nara


"Jangan terlalu dekat dengan hari pernikahan. Cuti saja seminggu sebelum menikah. Kamu harus banyak beristirahat Yo" ujar Nara


"Aku tidak enak cuti terlalu lama" jawab Arya


"Tidak apa apa, siapa juga yang mau memarahi kamu. Lagipula dipertengahan bulan pekerjaan juga tidak terlalu banyak. Nina pasti bisa memaklumi" ungkap Nara


Arya mengangguk pelan, namun terlihat ragu. Mau bagaimana pun perusahaan Polie itu sudah mulai berkembang, apalagi sejak bekerja sama dengan perusahaan Adidaksa. Untuk meninggalkan nya terlalu lama, Arya terasa berat sebenarnya.

__ADS_1


"Nanti akan aku fikirkan, mungkin aku akan menyelesaikan seluruh pekerjaan sebelum menikah." ucap Arya.


Dan kini Nara yang mengangguk.


"Sayang, kenapa kacang nya terasa kurang?" pertanyaan Reynand lagi lagi membuat Nara dan Arya memandang nya dengan helaan nafas jengah. Apa dia tidak tahu jika mereka sedang berbicara sesuatu yang penting.


"Sudah sesuai porsi sayang" jawab Nara dengan sabar nya.


"Besok mungkin aku akan telat datang kebutik. Kamu bisa sampaikan pada mama kan" ujar Arya


"Sayang, ini ada yang gosong" ucap Reynand lagi.


Sungguh demi batu, ingin sekali Arya lemparkan tuan muda ini keluar jendela sana.


Nara menghela nafasnya sejenak.


"Disingkirkan saja sayang" ujar Nara, dan setelah itu dia kembali memandang Arya yang nampak kesal.


"Nanti aku sampaikan. Tapi kamu usahakan cepat datang, banyak pakaian yang harus dicoba. Mama bilang ada sedikit kesalahan ukuran di jas kamu. Apalagi itu diukur sebulan yang lalu" ungkap Nara


"Iya, aku usahakan cepat" jawab Arya.


"Sayang, aku mau disuapi" pinta Reynand


Sudah, sudah habis kesabaran Arya untuk tidak menjawab perlakuan tuan muda ini.


"Untung saja anda sedang mengidam tuan. Jika tidak mungkin sudah saya bawa pergi Nara sejauh mungkin. Menyebalkan sekali. Tidak bisakah diam sebentar saja. Saya sedang berbicara dengan istri anda tuan muda yang terhormat" ucap Arya dengan nafas yang memburu. Bahkan dadanya terlihat naik turun menahan emosi.


Reynand dengan santai nya malah mengendikan bahunya saja.


"Aku juga ingin berbicara pada istriku. Kenapa memang nya" jawab nya begitu santai.


Arya mengusap kasar rambut gondrong nya.


"Jika bukan calon kakak ipar sudah saya ajak gelud anda" gumam Arya begitu frustasi


"Salah sendiri mau menjadi iparku" sahut Reynand.


"Siapa juga yang mau menjadi ipar anda. Saya cuma mau menjadi suami Zelina, putri kesayangan tuan Abas" jawab Arya


"Dia itu adikku" sahut Reynand


"Bahkan Zelina sekarang mulai malu mengakui anda sebagai kakaknya" ucap Arya


Membuat Reynand langsung memandangnya dengan kesal.


"Kau..."


"Sudah .. sudah... berisik sekali kalian. Makan saja ini"


Nara langsung memasukkan satu Madeleine kemulut Reynand dan Arya bergantian.

__ADS_1


Pusing sekali menghadapi mereka berdua.


__ADS_2