Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Hati Nara Terlalu Lemah


__ADS_3

Bulan oktober, sungguh terasa begitu lama berlalu. Setiap hari hujan selalu turun, jika tidak turun pasti cuaca yang selalu mendung. Apa memang cuaca pun sudah tidak lagi mendukung dan berpihak pada Nara. Bahkan disiang hari ini saja dia memakai jaket didalam ruangan nya karena kedinginan. Hujan diluar sejak tadi tidak juga berhenti, bahkan Nara sudah menghabiskan dua gelas kopi hari ini untuk menghangatkan tubuhnya.


Dia tidak ingin keperusahaan, tapi hari ini ada rapat penting yang harus dia pimpin. Rapat untuk mencari jalan keluar tentang semua permasalahan yang ada diperusahaan. Namun meskipun begitu, dia masih belum bisa mendapatkan dari mana anggaran dana untuk menutupi kerugian perusahaan. Rasanya semua terasa begitu mencekik lehernya. Nasib ratusan karyawan perusahaan Polie bergantung padanya. Dan jika tidak segera ditangani, bulan depan bahkan dia tidak tahu darimana dia mencari anggaran dana untuk membayar gaji karyawan.


Proyek dikota B, hanya mendapat keuntungan kecil saja. Itu tidak akan cukup untuk menutupi gaji karyawan. Semua uang masuk dan beberapa sumber dana sudah ditutup oleh Reynand, dan sekarang dia memang sudah menemukan jalan buntu. Satu satunya jalan adalah Reynand itu sendiri. Tapi, bagaimana caranya? Reynand tidak akan mau menjilat ludahnya sendiri, apalagi untuk Anara.


"Nara, hari ini biar aku saja yang kekota B. Tubuh kamu terlalu lemah untuk meninjau proyek disana" ucap Arya tiba tiba. Entah sejak kapan dia masuk kedalam ruangan Nara. Apa Nara memang sering sekali melamun akhir akhir ini?


"Apa kamu yakin?" tanya Nara, memperhatikan Arya yang meletakkan beberapa dokumen diatas meja


"Ya, lagi pula jika aku sendirian kesana, aku bisa cepat pulang dan besok sudah masuk kantor." jawab Arya


"Yasudah, maaf sudah selalu merepotkan kamu" ucap Nara. Arya menatap nya tidak suka, Nara terlalu memikirkan orang lain, padahal bukan hal yang sulit hanya meninjau proyek itu.


"Aku tidak merasa direpotkan. Bisakah kamu untuk tidak selalu berfikiran seperti itu setiap saat" kata Arya kesal. Nara tersenyum pelan dan mengangguk seraya meraih dokumen yang dibawa Arya.


"Baiklah, kamu hati hati. Beri kabar jika ada sesuatu disana" pinta Nara


"Seharusnya aku yang berkata begitu. Kamu yang hati hati disini. Jangan terlalu lelah, jika tidak ada kerjaan kamu bisa langsung pulang" sahut Arya


Nara menggeleng, mata nya masih fokus pada dokumen ditangan nya


"Mana bisa aku begitu. Kamu tahu perusahaan sedang genting. Jika karyawan melihat ku seperti itu, mereka pasti mengira aku sudah lepas tangan dan tidak lagi memperjuangkan mereka" jawab Nara


"Kamu sedang tidak sehat Nara. Aku yang tahu kamu sudah berusaha sekuat mungkin mempertahankan perusahaan ini" kata Arya


Nara tersenyum tipis, memandang Arya dengan mata sendu nya


"Jika dibiarkan kesehatan ku akan semakin menurun. Dan selagi aku masih mampu, maka aku akan terus ada disini bersama Polie dan karyawanku" jawab Nara


Arya menghela nafas kesal. Nara memang keras kepala, seharus nya Arya tahu itu. Perusahaan Polie adalah jiwa kedua nya selain Reynand, dan akan selalu dia pertahankan meski tubuhnya sendiri yang akan mati.


"Sudahlah, berdebat dengan kamu memang tidak akan pernah bisa menang. Aku pergi dulu" pamit Arya


"Hati hati" jawab Nara, memandang Arya hingga menghilang dibalik pintu.


