
Bima mendudukkan Gendis dikursi rodanya. Sore ini eyang putri akan mengganti perban dan mengobati kaki Gendis yang patah. Sudah dua minggu Gendis berada dirumah eyang putri. Dan sudah dua minggu pula Bima selalu ada untuk membantu eyang putri mengobati nya.
Yah, Bima tidak menyangka jika sekarang dia akan menjadi seorang pelayan untuk gadis asing ini. Bahkan sudah dua minggu pula dia tidak ada keperusahaan. Menyebalkan sekali memang.
Bima mendorong kursi roda Gendis menuju taman belakang rumah eyang putri, dimana diaula kecil yang ada disana Eyang putri sudah menunggu mereka.
Tidak ada yang mereka bicarakan sepanjang jalan menuju kebelakang rumah. Karena jika sudah mulai berbicara mereka pasti hanya akan berdebat. Dua minggu bersama, hari hari mereka memang selalu dipenuhi oleh perdebatan perdebatan dan pertengkaran kecil. Gendis selalu saja melampiaskan perasaan kesalnya pada Bima. Bahkan tidak jarang dia selalu meminta dan menyuruh Bima untuk melakukan hal hal aneh yang selalu membuat Bima merasa tertekan dan jengah.
Gadis asing yang benar benar membuat nya kerepotan. Bahkan Gendis seperti sengaja untuk mengajak Bima berdebat dan marah. Itu seperti memang sudah harus dia lakukan.
Gendis memandang kesegala arah, dimana rumah eyang putri memang benar benar terlihat sejuk dan asri, hingga dia cukup betah tinggal disini untuk menenangkan dirinya. Ya, meskipun terkadang dia juga kesal dengan Bima yang selalu bisa memancing emosi nya, atau terkadang dia yang lebih sering memancing emosi Bima.
"Besok aku akan kembali ke Jakarta" ucap Bima tiba tiba setelah beberapa saat hanya diam.
"Kamu mau lari dari tanggung jawab?" tanya Gendis
Bima mendengus jengah mendengar itu.
"Aku ada rapat penting dan tidak bisa diwakilkan. Kamu tenang saja, aku pasti akan kembali lagi nanti" ujar Bima.
"Jika kamu tidak kembali aku bisa meminta eyang putri untuk menarik mu kemari" sahut Gendis.
"Sepertinya kamu memang tidak ingin jauh dariku" ledek Bima
Gendis mendengus senyum sinis.
"Hanya kamu yang cocok jadi pelayan ku" jawab Gendis.
Bima langsung melebarkan matanya mendengar itu. Dia bahkan menghentikan langkah nya dan memandang Gendis dengan tajam.
Gendis menoleh dan mendongak kearah Bima.
"Kenapa?" tanya nya dengan wajah yang menyebalkan.
"Aku bukan pelayan mu" dengus Bima.
Gendis tersenyum sinis dan kembali memandang kedepan, dimana mereka sudah tiba dibelakang rumah. Bahkan dari jauh eyang putri sudah nampak sedang duduk dan membuat sesuatu.
"Kalau bukan pelayan, lalu apa?" tanya Gendis.
Sungguh demi apapun, Bima benar benar kesal dengan gadis ini. Jika tidak mengingat Gendis sakit karena ulahnya, mungkin Bima sudah akan membuang gadis ini jauh jauh. Selalu saja bisa membuat darah tinggi nya naik.
"Aku benar benar berharap agar kamu cepat pulih. Aku lebih baik merawat sapi sapi eyang dari pada harus merawat mu" gerutu Bima seraya kembali mendorong kursi roda Gendis.
Dan tanpa sadar Gendis malah tersenyum mendengar itu. Entah kenapa melihat Bima yang kesal adalah suatu kesenangan sendiri untuknya.
"Jangan selalu berdebat begitu, kalian mau aku nikahkan ha?" ujar eyang putri saat mereka sudah tiba didalam aula kecil itu.
__ADS_1
Bima dan Gendis langsung sama sama mendengus mendengar itu.
Bima mendekatkan Gendis dihadapan eyang putri, sedangkan dia langsung duduk dikursi rotan panjang yang ada disebelah eyang.
"Mungkin menikah dengan sapi eyang akan lebih baik dari pada menikah dengan nya" gumam Bima.
"Pantas saja sudah setua ini kamu belum juga menikah, ternyata kamu memang tidak normal" dengus Gendis.
"Aku memang tidak normal ketika bersama mu" sahut Bima.
Lagi lagi eyang putri hanya bisa menghela nafas jengah. Bahkan pelayan eyang putri langsung menggeleng pelan melihat tuan muda nya yang selalu saja mendebati gadis blasteran ini.
"Sudah diam, apa kalian tidak lelah setiap waktu selalu berdebat. Kepalaku bahkan sudah pusing melihat kalian seperti ini setiap hari" gerutu eyang putri.
"Bima yang mulai duluan eyang" sahut Gendis.
Bima langsung memandang Gendis dengan kesal.
"Kamu yang selalu mengajak ku berdebat. Bahkan berbicara pun tidak ada sopan nya. Kamu tahu umur kita ini sangat berbeda jauh." balas Bima
"Aku melihat kamu bahkan masih seperti anak anak" jawab Gendis dengan acuh.
Bima ingin kembali menjawab, namun eyang putri langsung meletakkan wadah keatas pangkuan nya.
"Oleskan ini ke kakinya" ujar eyang putri.
