
Suasana siang itu di sebuah ruangan rumah sakit begitu sepi dan sunyi. Hanya bunyi layar monitor pendeteksi detak jantung Bima yang sejak tadi menjadi background kegelisahan hati Gendis. Dia baru saja diperbolehkan masuk oleh dokter untuk melihat keadaan Bima pagi ini. Bukan pagi lagi, tapi sudah hampir siang.
Keadaan Bima masih cukup lemah, bahkan masih dibilang belum bisa dikatakan baik baik saja. Pagi tadi Bima sempat kritis dan hampir kehilangan nyawanya. Dan itu membuat Gendis benar benar takut. Bahkan sejak semalam Gendis hanya bisa melihat Bima dari luar ruangan karena kondisi nya yang tidak stabil.
Luka tusukan itu cukup dalam dan lebar, sehingga Bima banyak mengeluarkan darah. Bahkan sampai saat ini saja Bima sudah menghabiskan empat kantung darah untuk mengganti darah nya terbuang.
Gendis benar benar menyesali kejadian ini. Jika saja dia tidak mengaku ngaku jika Bima adalah kekasih nya pada David, mungkin Bima tidak akan celaka seperti ini. Dia malah melindungi Gendis dan mempertaruhkan nyawa nya sendiri.
Gendis terduduk dikursi disamping ranjang Bima. Dia sudah memakai pakaian steril nya demi untuk menjaga keadaan Bima.
Suara detak jantung Bima benar benar membuat jantung Gendis terasa ikut berdenyut ngilu. Dia benar benar berharap jika Bima akan segera sadar dan sehat kembali.
Bima orang baik, bahkan dia begitu baik karena sudah mau menemani Gendis selama dua bulan ini, mau merawatnya, dan membuat nya melupakan kesedihan karena pengkhianatan David. Sungguh, Gendis tidak ingin kehilangan Bima.
Wajah pucat Bima membuat hati Gendis benar benar pedih, bahkan sejak tadi dia sudah mencoba untuk tidak menangis. Namun percuma, air mata nya benar benar tidak bisa ditahan lagi. Dia begitu sedih dan takut jika Bima sampai tidak selamat.
Dua bulan bersama Bima membuat Gendis sadar, entah ini karena rasa penyesalan nya atau karena rasa takutnya. Gendis lebih takut kehilangan Bima dari pada kehilangan David. Gendis lebih pedih melihat Bima yang seperti ini dari pada dengan pengkhianatan David.
"Hei... cepatlah bangun" ucap Gendis begitu pelan. Tangan nya bergetar ketika mengusap lengan Bima yang masih terasa begitu dingin.
Hiks
Gendis benar benar berusaha untuk menahan tangis nya.
"Maafkan aku Bim, maafkan aku karena selalu membuat kamu susah" ucap Gendis lagi seraya tertunduk dan menahan sesak didadanya.
Sungguh, Gendis ingin Bima sehat kembali. Gendis ingin selalu melihat wajah menyebalkan nya lagi, melihat tawa renyah nya dan melihat senyum hangat nya itu.
"Bangunlah, aku mohon kamu harus kuat. Aku harus bilang apa pada eyang putri jika kamu tidak mau bangun" ujar Gendis dengan air mata yang mulai membanjiri wajahnya.
"Bangun ya. Kamu tidak boleh meninggalkan aku Bim" pinta Gendis.
__ADS_1
"Aku sendirian kalau kamu pergi, eyang putri juga sendirian kalau kamu gak ada. Kamu harus kuat Bim. Kamu harus tetap bertahan dan tetap hidup untuk kami"
hiks
Gendis mengusap air matanya dengan cepat, memandang wajah tampan yang sangat pucat dan tidak ada lagi rona diwajahnya yang tenang.
"Aku janji, kalau kamu bangun aku pasti akan nuruti semua keinginan kamu" ucap Gendis
"Termasuk menikah dengan kamu" ucap Gendis lagi.
Dia meletakkan kepala nya dipinggir ranjang Bima dan menangis disana. Menangis menyesali kenapa Bima bisa sampai seperti ini.
Gendis benar benar sedih dan tidak tahu harus berbuat apa. David benar benar sudah keterlaluan. Bahkan sekarang dia sudah menjadi buronan karena tidak lagi diketahui dimana keberadaan nya. Sungguh, Gendis sangat ingin lelaki itulah yang terkapar tidak berdaya menggantikan Bima saat ini.
Gendis benar benar membenci lelaki itu. Sudah berani mengkhianati nya, dan sekarang malah membuat Bima menjadi seperti ini karena ambisinya. Bahkan Gendis sangat tidak enak pada eyang putri. Wanita tua itu terlihat begitu sedih saat mengetahui jika cucu semata wayang nya mengalami hal mengerihkan seperti ini.