Siang itu Nara bekerja sendiri tanpa bantuan Arya. Menandatangani beberapa tumpukan berkas dan juga memeriksa laporan akhir bulan ini. Untung saja tidak ada pertemuan diluar hari ini, jadi dia akan sedikit aman dan tidak akan kelelahan. Ya, meskipun hanya duduk seperti ini saja sudah membuat nya cukup tersiksa, pinggang nya sudah tidak mampu untuk duduk terlalu lama lagi.


...


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dan Nara sudah menyelesaikan pekerjaan nya, karyawan juga sudah banyak yang pulang.


Sore ini sebelum pulang, Nara ingin menyempatkan diri untuk berkunjung kemakam orang tua nya. Entah kenapa malam tadi dia bermimpi bertemu dengan ayahnya. Padahal sudah lama sekali Nara tidak pernah memimpikan ayahnya. Apa karena dia rindu? Atau karena Nara yang sebentar lagi akan menyusulnya, maka dari itu ayahnya datang melihat Nara?

__ADS_1


Nara mengemudikan mobil nya seorang diri. Gerimis masih saja turun meski tidak lagi deras. Namun cukup membuat suasana sore itu terasa begitu kelabu.


Tidak lama, hanya sekitar setengah jam dia sudah tiba dipemakaman ayah dan ibunya, yang memang sengaja dia kuburkan berdekatan. Mereka tidak akan terganti meski ibunya pernah memiliki lelaki lain selain ayah Nara.


Payung biru muda menutupi tubuh Nara yang berjalan dibawah gerimis. Berjalan diatas rerumputan hijau yang selalu dirawat. Kaki telanjang nya berjalan dengan begitu lembut namun penuh keyakinan. Setiap datang kemari, Nara selalu tidak ingin memakai sepatu nya, entah kenapa dia begitu suka memijak rumput yang kasar namun terasa begitu lembut ketika dipijak, apalagi disaat basah seperti ini.


Satu tangan nya memegang keranjang yang berisi bunga tabur. Berjalan setapak demi setapak menyusuri setiap petakan makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir dari setiap makhluk hidup. Dan tidak lama lagi disinilah tempat nya berada. Sendirian, sepi dan tidak akan ada yang perduli. Menyedihkan bukan.


Nara tersenyum tipis saat melihat kedua makam yang saling berdampingan dihadapan nya. Dia duduk berlutut diantara kedua makam itu, sedikit menghadap kemakam ayahnya. Tidak perduli dress putih yang dia kenakan hari itu basah terkena air yang meladung.


Nara meletakkan keranjang bunga disampingnya, menyibakkan sekilas kerudung biru muda yang dia kenakan sore itu. Pandangan matanya begitu sendu penuh kerinduan menatap nisan bertuliskan nama ayah tersayang nya dan ibu yang paling dia cinta. Mengusap nya dengan lembut penuh kegetiran


"Ayah, ibu. Nara datang" sapa nya seolah memang sedang berbicara dengan seseorang


"Bagaimana kabar ayah, ayah sudah bertemu ibu disana kan?" ucapan Nara terdengar begitu lirih. Dia menabur bunga diatas makam ayahnya dengan mata yang mulai membendung air


"Ayah, sekarang Nara tahu bagaimana rasa sakitnya menghadapi penyakit ini. Sakit sekali ayah, sakit sekali"


"Apa ayah datang untuk menjemput Nara? " perkataan Nara terhenti, dia mengusap setitik air mata yang jatuh diwajah pucatnya


"Bahkan ayah tahu jika Nara memang tidak ingin melawan penyakit ini. Ayah tahu jika Nara memang tidak ingin berjuang seperti ayah dulu kan"


"Ya, Nara memang tidak ingin berjuang ayah. Nara takut, Nara takut sekali."


"Dulu ada ibu yang selalu menemani disetiap perjuangan ayah. Tapi Nara... Nara sendirian ayah, Nara tidak memiliki siapapun yang bisa menemani Nara menghadapi ketakutan Nara. Nara takut jarum jarum itu menembus kulit Nara, Nara takut mendengar perkataan menyeramkan dari dokter tentang keadaan tubuh Nara. Nara takut ayah....Nara takut" Nara mulai terisak, terisak begitu pilu. Seakan disini adalah tempat nya untuk berkeluh kesah, disinilah tempat nya untuk mengutarakan isi hatinya.