"Kepalaku pusing melihat kalian seperti ini. Obati kaki nya dan balut lagi seperti biasa" ujar eyang putri yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Loh, eyang mau kemana?" tanya Bima seraya memandang bingung eyang putri yang pergi bersama pelayan nya.
"Tidur" seru eyang putri terdengar ketus dan tidak enak.
Bima dan Gendis memandang tidak percaya pada eyang putri. Bisa bisanya mereka ditinggalkan berdua seperti ini.
Bima langsung memandang kesal pada Gendis.
"Ini gara gara kamu" seru Bima dengan begitu kesal.
"Kenapa aku, kamu saja yang tidak bisa menjaga sikapmu" jawab Gendis tidak mau kalah.
Bima langsung mendengus kesal mendengar itu. Tidak bisa menjaga sikap katanya? Bukankah selama ini dia yang begitu?
"Jelas karena kamu yang tidak tahu diri, sudah menumpang, sudah diobati, sudah dirawat dengan baik. Tapi tidak tahu bersikap baik. Siapa yang tidak bisa menjaga sikap disini? Apa kamu fikir aku dan eyang adalah pelayan mu ha? Sudah syukur kami tidak membuang mu ditengah jalan sana." ungkap Bima begitu menggebu dengan nada yang terkesan membentak, bahkan dia memandang Gendis dengan begitu tajam.
Gendis langsung terdiam dan tertegun mendengar perkataan Bima.
"Seharusnya kamu juga bisa berfikir dengan baik. Kami sudah mau bertanggung jawab dan merawat mu disini. Bahkan aku sudah merelakan perusahaan ku terbengkalai selama dua minggu hanya karena untuk bertanggung jawab padamu. Tapi bisa bisanya kamu semakin semena mena seperti ini. Apa kamu tidak bisa berfikir?" seru Bima lagi. Sepertinya dia sedang meluapkan kekesalan hatinya pada Gendis saat ini.
__ADS_1
Gendis tertunduk dan menahan sedih. Apa dia sudah begitu kelewatan? Kenapa Bima bisa berkata sejahat ini?
"Tidak tahu diri sekali memang, eyang putri setiap hari sudah lelah karena mu. Dan kamu masih saja banyak mulut"
"Obati sendiri lukamu itu!"
Bima langsung meletakkan wadah ramuan obat itu keatas pangkuan Gendis dengan kasar. Bahkan dia langsung beranjak dan pergi meninggalkan Gendis tanpa mau melihat wajahnya lagi.
Gendis tertegun, memandang wadah obat nya dengan perasaan tidak menentu. Bahkan tanpa terasa matanya kembali berair.
Dia menoleh dan memandang Bima yang sudah pergi meninggalkan nya. Meninggalkan dia sendiri yang kini mulai menahan isak tangis nya.
Apa dia memang sudah keterlaluan?
Apa Gendis memang tidak tahu diri selama tinggal disini?
Tapi kan dia hanya menyusahkan Bima, bukan eyang putri.
Bima yang membuatnya seperti ini, dan Gendis tentunya hanya ingin Bima yang merawatnya.
Gendis terisak seraya mengusap kasar air mata yang semakin deras mengalir. Dimarah dan dibentak seperti ini sungguh membuat pertahanan nya runtuh.
Tidak tahukah Bima jika selama ini dia selalu menahan hatinya yang sedang terluka? Gendis yang cerewet dan suka meminta ini dan itu hanya karena dia ingin selalu ditemani. Tapi kenapa Bima malah terlihat begitu kesal dan sangat membencinya.
Hiks hiks
Apa dia telah salah mengambil keputusan untuk tinggal disini? Apa mereka sudah lelah untuk merawat nya? Seharusnya memang Gendis sadar dirikan, dia hanya orang asing yang tanpa sengaja bertemu Bima, tapi dia malah tidak mengerti keadaan dan memanfaatkan situasi. Hingga akhirnya membuat Bima dan eyang putri yang sudah begitu baik padanya malah menjadi jengah dan tidak lagi mau merawatnya.
Gendis mengusap air matanya. Dia kembali teringat perkataan Bima tadi yang mengatakan jika dia tidak tahu diri. Gendis ingin pergi, tapi bagaimana dengan kaki nya. Pulang dalam keadaan seperti ini pasti hanya akan membuat ayahnya semakin bersedih. Dan Gendis tidak ingin itu terjadi. Apalagi luka luka nya yang belum pulih semua. Setidak nya dia pulang jika dia sudah sedikit membaik.
Ya, beberapa hari lagi..
Lebih baik Gendis pulang saja kerumah ayahnya. Dua minggu sudah berlalu, mungkin David sudah tidak lagi mencarinya kan.
Semoga..
Gendis menunduk, meraih perban dikakinya dengan air mata yang semakin mengalir. Rasanya sedih sekali, bahkan kesedihan nya malah semakin menjadi saat Bima marah.
Bibirnya meringis saat dia merasa kaki nya berdenyut ketika dia menggeser nya sedikit.
Gendis menggigit bibirnya seraya menahan sakit, dia tidak bisa melakukan ini sendiri. Dia tidak bisa mengobati kakinya sendiri. Tapi siapa lagi yang mau membantunya.
Eyang putri sudah lelah, Bima juga sudah marah.
Dan sekarang...
Gendis sendiri lagi...
__ADS_1
"Huuuuuuu ayah......" gumam Gendis dengan tangis pilu yang tidak bisa lagi dia bendung.