Ya Tuhan...
....
Sementara diluar ruangan...
Nara dan Reynand sudah tiba disana bersama Arya dan Zelina. Dan ternyata kedua orang tuanya juga sudah ada dirumah sakit ini menemani tuan Renggono dan juga eyang putri. Reyza dan Naina juga sudah ada disana. Mereka semua sudah berkumpul untuk melihat keadaan Bima. Dan ternyata hanya Nara dan Reynad yang baru mengetahui tentang kejadian ini.
Nara dan Zelina langsung mendekat kearah eyang putri dimana Naina dan mama mertua nya berada. Sedangkan Reynand dan Arya langsung mendekat kearah para lelaki yang nampak sedang berbicara cukup serius.
"Tuan, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Reynand langsung pada tuan Renggono. Meski dia kesal dan sempat membenci Bimantara, namun mau bagaimana pun hubungan mereka sudah cukup dekat. Dan tentu saja mendengar kabar ini membuat Reynand cukup terkejut,
"Masih sedang diselidiki. Saya juga tidak menyangka jika ini bisa terjadi. Padahal saya sudah menempatkan orang orang saya untuk mengawal kepergian mereka. Tapi sepertinya David memang sudah merencakan ini dan mengerahkan orang orang nya untuk menculik Gendis malam tadi. Namun karena Bima melawan, maka dia yang celaka" ungkap tuan Renggono.
"Saya benar benar menyesal dengan kejadian ini. Saya sungguh tidak enak dengan eyang putri karena secara tidak langsung telah membuat cucu nya celaka, padahal mereka sudah begitu baik dengan putri saya selama ini" kata tuan Renggono lagi. Wajahnya nampak memendam penyesalan yang begitu mendalam.
__ADS_1
"Tuan, anda tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Ini adalah musibah. Eyang putri juga sudah memaklumi nya" ucap Reyza.
Tuan Renggono terlihat menghela nafasnya dengan berat.
"Orang orang saya sedang mencari keberadaan David, dia menghilang sejak semalam. Sepertinya dia sudah tahu jika dia gagal dalam membawa Gendis" ucap tuan Renggono.
"Ya, saya juga sudah mengerahkan orang orang Adidaksa untuk mencari keberadaan David. Bahkan sudah ada dari orang orang kami yang berada dibeberapa bandara sekarang" ungkap tuan Abas.
"Orang orang Gemilang grup juga sudah menyebar dibeberapa kota. Kita bisa pastikan dia tidak akan bisa pergi jauh dari kota ini, atau bahkan dari negara ini" sahut Reyza pula.
Arya yang sejak tadi hanya mendengar nampak tertegun. Sepertinya CEO agensi itu akan tamat sebentar lagi.
"Jika begitu maka tugas saya adalah menghancurkan nama baik dan perusahaan nya. Sudah sepantas nya sejak dulu dia memang sudah hancur agar tidak berbuat kerusuhan seperti ini" ucap Reynand pula.
Oke, Arya semakin bertambah merinding sekarang. Sepertinya David lupa jika bukan hanya tuan Renggono saja yang harus dia takuti, melainkan tiga orang ini juga. Reynand dengan kekejaman yang tanpa welas asihnya, yang suka sekali menghancurkan orang dalam sekedip mata. Dan juga Reyza Askara yang memiliki kekuasaan dimana mana, sudah pasti akan dengan mudah menemukan orang itu. Ditambah dengan orang orang Adidaksa suruhan tuan Abas.
Sudah dipastikan jika David dan karir nya akan hancur tanpa sisa.
Meski Bima hanya seorang pengusaha biasa, tapi dibalik itu dia memiliki orang orang kuat yang tidak akan tinggal diam.
Sekarang yang perlu dikhawatirkan adalah keselematan nya.
Semua orang sangat berharap jika dia bisa bertahan dan kembali berkumpl bersama mereka.
"Eyang kita istirahat dulu ya" ajak Naina pada eyang Putri.
"Sebentar lagi Nai. Eyang masih mau nunggu Bima" jawab eyang putri.
Nara memandang eyang putri dengan perasaan sedih nya. Dia memandang kearah pintu ruangan Bima yang masih tertutup rapat. Sungguh, Nara juga takut jika Bima tidak selamat. Eyang putri pasti hancur. Dan tentu saja, keadaan Bima yang seperti ini membuat mereka semua benar benar cemas.
Bertahanlah Bim...
__ADS_1
Senyum dan tawa kamu masih begitu diharapkan oleh semua orang...