"Jika ayah ingin menjemput, bisakah ayah minta pada Tuhan, untuk tidak membiarkan Nara mati didalam kesendirian? Bisakah ayah meminta belas kasihan Nya untuk Nara, sedikit saja, mintakan pada Tuhan agar Nara tidak mati didalam kesendirian." gumam Nara, mata nya menatap hancur batu nisan ayah nya dan memandang langit sendu senja itu


"Ayah... Nara sangat menyayangi ayah. Tunggu Nara disana. Nara juga sudah lelah disini" ucap nya sembari mengusap pusara ayahnya yang basah


Kini Nara beralih pada makam ibunya. Bibir nya tersenyum, namun mata nya tidak dapat membendung air nya yang seakan ikut luruh bersama perasaan nya yang begitu terasa sakit dan sepi


"Ibu..... maafkan Nara" Nara menabur bunga diatas makam ibunya dengan begitu pelan dan menghayati


"Nara tidak bisa menjaga perusahaan dengan baik, sepertinya apa yang ibu alami terjadi pada Nara. Perusahaan hancur karena orang yang sama sama kita cintai. Terasa tidak adil bukan? Tapi Nara tidak pernah menyesali nya."


"Ibu, sebelum waktu Nara habis, Nara pasti mencoba mempertahankan perusahaan sebaik mungkin. Tapi jika Nara tidak berhasil, ibu jangan marah ya. Nara sudah cukup lelah bu, Nara tidak sanggup jika berdiri sendiri tanpa pijakan. Orang yang Nara cinta ternyata tidak sebaik ayah, hanya ayah yang benar benar menyayangi kita kan bu."


"Sama seperti ibu yang tidak pernah menyesali menikah dengan tuan Baskoro. Nara juga tidak menyesal menikah dengan Reynand, Nara sekarang tahu apa yang ibu rasakan, mencintai hanya untuk membuat luka dihati. Apa mungkin Nara juga akan mati membawa cinta Nara?" Nara tersenyum getir dan menggeleng pelan. Mengusap kembali air matanya


Dia sudah terlalu banyak berbicara, meski tidak ada yang menjawab, tapi setidak nya hatinya jauh lebih tenang. Dia hanya ingin kedua orang tuanya tahu, jika Anara bukan gadis yang kuat, Anara bukan gadis tangguh yang dengan mudah bisa menggapai dunia. Tubuhnya tidak sanggup berdiri ditengah kejam nya dunia, tubuhnya tidak sanggup jika harus terus menerus dihantam badai yang tiada berhenti. Anara hanya gadis lemah, yang butuh pijakan, butuh perlindungan dan butuh cinta disaat dunia mulai kejam terhadapnya.


....

__ADS_1


Hari sudah malam saat Nara tiba dirumah. Dan dapat dia lihat mobil Reynand sudah terparkir rapi disana. Reynand pulang? Tumben sekali dia jadi sering pulang kerumah. Malam tadi dia tidak ada, dan Nara fikir jika malam ini dia juga tidak akan datang, tapi nyatanya suami kejam nya itu sudah ada disini.


Nara sedikit berlari masuk kedalam rumah, karena gerimis masih terus turun dan belum juga berhenti. Dia sudah kedinginan, apalagi pakaian nya yang lembab dan hampir basah.


Nara membuka pintu dengan pelan, menilik kedalam namun sepi. Bahkan lampu juga tidak dihidupkan. Kemana Reynand? Apa dikamar.


Sudah jam delapan malam, apa Reynand sudah makan? Apa sudah dari tadi dia pulang. Berbagai pertanyaan terus menggelayuti fikiran Nara. Sebagai istri seharus nya dia bisa lebih memperhatikan suaminya, tapi suami yang bagaimana, bahkan kapan Reynand pulang saja dia tidak pernah tahu.


Nara mengetuk pintu kamar Reynand dengan ragu, beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.


"Rey" panggil Nara pelan. Dia mendekatkan telinga nya didaun pintu, namun sama sekali tidak ada jawaban dari Reynand.


Nara menghela nafas nya dan menjauh. Sepertinya Reynand memang tidak ingin diganggu. Jika dipaksa dia takut Reynand akan marah seperti yang sudah sudah.


Akhirnya Nara memilih pergi kekamar nya untuk membersihkan diri. Tubuhnya sudah kedinginan, bahkan dia merasa jika sebentar lagi dia akan demam.


