Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan

Menyerah Diantara Cinta Yang Terabaikan
Kabar Buruk


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut dengan senyuman mentari yang begitu terasa menghangatkan. Kamar yang malam tadi terlihat indah kini sudah terlihat berantakan dengan sisa sisa lilin yang sudah hanya tinggal bekasnya. Bahkan kelopak bunga mawar yang tersusun rapi kini juga sudah berhamburan tidak tentu arah.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun dua pasang pengantin baru yang sudah tidak baru lagi itu masih betah berada diatas tempat tidur. Padahal matahari sudah menerangi kamar itu dengan cahaya nya yang mulai menghangat.


Reynand sudah bangun, tapi dia masih terlihat begitu betah memandangi wajah Nara yang masih tertidur dengan pulas. Istri cantik nya ini sepertinya masih begitu kelelahan, karena memang Reynand bahkan sama sekali tidak sadar jika entah berapa kali dia meminta lagi dan lagi pada Nara. Dia baru berhenti ketika pinggang nya yang terasa nyeri, mungkin karena kelelahan dan dia yang tidak sadar diri.


Reynand tersenyum seraya terus mengusap pucuk kepala Nara yang kini tertidur dalam dekapan nya. Mau seperti apapun keadaan nya, Nara tetap saja selalu terlihat cantik. Ya, dan wajah ini lah yang sudah dirindui oleh Reynand sejak dulu. Dan sekarang, jika tidak mengingat kondisi kesehatan mereka, mungkin Reynand tidak ingin berhenti untuk menjamah dan meluahkan rasa rindu dan cintanya yang sudah begitu menumpuk.


Anara...


Wanita cantik yang sudah mengisi hati Reynand sejak dulu, dan karena kebodohan nya dia pernah menyia nyiakan Nara dan membuat Nara terluka cukup parah, bukan hanya hati, melainkan fisik nya juga.


Menyesal,


tentu saja.


Bahkan sampai saat ini rasa penyesalan itu masih selalu ada bahkan cukup mampu membuat nya tidak tenang. Tapi dia tidak ingin tenggelam dalam rasa penyesalan itu lagi. Kini Nara telah menjadi istrinya kembali, dan telah menjadi miliknya. Reynand tidak akan menyia nyiakan nya.


Ya, Reynand akan membahagiakan wanita ini untuk seumur hidup nya.


Reynand tersenyum dan mencium bibir Nara saat dia melihat Nara mulai terbangun dari tidur nya.


"Selamat pagi sayang" sapa Reynand saat melihat mata Nara yang mulai terbuka.


"Rey" Nara hanya bergumam namun kembali memeluk Reynand dan merapatkan wajah nya kedada telanjang Reynand.


Reynand mengusap punggung Nara dengan lembut dan menciumi pucuk kepala nya.


"Kamu pasti lelah, maafkan aku. Aku jadi lupa diri" ucap Reynand.


Nara menggeleng pelan


"Jam berapa sekarang?" tanya Nara. Suaranya masih terdengar begitu serak.


"Jam tujuh" jawab Reynand.


Nara terkesiap, dia bahkan kembali menjauhkan wajahnya dan memandang Reynand dengan kernyitan didahi nya.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Nara


Namun Reynand malah tersenyum dan mengusap wajah Nara


"Kamu masih enak tidur , aku tidak tega membangunkan mu" jawab Reynand.


Nara menghela nafasnya dengan pelan.


"Mereka pasti sudah menunggu kita sekarang" ucap Nara seraya mulai beranjak bangun. Namun Reynand kembali menarik tubuhnya, hingga Nara kembali jatuh keatas tubuh Reynand.


"Rey..."


"Kenapa cepat sekali, aku bahkan masih ingin berdua bersama mu" ungkap Reynand


Nara tersenyum dan menggeleng. Dia mengusap wajah Reynand sekilas dan kembali beranjak untuk duduk.

__ADS_1


"Kita masih punya banyak waktu untuk berdua, bukan kah sekarang kita sudah tidak akan terpisah lagi" ujar Nara


Reynand terkekeh kecil dan langsung beranjak duduk.


"Baiklah, aku berharap jika hari tidak pernah siang lagi" jawab Reynand yang kembali merebahkan kepala nya dibahu Nara.


Nara tersenyum dan mengusap kembali wajah Reynand.


"Kenapa kamu begitu manja seperti ini hmm?" tanya Nara


"Aku rindu, bahkan sangat rindu, satu tahun lebih berpuasa, dan seminggu tidak bertemu, dan tentu saja satu malam ini tidak cukup" jawab Reynand.


Nara langsung tertawa mendengar itu.


"Masih ada malam nanti" ucap Nara.


"Ya, asal pinggang ku ini bisa di ajak kompromi" sahut Reynand dengan tawa kecilnya. Bahkan sekarang saja dia sudah mengusap pinggang nya yang terasa nyeri.


"Kamu terlalu bersemangat" ucap Nara


"Kamu terlalu menggoda" balas Reynand seraya mengecup pipi Nara dengan cepat.


Nara tersenyum dan memalingkan wajahnya yang merona.


"Sudah lah, aku mau mandi. Rasanya sudah lengket semua" ucap Nara yang langsung turun dari tempat tidur nya.