Setelah membersihkan diri, Nara langsung kedapur. Membuat bubur untuk dia makan, dia tidak berselera makan, tapi jika tidak diisi dia takut jika magh nya kambuh dan dia juga tidak bisa meminum obatnya. Hanya bubur ayam dengan sedikit bawang goreng. Dan itu sudah cukup. Nara makan beberapa sendok, dan langsung meminum obatnya. Pinggang nya nyeri dan bahkan dia merasa tubuhnya sudah demam. Ya, selemah itu dia sekarang, padahal hanya terkena gerimis sore tadi.


Setelah membereskan bekas makanan nya Nara kembali kekamar, namun dia urungkan ketika melihat kamar Reynand. Apa Reynand sudah tidur? Dia benar benar penasaran.


Nara berjalan dengan ragu dan mencoba mengetuk pintu kembali, namun tetap sama tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya dia memberanikan diri membuka pintu kamar yang memang tidak pernah dikunci oleh Reynand.


Mata Nara mengerjap pelan saat melihat Reynand sudah terbaring diatas tempat tidur nya. Kenapa cepat sekali, masih jam sembilan malam.


Nara berjalan mendekat, namun semakin mendekat dia dapat melihat tubuh Reynand yang menggigil dibalik selimut yang menggulung tubuh nya.


"Rey" panggil Nara namun Reynand tidak bergeming. Seluruh tubuhnya dia tutupi dengan selimut sehingga Nara tidak bisa melihat wajahnya.


Nara menyibakkan selimut perlahan, dan matanya langsung melebar saat melihat wajah Reynand yang begitu pucat bahkan berkeringat dingin.


Tangan Nara menyentuh dahi Reynand


"Demam" gumam Nara.


Nara langsung menarik selimut Reynand membuat lelaki itu langsung meringkuk kedinginan. Namun mata Nara sedikit melebar saat melihat tangan kanan Reynand yang terluka dibagian kepalan tangan nya, seperti sedikit pecah hingga kulit nya terkelupas. Bahkan darah masih tersisa meski tidak menetes. Nara meraih tangan itu, memeriksa nya dengan sedikit ngerih. Apa yang terjadi, apa yang sudah dilakukan lelaki ini? Apa dia berkelahi?


Nara segera berjalan dengan cepat keluar kamar menuju dapur. Dia panik melihat Reynand demam dan terluka, bahkan dia mengabaikan tubuhnya sendiri yang juga butuh istirahat.


Nara kembali kekamar dengan sebuah ember kecil dan handuk ditangan nya dan juga kotak obat yang dipeluk bersamaan. Dia duduk disisi ranjang Reynand dan mulai mengompres kepala lelaki itu. Mengobati luka ditangan Reynand dengan pelan dan lembut. Reynand hanya meringis namun tetap membiarkan Nara mengobatinya. Mungkin dia sedang tidak sadar.


Dua tahun Nara menjadi istrinya, dan baru hari ini dia melihat Reynand demam hingga seperti ini, bahkan dia tidak sadar saat Nara membuka seluruh pakaian nya dengan pelan dan mengganti nya dengan piyama tidur. Seperti nya Reynand memang langsung terbaring diatas tempat tidur sepulang dari kerja, terbukti dengan dia yang masih mengenakan kemeja kerja nya.


Nara duduk disamping Reynand, mengusap lembut wajah tampan yang berkeringat dingin itu dengan tatapan penuh cinta. Meski Reynand kejam dan tidak berperasaan, tapi hati Nara tidak akan pernah bisa mengabaikan nya, apalagi disaat seperti ini.

__ADS_1


"Kamu pasti kelelahan" gumam Nara. Sudah beberapa kali dia menggantikan handuk kecil didahi Reynand, hingga panas ditubuhnya sudah mulai menurun, bahkan Reynand juga sudah tidak lagi menggigil kedinginan.


Nara mengusap pinggang nya, terasa nyeri dan sakit. Rasanya dia ingin berbaring dan istirahat, tapi untuk meninggalkan Reynand dia tidak mampu. Bagaimana jika Reynand membutuhkan sesuatu? Bagaimana jika Reynand terbangun dan kembali demam? Ah hati Nara terlalu lemah


__ADS_2