"Mau mandi bersama?" tawar Reynand dengan senyum menggoda nya.


Reynand tertawa geli melihat Nara yang menggerutu.


"Tidak apa apa sayang, kan sudah sah" sahut Reynand.


Nara mendengus dan kembali menoleh Reynand dengan kesal, namun wajah nya malah memerah malu.


"Tidak mau, pinggang ku sudah sakit. Jangan sampai kita menjadi bahan ledekan Arya dan Zelina nanti" jawab Nara, dan dia langsung beranjak kekamar mandi seraya memegangi pinggang nya yang memang terasa berdenyut nyeri ketik dibawa berjalan.


Sepertinya malam tadi mereka memang melupakan jika mereka sudah cacat karena hanya memiliki ginjal yang tinggal satu. Dan sekarang, mereka baru merasakan dampak nya. Astaga...


Jika dulu Nara merasa bagian intinya yang sakit, maka kini dia merasakan pinggang nya yang sakit. Kenapa ketika bermain dia tidak merasakan nya? Dan setelah itu baru lah dia menyesal karena malah ikut terhanyut dalam permainan Reynand.


Huh.... beginilah jika sama sama sudah merindu.


Reynand memandang Nara dengan senyum getir nya. Ingin tertawa, tapi dia juga merasa bersalah. Dan akhirnya dia hanya bisa menggaruk kepala nya saja mengingat malam indah yang telah mereka lewati.


.....


Dan ketika selesai membersihkan diri masing masing. Nara dan Reynand langsung keluar dari kamar hotel itu dengan wajah yang sama sama sudah lebih segar. Bahkan wajah Reynand jauh lebih segar dari sebelum nya. Senyum yang sangat sulit dikeluarkan itupun kini sudah selalu tersemat diwajah tampan nya.


Ya, hatinya yang bahagia membuat wajahnya juga ikut berbinar.


Mereka berjalan menuju resto hotel untuk mencari sarapan. Sebenarnya Reynand ingin meminta pelayan hotel saja untuk mengantarkan sarapan mereka. Tapi Nara menolak nya, dia sudah jenuh berada didalam kamar terus. Apalagi kamar itu begitu berantakan. Entah bagaimana pelayan hotel itu membereskan kekacauan yang telah mereka perbuat. Sungguh, sudah seperti pengantin baru saja, padahal mereka sudah begitu puas menikmati nya dulu, hanya berbeda suasana dan keadaan saja.


"Kemana orang orang?" tanya Nara saat sudah duduk dimeja mereka.

__ADS_1


"Mungkin sudah pulang duluan, sudah hampir jam sembilan" jawab Reynand.


"Padahal aku masih ingin bertemu dengan eyang putri, tidak enak semalam belum menyapa nya" ucap Nara.


Reynand tersenyum memandang wajah Nara yang memang terlihat kelelahan, meski sudah lebih segar sekarang.


"Eyang putri pasti dirumah Bima, nanti kita bisa kesana untuk menemui nya" ujar Reynand.


"Benarkah kamu mau?" tanya Nara.


Reynand mendengus senyum dan mengangguk.


"Iya, sekarang aku sudah tidak takut lagi dia mengganggu mu. Bukankah dia sudah memiliki putri tuan Renggono itu" ujar Reynand.


Nara langsung tertawa kecil mendengar itu.


"Ya, mudah mudahan saja mereka cocok. Meski terlihat mustahil" gumam Nara


"Kenapa?" tanya Reynand.


Nara terdiam sejenak saat pelayan resto mengantar sarapan mereka. Dia tersenyum pada pelayan itu dan kembali menoleh pada Reynand yang mulai menikmati teh nya.


"Gadis itu baru saja patah hati, apa mungkin secepat itu menerima Bima" ucap Nara.


Reynand mengendikkan bahunya dan menggeleng pelan.


"Tidak ada yang tidak mungkin sayang. Dua bulan mereka bersama, siapa tahu bisa saling mengobati" jawab Reynand. Membuat Nara mendengus senyum dan mengangguk. Dia juga menikmati teh hijau nya yang cukup menghangatkan tubuhnya yang lelah.


Namun tiba tiba mereka terkesiap saat Arya datang bersama Zelina. Namun wajah mereka terlihat panik dan cemas. Ada apa?


"Dari mana kalian?" tanya Reynand.


"Tuan ada berita buruk" ucap Arya langsung tanpa ingin lagi menjawab pertanyaan Reynand.


Nara dan Reynand langsung memandang Arya dengan bingung.


"Berita buruk apa?" tanya Reynand.


"Tuan Bima masuk rumah sakit karena diserang oleh anak buah David"


deg


"Astaga, kenapa bisa?" tanya Nara yang begitu terkejut.


"Entah bagaimana kejadian nya. Tapi saat ini kondisi nya kritis" jawab Arya.


Nara dan Reynand saling pandang tidak percaya mendengar ini. Malam tadi Bima masih baik baik saja, dan sekarang mereka sudah mendengar kabar buruk ini.


"Kita kesana" ajak Reynand.


Nara langsung mengangguk dengan cepat.


Semoga tidak terjadi hal yang buruk pada Bimantara.

__ADS_1


__ADS_2